RUMAH PENGGERGAJIAN

RUMAH PENGGERGAJIAN
116. SEBENARNYA KUNYUK ITU SIAPA MAS?


__ADS_3

“Sampai jam berapa kita ada disini, saya sudah lapar sekali!”


“Sabar Nyuk…. kita tunggu sampai Agus keluar… saya yakin dia akan keluar hari ini!”


“Ahhh…. kita  gantian saja nunggunya. saya mau sarapan dulu, dari kemarin malam saya belum makan”


“Ya sudah sana.. saya tunggu disini”


“Oh iya Nyuk… ingat kamu harus segera mendapatkan Agus!... ingat nyawamu saat ini dalam bahaya!”


Orang yang sedang nunggu di atas motor ini salah satunya Kunyuk…mereka berdua  yang kemarin  ada di depan rumahku.


Dan sekarang mereka ada di depan rumah sakit untuk menunggu mas Agus keluar dari sini.


Yang aku heran.. bagaimana mereka berdua tau kalau mas Agus sedang opname disini?


Dan omongan teman kunyuk tentang Kunyuk yang sedang dalam keadaan bahaya…apakah ini karena dia sedang dalam pengejaran pak Wandi dan Mamad?


Kuperhatikan orang yang bernama Kunyuk itu menuju ke warung pecel, tempat aku memesan satu bungkus pecel.


“Ini saja bu kuenya” kataku kepada penjual jajan pasar


Aku kembali lagi ke warung pecel setelah membeli jajan pasar dan mendengarkan pembicaraan singkat orang yang ada di motor itu.


Orang yang dipanggil Kunyuk itu sedang duduk di bangku panjang sambil menunggu nasi pecel yang dia pesan.


Sekilas orang yang dipanggil Kunyuk itu posturnya agak aneh, dia pendek dengan mulut yang terlalu maju dibandingkan hidungnya.


Dari segi postur dia bukan orang yang smart atau pemikir kelihatanya dia itu seorang suruhan lapangan.


“Bu… pecel saya suda jadi?” tanyaku kepada penjualnya


“Sampun mbak (sudah mbak)…ini… dua belas ribu saja” jawab penjual sambil menyerahkan bungkusan pecel kepadaku


Sebenarnya aku ingin tetap tinggal disini untuk mengetahui apa yang mereka berdua bicarakan, tapi jelas tidak mungkin, karena mas Agus sedang menungguku.


Sebelum aku pergi dan masuk ke dalam area rumah sakit, kuperhatikan plat nomor motor yang mereka berdua gunakan.


“Bu.. boleh pinjam bolpoin sebentar” aku bertanya kepada penjual pecel


Penjual pecel itu memiliki bolpoin karena kadang memberi tulisan di bungkusnya.


Seperti bungkusan pecel milikku.. tadi aku bilang kalau tidak pakai beberapa sayuran yang aku tidak suka. dan akhirnya ditulis sesuai dengan pesananku.


“Itu disana mbak” jawab penjual pecel sambil menunjuk pada bolpoin yang tergeletak di bungkus-bungkus pecel


Setelah kutulis plat Nomor motor dan kemudian ku kembalikan pulpen itu kepada penjual pecel, aku kemudian masuk ke area rumah sakit.


Untungnya mereka tidak tau wajahku, dan yang Kunyuk ingat hanya wajah mas Agus saja,  huuufff.


Aku berjalan cepat di selasar rumah sakit yang pagi menjelang siang hari ini ramai sekali, baik ramai oleh pengunjung atau orang yang sedang berobat.


Aku berjalan  menuju ke arah kamar dengan otak berpikir keras… Sesuatu yang membuat aku sangat bingung….


Yang ada di luar itu adalah Kunyuk… dan kunyuk sekarang bersama dengan temannya.


Aku coba hubung-hubungkan fakta yang sudah ada sih...


*****


Kunyuk ditolong mas Agus dari rencana pembunuhan oleh Mamad dan pak Wandi, karena Kunyuk mencuri uang atas pembayaran barang milik bos nya pak Wandi dan Mamad.


Kunyuk adalah orang suruhan dan kurir dari bos dia sendiri… dan tugas kunyuk hanya sebagai pengantar paket saja.


