
Kudorong pintu ruang tamu hingga terbuka keluar. keadaan sepi, kayaknya tidak ada seorangpun disini.
Aku mulai melangkah masuk, hal pertama yang aku lakukan adalah masuk ke dalam kamarku.
Pintu kamar kubuka, dan ternyata kamarku kosong, lampu minyak yang tertempel di dinding itu dalam keadaan mati.
Sengaja aku melangkah perlahan lahan agar tidak terdengar oleh Burhan yang kemungkinan besar sedang tidur.
Aku melangkah menuju ke kamar Burhan yang dalam keadaan tertutup.
Kuketuk pintu kamar Burhan beberapa kali…
“Mas Burhan….. mas Burhan…..”
Tapi tidak ada sahutan sama sekali. kuberanikan diri untuk membuka kamar Burhan untuk memastikan apakah di dalam kamar itu ada Burhan atau tidak.
Atau jangan-jangan dia sedang ada di sungai belakang untuk buang air besar seperti kemarin malam.
Handle pintu kamar Burhan kutekan, dan kudorong daun pintu itu sedikit..
Kamar itu gelap. tidak ada cahaya dari jendela atau dari lampu teplok.
Kamar Burhan dan kamarku berbeda, kalau kamarku kisi-kisi jendela tidak ditutup sehingga matahari pagi bisa masuk ke dalam.
Tetapi kamar Burhan tidak, kisi-kisi kamar dia ditutup dengan kertas semen, sehingga cukup gelap apabila jendela kamar tidak dibuka.
“Mas Burhan…. mas Burhan… bangun mas” kataku dengan suara yang tidak keras
Tidak ada jawaban sama sekali dari dalam kamar, sepi gelap sunyi seperti kamar yang tidak ditinggali saja.
Lebih baik kubuka lebih lebar saja agar aku bisa lihat apa yang ada di dalam kamar itu.
Pintu kamar kudorong ke dalam, bau keringat dan lembab langsung keluar dari kamar, karena keadaan kamar yang gelap, aku belum bisa melihat apa yang ada dalamnya.
Kubuka lagi lebih lebar dan aku masuk ke kamar….
Sosok tubuh sedang meringkuk di pojokan kamar terlihat….
Mas Burhan…..!”
Sebelum kuhampiri tubuh Burhan yang sedang meringkuk di pojokan kamar, kuambil dulu lampu Petromak yang ada di ruang tamu.
Tubuh Burhan meringkuk duduk di pojok kamar wajah dia menghadap ke tembok..
Mas Burhan…!”
Dia tetap tidak bereaksi ketika kupanggil. Kemungkinan besar dia sedang tidur atau tidak sadarkan diri.
Tetapi aku belum berani memegang tubuhnya, aku takut kalau dia dalam keadaan tidak sadar atau yang mengerikan dia dalam keadaan meninggal.
Lampu Petromak kutaruh di lantai, kemudian dengan perlahan lahan kuhampiri Burhan yang meringkuk di pojokan kamar.
Kuhampiri Burhan, aku jongkok di belakang tubuhnya….
Aku beranikan diri untuk menyentuh tubuhnya karena aku harus tau bagaimana keadaan Burhan untuk saat ini.
“Mas Burhan…. mas!” dia belum bereaksi, dia juga tidak pingsan, tetapi aku tau dia sedang dalam keadaan ketakutan luar biasa….
“Mas, aku Agus.. apa yang terjadi di rumah ini mas” kugoyangkan bahunya agar dia tau bahwa aku bukan hantu
“PERGIIIIII…. JANGAN GANGGU SAYAAAA, SAYA HANYA MAU BEKERJA DISINIII!!!!!” teriak Burhan yang masih melihat ke tembok
__ADS_1
“Heh mas….ini aku Agus” teriakku sambil kupukul tangannya
“TIDAK MUNGKIN…. PAK AGUS SUDAH MATI!.....
"Tidak ada yang mati! saya masih hidup mas!"
Aku mulai emosi dengan tingkah laku burhan, tapi tidak ada gunanya emosi dengan orang yang sedang ketakutan, karena yang ada di kepalanya adalah sesuatu yang tidak nyata.
“Mas..saya belum mati, ini saya Agus…. ayo ceritakan apa yang sebenarnya terjadi dan kenapa tidak ada pekerja yang datang mas” sambil kugoncang goncang bahunya
Perlahan-lahan Burhan menoleh ke arahku..
Ya Allah wajah dia pucat dan gemetar, sepertinya semalam dia mengalami kejadian yang benar-benar menakutkan.
Keringat yang sebagian sudah mengering membasahi wajahnya yang pucat dan gemetar.
“Sebentar, saya ambilkan minum dulu mas”
Dia hanya mengangguk lemas dengan mata yang sayu dan tangan yang masih saja gemetar.
Jangkrek ternyata di dapur hanya ada sedikit air minum yang ada di ceret masak, tapi ndak papa, paling tidak bisa untuk menenangkan Burhan.
Tapi ketika aku tadi ke arah dapur ada sesuatu yang ganjil di sekitar sini…
Kenapa lantai rumah ini kok kotor ya, ada ceceran tanah dan tanah liat yang agak keras di beberapa tempat.
Di dekat kamar mandi dan di dekat pintu yang mengarah ke belakang, selain itu aku juga merasa ada bau sesuatu.
“Kok bau di rumah ini agak aneh, kayak bau apa ya….. sepertinya aku kenal dengan bau ini….”
“Jangkreeek….. ini kan bau bekas kemenyan yang menempel di dinding dan perabotan rumah!” gumamku
Seketika aku bulu kuduku merinding, aku merasa ada sesuatu yang telah terjadi disini.
Ternyata lantai kamar mandi ini dalam keadaan sedikit basah dan kotor.
