
Memang benar kata mas Agus… duduk di bawa pohon beringin dan menghadap ke arah seberang sungai ini sangat nyaman…
Angin semilir yang menyapu wajahku, dan suara dedaunan pohon beringin membuat perasaanku menjadi tenang dan santai, hingga semakin lama semakin membuat aku ngantuk.
Nggak terasa aku semakin ngantuk dan akhirnya akupun tertidur.
*****
“Tina.. ayo bangun….bangung dong Tina. .masak di tempat ginian kamu tertidur sih?”
“UUaaaghhmmm ada apa Nggrid, rasanya ngantuk sekali Nggrid” aku belum membuka mata, karena memang aku sangat ngantuk.
“Mbak Tina.. ayo bangung mbak” kali ini suara mas Agus yang mulai membangunkan aku.
“Iya.. iya mas, ada apa to, kok Inggrid dan mas Agus mbangunin Tina?”
“Udah bangun aja dulu mbak, tidurnya dilanjutin nanti aja” kata suara mas Agus
Ketika kubuka mata… ternyata aku memang masih ada di halaman belakang, namun berbeda dengan ketika aku ada disini sebelumnya.
Pohon beringin ini kenapa tidak sebesar dan selebat sebelumnya.
Dan tempat yang aku duduki ini adalah rumput golf yang subur dan terpotong rapi, aku menoleh ke kanan… lho ada Inggrid… dia terlihat lebih nyata.
Dengan kaos putih dan rok kotak kotak Inggrid tersenyum ramah.
“Eh Nggrid..,, kamu ajak kami berdua ke mana ini?”
“Tenang Tina… Tina dan mas Agus ada di rumah peristirahatan keluarga Ong… kalian berdua sedang duduk di bagian belakang rumah yang merupakan tempat favorit Inggrid”
“Nama Inggrid adalah Inggrita Ong… dan rumah ini adalah rumah peristirahatan milik keluarga Ong”
“Nggrid…kita berdua ini mimpi atau gimana?”
“Ehhmm kalian ini memang mimpi, tapi mimpi yang gak kayak mimpi pada umumnya heheheh… yuk ke kita ke rumah dulu aja…” ajak Inggrid yang sudah berdiri
“Mas… apa mas Agus pernah kesini sebelumnya?”
“Ya pernahlah mbak… saya kan pernah cerita ke mbak Tina tentang mimpi saya waktu saya tidur sendirian disini”
“Ayo kita masuk ke dalam mbak…itu Inggrid sudah ada di pintu pagar kayu mbak hehehe”
Inggrid sedang menunggu aku dan mas Agus di pintu masuk kecil atas pagar bagian belakang rumah ini, pagar yang terbuat dari kayu dan dicat warna putih
Pagar bagian belakang rumah ini ketinggianya mungkin sekitar satu setengah meter saja, sehingga aku bisa menginguk atau melihat ada yang ada di dalam halaman belakang rumah ini.
Bagian halaman belakang rumah ini sangat indah, tetapi nggak tau kenapa aku lebih suka melihat sungai dan yang ada di seberang sungai itu
Sebelum aku masuk… aku memandang ke arah sungai sekali lagi, ternyata sungai itu lebih lebar daripada yang kau lihat sebelumnya.
Kalau dari sini air sungai itu terlihat jernih dan bisa saja agak dalam.
“Ayo Tina, mas Agus… yuk kita ke dalam rumah..” panggil Inggrid yang masih berdiri di dekat pintu pagar
Keadaan bagian belakang rumah ini benar-benar berbeda, lebih tepatnya sangat terawat daripada ketika sudah beralih fungsi menjadi rumah penggergajian.
Inggrid membuka pintu pagar lebar-lebar dan masuk ke dalamnya, pintu pagar halaman belakang itu dia biarkan terbuka, agar kami bisa masuk kedalam halaman belakang tanpa membuka pintu itu.
“Pintunya jangan ditutup.. Biarkan terbuka saja!” kata Inggrid tiba-tiba dan dengan suara yang agak membentak
__ADS_1
Aku hanya melongo.. Tapi bukan plonga plongo!
Aku melongo bukan karena melihat indahnya halaman belakang rumah ini, tetapi aku melongo karena mendengar suara Inggrid yang intonasinya lebih keras dari pada biasanya.
Tapi biarlah,aku tidak akan mempermasalahkan suara Inggrid yang tidak seperti biasanya itu… aku akan ikuti saja alur yang akan dia tunjukan disini.
Di tengah jalan setapak kecil yang menghubungkan pintu pagar belakang dengan bagian belakang rumah Inggrid menghentikan langkahnya.
Inggrid berhenti melangkah di sebelah pohon mangga yang saat ini buahnya sedang banyak banyaknya.
