
Tiga mahluk itu diam… tidak bergerak sama sekali meskipun di cahaya dibalik mereka sudah meredup, sama sekali tidak ada pergerakan.
Cahaya yang dibelakangnya makin meredup dan sekarang hanya meninggalkan cahaya samar saja…
Aku tetap dia, menunggu tiga sosok itu melakukan sesuatu….
Suasana sangat sepi, tidak ada suara apapun, tidak ada suara mesin atau suara nafas seperti sebelumnya, aku pun hanya diam saja menunggu reaksi ketiga sosok itu.
Kemungkinan sudah lima belas menit aku ada disini tanpa bergerak sama sekali, pun tiga sosok itu juga tidak bergerak atau bereaksi, hingga kemudian aku mendengar sebuah langkah kaki…
Suara langkah kaki yang terdengar jauh dan tergesa gesa…..
Langkah kaki itu sepertinya menuju ke arah sini, karena semakin lama suara itu semakin dekat…
Suara langkah itu sekarang ada di balik tembok ini……
Tidak lama kemudian suara langkah kaki itu diam… tidak ada suara langkah kaki yang tergesa gesa atau suara orang yang sedang berjalan di sekitar belakang tembok.
“Mbak Tinaaaaa… kamu dimanaaaa, ini saya pak Pangat”.... Suara itu dari balik tembok tempat aku sedang duduk
Tapi apa benar suara itu adalah pak Pangat, dan bagaimana bisa dia datang kesini secepat ini?, apakah pak Pangat datang untuk membantuku?
“Mbak Tinaaaa… kamu dimana, cepat jawab, dan kita harus segera pergi dari sini” suara yang lag-lagi berasal dari balik tembok tempat aku duduk.
“S…saya ada disini pak… saya tidak tau dimana saya berada”
“Ketukalah tembok di tempatmu duduk mbak.. Agar saya bisa tau dimana mbak Tina berada”
“Iya pak.. Tapi disini ada tiga sosok yang sedang berdiri dan memperhatikan saya pak”
“Ayo cepat ketuklah temboknya mbak….”
Aku mengetuk ngetuk tembok di tempatku duduk dengan menggunakan tulang besar yang aku temukan di sebelahku duduk.
Beberapa kali aku ketuk ketuk tulang itu hingga kemudian pintu yang ada di sekitar ruangan ini terbuka…
“Ayo cepat kita pergi dari sini mbak… pegang tangan saya dan ikuti saya!”
Aku beranjak dari posisi duduk… pak pangat yang ada di ambang pintu itu menungguku sampai aku bisa memegang tangannya.
Terus terang, keadaanku lelah dan lemas… lemas karena ketakutan bukan lemas karena hal lain.
Pak pangat mengajak aku menuju ke tempat yang kosong ….
“Sekarang duduk disini dulu mbak Tina, pegang tangan saya, mudah-mudahan kita bisa pulang dengan selamat”
Aku nggak tau kenapa pak Pangat bilang bisa pulang dengan selamat, apakah perjalanan di alam ini sangat berbahaya atau gimana,
Tidak lama kemudian tubuhku rasanya ringan… tubuhku rasanya seperti terhisap… dadaku sesak… sangat sesak sepertinya ada yang menyumbat jalan nafas….
Kemudian semuanya menjadi gelap dan akhirnya aku tidak sadarkan diri….
“Mbak Tina… ayo bangun…. “ lamat-lamat aku mendengar suara seseorang yang ada di sebelahku
“Mbak Tina..bangun cepat!” suara seseorang yang ada di sebelahku itu semakin keras terdengar
“Sekarang juga ayo bangun…. Mas Agus hilang!” suara pak Pangat sangat keras di telingaku
“I..iya pak…” aku berusaha membuka mata…..
Tubuhku dalam keadaan tertidur di lantai rumah penggergajian, lampu petromak masih menyala terang. Di sebelahku pak Pangat sedang memperhatikan aku.