Pak Wandi dan Mamad juga mempunyai seorang bos besar juga, dan bos besar itu kemungkinan besar juga bos dari mas Agus.


Bos besarnya pak Wandi kata Kunyuk berkecimpung dalam bidang yang sama dengan bosnya Kunyuk.


Antara bosnya Kunyuk dan bosnya pak Wandi ini kadang bekerja sama apabila salah satu kehabisan stok barang.


Tetapi katanya kedua bos besar ini juga saling bersaing dalam memasarkan barangnya.


Diantara kedua bos besar ini ada pak Wandi dan ada Burhan…


karena pak Wandi maupun Burhan ternyata bekerja sama juga dengan bosnya kunyuk.


Kesimpulan awal yang aku bisa ambil adalah…Pak Wandi dan Burhan adalah orang yang tidak bener, karena mereka berdua bekerja dengan dua bos yang saling bersaing.


Berarti disini bisa disimpulkan bahwa kedua bos besar itu tidak tau apabila pak Wandi dan Burhan bekerja dengan dua bos besar itu.


*****


Dengan hal itu semua, maka aku bisa simpulkan Kunyuk adalah masalah besar bagi pak Wandi dan Burhan.


Karena bisa saja Kunyuk melaporkan ke bosnya tentang pak Wandi dan Burhan yang ternyata bekerja sama dengan pesaing bosnya.


Atau bisa saja Kunyuk yang merasa terancam akan melaporkan kegiatan ini kepada polisi.


Bisa jadi kunyuk mencari mas Agus karena dia merasa dalam bahaya, dan butuh pertolongan mas Agus.

__ADS_1


Ok.. stop berpikir tentang Kunyuk…


Masih banyak hal lain yang menjadi teka teki, misal pak Wito dan Yetno… apa peran mereka di dalam rumah penggergajian itu.


Lalu ada lagi yang hantu yang kata mas Agus bernama Inggrid.. dia juga sebagai apa disana itu.


“Hahahaha begitu banyak masalah yang menghajar mas Agus…”


Aku sendiri juga merasa hidupku mulai berwarna dengan masalah yang dialami mas Agus…


Selama ini aku hanya di rumah dan jaga wartel hehehe..


Ah ternyata tidak terasa aku sudah ada di depan kamar mas Agus…


Nanti kalau dia sudah enakan, akan aku ajak bicara dan diskusi tentang kunyuk dan yang lainya.


“Dari mana aja mbak.. kok lama sekali  perginya?”


“Ini mas… beli pecel… pecelnya antri mas, ini Tina bawa jajan pasar… mas Agus mau?”


“Boleh mbak… saya masih lapar, makanan rumah sakit porsinya cuma bisa buat ganjal perut saja mbak”


Mas Agus ini sebenarnya orang yang kuat, hanya saja dia kurang beruntung ada dirumah penggergajian.


Dan sekarang dia malah mulai terlibat di persoalan yang lebih besar dari pada pencurian solar yang dilakukan oleh pak Solikin dan kawan kawan.


ASTAGA!!!.....


Bukanya pak Solikin kapan hari itu opname disini juga!


“Mas…. bukanya pak Solikin ada disini juga mas?”


“Oh iya mbak… tapi kemungkinan besar dia sudah pulang mbak”


“Sik mas, nanti Tina akan cek dulu, siapa tau dia ada disini"


Pintu kamar rumah sakit terbuka… seorang dokter yang tidak terlalu tua masuk dan menghampiri mas Agus yang sekarang sedang tiduran di tempat tidur.


“Selamat pagi…. bagaimana keadaan kepala pak Agus?” sapa dokter itu


“Selamat pagi dok…. bagian yang belakang ini masih sakit kalau digunakan untuk sedikit berpikir” jawab mas Agus


“Kemudian kalau digunakan untuk jalan… rasanya limbung dok”


“Ya pak Agus… saya paham, memang ada trauma sedikit di bagian belakang kepala, tapi  untungnya tidak dalam keadaan gegar otak”


“Permisi dokter… kira-kira suami saya ini bisa keluar dari sini kapan ya dok?”


