
Sekitar lima belas menit kami menunggu akhirnya di depan gubuk Jiang terdengar suara langkah kaki beberapa orang yang sedang berjalan…
Salah satu dari orang-orang yang ada di depan gubuk itu sempat bicara….”cepat masukan, sebelum ada yang lihat”... beberapa pintu gubuk terbuka dan kemudian tertutup…
Aku dan Mas Agus sudah waspada apabila nantinya ada juga yang akan masuk ke gubuk milik Jiang ini… dan ternyata benar, pintu gubuk terbuka… Jiang dan pak Pangat masuk ke dalamnya.
“Kenapa lama sekali Jiang?” tanya mas Agus
“Temanmu ini salah menyamar, dia sebagai seorang pembesar.. Dan tadi dia sedang bersama salah satu orang istana, dan dikawall oleh penjaga agar tidak terjadi sesuatu dengan temanmu ini”
“Untungnya tadi kami berhasil mengambil temanmu ketika temanmu sedang diantar menuju ke pintu gerbang untuk keluar dari benteng ini”
“Sebelumnya teman saya mengalihkan penjaga bodoh itu dengan teriakan kebakaran!”
“Apakah tidak ada yang mengikuti kalian tadi?” tanya mas Agus
“Jelas ada lah… mereka mencari cari teman kalian yang tadi sudah dekat dengan pintu gerbang untuk menuju jalan keluar”
“Tapi tenang saja, malam ini mereka tidak akan mencari sampai ke sini… yang penting sekarang malam ini mbah Sastro dan pak Bawono harus bergerak”
“Karena besok pagi pasti ada yang akan mencari ke daerah sini… ingat kesempatan kalian hanya ada di malam ini saja, karena besok pagi akan banyak yang memeriksa gubuk-gubuk yang ada disini untuk mencari pak Bawono”
“Lakukan apa seperti yang tadi saya bilang… panggil nama itu dan kalian akan mendapatkan apa yang kalian cari.”
“Apabila malam ini teriakan kalian tidak ada yang merespon, kalian tidak akan bisa kembali ke tempat ini, kalian harus bisa mempertahankan diri dari pemangsa malam”
“Jiang…. Sebenarnya pemangsa malam itu apa dan siapa?” tanya mas Agus
“Huuuff susah untuk menjelaskannya….. Ehmmm jadi begini…. Dulu itu banyak orang luar.. Atau orang pribumi yang berusaha masuk ke sini dan melakukan tindakan pencurian, pemerkosaan dan tindakan negatif lainya”
“Pemimpin kami sudah bosan dan hampir putus asa, karen tiap malam selalu ada saja pribumi yang sembunyi di dalam sini dan melakukan pembobolan rumah, pribumi itu selalu melawan dengan ganasnya, seolah olah tanah ini milik Pribumi, dan kami pendatang harus pergi”
“Pribumi bebas melakukan apapun kepada kami pokoknya meskipun sudah dibangun benteng seperti ini, tetapi mereka masih saja bisa masuk ke sini dengan bebas”
“Hingga kemudian pembesar kami yang ada di negeri China datang dan membawa ilmu hitam dari China… dengan ilmu hitam itu, diciptakan monster gelap yang akan membunuh dan memangsa pribumi yang berani masuk ke sini pada malam hari”
“Sedangkan orang atau setan yang akan kami cari ini apakah juga termasuk pemangsa pribumi juga?” tanya mas Agus
“Bukan….dia sebenarnya adalah… ah sudahlah, saya sudah banyak cerita, sudah cukup bahaya posisi saya saat ini, kalian bersiap siap saja nanti malam untuk ke depan istana…”
“Eh jalan untuk ke sana masih ingat kan…?”
“Hehehe… sebenarnya agak lupa juga… tapi nanti tolong kamu kasih kami petunjuk gang mana atau jalan mana yang harus kami ambil nanti”
“Pak Pangat… gimana, apakah sudah siap untuk malam ini?”