Dia menoleh ke arah kami berdua yang masih menikmati keindahan taman belakang rumah ini
“Ada yang mau mangga nggak. Itu ada beberapa yang sudah masak pohon” tunjuk Inggrid
“Nggak usah Inggrid, untuk saat ini kami lebih senang menikmati rumah bagian belakang ini… sangat Indah Nggrid”
“Ya sudah kalau kalian tidak mau mangga, yuk kita masuk ke dalam rumah saja”
Aku dan mas Agus mengikuti Inggrid yang berjalan dua meter di depan kami.
Hingga Inggrid membuka pintu belakang rumah yang terbuat dari kayu yang bercat putih.
Aku tau saat ini aku sedang diajak Inggrid ke masa dimana dia masih hidup, dan kemungkinan besar dia akan menunjukan sesuatu kepada kami berdua.
Inggrid membuka pintu bagian belakang rumah lebar-lebar, kemudian dia mempersilahkan kami untuk masuk ke dalamnya.
“Ayo kita masuk ke dalam… ini rumah peristirahatan keluarga Inggrid, rumah yang bisa dikatakan mungil tetapi penuh dengan kenangan”
“Lho kok kenangan Nggrid?” aku heran dengan kata kenangan, karena sesuatu yang menggunakan kata kenangan itu pasti untuk dikenang, karena sebelumnya ada sesuatu yang terjadi.
“Iya Inggrid bilang rumah ini penuh kenangan… karena beberapa tahun, eh sekitar tujuh tahun lalu keluarga Inggrid hilang disini”
“Waktu itu Inggrid berumur belasan tahun… keluarga Inggrid datang kesini karena waktu itu hari libur, tetapi Inggrid tidak ikut bersama mereka, karena waktu itu ada Inggrid memilih berlibur bersama oma Inggrid”
“Inggrid bosan ada di rumah ini tanpa ada listrik, gak ada tv radio, dan hanya ada lampu minyak… lebih enak tinggal di rumah Oma yang ada di pegunungan daripada disini”
“Inggrid tiga bersaudara… Inggrid anak nomor dua”
“Waktu itu papa, mama , dan dua saudara Inggrid menghabiskan sabtu minggu disini, sedangkan Inggrid memilih tinggal bersama dengan oma (nenek ) dari papa Inggrid di daerah pegunungan yang berhawa sejuk”
“Pada hari minggunya.. Tepatnya minggu sore seharusnya kami sudah berkumpul lagi di rumah… rumah kami ada di perumahan elit daerah barat di kota S”
“Keluarga Inggrid bersama oma dari mama Inggrid dan seorang babysitter yang mengurusi oma dari mama Inggrid tinggal di rumah yang berukuran lumayan besar itu”
“Hingga minggu malam.. Mereka belum juga datang…senin pun mereka belum juga datang”
“Akhirnya senin itu Inggrid bersama saudara mencari keluarga Inggrid di rumah peristirahatan ini… ternyata mereka semua tidak ada disini”
“Rumah ini dalam keadaan bersih… semua perabot makan dan kamar dalam keadaan bersih, dan tidak terlihat sepeti vila yang baru saja ditempati orang”
“Hingga hari berikutnya keluarga besar Inggrid melaporkan kehilangan ini kepada pihak yang berwajib, tetapi hasilnya nihil… Inggrid tau memang perlu dana dari pihak yang berwajib untuk mencari orang yang hilang”
“Keluarga besar sudah menggelontorkan uang yang tidak sedikit untuk mencari keluarga Inggrid yang hilang itu, tetapi hasilnya nihil”
“Hingga pada suatu hari, Inggrid ingin tinggal disini, Inggrid berangkat bersama seorang supir dari keluarga Inggrid kesini”
“Sesampai disini Inggrid hanya ingin sendirian saja, sehingga Inggrid yang waktu itu berusia belasan tahu nekat untuk tinggal disini”
“Awalnya supir keluarga Inggrid itu menolak meninggalkan Inggrid seorang diri disini”
__ADS_1
“Tetapi setelah Inggrid paksa untuk pulang, akhirnya supir itu pulang juga ke kota S, tapi dengan catatan nanti sore menjelang malam, supir itu akan datang lagi ke sini bersama pembantu rumah tangga keluarga”
“Dengan alasan untuk membantu Inggrid menyalakan lampu minyak dan memasakan makanan untuk Inggrid”
“Dan ternyata benar, sore harinya sopir Inggrid datang, tapi sayangnya dia datang tidak bersama pembantu rumah tangga keluarga, tetapi dia datang sendirian”
“Setelah menyalakan lampu minyak di rumah ini, apa yang tidak pernah Inggrid perkirakan pun terjadi”