“Hmm yang pasti  tidak untuk hari ini bu… kalau keadaan sore atau malam nanti sudah lebih baik, mungkin besok siang atau sore sudah bisa keluar dari sini” jawab dokter itu


Setelah memeriksa keadaan mas Agus, dokter itu kemudian pergi dari kamar mas Agus..


Untuk hari ini mas Agus belum bisa keluar dari rumah sakit, dan itu suatu hal yang baik…


Karena di luar sana sudah ada yang menunggu mas Agus keluar.


“Waduh mbak… saya belum bisa keluar hari ini”


“Tidak papa mas.. lebih baik gitu karena….”


Sengaja aku tidak ,melanjutkan omongan, karena aku takut keceplosan tentang adanya Kunyuk dan temanya yang sedang  menunggu mas Agus diluar sana.


“Karena apa mbak, kok tidak diteruskan jawabanya?”


“Nggak papa mas…. karena Tina mau tanya tentang pak Solikin yang mungkin masih ada di rumah sakit ini”


“Oh gitu…. saya pikir karena di luar sana ada yang sedang menunggu saya keluar dari rumah sakit hehehe”


Aduh… sialan!, mas Agus bisa menebak seperti itu!


Apa yang harus aku lakukan.. apakah aku harus terus terang tentang si Kunyuk yang masih menunggu mas Agus keluar dari sini?


Apakah tidak masalah dengan kepalanya apabila aku terus terang saja tentang orang yang menunggu mas Agus itu.


“Kok mbak Tina malah diam gitu mbak… memangnya ada apa mbak?”


“Eh… tidak papa mas.. eh memang lebih baik mas Agus ada disini dulu karena….”


“Karena kesehatan mas Agus belum pulih sepenuhnya, sehingga jelas tidak mungkin mas Agus harus beraktifitas di luar sana”


“Iya mbak… itu alasan yang paling tepat, tapi saya merasa saya sedang ditunggu orang diluar. Ada orang yang sedang ada perlu dengan saya”


“Jangan berpikir yang berat-berat dulu mas… memang pastinya ada orang yang masih memerlukan mas Agus, karena keterlibatan mas Agus itu”


“Makanya mas Agus lebih aman disini dulu saja”


“Iya mbak Tina… saya hanya kepikiran tentang Kunyuk… apa benar dia itu yang mengintai rumah mbak Tina dan mengikuti mbak Tina?”


“Dia kan tidak tau wajah mbak Tina”

__ADS_1


“Iya mas Tina paham….. memang Tina rasa Kunyuk itu belum tau wajah Tina, tapi bisa saja dia kan membuntuti Tina karena waktu itu Tina keluar dari rumah TIna kan mas”


Waduh mas Agus mulai membicarkan tentang kunyuk, apakah aku harus bicara tentang dua orang yang sedang menunggu di luar?


Ah coba aku ajak bicara tentang dua orang yang sedang menunggu di luar itu, yang salah satunya dipanggil Nyuk!


“Mas… tadi waktu Tina jalan kaki ke luar beli pecel, Tina bertemu dengan dokter Hendra. dan katanya nanti malam beliau dan dokter Joko mau kesini”


“Terus ada satu lagi mas….di sebelah bakul pecel yang sangat rame, ada dua orang yang selalu melihat ke arah gerbang rumah sakit”


“Dan TIna dengar salah satu dari mereka memanggil temannya dengan sebutan Nyuk.. dan Kunyuk”


“Tina juga sempat dengar, mereka berdua sedang menunggu mas Agus keluar dari rumah sakit”


“Yah… saya bisa menebak itu mbak…. saya sudah bisa memperkirakan bahwa ada yang sedang mencari dan menunggu saya di sekitar rumah sakit ini”


Mas Agus kemudian menunduk, sepertinya dia sedang berpikir keras tentang orang-orang yang sedang menantinya.


Sepertinya mas Agus belum punya jalan keluar atas apa yang dia alami…


“Tina tau mas…dan herannya kenapa mereka bisa tahu bahwa mas Agus ada di rumah sakit ini”


“Dan bagaimana mereka bisa tahu rumah Tina, dan seringnya mas Agus ada di rumah Tina”


“Iya mbak….. saya juga tidak habis pikir tentang itu. eeeh apa mungkin mereka tanya-tanya kepada penjaga malam yang menemukan saya tergeletak di jalan mbak?”


