
Siang hari seperti biasanya tidak ada yang aneh dari para pekerja.
Aku sedang duduk santai di ruang tamu sambil berpikir dan berandai andai tentang apa yang terjadi disini.
Para pekerja sudah dari tadi datang, mungkin sekitar jam 07.00 an.
Pagi ini seperti sebelumnya Pak Solikin tetap saja tidak mau mendekati Burhan, entah ada masalah apa dia dengan Burhan, sementara itu Burhan beberapa kali ngobrol dengan pak Wito.
Tadi pagi juga sebelum jam tujuh, mobil pengangkut solar datang, dua drum solar mereka gelindingkan seperti sebelum sebelumnya….
Tidak nampak wajah-wajah mencurigakan dari mereka yang mengirim solar, pun pak Solikin yang sedang membuat palet di bagian samping rumah.
Siang ini rasanya membosankan setelah malam tadi aku ngobrol bersama Burhan tanpa mendapat sedikitpun kesimpulan.
Yang aku tidak habis berpikir, sampai sekarang aku belum bisa menyimpulkan sedikitpun siapa yang ada di balik pencurian solar.
Burhan…dia saat ini memang berhasil mengungkap siapa saja yang ada di balik urusan ini dengan bukti-bukti tempat penyimpanan solar maupun cara-cara teknis penjualanya.
Tapi aku curiga dia juga ada di dalam bagian dari kelompok ini….Karena dia bisa tau semua orang yang terlibat cara teknis pengerjaan.
Tetapi anehnya dia hingga kini ngakunya belum berhasil memergoki dengan mata kepala sendiri siapa yang melakukan aksi itu.
Dia hanya bisa menuduh si A, si B, si C yang terlibat hanya berdasarkan katanya aja.
Dengan Burhan seperti itu berarti kasus ini belum terpecahkan. Yang ada hanya tuduhan sepihak berdasarkan katanya saja.
Yang ada di kepalaku saat ini Burhan sedang mencari alibi, itu pun kalau memang dia adalah anggota dari kelompok itu.
Ah janc***k… mending mikir Tina ae lah.. lebih bikin ayem otak ku…
“Tina lagi ngapain ya, apa dia ndak kangen sama aku?”
Aku tersenyum sendiri kalau mengingat Tina, dia perempuan yang benar-benar membuatku terkesima dengan segala yang dia kerjakan.
“Apa sebaiknya siang ini aku ke sana… ke tempat Tina saja ya?”
“Tapi kan memang aku mau ke rumah sakit!”
Sejak semalam setelah kecebur di bawah kotak amal itu, lukaku sekarang agak perih dan gatal… sial bener semalam itu.
*****
“Mas Burhan.. kesini sebentar mas. ada yang mau saya omongin”
Burhan yang sedang bersama pak Wito membantu mengangkat log yang ada di samping rumah kemudian berlari menghampiriku.
“Ada apa pak?”
“Saya mau ke rumah sakit mas, semenjak semalam saya kecebur di kotak kenikmatan itu, luka saya kok perih dan gatal rasanya”
“Saya takut kalau infeksi mas”
“Waduh bener juga itu pak….dibawah kotak lamunan itu kan penuh dengan bakteri pak hehehe”
“Ya sudah mas, siang ini sebelum bu Tugiyem datang saya mau ke rumah sakit dulu”
“Oh iya mas, jerigen yang isinya bensin dimana mas….. motor tua itu bensinnya habis”
“Sik bentar pak, saya carikan dulu…. soalnya saya juga tidak tau dimana Mamad atau pak Wandi menaruh jerigen itu”
“Memang kapan hari itu yang isikan bensin ke motor itu si Mamad mas, cuma saya tidak tau sama Mamad ditaruh dimana”
Burhan berkeliling dan sesekali bertanya kepada pekerja yang ada disana, termasuk kepada pak Solikin yang ada di bagian palet.
Kemudian dia menuju ke teras luar, kelihatannya dia sudah menemukan jerigen bahan bakar untuk motor itu.
