RUMAH PENGGERGAJIAN

RUMAH PENGGERGAJIAN
56. HUJAN YANG MENGERIKAN


__ADS_3

Siapa itu…….


Aku berdiri mematung sambil melihat siapa yang sedang berdiri disana.  tidak jelas laki atau perempuan karena keadaan gelap gulita dan juga hujan deras.


Penerangan disini hanya berasal dari petromak yang ditaruh di amben oleh Burhan.


“Paaaak ayo bantu saya mengikat terpal ini agar terpalnya tidak terbang pak!” teriak Burhan dari samping rumah


“Iya mas….”


kubantu Burhan dengan menarik tali terpal  yang ikatannya lepas, sementara itu Burhan mengikat kembali tali yang terlepas tadi ke kayu penyangga bagian belakang rumah.


Selesai dengan urusan terpal yang tadi hampir lepas, tiba-tiba seng yang ada di atas penggergajian yang memang sudah berkarat itu mulai bergoyang hebat dn berbunyi keras.


Aku tau seng yang diatas mesin itu sudah tua dan waktunya untuk diganti baru.


Seng yang salah satu sisinya lepas itu melambai dan memukul mukul  kayu tempat dudukan seng itu, sehingga suaranya keraas sekali.


“Kelihatannya ada beberapa paku yang terlepas dari seng itu mas. Semoga paku seng yang lainya masih kuat menahan sisi seng  yang lainya”


“Besok akan saya paku ulang pak, semoga seng itu masih kuat pak”


“Ya sudah pak, ayo masuk ke dalam saja pak, luka sampeyan jangan sampai kena air itu pak”


“Iya mas,.....”


Aku masih belum beranjak dari belakang rumah, karena aku tiba-tiba melihat bayangan itu lagi, bayangan hitam yang menyerupai manusia yang sedang berdiri memperhatikan kami.


Tiba-tiba bayangan itu hilang dengan sendirinya ketika aku berusaha melihat dengan lebih jelas.


“Pak Agus… masuk pak jangan ada di belakang sana pak, bahaya !” teriak Burhan dari pintu belakang


Aku mundur beberapa langkah karena masih penasaran dengan bayangan hitam yang ada disana.


Hujan semakin deras, tetapi untungnya angin kencang sudah mulai mereda, tidak ada lagi suara seng yang keras, untuk saat ini  keadaan mesin penggergajian aman.


Hanya saja aku masih berpikir bayangan siapa yang ada disana itu, tapi biarlah, lama-lama nanti juga aku akan tau sendiri siapa itu.


Yang penting jangan sampai mengganggu pekerjaan yang ada disini saja.


Kami berdua duduk di ruang tamu, sementara itu diluar masih hujan lebat.


Untuk melepaskan sepi kami ngobrol seadanya….


“Bagaimana keadaan dada pak Agus setelah diganti perban?”


“Sudah jauh lebih baik mas, luka akibat pocong itu memang harus memakai dokter khusus kok hahahah”


“APA PAK…….LUKA AKIBAT POCONG?” Burhan bertanya dengan nada yang keras


“Iya mas… sebenarnya luka saya ini karena pocong. Kalau mas Burhan mau dengar cerita saya, akan saya ceritakan mas”


Wajah Burhan yang awalnya tenang saja kemudian mendadak tegang ketika aku mulai bercerita bagaimana aku mendapat luka yang ada di dadaku ini.

__ADS_1


“Makanya  untuk mengganti perban saya harus ke kota, karena ada salah satu dari dokter disana yang paham dengan dunia ghaib”


“Saya tidak mau cerita ke mas Burhan tentang apa yang saya alami disini mas, karena saya pikir itu hanya menimpa saya saja”


“Eh ternyata mas Burhan juga bermimpi yang sama dengan mimpi saya…


“Nah besok pagi saya mau ketemu dokter itu lagi, saya mau coba untuk konsultasi tentang apa yang kita alami ini”


“Iya pak Agus , terus terang saya merasa bahwa kita ini sedang dikerjai orang pak”


“Berbeda antara dikerjai orang dengan sebuah rumah yang benar-benar berhantu pak. Baru sehari saya disini sudah merasa bahwa saya sedang dikerjai oleh orang pak”


“Iya mas, memang apa yang mas Burhan katakan itu ada benarnya juga, hanya saja saya tidak mau berburuk sangka terlebih dahulu”


“Saya juga tau bahwa luka saya ini bukan karena rumah ini berhantu, tetapi karena ada yang sedang bermain dengan saya mas”


Aku dan Burhan sedang bertukar pendapat tentang yang terjadi dengan kami berdua, hanya saja aku tidak mau langsung menuduh siapa dan apa.


Besok aku dan Tina akan ke rumah sakit untuk menanyakan apa yang terjadi dengan rumah ini, Burhan, dan aku.