“Nah itu juga yang Tina pikirkan mas…. Tina yakin Kunyuk mendapat informasi dari penjaga malam kampung”


“Saya rasa Kunyuk saat ini memerlukan bantuan saya mbak… oklah, dia sekarang memang selamat dari kejaran Wandi dan Mamad”


“Tapi dia masih buronan Mamad dan Wandi… apalagi mungkin bisa saja hari ini Burhan keluar  dari penjara, dan setelah itu dia akan mencari Kunyuk atas perintah dari Wandi”


“Karena Kunyuk itu sekarang sudah menjadi satu-satunya orang yang berharga, dia bisa melaporkan kegiatan ilegal mereka semua”


“Makanya dia sekarang sedang mencari saya mungkin untuk meminta pertolongan saya”


“Bisa juga seperti itu mas… tapi bisa saja sebaliknya… kita tidak tau jalan pikiran orang mas”


Aku paham apa yang dikatakan mas Agus… tetapi itu kan hanya opini subjektif dari mas Agus sendiri…


Kita tidak tau apa yang sebenarnya sedang terjadi…


Aku curiga kalau dia itu sekarang sedang memburu mas Agus untuk diserahkan kepada pak Wandi.


Aku rasa dia kemarin malam itu tertangkap, dan dengan segala muslihatnya dia bisa tidak terbunuh.


Ah… itu kan hanya perkiraanku saja hehehe..


Aku sekarang malah menikmati jadi  detektif dalam mengungkap teka teki yang mulai terbaca petunjuknya hehehe.


“Mas… habis ini mas Agus istirahat saja, Tina mau cari kamar pak Solikin. Mudah-mudahan dia masih ada di rumah sakit ini”


“Iya mbak… saya rasanya masih lemas dan mulai ngantuk lagi. apakah ini karena pengaruh dari infus ya mbak?”


“Yah mungkin saja akibat infus itu… dahlah, buat istirahat saja mas, Tina mau jalan jalan setelah mas Agus tertidur”


Lebih baik mas Agus tidur sajalah, karena aku bisa bebas untuk mencari informasi  tentang pak Solikin… dan mungkin saya akan akan keluar rumah sakit untuk melihat apakah ada orang yang sedang menanti mas Agus lagi.


Setelah kutunggu beberapa menit, akhirnya mas Agus Pun tertidur…


*****


Aku berjalan di selasar rumah sakit, tujuan pertamaku adalah tempat suster berjaga, biasanya disana ada daftar nama pasien yang rawat inap.


Semoga pak Solikin masih ada di sini, sehingga aku bisa tanya-tanya lebih detail lagi tentang apa yang sedang terjadi.


Nah… kebetulan di ruang  jaga suster itu ada dua orang yang sedang duduk dan ngobrol


“Selamat siang sus…” sapaku kepada suster yang sedang menulis sesuatu di buku besar


“Iya… selamat pagi bu… ada yang bisa kami bantu?” tanya suster yang tadinya sedang menulis sesuatu itu


“Saya suami pak Agus yang ada di kamar paling ujung itu sus…”


“Saya kesini cuma mau minta informasi tentang seseorang yang juga rawat inap disini”


“Kebetulan saya baru ingat bahwa saya ada saudara yang beberapa hari lalu masuk ke UGD dan kemungkinan besar masih rawat inap disini”


“Hmmm kalau boleh tau siapa namanya bu?”


“Biasanya kalau di desa saya terbiasa manggil dia Lek Kin… atau Lek Solikin”


“Sebentar saya cari dulu yang bernama Solikin….” jawab suster itu


Kulihat suster itu sedang membuka sebuah buku yang besar, kemudian dia membalik balik halaman buku itu beberapa kali.


“Hmm ini ada yang bernama pak Solikin… sebentar bu… beliau direncanakan pulang hari ini seharusnya”


“Hmm sebentar saya tanya kebagian administrasi dulu bu”

__ADS_1


__ADS_2