RUMAH PENGGERGAJIAN

RUMAH PENGGERGAJIAN
232. TIDAK AMAN


__ADS_3

“Apa yang harus kami lakukan pak?”


“Tenangkan dulu saja diri mas Agus, kemudian kalau bisa bicarakan kepada pemilik hotel ini” jawab pak Hendrik


“Jelas tidak mungkin pak, atasan kami tidak mau tau tentang hal beginian” jawab pak Diran


“Kalau begitu tunggu saja hingga ada korban berikutnya heheheh… mudah saja kan” jawab pak Hendrik lagi


“Oh iya… pak Agus.. kita belum ke halaman belakang untuk menanyakan kabar pak Cheng kepada mbak Kunti”


“Besok saja pak Diran.. Saya lemas sekali ini pak….”


“Ya sudah..pak Agus disini saja, biar saya saja yang ke sana… saya hanya ingin tau tentang apa ada informasi lagi tentang keadaan pak Cheng” kata pak Diran


“Ayo pak… saya temani saja ke sana” kata pak Hendrik


Akhirnya pak Diran dan pak Hendrik yang menuju ke bagian belakang hotel… ke pohon beringin yang berisi mbak Kunti yang biasanya tinggal disana.


Aku hanya bisa duduk di  kursi ruang utama sambil membayangkan  rumitnya masalah yang kami alami disini.


Mbak Tina juga tidak bicara sama sekali, karena dengan adanya dia disini maka apa yang seharusnya tidak kelihatan, sekarang menjadi kelihatan.


“Mas.. apa yang harus kita lakukan mas?”


“Menurut saya mbak… mbak Tina harus temui mbah Sastro dan mbah Sutinah.. Tanyakan tentang apa yang ada disini, dan sebaiknya jangan bersama saya, mbak Tina sendirian saja yang kesana”


“Iya mas… keadaan kayaknya semakin genting disini dan harus segera diakhiri mas.. Kapan enaknya Tina ke sana mas?”


“Nanti… tunggu pak Diran saja mbak”


Jelas tidak ada yang menginginkan hal seperti ini terjadi, sebelum semua makin runyam ada baiknya diakhiri saja, tapi mengenai pasak yang dirahasiakan oleh leluhurnya mbak Tina, itu harus dibicarakan antara internal mereka saja.


Aku bukan anggota keluarga mereka dan seharusnya tidak boleh ikut campur urusan seperti  ini.


“Jiang…. Kamu jaga pintu belakang…saya mau istirahat dulu…”


“Mbak Tina sebaiknya istirahat juga, nanti kalau pak Diran dan pak Hendrik kesini, mbak Tina akan saya bangunkan”


Ruang utama tempatku duduk menjadi sepi, mbak Tina sudah ada di kamar depan, sedangkan Jiang sedang menunggu pak Diran dan pak Hendrik di pintu kaca belakang.


Kebetulan aku duduk di sofa yang menghadap ke halaman parkir hotel…


Mobil-mobil tamu yang menginap disini terparkir rapi, lampu penerangan lahan parkir menyala  menyinari tiap mobil yang ada disana.


Tetapi perhatianku saat ini bukan ke arah mobil……


Mataku sekarang lebih perhatian ke sosok yang ada di antara mobil yang sedang diparkir itu. Sosok yang ada di area yang kurang pencahayaannya.


Ada sesuatu yang sedang berdiri mematung…. Bentuknya lebih mirip tumpukan kardus bekas yang sudah sobek-sobek yang seukuran dengan manusia.


Eh lebih tepat kayak pakaian dan sobekan kardus yang disusun menyerupai bentuk tubuh manusia,  ada kepala, ada tubuh ,tetapi hanya memiliki satu tangan saja.


Kuperhatikan dengan mata terpicing apa yang ada di lahan parkir itu…


Ketika aku perhatikan lebih detail… benda yang dari jauh mirip dengan susunan kardus bekas dan pakaian bekas itu bergerak, kemudian menghilang.


“Jangkrek…. Opo iku!....”


“Wah gak beres iki……”


“Ah mungkin halusinasiku aja karena aku kecapekan”


Kualihkan mataku ke arah pohon-pohon hutan yang ada di luar parkiran, pikirku agar mataku lebih fresh dengan melihat pohon pohon yang ada disana….


