RUMAH PENGGERGAJIAN

RUMAH PENGGERGAJIAN
147. BARANG BUKTI


__ADS_3

“Joko.. kamu nggak usah ikut mereka.. disini saja sama aku” kata pak Pangat.


“Pak Hari… selama perjalanan lampu motor kita nyalakan atau tidak?” tanya mas Agus


“lebih baik tidak mas… kita jalan santai tanpa penerangan saja.. kira-kira mas Agus bisa atau tidak?” tanya pak hari


“Tentu saja bisa pak.. sebelum-sebelumnya kita tidak pernah menyalakan lampu kendaraan apabila ke rumah penggergajian”


“Oh iya pak Hari… biasanya nanti di makam kedua dari sini, ada beberapa preman yang sedang minum-minum, mereka selalu menyetop orang yang lewat sana pada malam hari”


“Gak masalah mas Agus… nanti akan saya tindak apabila mereka berbuat kriminal”


Motor yang dipinjamkan pangat ini sama dengan yang ketika dipinjamkan ke aku dan Paijo, ketika sedang melakukan penggerebekan yang bermasalah itu.


Aku dibonceng mas Agus, sedangkan pak Hari membawa motor sendiri. Meskipun penampilannya seperti itu pak Hari terlihat gesit dalam mengendarai motor.


Pak Hari terlihat jauh dari kesan seorang aparat, dia mengendarai motor pak Pangat dengan santai dan cekatan.


Akhirnya kami melewati dua makam dengan santai, tidak ada preman yang biasanya sedang nongkrong dan minum-minum disana.


Inggrid kadang ada di boncengan pak Hari..kadang dia melayang ke depan untuk melihat keadaan jalan yang akan kami lewati.


Ketika kami sudah dekat dengan jembatan besi, mas Agus menghentikan motor yang aku dan mas Agus pakai”


“Kok brenti mas?”


“Saya mau kasih tau tempat berjualan solar curian itu… juga saya agak gimana gitu kalau malam-malam lewat sini mbak”


“Kenapa berhenti mas Agus?” tanya pak Hari


“Saya mau beritahu bapak tempat pemuda yang meninggal karena luka tembak itu  pak”


“Dimana tempatnya mas?”


“lurus ke sana, di sebelah kiri… disana nanti ada dua atau tiga penjual solar oplosan”


“Nanti saja kita kesana mas…untuk saat ini kita fokus ke transaksi malam ini saja dulu”


“Baik pak Hari… eh sekarang  kita belok kiri lewat jembatan pak”


Inggrid masih ada di boncengan pak Hari, kelihatan perjalanan menuju ke desanya pak Solikin ini akan aman-aman saja, mungkin karena orang-orang sedang fokus di rumah penggergajian.


Tidak ada yang berarti, hingga tiba-tiba Inggrid melayang dan melesat dengan cepat ke depan.


“Mas..liat itu Inggrid… kemana dia mas?”


“Apa lebih baik kita berhenti saja dulu mbak TIna?”


“Iya mas… tolong kasih tau pak Hari dulu mas”


“Bilangnya gimana mbak, pak Hari kan tidak tau tentang Inggrid”


“Bilang aja kalau mas Agus merasa ada yang aneh dan kita berhenti sebentar dan cari tempat sembunyi dulu”


Mas Agus menyuruh berhenti pak Hari..


Tentu saja seorang aparat tanya apa alasan kita sekarang berhenti, sedangkan sejauh dia memandang kedepan, tidak ada apapun yang  ada di depan sana.


“Kenapa kita berhenti lagi mas?”


“Tunggu dulu pak…di depan saya lihat ada sesuatu yang ndak semestinya pak”


“Mana mas, yang ada hanya gelap saja kok” jawan pak Hari


“Tunggu sejenak pak… tunggu dulu… hingga saya merasa aman untuk terus ke sana”


“Ok.. saya ikuti apa katamu mas… karena kamu yang lebih tau area disini”


Setelah sekitar dua menit kami berhenti dengan mematikan mesin, tiba-tiba Inggrid datang dengan tergesa gesa..


