RUMAH PENGGERGAJIAN

RUMAH PENGGERGAJIAN
140. DESA YANG HILANG


__ADS_3

Asap  kemenyan itu semakin lama semakin pekat, dan  membuat nafas kami sesak.


Aku tidak mau ambil resiko dengan masalah pada paru-paru kami… aku harus buka jendela kamar ini.


Tapi ada sesuatu yang kupikirkan…. apakah aman dan tidak akan terjadi apa-apa apabila jendela kamar ini aku buka


Apakah tidak ada yang menyergap masuk dan menangkap kami?”


“Mas.. uhuk.. asap ini semakin lama bukan bau kemenyan lagi.. tapi bau bahan kimia yang bikin nafas Tina sesak…kita harus buka jendela kamar mas”


“Tapi apa yang ada di luar itu yang kita tidak tau mbak Tina… kita tidak tahu apakah ada orang yang sedang menunggu kita keluar dari kamar ini melalui jendela” bisik mas Agus


“Apa mas Agus ada ide lain selain keluar lewat jendela?”


“Tidak ada mbak… hanya itu satu satunya cara untuk menyelamatkan diri… melalui jendela itu”


Aku tau  orang-orang jahat ini tahu bahwa satu satunya cara kami keluar dari ini yaitu melalui jendela ini, dan aku rasa di luar sudah ada yang menjaga kami dan akan menangkap aku dan mas Agus.


Tapi memang benar, tidak ada cara lain untuk menyelamatkan diri dari sini kecuali keluar dari ruangan ini dan lari ke tengah hutan.


Dan yang aneh… asap ini…bau kemenyan yang asapnya masuk melalui celah pintu ini berbeda dengan bau pada waktu pertama asap tadi masuk ke dalam kamar.


Bau asap putih yang sekaran ini lebih tajam dan pedes di mata….


“Gini saja mas.. buka dulu jendela itu, tapi kita jangan keluar dari sini, biarkan jendela  itu terbuka dulu, Tina ada di sisi kiri dan mas Agus ada di sisi kanan”


“Tina Yakin orang yang ada di luar tidak akan berani masuk selama asap masih ada di kamar ini, mereka pasti akan menyergap ketika asap mulai berkurang”


“Atau gini saja mbak… tahan napas sekuat mungkin agar asap ini semakin tebal di dalam kamar, setelah itu  jendela kita buka dengan sekuat mungkin, kemudian di antara asap yang keluar dari jendela kita lari ke tengah hutan”


“Ya sudah mas.. Tina setuju… ayo kita mendekati jendela mas.. semoga asap yang masuk ke kamar ini semakin banyak mas”


Aku tau rencana mas Agus… jadi setelah asap disini semakin banyak, dan asap itu belum keluar dari ventilasi kamar di atas jendela, kemudian kami buka jendela ini dengan kuat, dan bersamaan dengan keluarnya asap… kami juga keluar melalui jendela ini.


Tapi masalahnya belum juga asap ini makin banyak, aku sudah tidak bisa bernafas lagi, dadaku semakin sesak dan paru-paruku rasanya panas kayak terbakar gitu..


“Mas.. kita harus buka jendela itu sekarang…Tina sudah kesulitan untuk bernafas” kataku sambil berbisik


“Iya mbak.. ayo kita buka sekarang saja jendela ini… pada hitungan ketiga dorong keluar dengan kuat, jangan lupa pakai topi dan  jaket yang diberi oleh pak Paijo”


“Pakai sepatu dulu mas.. agar kaki kita aman dari duri  dan batu yang tajam”


“Waduh sepatu saya ada di luar mbak,.. yang ada disini hanya sandal jepit saja”


“Gak papa.. ayo kita siap-siap mas”


Dalam hitungan ketiga jendela yang sudah dibuka slotnya oleh mas Agus kami dorong keluar, hingga menimbulkan suara yang keras ketika daun jendela itu mengenai tembok rumah.


Bersamaan dengan itu, asap tebal mulai bergerak keluar kamar menuju ke alam bebas..


Aku dan mas Agus menunggu hingga asap semakin tebal yang keluar dari dalam kamar.


Ketika gerombolan asap itu mulai keluar dari kamar ….