Tapi benda yang tadi ada di parkiran itu ada disana…  dia mengangkat sesuatu yang mirip dengan tangan…. Seolah oleh benda yang mirip dengan tangan itu menyapaku.


“Arrgghh!... asu!”


Aku berjingkat dan berjalan tertatih menuju ke arah Jiang yang ada di dekat pintu belakang…


“Ada apa pak Agus?” tanya Jiang


“Anu Jiang… s..saya tadi liat sesuatu yang mirip manusia… d..disana di lahan parkir mobil. Dia berpindah tempat hingga dua kali”


“Sebentar pak, coba saya lihatnya dulu pak… siapa tau bapak salah lihat”


Jiang menuju ke ruang tamu…. Dia pasti akan mencari sesuatu yang sekarang sudah tidak ada.


Aku yakin pasti Jiang akan ke sini dengan kata-kata…mana pak, gak ada siapapun disana pak.


“Gak ada siapa-siapa pak… saya sudah lihat di luar sana” kata Jiang ketika datang dari ruang tamu


“Iya Jiang… mungkin hanya saya yang diperlihatkan, mungkin tujuannya adalah saya Jiang”


“Hehehe kalau begitu, pak Agus disini saja bersama saya biar aman pak hehehe”

__ADS_1


Nah betul kan perkiraanku, benda atau sesuatu itu tidak memperlihatkan diri kepada orang lain selain aku, atau bisa saja mbak Tina juga akan diperlihatkan benda itu apabila tadi ada di ruang tamu bersama aku.


Ya sudah untuk amannya aku bersama Jiang disini sambil menunggu pak Diran dan pak hendrik.


*****


“Ternyata apa yang dikatakan arwah pak Owo benar pak Agus, info dari mbak kunti, disini ada semacam paku yang dicari oleh semua makhluk”


“Termasuk Fong dan sekutunya juga….apalagi ditambah dengan adanya bu Tina disini yang semakin mempermudah para pemburu itu mendeteksi dimana barang itu berada” kata pak Diran


“Lalu apa yang harus kita perbuat pak?”


“Yah yang paling mudah adalah bu Tina…. Bu Tina harus bicara dengan leluhurnya bagaimana mengatasi masalah ini. Lebih cepat lebih baik pak, karena kekuatan mereka semakin hari semakin bertambah, sedangkan kekuatan kita hanya begini begini saja” kata pak Diran lagi


Setelah mendapatkan penjelasan tentang apa yang pak Diran dan pak Hendrik dapatkan dari mbak kunti. Aku kemudian menceritakan tentang apa yang aku lihat di lahan parkir sana.


“Tunggu disini, saya akan coba deteksi energinya dulu” kata pak Diran yang kemudian keluar dari ruangan utama menuju ke lahan parkir


“Apakah itu adalah sesuatu yang jahat yang berhasil masuk ke sini pak Hendrik?”


“Belum tentu mas Agus, karena letaknya bukan di dalam hotel, tapi di parkiran, bisa saja apa yang mas Agus lihat itu sudah lama ada di sana”


“Hanya saja baru malam ini apa yang ada disana itu memperlihatkan diri”


Pak Diran tidak lama ada di luar, dia kemudian segera masuk setelah selesai dengan yang ada diluar sana.


Wajah pak Diran menunjukan kemuraman dan kebingungan ketika dia masuk ke ruangan ini…


“Ada apa pak Diran?” tanya pak Hendrik


“Saya tidak tau apa yang ada di luar sana, tetapi energi yang saya rasakan kayaknya saya pernah rasakan sebelumnya, tetapi saya lupa dimana saya rasakan energi itu”


“Dan benar kata pak Agus… memang tadi disana ada mahluk halus yang berdiri disana, tetapi entah kenapa dia malah pergi….”


“Di sana ada dua tempat yang mempunyai energi yang sama. Dan dua tempat itu persis yang ditunjuk oleh pak Agus tadi”


“Sudahlah ini sudah pagi, gak mungkin benda itu akan muncul lagi. Lebih baik pak Hendrik sekarang kembali ke kamar untuk istirahat, dan pak Agus juga istirahat dan jaga kesehatan juga”


“Saya akan patroli di depan… nanti kalau pak Agus perlu saya, cukup menggunakan aiphone saja, tidak usah mendatangi pos saya”


Semua kembali ke tempat masing-masing. Pak Hendrik kembali ke kamarnya, pak Diran juga kembali ke pos jaganya, ruang tunggu ini hanya ada aku dan Jiang saja.


