RUMAH PENGGERGAJIAN

RUMAH PENGGERGAJIAN
98. BURHAN DATANG!


__ADS_3

“Wandi waktu itu ijin beberapa hari untuk menemui bos besar, dan ternyata apa yang diminta Wandi disetujui oleh bos besar”


“Bos besar membelikan lagi satu unit mesin diesel berikut mesin gergaji kayunya, ditambah lagi dengan mulai ada bagian pembuatan palet”


“Akibatnya disini pun menambah pegawai lagi, yang awalnya hanya kami bertiga kemudian tambah dua orang lagi hingga semuanya menjadi lima orang plus wandi dan Mamad”


“Apakah kami senang dengan bertambahnya mesin dan pekerjaan kami? tentu aja senang mas…”


“Tapi itu hanya pada awalnya saja, karena setelah itu ada saja yang terjadi disini karena penggergajian kami semakin terkenal”


“Beberapa penggergajian lainya iri dengan semakin besarnya kami…”


“Semakin banyak pula orderan yang masuk ke rumah penggergajian ini berkat pak Wandi yang rajin mendatangi beberapa produsen kayu di sekitar kota ini”


“Tentu saja dengan semakin banyaknya orderan semakin banyak pula solar yang kami dapatkan, hingga mobil pengirim solar pun kadang sehari sekali atau dua hari sekali datang ke sini untuk memenuhi permintaan solar disini”


“Disinilah mulai munculnya para mafia solar dan semacamnya…”


Pak Solikin menghentikan ceritanya, tetapi bukan karena dia ingin minum kopi, melainkan karena dia merasa ada orang yang sedang berjalan di depan rumahnya.


Pak Solikin berdiri dari duduknya kemudian dia mengintip dari pinggir jendela rumahnya.


Setelah itu pak Solikin mundur beberapa langkah dan menghampiri aku yang sedang duduk di kursi tua di ruang tamu rumahnya.


“Mas… cepat masuk ke kamar anak saya… di luar ada Burhan!” Bisik pak Solikin


“Tunggu sebentar mas, saya akan memanggil istri saya dulu”


Pak Solikin masuk ke bagian dalam rumahnya, beberapa saat kemudian dia ke ruang tamu bersama istrinya, bersamaan dengan itu aku dengar ada suara salam dari luar rumah.


“Pak Agus dan mbak…ayo sembunyi di kamar anak saya saja… cepat!”


“Iya bu…”


Ucapan assalamualaikum terus terdengar dari luar rumah, yang artinya Burhan akan masuk ke rumah ini untuk bertamu.


Aku dan Tina mengikuti istri pak Solikin hingga ke  kamar yang ada di bagian belakang rumah.


“Kalian berdua pura-pura tidur saja, nanti saya dan suami saya yang akan bicara dengan Burhan bahwa anak saya dan suaminya datang ke sini”


“Kalau dipanggil suami saya jangan disahuti, pokoknya kalian pura pura tidur lelap saja”


“Iya bu… terima kasih”


Meskipun aku dan Tina ada di kamar tapi aku masih bisa mendengar suara-suara yang ada di ruang tamu rumah pak Solikin


Suara pintu depan dibuka dengan sambutan ramah istri pak Solikin.


“Oh ada mas Burhan, ada apa malam-malam gini kesini, mari masuk mas” Suara bu Solikin yang mempersilahkan Burhan masuk ke dalam rumah


“Bapak ada bu?”


“Bapak barusan tidur mas, tadi sih asik ngobrol disini bersama anak saya dan suaminya”


“Oh gitu..makanya kok di meja ada tiga gelas kopi yang satu masih belum habis dan yang dua belum diminum sama sekali… apa anak ibu tidak suka minum kopi?... hehehe”


“Apakah motor yang di halaman rumah itu milik anak ibu juga?”


“Iya mas Burhan, anak kami tadi sore baru datang dari kota, dan katanya besok pagi sudah balik lagi”


“Motornya plat nomor daerah sini ya bu, setahu saya anak ibu kan tinggal di kota S?”


Jangkreeeek… Burhan bisa saja dia mempermasalahkan kopi yang aku dan Tina belum sempat minum.