“Ada satu motor yang dinaiki oleh anak buah Paijo yang akan mengarah ke sini, kalian lebih baik sembunyi dulu saja” kata Inggrid


“Di samping kita ini kan hutan, masukan motor kalian di hutan itu untuk sementara waktu, sampai orang itu melewati kalian” lanjut Ingrid


untungnya posisi kami saat ini sudah melewati persawahan dan sekarang kami ada di antara hutan desa.. jadi lumayan juga digunakan untuk sembunyi dari orang yang akan datang.

__ADS_1


“Pak.. kita lebih baik sembunyi dulu saja, karena sebentar lagi ada orang yang akan lewat sini, dan menurut perkiraan kami, orang itu anak buah dari Paijo”


“Kamu tau dari mana mas?”


“Sudahlah pak… ikuti saja apa yang saya katakan… nanti sebentar lagi dari kejauhan disana ada cahaya lampu sepeda motor”


“Ya sudah… terserah kamu sajalah mas… hmmm disana ada pohon yang dekat dengan semak belukar,  kita bisa sembunyi disana saja”


Ketika kami sedang memarkir dan menata motor.. dari jauh ada lampu motor yang mengarah kesini. semakin lama cahaya dari lampu motor itu semakin dekat dengan kami.


 Motor itu melaju dengan cepat, kayaknya ada yang penting hingga di kendarai dengan terburu buru.


Pengendara motor itu tidak menggunakan helm, sehingga kami bisa lihat wajah orang yang sedang mengendarai motor itu.


Setelah motor itu jauh di belakang kami.


“Kalau dilihat dari postur badannya, orang yang barusan lewat itu anggota kepolisian” gumam pak Hari


“Berarti Paijo juga mengerahkan anak buahnya untuk membantunya dalam kegiatan  pengamanan ini” gumam nya lagi


Setelah beberapa waktu terdiam di pinggir hutan, akhirya Inggrid memberi tahu kami keadaan sudah aman untuk kembali jalan ke desa .


Kami teruskan perjalanan.. hingga kami berbelok ke kiri melewati gapura desa, yang artinya kami sudah sampai di desa sebelah sungai.


Selama Inggrid tidak memberi tanda bahaya kepada kami, kami meneruskan perjalanan sampai melewati rumah pak Solikin yang saat ini sepi dan gelap keadaanya.


“Nanti di pinggir sungai kita berhenti.... sembunyikan motor ini di antara semak belukar pinggir sungai itu saja pak…. Setelah itu kita jalan kaki menuju ke rumah penggergajian”


Setelah dirasa motor keadaanya sudah aman, kami kemudian jalan kaki menuju ke rumah penggergajian dengan menyeberang sungai.


Inggrid masih ada di depan kami… jauh di depan kami sekitar sepuluh meter di depan kami untuk memantau keadaan di sekitar rumah penggergajian.


Selama jalan kaki menuju rumah penggergajian, Inggrid sama sekali tidak memberi tahu tentang keamanan di sekitar situ, dia berjalan sambil melayang biasa di depan kami saja.


Pohon beringin yang  besar sudah nampak di depan kami, kemudian Inggrid berhenti di bawah pohon beringin.


“Kenapa kamu berhenti di bawah pohon ini Nggrid?”


“Kita jangan memutar ke depan Tina… Inggrid tau jalan yang biasanya digunakan Solikin, Wito, Yetno untuk melarikan diri apabila ada sesuatu yang terjadi”


Di depan kami adalah pohon beringin yang sulur-sulurnya sangat banyak dan panjangnya menyentuh tanah….Kemudian Inggrid masuk diantara sulur-sulur itu.


Kemungkinan besar di dalam sulur itu ada pintu masuk yang mas Agus belum pernah tau.


