RUMAH PENGGERGAJIAN

RUMAH PENGGERGAJIAN
306. SERANGAN TERHADAP PAK JAY


__ADS_3

Malam ini pak Hendrik akan ada disini, aku kira hanya pak Hendrik saja, ternyata pak Jay juga ikut, padahal pak Diran sudah wanti-wanti agar jangan ada yang kepingin tau apa yang ada disini.


Yah namanya juga kepingin ada pembuktian, jadi mereka berdua datang kesini nanti malam, tentu saja mereka harus menerima konsekuensinya apabila ada sesuatu di sini nanti malam.


Tepat pukul sembilan malam, pak Diran datang ke sini, kebetulan pak Diran jaga pagi, sehingga dia bisa datang ke sini.


“Pak Agus bos kita datang jam berapa rencananya nanti?”


“Katanya sih jam sembilan sudah ada disini pak”


“Yah biarkan saja pak Agus, mereka kan perlu bukti atas apa yang pak Agus ceritakan tadi pagi, memang tidak semudah itu mempercayai apa yang pak Agus ceritakan, jadi ya harap maklum saja pak” kata pak Diran


Istriku, sudah masuk kamar, dia tidak mau ikut campur atas apa yang akan kami lakukan disini, dia sudah merasa bahwa hal ini pasti akan membahayakan salah satu dari kami.


Jarum jam menunjukan jam sembilan lewat tiga puluh menit, sebuah mobil parkir di depan rumahku.


Ternyata pak Jay dan pak Hendrik, mereka  akhirnya datang juga.


“Kita duduk dulu disini pak, nanti pak Hendrik akan melihat di depan pintu itu” kata pak Diran yang mempersilahkan pak Hendrik untuk duduk di sebelahnya


Sedangkan pak Jay duduk di sebelahku yang menghadap ke tembok kamar, kursi sofa L yang ada di rumahku satu sisi menghadap ke belakang, dan menghadap ke tembok kamar.


Yang menghadap ke belakang tentu saja akan melihat dapur dan pintu kamar anakku tanpa harus menoleh, tetapi yang menghadap ke tembok kamar tentu saja harus menoleh ke kiri untuk melihat bagian dapur dan pintu kamar anakku.


“Pak Agus, seperti biasa nanti jam sepuluh pak Agus masuk ke kamar dan tiduran disana, selebihnya biar saya yang atur” kata pak Diran


Jam sepuluh malam aku masuk ke kamar anakku, seperti sebelum-sebelumnya aku duduk dan tiduran di kursi yang ada di dalam kamar anakku.


Tenang. Sepi, dan sedikit gelap, serta bau minyak telon, kamar anakku benar-benar nyaman untuk aku tinggali, keadaan ini menyebabkan aku ngantuk, dan akhirnya seperti sebelumnya aku tertidur di sini.


Aku tertidur hingga aku terbangun karena mendengar suara berisik di sekitarku.

__ADS_1


Suara anak-anakku yang sedang bermain, aku tau mereka pasti akan bertemu pada jam-jam segini, dan mereka akan bermain disini atau di rumah pak Diran, tetapi setahuku mereka akan bermain disini saja, karena disini ada tubuh kasat mata milik Gustin.


Tidak ada yang berarti hingga pintu kamar anakku dibuka perlahan lahan, ketika kulirik ternyata pak Diran yang membuka pintu kamar, dia masuk bersama pak Hendrik…


Aku lihat mereka berdua mendekati box tempat tidur anakku, aku nggak tau apa rencana mereka, tetapi dengan mendekati box tempat tidur tentu saja berbahaya di kala tubuh tak kasat mata Gustin sedang tidak ada di tubuh kasat matanya.


Ketika dua orang itu sedang ada di sebelah box, tiba-tiba aku mendengar suara nafas berat, yang artinya penjaga Gustin sedang ada di sekitarku, aku nggak peduli, aku tutup mata saja, seolah aku sedang tidur.


Beberapa saat ketika aku pura-pura tidur, tiba-tiba aku mendengar suara seperti orang yang  seperti orang yang jatuh kemudian ada suara seperti orang yang sedang tercekik, suara seperti….hhgggkkk ……kkkhhhgggg…. hgggggkkk.


Tetapi suara itu bukan dari kamar ini.. kubuka mataku, ternyata pak Diran dan pak Hendrik buru-buru keluar dari kamar.


