RUMAH PENGGERGAJIAN

RUMAH PENGGERGAJIAN
285. AGUSTA DAN AGUSTIN


__ADS_3

Gak ngurus…


Untuk saat ini aku gak mau bergesekan dengan hal-hal yang berbau ghaib, aku harus fokus pada kelahiran anakku saja, lagi pula apabila kami ada di dalam hutan, pasti kami  akan dilindungi oleh leluhur istriku.


Bau busuk ini semakin tajam,  tapi aku tidak pedulikan.


Aku jalakan mobil membelok ke kiri ke jalan yang menuju ke pembangunan resort dan rumah kami.


Setelah berbelok ke kiri bau busuk itu perlahan lahan semakin memudar dan akhirnya bau busuk itu hilang sama sekali.


Setelah sepuluh menit dengan kecepatan lumayan akhirnya aku sampai juga di proyek pembangunan resort, kebetulan pengawas resort sedang ada di tempat parkir kendaraan para pekerja.


*****


“Pak  Idin….” panggilku pada pengawas yang sedang memperhatikan pekerja yang ada di atas


“Ya pak Agus.. ada apa?”


“Begini pak Idin, pagi ini istri saya lahiran, tolong laporan yang nanti bapak biasanya laporkan ke saya, buatkan secara tertulis saja, terus titipkan ke pos satpam, saya akan ambil setelah saya selesai dengan urusan rumah sakit”


“Oh iya pak AGus…. Wah selamat ya pak, pak Agus akan punya momongan heheheh”


“Terima kasih pak Idin, ok kalau gitu pak, saya akan kembali ke rumah untuk mengambil beberapa keperluan dan telepon genggam satelit, nanti kalau ada apa-apa bapak bisa telepon saya saja”


Setelah bicara dengan pak Idin pengawas lapangan, aku berjalan kaki mengelilingi proyek untuk memastikan tidak ada apa-apa, aku khawatir dengan keadaan pekerja disini setelah tadi aku sempat bersinggungan dengan  yang aneh aneh ketika perjalanan menuju ke sini.


Ternyata untuk saat ini keadaan disini masih aman, tidak ada gangguan sama sekali. Tadi aku sempat bicara dengan beberapa pekerja dan menanyakan keadaan mereka.


Setelah ini aku akan kembali ke rumah untuk mengambil telepon genggam satelit, dan  baju ganti untuk aku sendiri, karena istriku tadi tidak membawakan aku baju ganti.


Di proyek ini memang sudah disediakan telepon satelit selain di rumahku, jadi di kantor proyek yang semi permanen juga disediakan telepon satelite, yah karena sampai detik ini di sekitar hutan ini belum tercover Sinyal dari salah satu provider seluler.


Untuk masalah kelistrikan di kantor juga menggunakan energi matahari, karena disini belum ada listrik masuk hutan hehehe.


Tugasku disini hanya sebagai pengawas atas apa yang terjadi oleh para pekerja saja, aku bukan insinyur yang paham tentang proyek ini, aku hanya meminta laporan tentang keadaan pekerja dan situasi lingkungan in… pokoknya di semua sisi wilayah ini.


Jarak antara proyek dengan tempat tinggalku mungkin hanya sekitar dua menit perjalanan dengan menggunakan kendaraan, sehingga aku bisa melihat proyek itu dari rumahku.


****


Mobil sudah aku parkir di parkiran depan rumah sakit, sekarang sudah pukul tiga pagi, aku langsung menuju ke bagian rawat inap yang masuknya melalui pintu gerbang depan rumah sakit.


Penjaga malam sempat menanyakan kepentinganku datang kesini jam tiga pagi ini.

__ADS_1


Memang tadi ketika aku datang bersama istriku, kami langsung ke UGD, dan dari UGD menuju ke ruangan rawat inap aku masuk melalui bagian belakang rumah sakit, sehingga aku tidak bertemu penjaga keamanan di bagian depan rumah sakit.


“Saya tengah malam tadi antar istri yang sudah mau melahirkan ke bagian UGD pak, nah sekarang istri saya ada di bagian rawat inap untuk melahirkan” aku memberikan penjelasan kepada satpam yang berjaga


“Oh yang mobil masuk dan keluar dari belakang tadi itu ya pak” kata salah satu satpam yang ternyata melihat mobilku masuk dan kemudian keluar dari rumah sakit tadi


“Iya pak, dan tadi yang menerima di UGD dokter Joko” jawabku


“Ya sudah pak.. Ayo saya antar ke dalam, karena jam segini sebenarnya tidak diperbolehkan siapa saja berkeliaran di bagian dalam sini, kecuali di UGD pak” kata salah satu satpam yang kemudian mengantar aku


Selama istriku hamil, istriku selalu mengontrol kehamilan di puskesmas desa, dan rencananya istriku akan melahirkan dengan ditangani oleh bidan desa yang rumah prakteknya ada di dekat rumah wartel istriku.


Tapi entah aku kok gak percaya dengan bidan, aku lebih percaya dengan rumah sakit ini… jadi ya kebetulan juga tadi malam perut istriku sakit, dan langsung saja aku bawa ke rumah sakit ini dari pada ke bidan.