“Tentu saja siap mas… kita lakukan bertiga dan mudah-mudahan berhasil”
Menjelang malam Jiang memberikan info tentang gang mana atau jalan mana yang akan kita lalui untuk menuju ke istana, karena di tempat kumuh ini banyak gang kecil yang berkelok kelok dan berakhir pada gang buntu.
Dan tentu saja itu sangat berbahaya, karena menyebabkan kita terjebak dan tidak ada kesempatan lari dari pemburu dan pemangsa malam.
Maka dari itu persiapan malam ini harus betul betul matang, jangan sampai kita salah jalan nantinya. Tapi untungnya informasi dari Jiang cukup kami pahami, tapi ada satu area yang kata Jiang harus kami hindari.
“Jangan melewati atau masuk ke taman yang ada di depan pintu masuk… disana sangat berbahaya” kata Jiang
“Jiang… taman yang ada di depan pintu gerbang masuk itu kan dekat dengan area sungai… apakah disana itu adalah sebuah kuburan kalau di alam manusia?”
“Saya tidak tau karena saya belum pernah masuk ke alam manusia, yang saya tau di bawah sana itu adalah tempat yang paling disukai setan yang sedang kalian cari itu”
“Disana apabila malam hari selalu ada saja arwah baru yang muncul bersama dengan suruhan setan yang sedang kalian cari”
“Arwah yang diambil dari dunia manusia.. Dan akan dijadikan jajaran pasukan dan anak buah dari dia”
“Hingga sekarang saya tidak tau gunanya dia mengumpulkan sebegitu banyaknya pasukan….”
__ADS_1
“Untuk mengambil alih wilayah tengah hutan.. Eh maaf untuk mengambil alih wilayah yang ada di luar benteng ini” sahut mas Agus
“Sorry… di alam manusia, daerah di seberang sungai itu adalah hutan yang sangat rimbun, sedangkan di daerah sini adalah padang ilalang yang gersang” jawab pak Pangat tiba-tiba
“Sedangkan taman yang ada di depan pintu masuk itu adalah sebuah kuburan china yang sangat besarm hanya ada satu kuburan saja, dan pemilik kuburan itu adalah setan yang sekarang sedang kami cari itu” sambung mas Agus
“Padahal selama ini penduduk benteng dan yang ada di luar sana baik baik saja, bisa dikatakan kami tidak punya masalah selain orang-orang yang memang punya niat jelek kepada penduduk disini” kata Jiang lagi
“Hari sudah mulai malam, sebentar lagi kalian bisa keluar dari sini dan sembunyilah di tempat yang sudah saya sebutkan tadi”
“Tunggu hingga ada tanda lonceng yang berarti tengah malam, baru setelah itu kalian bisa lakukan aksi kalian”
“Eh maaf… kenapa kita tidak jalan nanti sebelum tengah malam saja?” tanya pak Pangat
“Tadi saya sudah katakan kepada mbah Sastro… bahwa sebentar lagi pasukan pemburu akan berpatroli… mereka akan keliling wilayah ini hingga tengah malam” Jiang mengulangi penjelasanya
“Tetapi mereka akan istirahat tepat setelah tengah malam hingga pukul 03.00 pagi, setelah itu mereka akan patroli lagi, jadi kalian punya waktu tiga jam untuk melakukan aksi kalian disini”
“Cukup lumayan kan, ada tiga jam untuk melakukan sesuatu kepada setan itu” kata Jiang
Sepuluh menit dari tadi setelah kami bicara, Jiang sudah mengusir kami untuk melakukan aksi kami.
Yang pertama harus kami lakukan adalah sembunyi di sebuah parit kosong yang tertutup, di dalam parit itulah kami harus sembunyi dari kejaran pemburu pribumi .
Kami nanti ada disana hingga terdengar suara lonceng yang artinya sudah tengah malam. Posisi parit kosong itu ada di dekat belokan yang menuju ke istana.. ..
Sedangkan arah untuk menuju ke parit sudah dijelaskan hingga tiga kali oleh Jiang, dan aku pikir kami sudah paham arah untuk menuju ke parit yang akan kami tuju nanti itu.