“Supir itu memperkhosa Inggrid, disini tidak ada siapapun yang bisa dimintai pertolongan, dengan teriak sekuat tenaga pun tidak akan ada orang yang tau”
“Setelah puas dengan satu kali pemerkhosaan dan Inggrid sempat pingsan, kemudian dia tetap ada disini, dan supir itu melakukan hal menjijikan itu semalam suntuk hingga pagi hari”
“Menjelang pagi waktu itu Inggrid dalam keadaan yang sangat lemah, orang itu mengangkat Inggrid ke kamar mandi, setelah itu dia menggantung Inggrid di kamar mandi rumah ini”
“Inggrid mati di gantungan yang ada di kamar mandi”
“Setelah beberapa hari baru ada keluarga dan dari kepolisian yang datang kesini… dan menemukan mayat Inggrid yang sudah membusuk”
“Arwah Inggrid tetap ada disini… Inggrid sedih dan menyesal sekali karena keegoisan Inggrid menyebabkan Inggrid mati dengan mengenaskan”
“Yang lebih membuat Inggrid menyesal karena Inggrid dengan keegoisan dan memaksakan diri, waktu itu tinggal berlibur bersama oma daripada dengan keluarga Inggrid, hingga keluarga Inggrid ini hilang tak berbekas”
“Rumah peristirahatan keluarga ini kosong, tetapi untuk menghormati keluarga Inggrid, beberapa keluarga besar selalu menyuruh orang untuk membersihkan rumah ini tiap beberapa hari sekali”
“Arwah Inggrid disini berusaha mencari keluarga Inggrid yang hilang, tetapi hingga kini belum juga ketemu.. Dan akhirnya rumah peristirahatan ini dijual ke seseorang, karena rumah ini tidak ada yang menempatinya”
“Inggrid berjanji tidak akan meninggalkan rumah ini, karena Inggrid takut kalau rumah ini akan dihancurkan sebelum Inggrid tau bagaimana keadaan keluarga Inggrid, termasuk kalau memang keluarga Inggrid memang meninggal, dimana mereka dikuburkan”
“Selama Inggrid tinggal disini banyak kejadian-kejadian di rumah ini yang mengerikan, termasuk makam yang ada di bagian paling belakang itu”
“Itu makam palsu.. Yang buat disana adalah pemilik rumah ini agar tidak ada yang berani mendekati dan melakukan kejahatan di rumah ini karena di rumah ini ada makam keramatnya heheheh”
“Yah itu cerita dari Inggrid untuk Tina dan mas Agus, disini Inggrid hanya ingin meminta bantuan mas Agus dan Tina untuk mencari dimana keluarga Inggrid berada”
“Untuk supir yang telah melakukan pembunuhan kepada Inggrid biarkan saja dulu, karena Inggrid lebih fokus kepada keluarga Inggrid yang hilang itu”
“Ok Nggrid… saya sudah paham apa yang kamu ceritakan, tapi kami harus mulai dari mana, dan bagaimana aku dan mbak Tina tau tentang keluargamu Nggrid?” kata mas Agus setelah mendengarkan apa yang Inggrid ceritakan
“Nanti akan Inggrid beritahu tentang foto keluarga Inggrid mas, pokoknya Inggrid minta tolong agar ditemukan dimana keluarga Inggrid terakhir berada mas”
Waduh.. Bakal ada kasus sulit lagi ini, dan kayaknya yang ini bakal lebih sulit, karena peristiwa itu sudah lama sekali.
Tapi aneh juga.. Kalau sekarang aja tahun 1997, tiga puluh tahun ke belakang kan ya sekitar tahun 1967 an..Lalu si Inggrid ini lahir tahun berapa?
“Nggrid, ada yang saya gak paham.. Berarti kasus ini terjadi tahun 1967 an” tanya mas Agus
“Iya mas, sekitar tahun itu” jawab Inggrid
“Lalu pada waktu itu kamu bilang kamu berumur belasan tahun… sebenarnya kamu ini kelahiran tahun berapa Nggrid hehehe” tanya mas Agus lagi”
“Pokoknya beberapa tahun setelah kemerdekaan Indonesia mas heheheh”
“Wih.. kamu berarti sudah tua sekali Nggrid hahaha”
“Ya iyalah mas…rumah ini menurut kalian tahun berapa dibuatnya, dan sebenarnya rumah ini rumah apa?”
“Mas Agus dan Tina pasti tidak tau dulunya rumah ini apa? Hehehehe… kalau menurut cerita oma pada waktu itu rumah ini adalah pos penjagaan saja”
“Tapi bukan sekedar pos saja, karena fungsinya adalah mengambil mayat korban kekerasan jaman panjajahan yang dibuang di sungai dan akhirnya tersangkut di tanah yang agak tinggi di belakang rumah ini”
__ADS_1
“Jadi rumah ini dulunya tempat mengumpulkan mayat-mayat sebelum dibawa entah kemana gitu hehehe”