Cerdik juga Burhan ini…


Dia sangat teliti hingga plat nomor motor saja dia bisa masalahkan juga, kalau bu Solikin tidak pintar mengolah jawaban, bisa-bisa kecurigaan Burhan semakin menjadi.


“Oh ada mas Burhan… ada apa mas, apa ada yang penting hingga malam-malam mas Burhan ke sini?” aku dengar suara pak Solikin yang sedang bicara dengan Burhan.


“Tidak ada pak, saya hanya tidak bisa tidur saja, ditinggal pak Agus pulang kampung rasanya tidak enak sekali  pak”


“Tadinya saya mau numpang nginap disini pak, tetapi ternyata ada anak pak Solikin yang sedang ada disini”


“Iya… maaf mas Burhan, eh mungkin mas Burhan bisa ke rumah pak Wito saja, biasanya mas Burhan kan juga tidur di rumah pak Wito?”


“Iya pak Solikin, saya akan ke rumah pak Wito saja setelah ini, rumah pak Wito kan hanya berjarak dua rumah dari sini pak”


“Berarti rumah penggergajian kosong mas Burhan, apa tidak bahaya kalau ditinggal dalam keadaan kosong?”


“Tidak apa-apa pak, kan sudah sering saya tinggal kalau pak Agus kebetulan tidak pulang ke rumah”


“Ngomong-ngomong anak bapak datang jam berapa, kok kopinya tidak diminum pak hehehe”

__ADS_1


“Tadi istri saya bikinkan kopi tapi tidak tanya-tanya ke anak saya dulu, akibatnya kopinya tidak diminum oleh anak saya”


“Kalau begitu daripada nanti dibuang, lebih baik saya bawa saja pak… sayang kalau kopi dua gelas gitu nantinya dibuang pak hehehe”


“Ya.. sebentar mas Burhan, akan saya bilang istri saya untuk tuang di plastik saja”


Wuih pembicaraan antara Burhan dan pak Solikin bener bener bahaya… hanya karena kopi yang tadi aku dan Tina tidak jadi minum..


Tapi untungnya pak Solikin pandai juga bersandiwara…


Hanya saja yang bikin bingung itu bagaimana aku dan Tina bisa pulang apabila si Burhan nanti akan ke rumah Wito yang hanya berjarak dua rumah  dari rumah pak Solikin.


Semoga pak Solikin bisa memberikan solusi kepada Burhan agar dia segera pulang ke rumah penggergajian dan tidak jadi menginap di rumah pak Wito.


Tapi mana mungkin…. asyu dahlah….


“Mas Burhan… lebih baik sampeyan pulang ke rumah penggergajian saja, disana tidak ada orang yang nungguin mas, bisa bahaya kalau ada maling”


“Tidak pak…. saya ke rumah pak Wito saja”


Pak Solikin berusaha membujuk agar Burhan pulang ke rumah penggergajian…


Tapi keliatanya bujukan pak Solikin tidak ada hasilnya, karena Burhan tetap akan menginap di rumah Wito.


“Sampeyan jam segini mau ke rumah Wito… apa dia belum tidur? jam segini biasanya pekerja itu sudah tidur, seperti saya, tadi sudah tidur, sampeyan datang malah saya terbangun lagi”


“Biasanya pak Solikin kan pergi mancing juga hehehe, masak pemancing malam hari jam segini sudah mapan turu pak”


Burhan benar-benar tidak mau diusir dari desa ini untuk pulang ke rumah penggergajian, sebenarnya ada apa dengan dia?


Tingkah dia benar-benar mencurigakan…


“Ya sudah mas, jangan permasalahkan saya pergi mancing atau tidak, kalau sampean mau ke rumah Wito, lebih baik sekarang saja”


“Karena saya mau melanjutkan tidur saya”


Burhan ini benar-benar orang yang tidak tau diri… apa dia tidak tau kalau pemilik rumah sudah mengusirnya secara halus..


Aku yakin pak Wito pun akan terganggu juga dengan kedatangan Burhan di rumahnya.