*****
Kami saat ini dalam perjalanan menuju ke parit yang ditunjukan Jiang…
Jalan di tempat ini sangat berbeda antara siang dan malam, malam hari seperti ini penerangan sangat minim, sehingga kami harus mengandalkan cahaya bulan yang memantul untuk mendapatkan arah yang tepat.
Kami sekarang ada di sebuah perempatan gang…. Gang ini sangat sepi dan gelap, jadi kami harus berhati hati.
“Kita periksa dulu mas… kalian berdua tunggu disini, saya yang akan melintasi perempatan kecil ini dulu” kata pak Pangat
Pak pangat dengan sangat berhati-hati melewati perempatan yang sangat sepi, setelah dia sampai di seberang, dia melambaikan tangan kepada kami.
Dia menyuruh kami untuk menyeberang karena keadaan aman, tidak ada sesuatu apapun yang sedang menunggu di perempatan itu.
Sebenarnya jarak antara rumah Jiang dengan parit yang dekat dengan istana itu tidak terlalu jauh, hanya saja kami harus melewati jalan yang memutar, karena kalau lewat jalan yang sebelumnya itu bahaya…i”
“Kita harus lewati beberapa gang lagi hingga kita temukan parit yang Jiang maksud tadi” bisik pak Pangat
“Pak… daerah ini kalau malam seperti ini benar-benar sepi ya, tidak ada seorangpun yang berjalan di sekitar sini”
“Iya mbak… saya juga heran, harusnya kan tidak masalah apabila ada penduduk disini yang ingin keluar untuk sekedar bosan di rumah, tetapi yang kita lihat ini benar-benar seperti kota mati”
“Tapi rumah-rumah disini sepertinya ada penduduknya kok.. Coba lihat bagian jendela rumah yang ada di sekitar sini, bagian dalamnya terang, lampunya nyala yang berarti rumah ini ada penghuninya” kata pak Pangat
Kami terus berjalan dengan hati-hati..
Pak Pangat ada di depan, kemudian aku, dan yang paling belakang adalah mas Agus.
Di depan kami ada perempatan lagi yang harus kami lewati…. Tetapi ketika kami akan mendekati perempatan itu, pak Pangat tiba-tiba menyuruh kami untuk merunduk.
“Ssst merunduk dulu.. Kalian apa tidak dengar ada sesuatu di depan sana?” bisik pak Pangat
“Pak.. ngapain juga kita merunduk seperti ini.. Gang ini sempit, siapapun pasti akan bisa melihat kita disini” jawab mas Agus
“Ssst diam dulu mas” bisik pak Pangat
Kami bertiga jongkok dan merapat ke sebuah tembok rumah.
__ADS_1
Apa yang dikatakan pak Pangat memang benar, dari sini aku bisa mendengar suara langkah kaki yang berjalan dengan lambat.
Yang mengerikan itu adalah suara injakan kaki sesuatu yang akan datang ini terasa berat.. Jadi langkah kaki yang lambat dan injakan kaki yang berat menunjukan sesuatu yang ada di depan kita ini bukan sesuatu yang wajar.
Manusia pada umumnya kalau melangkan di suasana yang gelap dan sepi pasti akan mempercepat langkah kakinya dan berjalan seringan mungkin agar tidak terdengar suara jejak kakinya ketika menapak.
Tapi yang ini berbeda… langkah kaki yang lambat dengan suara jejak kaki yang berat ketika menapak jalan.
Kami bertiga tetap jongkok sambil merapat di tembok rumah milik orang… suara langkah kaki itu kemudian berhenti…
Tidak ada lagi suara langkah kaki… suasana semakin sepi dan mencekam…
Aku yakin seyakin yakinnya… kami bertiga akan ketahuan apabila tetap ada disini, karena jalan disini yang sempit sehingga apabila ada sesuatu pasti akan ketahuan.
Pak Pangat hanya diam saja, aku tahu dia pasti tidak punya jalan keluar dari permasalahan ini dia pasti tidak bisa berpikir jernih tentang apa yang harus dilakukan ketika dalam keadaan seperti ini.