“Kenapa ada bekas tanah dan lempung disini?”
Aku tidak bisa berpikir sama sekali, apakah tanah yang ada di kamar mandi dan yang ada di ruang dapur dan dekat pintu belakang ini ulahnya Burhan?
Aku terdiam sejenak di depan kamar mandi untuk mengolah apa yang sedang aku pikirkan tadi, tapi hingga sekarang otaku belum mampu mencerna apa yang sedang terjadi disini.
“Ayo mas Burhan…. minum dulu, biar gak tenang”
segelas air itu dia habiskan dengan sekejap, kelihatannya dia seharian tidak minum.
“Ayo kita duduk di depan saja dan katakan apa yang tadi malam mas Burhan alami?”
Burhan hanya bisa mengangguk dengan wajah yang masih pucat, dia tidak beranjak dari tempat dia duduk.
Jadi lebih baik tidak ke ruang tamu…
Aku berdiri dan kubuka jendela kamar, agar udara luar yang segar itu bisa masuk ke dalam kamar yang pengap
Cahaya matahari langsung masuk dan membuat kamar Burhan menjadi terang benderang. lampu petromak segera aku matikan.
“Lihat itu mas…. sudah pagi kan, matahari sudah ada di atas kan mas, ayo sekarang duduk di tempat tidur saja dan ceritakan kepada saya apa yang tadi terjadi disini mas”
Burhan tidak juga berdiri, tapi dia berusaha untuk berdiri, tapi anehnya dia seolah olah tidak punya tenaga untuk berdiri dan pindah dari lantai ke tempat tidur.
Aku bantu dia untuk berdiri dengan mengangkat lengannya…
__ADS_1
Perlahan lahan meskipun sulit akhirnya bisa kubuat dia melangkah ke tempat tidurnya meskipun dengan langkah yang terseok seok.
Dia duduk di tempat tidur dengan bersila, kemudian dia menoleh kepadaku.
“P…Pak Ag..agus mas…masih hidup” dia melihatku dengan tatapan ketakutan
“Ya jelas saya masih hidup mas, saya kan kemarin sudah bilang, bahwa saya akan tinggal di dekat rumah sakit agar luka saya yang aneh ini bisa ditangani dokter sewaktu waktu”
“Sekarang ceritakan apa yang terjadi mas, kenapa sampai mas Burhan seperti ini”
Burhan diam dan melihat dinding kamar dengan tatapan kosong…
Diam dengan tubuh yang masih gemetar seperti ini jelas akan memerlukan waktu yang tidak sebentar.
Aku tetap ada di sebelahnya hingga dia sudah benar -benar pulih dari rasa takutnya.
“Mas Burhan, saya tinggal masak air dulu ya”
“J..jangan tinggal saya p..pak” kata Burhan tiba-tiba”
“Sebenarnya ada apa mas, coba jelaskan dulu kepada saya, apa yang mas Burhan alami waktu saya ada di kota?”
“I..iya , akan saya ceritakan apa yang saya tahu pak, te…tetapi selebihnya saya tidak tau, karena saya pingsan”
“Ndak papa mas, yang penting saya tau apa yang membuat mas Burhan menjadi seperti ini”
Burhan diam sejenak, mungkin dia sedang mengatur otaknya untuk mengingat apa yang terjadi dengan dirinya.
Dia masih saja terdiam dengan mata memandang tembok kamar.
“Wak..waktu pak Agus pergi bersama teman perempuan bapak, tidak terjadi apa-apa”
“S..saya makan dengan lahap dan kemudian mengunci pintu seperti yang pak Agus suruh……”
“Te…..tetapi………” Burhan terdiam, dia tidak melanjutkan bicaranya, dia memandang tembok dengan tatapan kosong lagi
“Ayo lanjutkan mas, saya ada disini dan tidak akan ada apa-apa lagi yang akan terjadi dengan mas Burhan”
Dia kemudian menoleh ke arahku dengan tatapan mata yang masih kosong..
“Setelah makan saya ngantuk dan tertidur, lampu ruang tamu dan dua kamar juga saya nyalakan. pokoknya sesuai dengan yang pak Agus suruh” setelah berbicara dia menarik nafas panjang
“Saya ndak tau jam berapa, mungkin sudah pagi, karena lampu ruang tamu sudah mati, kecuali lampu minyak kamar saya”
“Ada ketukan pintu pagar, dan teriakan yang memanggil saya, dan itu adalah suara pak Agus…..”
“Pada awalnya saya tidak menghiraukan karena saya yakin yang ada di luar itu bukan pak Agus, saya waktu itu sudah ketakutan luar biasa”
“Saya mengira yang diluar itu hanya penduduk desa yang sedang mempermainkan saya…..karena kalau hantu kan tidak perlu minta dibukakan pintu, dia pasti bisa masuk sendiri”
“Ada mungkin sekitar lebih dari lima kali panggilan kepada saya untuk membuka pintu pagar dan pintu rumah”
Burhan terdiam sambil mengatur nafasnya yang tiba-tiba memburu. dia kelihatannya masih trauma dengan kejadian tadi malam.
“Saya jadi yakin yang memanggil saya itu benar mas Agus setelah saya lihat kok sudah hampir jam tiga pagi, karena pikiran saya mana ada hantu yang gentayangan sampai jam tiga pagi”
“Saya teriak …’sebentar, saya nyalakan lampu dulu’… dan pak Agus pun menjawab iya”
“Setelah lampu petromak ruang tamu nyala, saya buka pintu ruang tamu”
“Dan ternyata benar, di luar pagar ada pak Agus dan beberapa orang yang berpakaian hitam di sebelahnya”
__ADS_1
“Saya bisa lihat kalau itu pak Agus karena ada lampu petromak itu saya bawa keluar”