“Ya sudah saya pamit dulu… tapi saya mau kenalan dengan anak bapak…”


“Heh.. mas Burhan…maumu itu apa, kenapa kamu ingin bertemu dengan anak kami”


“Hehehe ya tidak papa pak, memangnya salah? saya kepingin saja ketemu dengan anak sampean pak hehehe”


“Hihihi… Agus bukan apa-apa pak, saya lebih dekat dengan bos besar, apa yang saya katakan bos besar akan percaya dengan saya Hahahahaha”


“Saya bisa buat Agus dipecat secepatnya kalau saya mau pak hehehe, tapi saya kasihan dengan dia”


“Ya sudah.. saya mau pergi dulu…ingat besok pagi sampean harus kerja, dan jangan terlambat, atau saya akan laporkan kemalasan sampean ke bos besar hahaha”


GIla orang itu…makanya pak Solikin tidak suka dengan Burhan, selama ini dia selalu bertingkah laku sopan di depanku.


Dan anehnya dia kok bisa menjadi kepercayaan bos besar, bagaimana orang seperti itu bisa menjadi tangan kanan bos besar!


Lalu tentang pengamatanku dengan Tina waktu malam hari itu… apakah itu benar-benar Burhan?


Tetapi kan pak Solikin belum bercerita tentang Burhan , keburu dia datang ke rumah ini.


Dan sekarang aku dan Tina malah terjebak di rumah ini!.


Ucapan salam  dari Burhan yang sekarang sudah keluar dari rumah masih bisa kudengar, suara pintu rumah pak Solikin yang ditutup pun masih bisa kudengar dengan jelas.


Burhan sudah keluar dari rumah ini, tapi aku dan Tina terjebak disini!


“Mbak Tina…”


“Mbak Tina…ayo bangun mbak…. kok malah ketiduran gini hehehe”


“Iya mas… maaf Tina ketiduran , habisnya enak juga di desa ini mas”


“Gimana mas Agus… Burhan sudah pulang?”


“Sudah mbak, tapi kita yang tidak bisa pulang, kita terjebak disini mbak!”


“Hihihi ya sudah mas… kalau memang terjebak, ya besok subuh saja kita pulangnya mas”


“Tina masih kepingin lanjut tidur dengan penerangan lampu minyak mas, rasanya syahdu mas….”


“Peluk Tina dong mas… Tina kan kepingin dipeluk mas Agus hihihih”


“Ih… jangan aneh-aneh mbak… ayo bangun dulu mbak, kita harus pikirkan bagaimana caranya keluar dari rumah pak Solikin dengan selamat

__ADS_1


Aku  bingung, khawatir… tapi Tina malah enak enakan…


Gila…Burhan bisa menguasai pak Solikin dengan kata-kata yang tadi kudengar…


Seolah olah dia itu punya kuasa penuh atas semua pekerjanya pak bos besar.


Aku masih menunggu pak Solikin atau istrinya masuk ke dalam kamar dan berdiskusi bagaimana kami bisa keluar dari rumah ini dengan selamat.


Tapi kalau kita akan menuju ke keluar desa pasti akan melewati rumah pak Wito


Tiba-tiba kelambu  yang memisahkan kamar ini dengan ruangan yang di depan kamar tersingkap.


“Pak Agus…pak Agus tidak bisa pergi dari rumah ini secepatnya…”


“Burhan ada di rumah WIto sekarang, dan kemungkinan besar dia akan menginap disana pak”


“Iya pak Solikin… saya tadi sempat dengar semua pembicaraan antara pak Solikin dengan Burhan. Dan saya bingung dengan orang ini pak”


“Sudah jangan bingung tentang dia pak Agus, yang sekarang pak Agus harus pikirkan adalah bagaimana keluar dari desa ini dengan selamat”


“Tapi saya masih kepingin mendengar cerita kelanjutan tentang Burhan itu”


“Jangan sekarang mas…. besok atau lain kali akan saya ceritakan, yang terpenting mas Agus ketahui adalah Burhan ini raja tega, dia akan lakukan hal yang terkejam pun hanya untuk mendapatkan apa yang dia inginkan”


“Jadi alasan saya sangat tidak suka dengan Burhan salah satunya ya itu mas Agus, karena dia sangat keji!”


“Saya yakin dia malam ini tidak tidur… saya yakin dia akan tetap memperhatikan rumah saya, karena dia penasaran dengan putri saya”


“Lalu bagaimana saya bisa keluar dari rumah ini pak?”