Aku merasa kami hanyalah tiga santapan lezat yang siapa di makan kapanpun apabila tetap ada disini.
“Pak.. kita harus pergi dari sini sekarang pak” bisik mas Agus yang ada di belakangku
“Pergi kemana mas… kita sudah terlambat. Kita tidak ada waktu untuk berbalik arah.. Kita hanya bisa menunggu disini saja mas” jawab pak Pangat
“Ssttt suara langkah berat itu mulai jalan lagi… kita harus berbuat sesuatu agar tidak terdengar oleh mereka!”
“Sepertinya sesuatu itu harus kita lawan.. Kita tidak bisa membiarkan sesuatu itu menyerang kita” bisik pak Pangat
Aku sudah mulai putus asa, kami ada di dunia lain dengan sesuatu yang mengerikan ada di depan ka,i. Kami harus melawan sebelum sesuatu itu menyerang kami.
Entah bagaimana awalnya.. Tiba-tiba pintu pagar rumah dari rumah di samping kami ini terbuka…
“Ssstt kalian jangan ada disana.. Cepat masuk ke dalam” kata suara seorang perempuan dengan berbisik
“Cepat sebelum pemburu itu datang dan membunuh kalian!” bisik orang yang ada di dalam pagar lagi
Tanpa menunggu lama kami bertiga dengan merunduk masuk ke dalam rumah yang pintu pagarnya terbuka. Bersamaan dengan pintu pagar yang ditutup.. ..
Aku mendengar suara langkah kaki yang berat itu berbelok dan berjalan ke arah rumah ini.
Kami bertiga merunduk di dalam pagar rumah yang terbuat dari semen dan batu bata menyerupai tembok.
Pemilik rumah menyapa sesuatu yang mengerikan di depan rumah dalam bahasa mandarin yang kami tidak pahami artinya.
Tidak ada jawaban dari mahluk yang ada di luar atas sapaan perempuan yang sudah menyelamatkan kami.
Perempuan yang menyelamatkan kami masih berdiri di dalam pagar sambil melihat mahluk itu semakin menjauhi rumah ini.
“Kalian ini siapa dan apa yang sedang kalian lakukan malam-malam seperti ini” tanya suara perempuan yang aku pernah dengar sebelumnya.
“Eh.. kamu nak Rita?....”
“Lho.. ini mbah Sastro?,.... Sedang apa malam-malam disini mbah?”
Aku tau dari suaranya ketika dia menyuruh kami masuk ke rumah.. Aku pernah dengar suara itu.. Dan ternyata benar perkiraanku, dia adalah Rita yang pernah menjadi guidenya mbah Sastro kemarin.
“Untung kalian bertiga ada di depan rumah saya, coba kalau di depan rumah orang lain, mungkin kalian bertiga sudah tidak ada lagi hehehe
“Ayo masuk ke dalam… mbah kung dan mbah Putri malam-malam dingin gini ini mau apa ke sini, dan siapa lagi bapak yang ini?” tanya Rita lagi
Kami masuk ke dalam rumah RIta yang kecil namun nyaman, jauh lebih nyaman daripada rumah di JIang yang keadaannya mirip gubuk.
“Ini pak Bawono nak Rita… dia adalah anak angkat kami berdua” jawab mas Agus sebagai mbahkung Sastro
“Mbah-mbahkuuuu… kalian ini sedang apa malam malam disini, apa kalian tersesat dan tidak bisa mencari jalan keluar dari sini?”
“Begini nak Rita… tadi pagi kami kesini mencari nak Rita… kata penjaga di luar nak Rita sedang keluar, sehingga kami berdua nekat saja jalan-jalan ke dalam” kata mas Agus lagi
__ADS_1
“Tetapi hingga siang kami masih ada disini dan ternyata kami tersesat, anak angkat kami menyusul untuk mencari kami… dan akhirnya kami ketemu meskipun kami tidak tau ada dimana ini”
“Hihihi cerita yang bagus mbahkung…… tetapi saya yakin kalian bertiga disini bukan karena tersesat, pasti ada maksud lain dengan kalian ada disini ini…..”