Sekali lagi kulihat jam dinding, saat ini sudah pukul tiga pagi…sudah terlalu pagi untuk sesuatu yang mengerikan datang  kesini.


“Ya tidak papa pak Agus… tapi di dalam kan ada kamar kosong kenapa pak AGus tidak di kamar saja?”


“Nggak Jiang… saya terlalu takut untuk tidur di kamar sendirian..kalau disini kan ada kamu apabila saya bermimpi buruk atau ada sesuatu yang menyerang saya”


“Pak Agus…. Kira-kira pak Cheng akan kembali kapan ya?”


“Wah saya tidak tau jiang.. Semoga pak Cheng cepat kembali setelah semua urusannya selesai”


Karena keadaanku yang payah… perlahan lahan aku mulai mengantuk… mataku tidak bisa dibuka lagi setelah beberapa hari kurang tidur ditambah tadi tubuhku digunakan pak Owo untuk berbicara dengan pak Diran dan pak Hendrik.


Aku benar-benar ngantuk….


*****


Matahari pagi menyinari wajahku…. Ugghh panas sekali.


Kenapa aku nggak dibangunkan… padahal matahari sudah mengenai wajahku!


Lhooo tapiiii….dimana aku… aku tadi kan tidur, kenapa tiba-tiba terbangun di ruangan yang berantakan berdebu seperti sebuah ruangan yang sudah lama sekali tidak dihuni.


“Lho ini kan sofa hotel…”  ketika kulihat apa dan dimana aku barusan tidur


Tapi sofa hotel ini kenapa bentuknya  gak karuan, rusak, kotor, kumal, gak ada busanya, hanya kain dan kayu saja. Dimana aku… seharusnya aku ada di lobby hotel.


Kuperhatikan ruangan yang berantakan, meja yang terbalik kaca pecah, pintu yang lepas dari engselnya, sarang laba-laba di tiap pojok ruangan.


“Ya Allah…. Ini kan ruang utama hotel… ini kan lobby hotel Singgasana Adem Ayem!”


Aku berdiri dari posisi duduk tadi… uuggh pegal sekali tubuhku… seolah aku lama sekali tertidur di  sesuatu yang keras, kuperhatikan sekeliling sebelum aku melangkah.


Lantai ini.. Lantai yang biasanya aku dan Jiang pel…


Lantai ini sebagian dilapisi tanah.. Tanah yang sebagian sudah ditumbuhi tanaman liar…..


Aku ada di hotel Adem Ayem yang sudah lama ditinggalkan!


Dan yang pasti ini adalah sebuah mimpi… ya aku yakin aku sedang bermimpi tentang keadaan hotel ini di masa depan…


“Coba sih…penasaran dengan bagian belakang hotel..”


Apakah masih ada kamar-kamar yang biasanya penuh dengan tamu, dan sebenarnya saat ini keadaan hote di l tahun berapa.

__ADS_1


Aku sudah tidak takut seperti ketika tadi aku barusan bangun, aku tidak takut karena aku saat ini sedang bermimpi, maka dari itu lebih baik aku nikmati saja mimpi ini.


Mimpi ini kayaknya ingin memberitahuku keadaan hotel ini setelah berpuluh puluh tahun kedepan, mungkin ketika hotel ini sudah tidak menghasilkan uang bagi pak Jay lagi.


Di seberang sofa yang aku duduki ada meja resepsionis yang sudah hancur juga.. Sepertinya hancur karena dipukuli, meja itu pecah jadi dua bagian, bukan hancur karena waktu.


Sepertinya ada kekerasan yang terjadi disini, kekerasan yang mengakibatkan semua benda yang ada disini rusak, pecah, patah, dan berantakan.


Aku berjalan menuju ke arah belakang… dua kamar yang ada di belakang meja resepsionis itu pintunya juga dalam keadaan terbuka dan rusak…


Kamar belakang malah daun pintunya lepas dari engselnya dan tergeletak di dalam kamar. Sepertinya ada orang yang super kuat yang bisa melepaskan daun pintu itu dari engselnya.


Mungkin di masa depan Hotel Singgasana Adem Ayem ini mengalami perampokan, dan perampok itu menghancurkan seluruh hotel ini kecuali bangunan.