Kalau bukan pak Diran dan pak Hendrik, kemudian yang mengeluarkan suara seperti orang yang tercekik itu siapa, aku bangun dari posisi tidurku dan menyusul keluar dari kamar.


Suara seperti orang yang tercekik masih terdengar hingga sekarang… tapi sekarang juga ada suara pak Diran dan pak Hendrik. Ketika aku buka pintu kamar, ternyata pak Jay…


Pak Jay sedang dalam posisi tengkurap di lantai dengan kedua tangan yang memegang di leher, seperti orang yang berusaha melepas sesuatu di lehernya.


Sedangkan pak Diran dan pak Hendrik ada di kiri kanan pak Jay, mereka berdua tidak bisa melakukan apa-apa selain berdoa agar apa yang sedang menyerang pak Jay bisa hentikan serangan itu.


“Apa yang terjadi pak Diran?”


“Saya tidak tau pak Agus, padahal tadi waktu kita tinggal masuk ke dalam kamar, dia dalam keadaan tidak apa-apa” jawab pak Diran


“Eh apakah pak Jay sempat berkata sesuatu tentang anak saya pak?”


“Saya tidak tau pak, karena dia hanya diam saja dari tadi” jawab pak Diran


“Apakah penjaga anak saya ada disini pak?”


“Tidak ada pak Agus, disini tidak ada siapapun, sepertinya pak Jay mendapat serangan seperti yang pak Agus alami di kepala pak Agus itu”

__ADS_1


“Kalau begitu dia ada di dalam kamar. Ayo kita ke dalam kamar lagi pak Hendrik dan pak Diran, saya yakin penjaga Gusta sedang menunggu kita di dalam kamar”


Terus terang aku tidak bisa mendengar atau melihat penjaga Gusta, hanya aku bisa mendengar suara nafas yang berat saja.


Ketika aku sudah ada di dalam kamar, ternyata benar, aku bisa mendengar suara nafas yang berat, dan aku segera duduk di kursi seperti biasanya.


Pak Diran dan pak Hendrik berdiri di sebelah box Gustin, aku yakin sekarang pak Hendrik dan pak Diran sudah bisa melihat sosok itu, hanya saja mereka saat ini hanya diam saja menunggu sang empunya nafas berat berbicara terlebih dahulu.


Selang beberapa menit kemudian…


“Tidak…kami kesini bukan untuk menantang anda ” kata pak Diran dengan suara pelan dan lembut


“Termasuk rekan kami yang ada di luar itu. Lalu kenapa rekan kami kok anda serang?” tambah pak DIran


“Oh jadi dia tadi sempat meremehkan anda, dengan berkata, urusan anak kecil saja sampai bikin heboh seperti ini… begitu?” kata pak Diran setelah beberapa saat diam


“Ini teman kami pak Hendrik, dan dia juga bisa melihat anda.  Ayo pak Hendrik perkenalkan dirimu…”


“Oh baik, kita bicara di ruang tamu saja.. Baiklah, kami akan keluar sekarang” kata pak Diran kemudian menyuruh aku dan pak Hendrik untuk keluar dari kamar.


Kami bertiga sudah ada di ruang tamu. Kami duduk di sofa, sementara itu kami biarkan saja pak Jay yang sedang pingsan di lantai ruang tamu.


Hingga beberapa puluh detik tidak ada pembicaraan sama sekali, keliatanya pak Diran dan pak Hendrik tidak ingin mendahului pembicaraan dengan sang penjaga Gusta.


“Lalu apa yang harus saya lakukan?” kata pak Diran tiba-tiba


“Baiklah kalau memang harus menyatukan kembali Gusta dan Gustin, tetapi keluarga ini tidak bisa tinggal disini, mereka harus pergi ke tempat yang jauh” kata pak DIran kemudian


Setelah itu keadaan diam hingga mungkin sekitar dua menitan….


“Nama Saya Hendrik, saya dan teman saya Jay yang sedang pingsan ini adalah pemilik dari resort yang sekarang sedang dibangun” kata pak Hendrik tiba-tiba

__ADS_1


“Maafkan teman saya Jay yang sudah berkata kata yang kurang berkenan bagi anda” tambah pak Hendrik


“Apa, jadi teman saya Jay tidak bisa sembuh apabila kedua anak kembar dari mas Agus tidak disatukan?” kata pak Hendrik dengan nada heran


__ADS_2