
Pagi hari setelah sarapan pagi….
Pak Pangat tidak berangkat kerja… dia akan bersama aku dan mas Agus menuju ke area perkampungan khusus….
Tapi dari kemarin aku kenapa tidak memikirkan leluhurku, bukanya leluhurku juga tinggal tidak jauh dari sana. Tepatnya di seberang sungai. Apa sebaiknya aku ke sana dulu untuk bertemu dengan leluhurku?
Siapa tau leluhurku akan membantuku dalam usaha mencari yang namanya Inggrid itu.
“Eh mas…. Apa tidak sebaiknya kita ke leluhur Tina dulu, dari kemarin kita ada disini kan kita sama sekali belum ke tempat leluhur TIna mas”
“Iya mbak…. Siapa tau mereka bisa membantu, atau paling tidak memberikan informasi yang berguna untuk kita mbak”
“Nah itu mas… TIna harap mbah-mbah leluhur Tina akan memberikan bantuan kepada Tina agar cepat selesai urusan dengan setan ini”
“Coba tanya dulu ke pak Pangat mbak… soalnya tempat leluhur mbak Tina itu kan ada di sekitar sana juga, dekat dengan benteng china itu”
Pak Pangat setuju dengan ide yang aku lontarkan, hanya saja untuk tempat lebih jelasnya pak Pangat kurang bisa memahaminya.
Kalau di alam kita, letak perkampungan yang dihuni leluhurku itu ada di tengah hutan, sedangkan yang nampak sekarang ini tidak ada hutan sama sekali.
Di sekitar sungai itu hanya ada perumahan dan perkampungan penduduk saja…
Berarti nanti kita harus mengira-ngira dimana letak yang tepat tempat perkampungan penduduk leluhur Tina itu.
“Mbak Tina… mas Agus, ayo kita berangkat sekarang, karena kita akan cari tempat leluhur mbak Tina”
“Kalau boleh tau, mungkin ada ciri-ciri khususnya mbak, sehingga kita bisa tanya-tanya apabila nanti perkiraan kita ada di tengah hutan”
“Itu dia pak, Tina tidak tau siapa nama mbah Tina, ciri perkampungan itu juga TIna tidak tau… yang pasti tempat itu masih sangat sederhana dengan rumah-rumah yang keadaanya juga sangat sederhana”
“Ya sudah mbak… kita buat kira-kira saja, pokoknya perkiraan kita ada di tengah hutan pada masa kita, nah disitulah mungkin letak perkampungan leluhur mbak Tina berada” kata pak Pangat
“Eh pak …. Apa mungkin pembantu rumah tangga atau supir pak pangat tau tempat itu?”
“Lebih baik tidak usah bertanya kepada mereka mas, lebih baik kita cari pakai cara kita sendiri saja, tanpa melibatkan mereka yang ada disini”
“Ayo kita berangkat sekarang saja…..”
Di masa ini memiliki mobil itu semacam sesuatu yang sangat prestisius, karena memiliki mobil pribadi pada masa ini harus benar-benar orang yang berada.
Aku sebenarnya tidak mau semobil bersama pak Pangat, aku takut apabila ada penduduk benteng china yang melihat aku dan mas Agus semobil dengan pak Pangat.
Karena sebenarnya letak benteng China dengan perkampungan leluhurku itu kan tidak jauh.
Tapi apakah mereka ini bermusuhan, karena pemikiran kami antara leluhurku dan yang ada di seberang sungai itu kan bermusuhan.
Karena yang ada di seberang sungai itu ingin mengambil alih wilayah seberang sungai atau wilayah tengah hutan.
Tapi nggak tau lagi sih yang sebenarnya sedang terjadi disini, karena bisa saja apa yang kita dapat info dari Inggrid dan perkiraan kami ini berbeda dengan kenyataan yang terjadi disini.
Perjalanan dari rumah pak Pangat sudah sampai di dekat benteng china. Pak Pangat memelankan mobilnya untuk memperhatikan sesuatu yang harusnya merupakan tempat tinggal leluhurku.