Aku melangkah ke belakang… pintu kaca buram ini pecah berantakan, hanya menyisakan engselnya saja.


Tapi yang mengerikan adalah halaman belakang…..


Halaman belakang penuh dengan rumput gajah dan tanaman liar  yang tingginya sudah lebih dari satu meter lebih, sehingga aku hanya bisa melihat kamar nomor satu dan dua saja.


Setelah kamar nomor satu dan kamar nomor dua, yang lainya sudah tidak terlihat, karena sudah tertutup ilalang dan rumput, yang terlihat hanya bagian atasnya saja.


Aku mundur satu langkah…. Jelas aku takut, karena aku tidak tau apa yang ada di balik rumput dan ilalang yang tumbuh subur itu.


Aku tidak akan jalan menuju ke belakang untuk mencari tau apa yang ada disana….. Yang jelas pasti banyak hewan melata di halaman belakang yang sudah ditumbuhi semak belukar dan rumput yang tinggi.


Tetapi kalau seharusnya hotel ini lama ditinggalkan, gak mungkin kalau keadaanya hancur, kalau melihat keadan ini, berarti sebelum ditinggalkan atau sesudah ditinggalkan ada sesuatu yang mengamuk, dan menghancurkan semua yang ada disini.


Tapi dimana mbak Tina, pak Diran, Jiang, pak Cheng, apakah mereka semua sudah kembali ke asalnya, dan sekarang aku hanya sendirian disini untuk bernostalgia?


Lantai di dekat kaca belakang yang pecah ini sangat berdebu dan… dan….


“Jangkrek!...  ada jejak kaki yang masih baru…”


 Jejak kaki tanpa alas kaki….jejak kaki yang jari kakinya tidak lengkap.. Jejak kaki cacat!


Jejak kaki yang pernah aku dan pak Diran temukan di kamar sepuluh, jejak kaki yang tiba-tiba hilang ketika aku dan pak Diran datang lagi untuk membersihkan sisa darah di kamar nomor sepuluh.


Tapi jejak kaki ini lagi-lagi aneh. Karena jejak kaki ini berasal dari belakang hotel dan stop hanya sampai di depan toilet hotel…


Setelah itu jejak ini hilang… seolah olah pemilik jejak ini terbang, sehingga jejak ini hanya sampai di depan toilet saja.


Aku jongkok dan kuperhatikan lagi dengan lebih teliti…..


“Tapi jejak kaki ini baru!... “


Kalau dilihat dari debu yang berserakan di antara jejak kaki ini, jejak kaki ini masih baru!...dan jejak kaki ini berakhir disini.


Berarti saat ini selain aku ada orang lain juga yang ada disini. Sesuatu yang mungkin bisa melayang atau terbang..atau sesuatu itu sekaran ada…


Di atasku…..


Aku tidak berani bergerak…. Aku tidak berani menengadah…


Keringat dingin perlahan lahan muncul di dahiku, aku merasa ada sesuatu di atasku….


Tidak!....


Tidak mungkin ada sesuatu di atasku…tadi waktu aku berjalan dari sofa ke sini tidak ada apa-apa di plafon bagian ini… tidak ada siapa siapa disini selain aku saja.


Tetapi kenapa bulu kuduk ku meremang dan keringat mulai menetes dari dahiku?


Tidak… tentu tidak ada apa-apa disini….bulu kuduk dan keringat ini hanya hasil dari pola pikir saja!


Aku harus bangun dari mimpi…


Aku harus kembali dimana tadi aku berasal, aku harus ada disana untuk bisa bangun dari mimpi.


Pelan-pelan aku berdiri dari posisi jongkok…


Kemudian aku mundur…


Kok mundur, kenapa tidak berbalik saja…..


Nggak tau!....


Pokoknya aku merasa ada sesuatu yang menyebabkan aku tidak mau menoleh atau berbalik.


Seandainya aku punya mata di punggungku, aku tidak perlu setakut ini.


Aku terus berjalan mundur hingga aku ada di seberang meja resepsionis yang sudah hancur…


Kulirik sofa rusak dimana tadi aku duduk…. Kemudian dijatuhkan tubuhku di atas sofa…


Keringat dingin terus mengucur… aku merasa di belakang sofa ini ada sesuatu yang sedang memperhatikan aku!

__ADS_1


__ADS_2