“Pak Agus, Jerigennya ada di sini, di sebelah jerigen minyak tanah hehehe”
Hmm ternyata jerigen isi bensin itu ada di luar, di sebelah jerigen minyak tanah, waduh nek caranya gini ya bahaya juga kalau misal ada orang yang benci dengan kita.
Bisa-bisa dia tinggal ambil jerigen bensin dengan mudah, kemudian dia bakar rumah ini.
__ADS_1
“Mas tolong jerigen bensin dan minyak tanah itu pindah saja ke belakang rumah, bahaya kalau ada di halaman rumah gini mas”
“Iya pak, nanti akan saya pindah”
*****
Siang ini sebelum bu Tugiyem tiba, aku sudah berangkat ke desanya TIna.
Memang alasan sebenarnya kan aku ingin bertemu dengan Tina, tapi setelah luka ku menjadi perih dan gatal ya sekalian saja ke rumah sakit juga.
Aku sedang membayangkan saat-saat berdua bersama Tina kemarin hingga aku ke tempat pak Pangat….
“Astaghfirullah hal adzim….. aku kok selalu lupa minum air pemberian pak Pangat!”
Sholat subuh juga lupa… minum air pemberian pak Pangat makin lupa….
Ya wis lah…
Kujalankan lagi motor tua ini setelah tadi sempat berhenti karena ingat dengan air pemberian pak Pangat.
Kenapa aku sampai lupa ibadah, lupa minum air pemberian pak pangat juga sih…
Asyudahlah, semoga besok subuh aku tidak lupa untuk minum air pemberian pak Pangat.
Siang hari ini aku sudah keluar dari hutan, dan sekarang menuju tempat tinggal Tina.
*****
Rumah Tina sedang tutupan, mungkin dia sedang ada di dalam…
“Assalamualaikum…. mbak Tina….”
“Waalaikumsalam mas Agus suami Tinaaaa….” Teriak Tina dari dalam rumah
Yah seperti sebelum-sebelumnya Tina mempersilahkan aku masuk dan seperti biasa kami bercengkrama di sofa ruang tamu.
Aku belum cerita tentang keadaanku, saat ini aku hanya ingin sekedar kangen-kangenan meskipun seperti biasanya aku ndak mau bereaksi sama sekali hehehe.
“Mas.. maem siang dulu yuk… kebetulan Tina baru selesai masak sayur asem, sambal tomat, sama goreng ikan tuna mas”
“Ih lapernya mau makan Tina… atau mau makan Tuna mas heheheh”
“Ayo dong mas…sekali kali makan Tina dong hehehe”
“Eh nganu…”
“Nganu .. mas Agus serius mau nganu in Tina… !” tanyanya dengan mata terbelalak
“Aduuh maksud saya…. laper makan Tuna masakannya mbak Tina”
“Ealah mas..tiwas Tina udah kemecer hihihihi”
“Saya sebenarnya kesini itu….”
“Karena kangen sama Tina kan mas!”
“Eh…i...iya mbak, tapi selain itu saya…..”
“Kangen sama Tina kan mas heheheh”
“Iya… m..mbak, tadi kan saya udah bilang ke mbak Tina hehehe”
“Kalok gitu, setelah makan siang ini kita ke kamar ya mas”
Aduuuuh lapo maneh diajak ke kamarnya dia.
Tapi biasane ke kamar kan hanya untuk sholat saja heheheh.
“Iya mbak, kan kita belum sholat dhuhur”
“Eh siapa yang ngajak mas Agus sholat dhuhur… Tina tadi udah sholat duluan kok mas hihihi”
__ADS_1
“Dah ah mas… kita makan siang dulu aja yuk”
“Tapi jangan kaget sama sambel hasil uleg an nya Tina lho mas…. mas Agus bisa merem melek kena ulegan Tina hehehe”
Tina merangkulku dan mengajak ke ruang makannya yang tidak terlalu besar, tetapi cukup bersih dan tertata rapi.
Aku duduk di kursi yang biasanya kududuki sebelumnya.