“Itu… disana itu ada semacam pemukiman… apakah disana itu tempat leluhur mbak Tina?”
“Kalau menurut perkiraan tengah hutan… kayaknya kurang ke tengah pak.. Tapi coba kita masuk ke pemukiman itu dulu pak, nanti kita cari rumah atau pemukiman yang sangat sederhana pak”
“Karena kalau menurut perkiraan Tina, harusnya pemukiman itu adalah rumah penggergajian, maka dari itu kita agak ke tengah sana pak, karena tempat leluhur Tina itu ada ditengah hutan yang berarti ada di tengah pemukiman itu”
Setelah keluar masuk gang di pemukiman yang tadi ditunjuk pak Pangat, akhirnya aku menemukan sebuah gang yang kayaknya aku pernah ada disini.
“Kayaknya gang ini ya mas?”
“Sepertinya iya mbak Tina… saya ingat sama pohon yang ada di sekitar sini itu mbak”
“Coba stop dulu di rumah depan itu pak… siapa tau memang benar rumah itu yang Tina maksud sebagai rumah leluhur Tina pak”
__ADS_1
“Parkiran di dekat pohon itu dulu pak… TIna dan mas Agus mau turun dulu, untuk lihat apa benar rumah itu adalah rumah mbahnya Tina”
Aku dan mas Agus mendatangi sebuah rumah yang sangat sederhana.. Sebuah rumah yang kalau gak salah aku sudah datangi dua kali.
Aku dan mas Agus berhenti didepan pagar rumah untuk meyakinkan bahwa benar rumah itu adalah rumah leluhurku.
Untuk kali ini cara berjalan kami berdua tidak mengikuti cara berjalan orang-orang tua yang harus jalan terbungkuk bungkuk.
Rumah ini kelihatan kosong, pertama karena halaman rumah ini kotor ada daun daun kering yang belum disapu, kedua karena pintu rumah tidak terbuka seperti ketika aku dan mas Agus datang kesini sebelumnya.
“Mas.. rumah ini kok kotor ya halaman depannya, lagian pintu pagar rumah ini tertutup, biasanya kan gak tertutup mas….”
“Ya mungkin mbahmu ada di dalam mbak, kita ketuk pintu rumahnya saja mbak”
Mas Agus membuka pintu pagar rumah dan kemudian berjalan masuk untuk mengetuk pintu rumah yang nampaknya kosong itu….
Beberapa kali mas Agus mengetuk pintu, tetapi tidak ada seorangpun yang membukakan pintu rumah.
Sepertinya benar, rumah itu sedang dalam keadaan kosong!
“Gimana mbak. Rumah ini tidak ada penghuninya.. Eh apa kita tanya ke tetangga sebelahnya saja?”
“Kalau gitu kita bertamu ke sebelah saja mas… siapa tau tetangga sebelah itu tau dimana mbah leluhurku berada mas”
“Tapi untuk kali ini cara berjalan kita harus sesuai dengan umur kita mbak…..kita mulai sekarang saja mbak.. Agar yang lihat cara kita jalan tidak kaget”
Mas Agus memberi tanda kepada pak Pangat bahwa kami akan ke rumah tetangga sebelah, agar Pangat tidak turun mendatangi kami berdua.
Aku dan mas Agus berjalan pelan menuju ke tetangga sebelah yang tidak begitu jauh dari rumah mbah leluhurku.
Ketika kami sudah ada didepan pagar rumah sebelah, kebetulan pemilik rumah seorang perempuan pruh baya keluar dari dari dalam rumahnya…
“LHO MBAH SASTRO!” pekik perempuan yang baru saja keluar dari rumahnya dengan kaget
Belum sempat aku dan mas Agus menjawab, tiba-tiba perempuan itu masuk ke dalam dengan segera….