“Ayo mbak Tina.. kita keluar dari sini dan lari secepatnya menuju ke hutan yang ada disana”


Tanpa disuruh dua kali aku naik ke jendela dan loncat turun degan mulus.. kemudian aku lari menuju ke hutan, begitu juga dengan mas Agus yang ada di belakangku, dia juga mengikuti aku yang lari lurus menuju ke arah tengah hutan.


Hutan ini sangat gelap…. tapi seolah aku punya kekuatan untuk berlari ke tengah hutan dengan yakin, tanpa takut terkena batu atau lobang atau apapun.


Ku usahakan untuk tidak menoleh ke belakang sama sekali, yang penting aku masih bisa mendengar langkah kaki mas Agus.


Di belakang aku mendengar suara-suara laki-laki yang berteriak…


Mereka meneriaki kami dan mengajak temannya untuk mengejar aku dan mas Agus yang semakin masuk ke tengah hutan.


Semakin dalam aku dan mas Agus lari kedalam hutan yang gelap..


Tidak ada cahaya senter atau cahaya bulan yang masuk ke  dalam hutan.. aku hanya menggunakan insting saja, seolah ada yang menuntun aku untuk bergerak dan berlari ke tengah hutan.


Tiba-tiba aku mencium bau bunga melati yang tajam.


“Stop mas… stop disini saja dulu…ikuti Tina mas… semoga memang benar ada yang akan menolong kita mas”


“Assalamualaikum mbah…”


“Ini Tina mbah….


Detik pertama tidak ada yang berubah.. langkah kaki para pengejar semakin mendekat, nyala lampu senter mulai terlihat tidak jauh dari posisiku dan mas Agus berdiri..


Tapi beberapa detik kemudian bau bunga melati ini semakin pekat, bau ini semakin tajam…


Seiring dengan semakin tajamnya bau bunga melati, kemudian muncul kabut tanah.. kabut tipis yang kemudian menyelimuti aku dan mas Agus.


Kabut tanah ini hanya tipis saja…. sehingga aku dan mas Agus masih bisa melihat cahaya lampu senter yang semakin dekat dengan kami berdua.


“Diam mas… jangan bergerak sama sekali”

__ADS_1


Keanehan pun terjadi. ketika para mengejar itu semakin dekat dan hanya berjarak dua meter dari kami..


Mereka melewati kami, seolah mereka tidak melihat kehadiran kami berdua ada di sebelahnya.


Ternyata ada dua orang yang sedang mengejar kami… dan dua orang itu melewati kami hingga mereka lurus terus ke tengah hutan…


Dan kedua orang itu adalah Wito dan Yetno!


Aku dan mas Agus masih diam tak bergerak, karena bisa saja Wito dan Yetno kembali lagi ke rumah penggergajian…


Dan ternyata perkiraanku benar.. mungkin sekitar lima menit kemudian dua orang itu kembali dari tengah hutan…


Mereka berjalan mengarah ke kami dengan cahaya senter yang menyorot kesana kemari.


Semakin dekat jarak Yetno dan Wito….


Semakin dekat…semakin dekat dan mereka berdua menabrak kami… menembus kami yang sedang berdiri ketakutan.


Wito dan Yetno berjalan sambil terus menyorotkan cahaya senternya ke segala arah..hingga akhirnya mereka berdua tidak terlihat lagi.


Tapi bau melati itu semakin tajam… semakin tajam, dan akhirnya sesuatu yang aneh terjadi setelah kabut tipis itu mulai hilang secara perlahan lahan.


“Mas…..”


“Mas.. kita ada desa yang hilang itu, di desa leluhur Tina.. ayo kita jalan dengan tenang mas”


Mas Agus tidak merespon kata-kata ku, mungkin dia sedang ketakutan.


Kami ada di sebuah jalan desa yang berbatu batu namun tertata rapi. keadaan dan suasana disini bernuansa warna kecoklatan..


Sejauh mataku memandang semua nampak agak kecoklatan.. dan saat ini siang hari!


Karena ketika kutengadahkan kepalaku… di atas kepala kami ada matahari, tetapi sinar matahari  itu tidak terlalu panas, seperti ada semacam penghalang atau filter gitu.