Ketika aku sudah sampai di ruangan rawat inap khusus melahirkan, ternyata ruangan itu kosong, yang ada hanya tas pakaian dan peralatan yang dibawa dari rumah tadi…


“Kok kosong pak”


“Sebentar pak Agus, saya tanyakan ke bagian suster jaga dulu” kata satpam itu berjalan agak cepat menuju ke bagian ruangan yang ada di pojokan


Kami berdua berjalan cepat ke tempat suster jaga, dan kebetulan disana ada satu suster yang sedang menulis sesuatu di buku catatannya.


“Sus, pasien yang ada di kamar tiga yang bernama bu Agustina dibawa kemana, ini suaminya sus” tanya pak Satpam


“Oh ini suaminya yang bernama pak Agus….?” kata suster


“Mari saya antar pak, dan untungnya dokter Sisil bersedia datang setelah dokter Joko menelpon beliau. Dan sekarang mungkin sedang diobservasi untuk dilakukan pembedahan pak”


“Eh pak Agus, nanti diantar suster saja ya, saya akan kembali ke pos jaga kami” kata pak satpam kemudian mengundurkan diri


“Dan untungnya lagi, ruang operasi itu sedang kosong, biasanya rame jadwal operasi, dan untungnya lagi yang bertugas di ruang operasi masih lengkap, dan sekarang mungkin mereka sedang menyiapkan segalanya pak”


“Iya sus, saya gak ngira kalau harus operasi, karena pihak puskesmas tidak pernah bilang kalau istri saya harus menjalani operasi untuk mengeluarkan bayi yang ada di kandungan”


“Eh maaf sus.. Bukanya untuk operasi harus ada yang tanda tangan soal biaya dan siapa yang bertanggung jawab?”


“Oh tadi dokter Joko yang tanda tangan pak, karena pak Agus katanya sedang pulang untuk melihat proyek”


Aku dan suster menuju ke ruang operasi yang jaraknya tidak jauh dari sini, tetapi aku tentu saja hanya bisa menunggu di ruang tunggu saja, aku tidak diperbolehkan masuk ke dalam.


Tiba-tiba dokter Joko keluar dari ruang operasi…


“Ah pak Agus datang juga akhirnya, tenang saja dan banyak berdoa pak, karena saat ini sedang dalam proses pembedahan…” kata dokter JOko

__ADS_1


“Oh iya.. Bayinya kembar ya pak Agus?” tanya dokter Joko


“Ha.. kembar…?”


“Kok aneh ya dok, soalnya selam periksa di  puskesmas,  tidak ada kata-kata bahwa bayi saya adalah kembar Dok?”


“Wah.. aneh pak Agus, tapi yang pasti bayi yang sedang dikandung bu TIna ini kembar, sekarang berdoa pak, semoga bayinya bisa lahir dengan selamat” kata dokter Joko


Aneh, selama ini tidak ada perkataan bayi kembar dari pihak puskesmas, makanya aku dan istriku santai aja, lha ini dapat kabar dari dokter Joko bayi yang akan dilahirkan adalah kembar.


“Pak, saya tinggal dulu ya, nanti dokter Sisil yang akan kabari pak Agus, saya masih ada keperluan di bagian UGD” kata dokter Joko kemudian pergi meninggalkan aku  di ruang tunggu operasi


“Nanti saya akan ke sini atau ke ruang rawat inap saja pak” kata dokter Joko sambil berjalan keluar


Aku bersyukur dapat dua anak, tapi aku dan istriku belum menyiapkan nama kembar untuk anak kami….


*****


Sudah hampir satu jam aku menunggu di ruang tunggu di dekat pintu keluar ruangan operasi, hingga satu jam ini belum ada yang keluar dari ruang operasi untuk mengabari aku.


Aku mondar mandir di antara bangku bangku yang kosong, terus terang di kesendirianku ini aku sempat sekilas melihat ada penampakan mbah Sutinah…


Sekilas aku lihat dia sedang berdiri di depan pintu kamar operasi.. Tapi aku hanya lihat sekilas saja, karena setelah itu pintu keluar ruang operasi terbuka.


Seorang perempuan keluar dari pintu ruagann itu.


“Pak Agus?” sapa perempuan dengan tersenyum


“Iya saya dok”


“Ah pak Agus…saya dokter Sisil. Selamat ya bayinya kembar laki -laki dan perempuan” kata perempuan yang ternyata adalah dokter Sisil


“Eh bagaimana keadaan istri saya dan bayi saya dok?”


“Semua sehat dan selamat… pak Agus bisa tunggu di kamar rawat inap saja” kata dokter Sisil dengan tersenyum


*****


Dua hari di  kamar rawat inap…


“Mas… udah mutusin siapa nama anak kita.. Udah dua hari lho ini mas, masak anak kita belum punya nama mas?”


“Hehehe di otakku cuma ada nama Agusta dan Agustin Yank.. cuma itu aja dari kemarin”

__ADS_1


“Hihihi sama mas, di kepalaku cuma ada nama Agus aja mas…kebetulan nama kita kan Agus juga mas hihihi”


“Ya udah Yank… untuk sementara ini yang cowok kita namai Agusta, sedangkan yang cewek kita kasih nama Agustin, untuk nama belakangnya kita nunggu dari mbah Sutinah saja yank”


__ADS_2