“Tepat sebelum adzan subuh saja mas…. manusia itu masa ngantuknya adalah sebelum subuh, Burhan bisa saja terlelap ada jam jam itu mas”


Pak Solikin benar-benar mengkhawatirkan kami berdua, hingga dia merasa harus mengeluarkan kami secepatnya dari rumah ini.


“Pak… satu pertanyaan dari saya boleh pak?”


“Tidak usah mas, saya tidak akan jawab pertanyaanmu, lebih baik kita pikirkan bagaimana caranya bisa keluar dari rumah saya dengan selamat”


“Eh nanti tengah malam mas Agus jangan terlalu lelap tidur, saya khawatir dengan motor kalian yang diparkir di halaman rumah saya”


“Lho memangnya kenapa pak, apakah disini rawan?


“Disini aman mas, yang tidak aman adalah karena disini ada yang namanya Burhan itu, saya yakin dia akan melakukan sesuatu dengan motor itu sehingga tidak akan bisa dikendarai”


“Karena dia menginginkan bertemu dengan anak saya sehingga apapun akan dia lakukan untuk bisa bertemu dengan anak saya”


“Jadi lebih baik mas AGus tidak terlalu lelap tidurnya malam ini, dan apabila ada yang mencurigakan, segera bangunkan saya mas”


“Waduh Burhan kok bisa senekat itu pak, Tina jadi takut pak”


“Jangan khawatir mbak, orang itu memang nekat, dia merasa jagoan dimanapun dia berada”


“Pokoknya mas Agus harus  waspada untuk malam ini. Maaf, saya istirahat dulu mas mbak, karena besok saya harus kerja lagi”


“Ya sudah pak, malam ini saya akan ada di ruang tamu, oh iya, minyak tanahnya ada dimana pak, karena seandainya lampu petromak ini sudah mulai kehabisan minyak tanah, bisa saya isi lagi”


“Oh… itu mas, di dekat lemari makan ada jerigen yang masih berisi setengah minyak tanah. eh untuk koreknya ada di sebelah kompor minyak itu mas”


Setelah menunjukan dimana letak minyak tanah dan korek api, pak Solikin masuk ke kamar.


Aku menuju ke ruang tamu yang terang benderang, karena lampu petromak masih berisi penuh dengan minyak tanah.


Tina yang tampaknya sudah segar menemaniku di ruang tamu rumah pak Solikin. kami berdua harus menjaga agar motor Tina aman-aman saja dari ulah Burhan.


“Mas… apa mas Agus yakin apabila Burhan nanti kesini untuk sabotase motor Tina?”


“Kalau mendengar dari apa yang dikatakan kepada pak Solikin… saya kok yakin ya mbak, tapi untuk lebih jelasnya, kita harus ada di ruang tamu dan berusaha mengawasi motor mbak Tina”


“Iya mas… Menurut Tina, Burhan itu tipe orang psikopat mas, dia mungkin saja sudah melakukan kejahatan lainya di sekitar sini”


“Itu tadi yang pak Solikin belum sempat cerita mbak, tadi keburu Burhan datang kesini”


“Sudahlah mbak, yang penting untuk malam ini kita harus waspada dulu”


Aku duduk santai di ruang tamu rumah pak Solikin yang sederhana, suara mendesis dari lampu petromak terdengar jelas.


Dan untungnya lampu petromak milik  pak Solikin ini agak baru dari pada yang ada di rumah penggergajian, sehingga  nyalanya masih stabil.


Tapi lebih baik lampu ini aku redupkan saja sinarnya, agar aku bisa mengintip dari jendela rumah  apabila ada seseorang yang sedang ada di luar rumah.


Setelah dikurangi sinar lampunya dengan cara mengurangi semburan minyak tanah dan udaranya, maka nyala lampu petromak ini bisa menjadi temaram.


Jam sudah menunjukan waktu tengah  malam, Tina sudah tertidur pulas di bahuku, tetapi aku masih terjaga karena rasa tanggung jawabku terhadap motor mbak TIna.

__ADS_1


Ketika aku sedang melamun tentang keadaan ku, tiba-tiba di luar rumah pak Solikin ada seperti orang yang sedang berjalan.


Ada suara langkah kaki yang berjalan mendekati rumah ini.


__ADS_2