“Kemarin setelah mas Agus pulang dari sini dan menuju ke rumah penggergajian.. rasanya Tina kangen sekali…”
“Malamnya entah kenapa tiba-tiba Tina merasa mas Agus sedang kena masalah disana”
“Tina tidak bisa tidur mas, sholat maghrib dan Isya Tina selalu doain mas Agus suami TIna agar diberi keselamatan”
Tina kembali merangkul aku yang sedang duduk di kursi meja makan, hingga mangga gadung nya sempat menekan punggungku.
Benar-benar Tina ini, dia sampai mau mendoakan aku sampai seperti ini.
Kami makan siang bersama setelah aku berhasil membujuk Tina untuk melepaskan pelukan dan ciuman nya yang membabi buta.
Benar-benar sulit heheheh, kayak melepaskan diri dari lilitan ular piton heheheh.
*****
Aku dan Tina duduk di ruang tamu setelah selesai makan.
Sebelum dia melilitku dengan pelukan dan ciuman, aku buru-buru menceritakan apa yang terjadi dengan diriku kemarin malam hingga pagi hari.
“Mbak Tina saya mau cerita kejadian yang paling seru kemarin setelah saya pulang dari sini”
“Emmhhhssh memangnyah mas Agus mau cerita apa sih…..”
Tina kembali duduk di pangkuanku dengan kedua tangan diantara leherku dan kemudian dengan beringas mulai menciumiku..
“Aduuuh mbak Tina…..”
“Lho kenapa mas…?”
Aku memegang dadaku yang memang perih dan gatal…
Tina kaget dan dia melepaskan pelukannya, kemudian dia membuka bajuku untuk melihat lukaku…
“Ya ampun mas…. kenapa pinggir lukanya mas Agus jadi merah dan agak bengkak gini”
“I..iya mbak,.... makanya saya mau cerita ini mbak… dan setelah ini tolong antar saya ke rumah sakit ya mbak”
Tina mendengarkan ceritaku dengan serius mulai aku datang ke rumah pak Solikin, kemudian aku tercebur ke kali, hingga pengakuan Burhan tentang apa yang dia ketahui termasuk tempat untuk menampung solar curianya.
Tina sama sekali tidak tertawa ketika aku cerita tentang kecebur di bawah kotak lamunan.
“Dari cerita mas Agus barusan, Tina kok makin ragu dengan Burhan ya mas”
“Kalau seandainya dia itu hanya dengar dari pak Wito, jelas tidak akan sedetail itu ceritanya mas”
“Oh ya Mas…. Tina semalam ingat kalau Tina pernah menyimpan beberapa nomor telepon yang selalu ditelpon oleh pak Wandi”
“Coba mas Agus cocokan dengan nomor yang mas Agus selama ini hubungi”
Tina masuk ke area wartelnya, kemudian dia datang dengan secarik kertas dengan beberapa nomor telepon yang dia tulis.
Di secarik kertas itu ada lima nomor telepon yang kata Tina sering dihubungi oleh pak Wandi
“Ini mas, coba mas Agus cocokan dengan nomor bosnya mas Agus, kemudian mungkin juga nomor untuk pemesanan solar atau nomor lainya”
“Kok mbak Tina bisa tulis nomer-nomer ini, hayoooo ada apa ya”
“Iya mas… Tina kan curiga jangan-jangan mas Wandi punya pacar selain Tina, makanya Tina tulis dan akan Tina check nomor telepon yang paling sering dia hubungi mas”
“Kok mbak Tina bisa tau nomor-nomor ini?”
“Kan di meja kasir di layar komputer kan juga ada muncul nomor berapa yang dihubungi dan jangka waktunya juga hehehe”
__ADS_1
“Tapi nanti saja kita lihatnya mas, yang penting sekarang kita ke rumah sakit dulu saka mas”
Tina masuk ke dalam kamarnya, tidak lama kemudian dia sudah keluar dengan pakaian yang lebih modis dan rapi dari pada tadi dengan daster yang sangat menerawang.