“Mas… kenapa dia kenal dengan kita, dan nama kita sama dengan ketika kita pertama kali datang ke alam ini”
“Tidak tau mbak, saya belum bisa mencerna dan belum bisa menebak apa yang sebenarnya sedang terjadi disini.. Kita ikuti alurnya dulu saja mbak”
“Pertama yang harus kita lakukan sebagai orang yang seumur dengan kita adalah setengah linglung mbak… cara mengingat dan cara bicara yang lambat adalah ciri dari orang yang seumur dengan kita”
Tidak lama kemudian perempuan paruh baya itu keluar bersama seseorang yang sudah tua juga… kemungkinan besar dia adalah ibu dari perempuan paruh baya itu.
“Bu..kui (itu) kan mbah Sastro yo?” kata perempuan itu kepada orang tua yang ternyata ibunya
Tidak ada sahutan sama sekali, karena perempuan tua yang ternyata ibu dari perempuan paruh baya itu sedang memperhatikan aku dan mas Agus dengan seksama.
Dia melihatku dari ujung kaki hingga ujung kepalaku..
“Tro.. Sastro… koe iki nang ndi wae! ( kamu ini kemana saja)” teriak perempuan tua yang ada di depanku
Aku dan mas Agus sengaja tidak menjawab, seolah kami ini sudah pikun… tapi memang itu kami sengaja agar orang yang kami ajak bicara mengatakan sesuatu tentang aku dan mas Agus.
Kami berdua hanya melihat ke arah mbah-mbah yang barusan menyapa aku dan mas Agus ini.
“Ayo masuk dulu mbah… Sutinah anakmu masih belanja.. Kalian tunggu dulu di dalam sini mbah” kata perempuan paruh baya yang memegang lenganku.
Aku diam saja, tetapi tidak dengan mas Agus, mas Agus melihat dan menunjuk ke arah mobil pak Pangat yang sedang terparkir di seberang rumah leluhurku.
“Sopo kae mbah (siapa itu mbah)?” tanya perempuan setengah baya yang sedang memegang lenganku
“Bu… aku mau ke mobil yang ditunjuk mbah Sastro dulu.. njenengan tunggu disini dulu bu” kata perempuan itu kepada ibunya
Ketika perempuan itu berjalan ke arah mobil pak Pangat, pak Pangat pun turun dari dalam mobil dan buru-buru mendatangi perempuan paro baya yang sedang berjalan ke arah nya.
__ADS_1
Semoga pak Pangat bisa bersandiwara seperti aku dan mas Agus, semoga pak Pangat bisa menjelaskan dimana menemukan aku dan mas Agus tanpa perlu bercerita bahwa ada aku dan mas Agus di balik tubuh renta ini.
Entah apa yang sedang mereka bicarakan, karena posisi mereka berdua yang ada di dekat rumah leluhurku.. Tetapi tidak lama kemudian pak Pangat dan perempuan setengah baya itu menuju ke arah sini.
“Monggo masuk dulu pak.. dan mbah Sastro .. monggo masuk dulu di rumah saya sambil menunggu Sutinah datang”
“Terima kasih bu” kata pak Pangat
*****
“Sebenarnya bagaimana ceritanya hingga pak Bawono ini menemukan mbah kung dan mbah Uti ini, mereka sudah bertahun tahun hilang, dan anaknya yang bernama Sutinah itu sudah merelakan mbah ini hilang” kata perempuan yang memperkenalkan diri bernama Sriatun.
“Jadi begini bu Sriatun… sebenarnya sudah lama sekali mbah yang saya tidak tau namanya ini bersama saya, saya temukan mereka berdua di sebuah perkampungan dalam kondisi yang kotor dan tidak terawat”
“Hanya karena saya sudah tidak memiliki orang tua, maka kedua mbah-mbah ini saya bawa pulang dan saya rawat layaknya orang tua saya di rumah”
“Terus terang saya baru tau nama mereka berdua itu disini… karena selama ini mereka tidak pernah menyebutkan namanya, saya pikir mereka sudah lupa, istilahnya sudah pikun lah bu Sri”
“Selama di rumah saya, saya pekerjakan dua orang perawat yang mengurusi mereka berdua… “
“Beberapa tahun akhirnya kedua mbah ini kondisinya makin sehat, sudah bisa bersenda gurau dengan saya, meskipun mereka masih belum bisa menyebutkan namanya”
“Nah kemarin itu mereka minta diantar jalan-jalan….katanya mereka berdua ingat sesuatu tentang sebuah tempat tinggal, hingga akhirnya mereka minta berhenti di sebuah rumah yang dalam keadaan kosong itu”
Hehehe pak Pangat ternyata mahir juga mengarang cerita…
Aku dan mas Agus hanya diam saja ketika pak Pangat bercerita tentang bagaimana dia bertemu dengan kami..