Dan penghalang itu yang menyebabkan sinar matahari itu tidak putih dan tidak panas, tetapi warnanya agak emas kecoklatan, lebih mirip dengan cahaya matahari ketika  sore hari menjelang maghrib.


Banyak orang yang berlalu lalang, mereka jalan kaki dan ada juga yang sedang naik sepeda juga..


Pakaian mereka jelas hanya hitam dan coklat saja. khas pakaian pribumi pada zaman penjajahan.


Mereka tidak memperdulikan kami yang sedang kebingungan di pinggir jalan. Jalan yang apabila diinjak agak terasa empuk. bukan empuk sih sebenarnya.


Jadi tiap aku melangkah .. tanah yang kuinjak ini rasanya agak sedikit  bergerak ke dalam.


“Dimana kita ini mbak Tina?” bisik mas Agus”


“Sssttt , Tina sedang konsentrasi mas, rasanya ada yang menuntun  Tina ke suatu tempat mas”


Setelah berjalan tidak terlalu jauh, akhirnya kami tiba di sebuah rumah yang letaknya agak di pinggir.


Aku berhenti didepan rumah itu, karena yang menuntun aku juga berhenti di depan rumah ini.


“Keliatanya rumah ini adalah rumah leluhur Tina mas….”


“Terus apa yang akan kita lakukan disini mbak”


“Tunggu dan sabar dulu, nanti kemungkinan ada yang akan datang”


Tetapi ternyata apa yang aku pikirkan ini salah, tidak ada yang datang menjemput kami berdua. tetapi kami ada di depan rumah kayu yang sangat sederhana.


“Kita masuk ke dalam rumah ini saja mas, Tina yakin rumah ini milik leluhur Tina”


Aku berjalan menuju ke depan rumah yang halamanya gersang dengan tanah yang padat dan keras.


Pintu rumah ini tertutup rapat, rumah tanpa jendela ini pasti bagian dalam nya sangat gelap.


Kuberanikan diri untuk semakin dekat dan mengucapkan salam di depan pintu.


“Permisi … kulonuwun…..”


“Permisi… kulonuwuuuuuun”


“Iya… siapa yaaaa” jawab suara yang ada di dalam


Suara itu sepertinya aku pernah dengar…


Hmmm iya .. itu suara dari mbahnya mbahku…mbah yang ada di mimpiku yang murah senyum dan yang sebagai juru bicara ketika tadi aku bermimpi itu.


Pintu rumah yang berasal dari kayu itu kemudian terbuka…


Ternyata benar dugaanku, beliau yang memperkenalkan diri sebagai mbahnya mbahku.


“Mbaaah.. ingat saya. saya Tina”


Pada awalnya mbah ini hanya diam sambil memandang dari atas ke bawah kemudian ke atas lagi.


Tapi tidak lama kemudian mbah ini tersenyum.. nampak kebahagiaan di wajahnya..

__ADS_1


“Oh iyaaaa, ayo mari masuk nduk… eh ini Agus itu ya nduk?”


“Benar mbah..ini mas Agus yang Tina omongkan tadi mbah”


“Akhirnya kalian berdua sampai  juga ke sini ya”


“Tadi nduk Tina mengikuti apa kok bisa sampai disini?”


“Tadi sepertinya ada yang menuntun Tina hingga sampai disini mbah”


Kemudian aku ceritakan apa yang terjadi dengan kami hingga kemudian aku dan mas Agus sampai disini, tidak lupa juga orang  yang tadi mengejarku.


Mbah yang sudah tua ini mendengarkan ceritaku dengan menggunakan bahasa Indonesia sambil manggut manggut..kelihatannya dia paham apa yang sedang terjadi dengan aku dan mas Agus.


“Hehehe kabut tanah.. dan kalian akhirnya tidak terlihat….kelebihanmu itu akan makin hebat ketika kamu ada di tanah leluhurmu”


“Khodam yang melindungi koe akan bergerak sendiri untuk melindungi koe nduk,  itu sudah merupakan warisan turun temurun untuk keturunan asli dari desa ini”


“Hmm iya nduk… ada yang akan mencelakai kalian berdua dengan menggunakan ilmu Hitam, jadi lebih baik hati hati saja nduk”


“Yang penting jangan lupakan leluhurmu, dan pasti  leluhurmu tidak akan lupa dengan kamu”


“Sekarang apa yang harus Tina dan mas Agus lakukan mbah?”