“Ayo kita masuk lewat  sulur-sulur pohon beringin itu” ajak mas Agus


“Disana ada jalan menuju ke rumah penggergajian?” tanya pak Hari


“Lho tepat di belakang  pohon itu sudah rumah penggergajian pak.. kita masuk sini saja agar tidak terlihat oleh mereka yang ada di depan sana”


Sulur pohon beringin itu disibakan mas Agus, ternyata dibalik sulur itu adalah halaman belakang rumah penggergajian, bersebelahan dengan kuburan kecil.


Hmm jadi kemungkinan besar Solikin, Wito, Yetno masuk ke rumah penggergajian lewat sini. Dan waktu menyelamatkan mas Agus, mereka juga lewat sini.


Berarti di rumah ini ada tiga pintu rahasia, satu di kamar, kemudian di sebelah samping dekat dengan pembuatan palet, dan yang ketiga disini.


Inggrid sudah menunggu kami dengan duduk di mesin penggergajian, dia tersenyum ketika melihat kami datang.


“Berarti mereka semua lewat sini mbak Tina…..waktu Yetno dan Wito menyelamatkan aku…mereka juga lewat sini”


“Iya mas… pantesan mereka masih bisa masuk ke rumah meskipun gembok rumah sudah diganti”


“Tapi bagaimana mereka bisa masuk ke rumah utama? pintu bagian dalam kan ada slot kuncinya mas?”


“Pasti ada pintu rahasia lagi mbak.. hanya saja kita belum tahu”


“Sekarang kita kemana lagi Ini Nggrid?” tanya mas Agus


“Terserah kalian… karena di dalam kamar sekarang ada satu kotak dus seukuran dus air mineral, yang isinya adalah serbuk dan menunggu yang punya uang datang dan mengambil dus itu”


“Kemudian di samping rumah ada drum isi solar yang menunggu untuk dijemput mobil seperti biasanya”


“Inggrid nggak tau dimana benda yang kalian cari itu berada. karena isi dari kotak itu adalah serbuk, tapi hanya sedikit sekali”


“Sedangkan isi dari  drum solar itu bagian atas memang solar, tapi separuh bagian bawah adalah serbuk juga”

__ADS_1


“Solikin, paijo dan yang lainya ada dimana Nggrid?”


“Solikin ada di hutan depan rumah bersama Wito, Paijo dan tiga anak buahnya keliling di sekitar hutan, dan satu lagi ada Mamad, Wandi… mereka ada di hutan samping rumah”


“Kelihatannya Mamad dan Wandi sudah lama ada disana” kata Inggrid


“Eh mas Agus… sampean ini sedang bicara sama siapa?” tanya pak Hari


“Hehehe saya bicara dengan teman ghaib saya pak, dia yang menuntun kita hingga bisa sampai disini dengan selamat”


“Kata dia tadi… di hutan depan rumah sudah ada solikin dan ada juga Paijo dan anak buahnya, kemudian ada lagi yang paling mengerikan pak”


“Di dalam kamar ada dus air mineral yang isinya serbuk tapi tidak banyak, tetapi di samping luar rumah ada drum yang bagian atas berisi solar, tetapi bagian bawah berisi serbuk!” kata mas Agus


“Berarti selama ini kami kecolongan terus dengan pencurian solar, karena justru di dalam drum itu ada serbuknya” kata pak Hari


“Tapi tidak selalu pak… mungkin karena sudah berkali-kali melakukan pencurian solar dan barang bukti pencurian itu tidak ditahan sebagai barang bukti, akhirnya mereka mencoba menggunakan modus baru dengan mengisi drum itu sebagian dengan serbuk” kata mas Agus


“Itu asumsi saya pak, karena kasus pencurian solar tidak pernah diusut sampai tuntas kan pak, dan yang mengusut disini si Paijo itu, bukan sampean kan pak” tambah mas Agus lagi


“Dus itu hanya pengalihan saja, agar nanti seumpama ada polisi yang datang kesini taunya hanya dus dengan barang bukti yang sedikit, sedangkan drum isi solar itu tetap dibiarkan ada disana” kata pak Hari


“Hanya yang bikin saya bingung..bagaimana mereka bisa mengisi drum itu dengan serbuk yang begitu banyak, tanpa kami ketahui sama sekali”


“Biasanya kami punya spionase yang mengetahui jalur pendistribusian besar…. Tapi hingga kini saya sama sekali belum mendapat laporan tentang adanya narkoba yang ke arah sini” kata pak Hari lagi


“Mata-mata itu berasal dari mana pak.. apakah dari pusat?”