“Alhamdulillah… saya sudah kembali pak” aku bangun dari posisi tidurku, tubuhku rasanya pegal sekali
“Iya mbak… ayo bangun dan sekarang kita harus cari dimana mas Agus berada, dia harusya ada di sini menjaga tubuh saya dan tubuhnya mbak Tina.
“Sekarang mas Agus sudah tidak ada disini, kemungkinan besar dia dipancing Inggrid untuk keluar dari rumah ini”
“Sebenarnya untuk saat ini tempat yang aman hanya ada disini, sekeluar dari sini sangat berbahaya sekali bagi yang tidak memahami daerah ghaib disini” kata pak Pangat
Benar kata leluhurku.. Tempat paling aman adalah di rumah penggergajian, tapi kenapa tiba-tiba pak Pangat ada disini, sebenarnya apa yang dia lakukan disini.
__ADS_1
“Simpan saja pertanyaanmu untuk nanti mbak… sekarang kita harus cari mas Agus dulu…”
“Saya tau kamu pasti heran kenapa saya ada disini, dan apa yang sedang saya lakukan disini, dan kenapa saya bisa bilang disini tempat yang aman seperti yang dikatakan oleh nenek moyang mbak TIna”
“Nanti itu semua akan saya jawab, sekarang yang penting mencari mas Agus dulu di hutan. Saya yakin mas Agus sekarang sedang dikuasai oleh Inggrid…”
“Tina bingung pak.. Kenapa sampai Inggrid ingin sekali mendapatkan nyawa saya dan nyawa mas Agus”
“Karena kalian sudah melakukan perjanjian… kalian harus mati, dan arwah kalian akan menjadi penjaga kawasan demit di seberang sungai itu”
“Nanti akan saya jelaskan, yang penting saat ini kita keluar dan mencari dimana mas Agus berada…”
Aku dan pak Pangat keluar dari rumah penggergajian…
Tepat di halaman depan kami berhenti sejenak… pak Pangat sedang melihat sekeliling, keliatannya dia sedang mencari mas Agus dengan menggunakan mata batinnya.
Hingga beberapa saat pak Pangat hanya diam di halaman depan rumah penggergajian….
“Mas Agus sudah ada di pelukan iblis disini mbak.. Iblis itu adalah bagian dari pada suruhan Inggrid”
“Sekarang apa yang harus kita lakukan pak, tidak mungkin kita hanya berdiam diri tidak melakukan apa-apa”
“Tentu saja tidak mbak… karena saya sedang menunggu ghaib yang akan memberikan informasi kepada saya, dimana kita akan menemukan mas Agus”
“Tunggu beberapa saat lagi mbak…..”
Aku tau dan aku bisa melihat tidak lama kemudian ada ghaib yang mendatangi pak Pangat, yang aku lihat hanya berupa bayangan putih saja.
Bayangan putih yang tiba-tiba menghampiri pak Pangat, dan kelihatannya mereka sedang bicara satu sama lain. Sayangnya aku tidak bisa mendengar apa yang sedang mereka berdua bicarakan.
“Kalau mbak Tina penasaran…yang datang tadi itu adalah seorang putri dari kerajaan demit yang letaknya tidak jauh dari sini, saya tidak tau siapa namanya, karena kita tidak boleh mengetahui nama demit yang sebenarnya”
“Tapi saya biasanya memanggil dia dengan nama mbak Ayu… seusai dengan paras wajahnya yang cantik”
“Tadi kata mbak Ayu… mas Agus berjalan memutar ke samping rumah… ayo kita susul dia mbak.. Kita potong jalan lewat pintu belakang rumah yang tembus dengan pintu rahasia di belakang pohon beringin”
“Pak… bukannya di belakang itu bahaya…..”
Aku nggak tau keadaan belakang rumah, bukanya di belakang rumah keadaan rumput dan semaknya setinggi dada orang dewasa?
Dan pastinya disana banyak hewan melata yang berbahaya?
Kuikuti pak Pangat yang sepertinya sudah biasa masuk keluar dari rumah penggergajian, menuju ke halaman belakang…
Dia membuka pintu belakang rumah untuk menuju ke halaman belakang tempat produksi kayu di rumah ini.