“Tenang saja, dan kembalilah ke alammu berdua, mbah dan leluhurmu yang lainya akan berusaha membantu kamu nduk


Setelah pamitan..aku dan mas Agus berjalan menuju ke arah dimana kami datang.


Desa ini kelihatanya asri dan enak untuk ditinggali, bisa saja ini mungkin sebelum, fase datangnya penyakit.


Ketika aku dan mas Agus sudah ada di tempat awal kami datang… tiba-tiba muncul lagi kabut tipis seperti tadi.


Kabut tipis yang disertai dengan bau bunga melati yang sangat tajam…


Kabut tipis ini kemudian perlahan lahan mulai memudar.


Dengan memudarnya kabut tipis… ternyata langit di sekitar sini sudah berwarna biru, menandakan bahwa matahari sudah ada di ufuk timur.


“Mas jam berapa ini?”


“Udah pagi ini mbak.. sudah jam 05.20 pagi mbak”


“Aneh juga ya mbak…padahal kita hanya sebentar di desa yang hilang, tapi kok rasanya lama sekali ya mbak”


“Iya mas… Tina juga heran… ayo kita kembali ke rumah penggergajian saja mas.. Tina penasaran dengan keadaan rumah itu”


“Eh mbak… saya salah lihat… kita memang ada di jam 05.21… tetapi kita tidak di hari yang sama ketika kita dikejar oleh Wito dan Yetno …tapi kita ada di satu hari di depannya”


“Apa mas!.. padahal kita tadi di desa yang hilang tidak lebih dari  dua puluh menit mas, tapi di alam kita bisa sampai dua puluh empat jam”


“Untungnya jam tangan mas agus ini jam digital, jadi ada tanggal dan harinya”


“Sekarang kita kemana mbak?”


“Kita ke rumah penggergajian saja mas…Tina penasaran dengan yang ada disana”


“Tapi apakah aman kita kalau kita ada disana mbak?”


“Ya tetap pasang mata dan berhati hati mas, jangan sampai lengah sedikitpun mas”


langit semakin cerah.. pagi hari yang sejuk dan dingin ini menggugah rasa lapar di perut ku…


“Sebenarnya kita ini bingung mau ke mana mbak, karena dimanapun kita berada, orang-orang yang mencari kita tetap bisa menemukan kita mbak”


“Seolah ada mata-mata di dekat kita… mata-mata yang selalu melaporkan ke kelompok Solikin”


“Iya mas.. Tina sekarang merasa aneh aja mas… selama ini kita kan hanya dekat dengan pak Paijo, harusnya kita dalam keadaan yang aman mas”


“Iya mbak… saya juga sedang berpikir apa yang  sebenarnya terjadi ini mbak”


Pagi hari ..kami berjalan menuju ke rumah penggergajian dengan penuh hati hati.


Hingga tidak lama kemudian kami sampai pohon-pohon depan rumah penggergajian.


Kami tidak langsung menghampiri rumah itu begitu saja, tetapi kami berdua harus  mempelajari situasi disini dulu, jangan sampai ada anak buah Solikin yang datang ke sini.


Jendela kamar mas Agus saat ini kondisinya sudah tertutup, berarti ada orang yang sengaja menutupnya…


Motor polisi milik anggota pak Paijo pun masih ada di halaman rumah. berarti tidak ada  anggota polisi yang kesini dan mengambil motor ini.


“Mas… aneh juga ya.. motor masih ada disana, sedangkan kita hilang dua puluh empat jam… lalu kenapa motor polisi itu masih ada disana?”


“Harusnya kan mereka bawa pulang karena kita menghilang”


“Iya mbak… berarti kesimpulan saya , tidak ada anggota polisi yang kesana selama kita hilang ini mbak”


“Tidak ada anggota polisi yang patroli ketika malam kejadian itu juga mbak”

__ADS_1


“Terus kita harus apa mas, apa kita harus mencurigai pak Paijo?”


“Belum tentu mbak, bisa saja anak buah mereka itu mbak”


__ADS_2