Atau kalau bisa aku harus cari orang yang paham dengan sejarah disini, sehingga aku bisa mengambil kesimpulan tentang apa yang menghantui aku dan Burhan.


“Mas Burhan… ada baiknya besok pagi selain saya ke kota untuk meminta bantuan dokter yang merawat saya, mas Burhan juga ke desa sebelah sungai mas”


“Tanya tentang kesehatan pak Solikin dan pantau kesehatan dia, karena kalau dia tetap saja sakit maka rumah ini akan berhenti berproduksi”


“Iya pak, besok pagi saya ke desa sana pak”


Hujan diluar sudah mulai reda, sekarang hanya menyisakan gerimis kecil yang kadang disertai bunyi gluduk di kejauhan


“Eh pak, pintu belakang belum dikunci, pagar dan pintu luar juga belum saya kunci, karena tadi kan keburu hujan pak”


“Ya sudah ayo kita kunci rumah dulu sebelum tidur, meskipun disini tidak ada barang berharga paling tidak kita menjaga agar tidak ada sesuatu yang masuk kesini”


Burhan berdiri kemudian membuka pintu rumah, sementara itu aku masih merenung kenapa sampai aku dan burhan mengalami kejadian aneh disini.


“Pak….. , coba lihat sini pak….!”


“Ada apa mas” aku berdiri dengan malas karena rasa kantuk yang mulai mendatangiku


“Ya Allah… kabut dari mana ini mas!”


Di halaman rumah dan seluruh yang ada di luar saat ini hanya terlihat putih saja, hanya ada kabut…. seluruhnya berkabut.


“Semua yang ada disini kenapa berkabut semua ya pak…”


“Pagar rumah saja tidak kelihatan pak”


“Bahaya ini mas, ayo kita gembok dulu saja pintu pagarnya mas”


Terus terang aku takut juga melihat kabut yang menyelimuti seluruh bagian hutan. bahkan sudah mulai masuk ke dalam rumah juga.


“Cepat mas kita kunci pagar rumah, kabutnya mulai masuk ke dalam rumah ini….”

__ADS_1


Burhan  berlari kecil menuju ke pintu pagar…


Setelah digembok dia langsung masuk ke dalam rumah.


“Wuih kabut di luar sana dingin sekali pak”


“Ya sudah mas, tutup dan kita kunci saja, saya sudah sangat ngantuk mas”


“eh pak lampu petromaknya dimatikan atau biarkan tetap nyala saja pak?”


“Biarkan saja mas, tambahin minyak tanahnya saja”


Aku masuk ke kamar, sementara Burhan masih menambah minyak tanah ke dalam lampu petromak.


Kulihat jam tanganku ternyata saat ini baru pukul 21.45. tapi karena hawa dingin di luar yang masuk melalui celah jendela, akibatnya udara di dalam kamar pun juga sejuk.


Beberapa kali aku menguap hingga tidak terasa akhirnya aku tidur juga…..


*****


Ndak tau sudah berapa jam aku tidur, tiba-tiba aku terbangun….


Aku terbangun karena aku sangat kedinginan, udara di kamar ini makin malam makin dingin.


Aku terbangun dengan keadaan lampu minyak yang masih menyala.


Ah berarti ini bukan mimpi, karena biasanya kalau mimpi baik lampu minyak maupun lampu petromak pasti sudah mati.


Kukedip kedipkan kelopak mataku karena mata ini rasanya agak sepet setelah bangun tidur dengan tiba-tiba.


suasana hening yang amat sangat, biasanya kalau habis hujan kan pasti banyak suara kodok, apalai rumah ini kan bersebelahan dengan sungai.


Tapi saat ini tidak ada suara binatang sama sekali, bahkan suara ngorok Burhan pun aku sama sekali tidak mendengarnya.


Beda dengan Mamad yang suara ngoroknya luar biasa keras…..


Tetapi ada satu suara yang diterima telingaku, suara itu terdengar jauh dan lemah di telingaku….


Suara seperti orang yang sedang mencangkul tanah, suara itu terdengar jauh dan lemah.


“Dimana itu, kok ada suara orang yang sedang mencangkul tanah?”


“Kenapa malam-malam gini ada orang iseng yang sedang mencangkul tanah?”


Kupasang terus telingaku agar tetap ada di frekuensi suara orang yang sedang mencangkul….


Sudah lebih dari lima menit kudengar suara orang yang sedang mencangkul tanah tanpa berhenti itu


Kayaknya dalam juga tanah yang dia cangkul hingga memerlukan waktu yang tidak sebentar.


Apakah aku harus keluar dari kamar ini dan mencari orang yang sedang  mencangkul tanah itu atau aku tetap ada di dalam kamar ini tidak melakukan apapun?


Sekarang suara orang yang sedang mencangkul itu sudah berhenti, meskipun aku sudah berusaha konsentrasi mendengarkan.

__ADS_1


“Waduuuh baru jam 23.50…..”


__ADS_2