“Tidak mesti mas… kadang dari daerah juga.. tetapi untuk kasus besar biasanya pusat juga turun…”


“Ok pak.. pusat turun.. kemudian pusat ke daerah sini apa perlu melapor ke kepolisian sini?”


“Hanya untuk minta ijin melakukan kegiatan di daerah ini saja mas Agus”


“Nah sudah bisa ditebak kan pak…minta izinnya ke Paijo.. yah selanjutnya bisa bapak asumsikan sendiri kan”


“Sekarang gini mbak Tina dan mas Agus… apakah saya bisa kesana untuk memotret barang bukti itu?”


Waduh permintaan polisi itu kok makin berbahaya, dia minta masuk ke rumah dan ke drum yang dikatakan Inggrid.


Jelas tindakan yang sangat bahaya!


“Tina, …bilang ke polisi itu…. akan Inggrid antar, tapi syaratnya dia harus bisa mengungkap kasus pembunuhan di rumah ini yang terjadi tiga puluh tahun silam” kata Inggrid tiba-tiba


“Bikin polisi itu untuk berjanji dulu, nanti akan Inggrid atur agar dia bisa kesana tanpa terlihat oleh orang-orang yang pastinya sedang fokus ke barang yang akan diperdagangkan”


“Ok Nggrid”


Mas Agus melihat mataku, dia kayaknya kurang senang dengan permintaan dari polisi itu, dan dengan bantuan yang ditawarkan Inggrid.


Tapi Inggrid menyanggupi untuk melakukan sesuatu agar polisi itu bisa memfoto drum dan kotak air mineral itu.


“Eh pak Hari…. eh.. bapak akan dibantu teman kami, tapi ada syaratnya… ehm, pak Hari harus mengungkap kasus pembunuhan yang ada di sini, dan itu terjadinya sekitar 30 tahun lalu”


“Akan saya usahakan mbak Tina”


“Jawaban yang diminta bukan akan diusahakan pak, tetapi  bapak harus berjanji untuk mengungkap kasus itu… ini adalah permintaan pribadi dari teman ghaib kami”


“Ok.. saya berjanji akan mengungkap kasus pembunuhan yang terjadi di rumah ini… gimana apakah itu cukup meyakinkan?”


“Sebentar pak, teman ghaib saya sedang bicara dengan saya”


“Kata Inggrid cukup pak, tetapi apabila bapak Ingkar janji, maka sesuatu yang mengerikan akan terjadi pak. ingat bapak hari sekarang melakukan perjanjian dengan makhluk halus bukan dengan manusia” kata mas Agus


“Iya ..saya paham… sekarang apa yang harus saya lakukan?”


“Tunggu disini dulu aja pak… Inggrid masih melihat peluang, nanti setelah keadaan memungkinkan, bapak akan saya pandu ke sana” kata mas Agus lagi


“Eh mbak Tina.. mbak Tina disini saja dulu, sementara saya pandu pak Hari untuk semakin mendekati  bagian samping rumah”


“Iya mas Agus… Tina akan tunggu disini”


Tidak lama kemudian Inggrid muncul di hadapan kami…


Dari wajah dia tampak adanya keraguan, karena kawasan ini sudah dikuasai oleh orang-orang Solikin dan bahkan ada Wandi dan Mamad juga.

__ADS_1


Tetapi reserse yang bernama Hari ini nekat… dia ingin memfoto barang bukti yang ada disana.


__ADS_2