Dan untungnya ibu paruh baya yang bernama Sriatun ini mengerti dan percaya dengan apa yang dikatakan mas Agus.
“Jadi begini pak Bawono… mbah Sastro ini sudah beberapa tahun ini hilang, ketika itu kedua mbah ini ingin jalan-jalan, dan kata Sutinah anaknya kedua mbah-mbah ini kepingin jalan ke sana ke benteng china”
“Sutinah sebenarnya sudah melarang mereka berdua ke sana, tetapi pak Bawono tau kan yang namanya mbah-mbah itu kadang suka karepe dewe….”
“Hingga pada suatu pagi, ketika Sutinah sedang belanja ke pasar, kedua mbah-mbah ini ternyata pergi juga dari rumah, dan pada pagi itu sayangnya tidak ada yang tau kemana perginya kedua mbah-mbah ini”
“Sutinah sudah mendatangi benteng china itu, dan bertanya kepada penjaganya, tetapi kata penjaganya tidak ada dua orang tua yang masuk ke sana”
“Akhirnya Sutinah sudah capek mencari kedua orang tuanya, dan dia sudah mengikhlaskan kedua orang tuanya”
“Perkiraan Sutinah, mbah Sastro ini ada di dalam benteng China dan tidak bisa keluar dari sana, karena kata orang-orang disini, apabila masuk ke sana hingga malam belum keluar, kemungkinan besar orang itu sudah hilang disana”
Sampai disini bu Sriatun diam, karena cerita dia tentang mbah Sastro selesai sampai disini…
Tapi sebenarnya aneh juga dengan apa yang diceritakan Sriatun ini, kalau benar mbah Sastro ini bertahun tahun hilang, yang artinya bisa saja lebih dari sepuluh tahun lalu hilang…
Harusnya fisik mbah Sastro sudah makin tua atau bahkan sudah mati, Tapi ya sudahlah…. Ini bukan dunia dimana aku dan mas Agus berasal…
Bisa saja di dunia ini umur orang bisa jauh lebih lama dari pada di dunia kami.
“Oh jadi mbah uti dan mbah kung ini namanya mbah Sastro ya bu Sri?”
“Inggih pak.. Mereka ini memang penduduk disini, kita tunggu hingga Sutinah datang dari pasar dulu pak.. Dia pasti akan kaget ketika orang tuanya datang”
Waduuuh aku kok makin bingung ya… kalau seandainya aku dan mas Agus ini orang tua dari Sutinah, maka akibatnya aku tidak akan bisa pergi ke istana itu.
Yang pasti aku akan dikekang di rumah sebelah hingga aku dan mas Agus yang terjebak di tubuh tua ini tidak bisa kemana mana.
Bahkan untuk pulang ke alam kamipun aku rasa kami akan kesulitan…..
Tapi kita lihat dulu saja, bagaimana wajah dan rupa dari dari yang namanya Sutinah itu….apakah dia adalah leluhurku yang sudah bertemu dengan aku tiga kali.
Ketika kami sedang dalam keadaan diam, tiba-tiba Sriatun berdiri dan berjalan tergesa gesa menuju pintu rumah.. Kemudian dia memanggil seseorang yang bernama Sutinah dengan suara yang keras.
Hehehe aku penasaran dengan apa yang akan terjadi ketika aku dan mas Agus bertemu dengan Sutinah yang harusnya merupakan leluhur yang pernah kutemui.
__ADS_1
Kalau begini caranya aku ini adalah leluhurku hihihihi.