Pintu belakang terbuka, ternyata yang ada di belakang tidak sesuai dengan perkiraanku sebelumnya.
Rumput halaman belakang ini tidak setinggi yang aku dan mas Agus perkirakan, rumput di sini hanya setinggi di atas mata kaki saja. Ketika sinar lampu petromak yang ada di dalam rumah bisa sampai menerangi sedikit daerah bagian belakang rumah.
“Ayo mbak… dan ingat, di belakang suasananya gelap, tapi untungnya sinar bulan tidak terhalang awan sama sekali.. Ayo kita hadang mas Agus….”
Aku dan pak Pangat berlari dari pintu belakang rumah menuju ke ujung halaman belakang yang akan tembus dengan pintu rahasia.
Ketika kami sudah dekat dengan bagian mesin penggergajian, ternyata disana ada rumput dan ilalang yang tingginya hampir separuh tubuhku.
Ilalang ini yang dilihat mas Agus ketika akan masuk ke rumah penggergajian melalui bagian belakang rumah, waktu aku dan mas Agus akan masuk ke sini.
Pak Pangat menyibakan rumput yang tinggi itu, ternyata dibalik rumput itu sudah pintu rahasia yang tembus ke bagian luar rumah penggergajian.
“Ayo kita susuri sungai ini, kemudian kita ke samping mbak… semoga tidak terjadi apa-apa dengan mas Agus mbak”
Dengan sedikit berlari, aku dan pak Pangat menyusuri pinggir sungai hingga sekarang aku dan pak Pangat akan belok ke arah bagian samping rumah.
Ketika kami akan berbelok ke samping rumah, ternyata di kejauhan aku lihat ada seseorang yang sedang berjalan menuju ke arah kami berada.
Orang itu berjalan sangat pelan, dan di depan orang itu ada sesuatu yang melayang.
“Itu mas Agus mbak.. Dia sedang dibuat tidak sadar, saat ini mas Agus sedang dalam keadaan tidur sambil jalan”
“Tujuanya adalah dibunuh dengan cara diceburkan di bagian sungai yang dalam…”
__ADS_1
“Mbak Tina tunggu disini, biar saya saja yang menyelamatkan mas Agus”
“Tina kepingin ikut pak….”
“Jangan.. Kamu jangan ikut saya mbak.. Biar saya saja yang bicara dengan makhluk yang sekarang sedang membawa mas Agus menuju ke bagian sungai yang dalam itu”
“Kenapa Tina tidak boleh ikut pak?”
“Sudahlah ikuti saja apa yang saya katakan mbak.. Pokoknya mbak Tina tetap disini saja dulu”
“Kita tunggu dulu disini hingga demit yang membawa mas Agus itu dekat dengan sungai”
“Kenapa gak sekarang saja menyelamatkan mas Agusnya pak?”
“Jangan… jangan sekarang.. Biarkan dia dekat dengan sungai dulu saja, asal mbak Tina tau, untuk saat ini keadaan kesadaran mas Agus sedang ada dalam kekuasaan demit itu”
“Kalau saya serang sekarang, maka akan berakibat buruk dengan roh mas Agus… bisa saja demit itu akan membawa jiwa mas Agus, dan membiarkan tubuhnya tidak sadar kan diri tanpa jiwa”
“Apabila saya biarkan hingga dekat dengan sungai, itu akan lebih baik bagi mas Agus”
“Nanti….nanti dekat dengan sungai, demit itu akan melepaskan diri dari jiwa mas Agus, dan akan menceburkan mas Agus ke dalam bagian sungai yang dalam”
“Mas Agus akan mati dengan normal dan dalam keadaan ketakutan. Orang yang mati dengan cara itu maka rohnya akan mempunyai kekuatan, dan kekuatan itu yang dicari oleh penghuni yang ada di seberang sungai itu mbak”
“Saya akan dekati mereka ketika bayangan putih itu mendekati kepala mas Agus, pada waktu itu dia mengembalikan sebagian dari jiwa mas Agus yang tadi dia bawa”
“Nah mereka sudah semakin dekat dengan sungai mbak… sekarang saya akan kesana…dan jangan sekali kali mbak Tina ikuti saya ke sana… mbak Tina tetap disini saja”
Setelah melarang aku untuk ikut menyadarkan mas Agus, pak Pangat kemudian berlari kecil menuju ke arah mas Agus yang sedang jalan sangat pelan.
Aku nggak tau kenapa pak Pangat tidak memperbolehkan aku untuk ikut menyelamatkan mas Agus.
Tetapi melalui posisiku disini, aku bisa melihat apa yang akan dilakukan pak Pangat apabila dia sudah ada di dekat mas Agus.
Tidak memerlukan waktu lama, pak Pangat sudah ada di depan mas Agus, kini dia sekarang sedang berhadapan dengan sosok bayangan putih yang melayang itu.
Anehnya bayangan putih itu tidak terkejut, melawan, atau lari ketika pak Pangat mendekati dia dan mas Agus. mereka berdua sepertinya saling kenal, atau minimal pernah saling bertemu.
Kenapa aku bilang sepertinya mereka saling kenal, karena sekarang mereka berhadapan hadapan, dan bayangan itu tidak melayang seperti sebelumnya….bayangan itu berdiri di hadapan pak Pangat.
Yang bisa aku lihat dari sini, sepertinya pak Pangat sedang bicara dengan sosok bayangan putih itu, tetapi aku tidak dengar apa yang sedang dibicarakan.
Pokoknya mereka berdua sepertinya sedang berbicara sambil berhadap hadapan…
Tetapi tidak lama kemudian sosok putih itu melayang pergi dan akhirnya hilang ditelan gelapnya malam.
Sosok putih itu melayang menyeberangi sungai dan kemudian hilang di sekitar kuburan Inggrid.
Pak Pangat kini sedang berusaha membangunkan mas Agus dengan caranya sendiri, hingga mas Agus akhirnya tersadar.
Tubuh mas Agus yang keliatanya masih lemas itu kemudian dipegang pak Pangat, dengan perlahan lahan pak Pangat mengajak mas Agus untuk berjalan….
Mereka berdua jalan menuju ke arahku…
Cukup aneh juga, begitu mudahnya pak Pangat menyadarkan mas Agus dan mengusir demit yang membawa mas Agus menuju ke bagian sungai yang dalam.
Tadi pun pak Pangat begitu mudahnya menemukan aku dan membawa aku kembali lagi ke ragaku.
Kalau pak Pangat ini hanya seorang supranarutal biasa, pasti akan memerlukan waktu yang cukup lama untuk membawa aku pulang.
Dia juga dengan mudah mengusir bayangan putih yang tadi menuntun mas Agus menuju ke sungai yang dalam, tidak ada perlawanan sama sekali dari sosok bayangan putih itu.
Sebenarnya dia ini siapa dan apa yang sedang pak Pangat lakukan disini….
“Mbak Tina… tolong buka pintu rahasia itu, saya akan bantu mas Agus untuk masuk ke dalam.. Karena disini kurang aman bagi mas Agus yang tadi sempat dimasuki oleh demit yang biasa saya panggil dengan nama Khasiyan itu”
“Sekarang kita masuk ke rumah dulu, kita bicarakan di dalam rumah apa yang sebenarnya terjadi dengan kalian berdua, dan tentang apa yang akan kita lakukan setelah ini”
“Saya tidak menyangka penghuni seberang sungai itu akan melakukan penyerangan kepada kalian hingga seperti ini, karena biasanya mereka akan melepas mangsanya apabila cukup sulit untuk ditaklukan”
Wajah mas Agus pucat, dia sama sekali tidak bicara apa-apa. Pak Pangat menuntun mas Agus memasuki pintu rahasia yang ada di belakang pohon beringin tua.
__ADS_1
Kami bertiga berjalan di halaman belakang rumah penggergajian..