RUMAH PENGGERGAJIAN

RUMAH PENGGERGAJIAN
77. MALAM-MALAM KOK MALAH CARI MASALAH


__ADS_3

Catatan Penulis:


Mulai bab ini penulis lanjutkan apa yang ada di rumah penggergajian itu atas dasar segelintir informasi dari Budi encik yang diperoleh ketika Budi pulang ke kota S.


Budi mendapat toleransi dari  bos besar, dia tiap tiga minggu sekali diperbolehkan pulang ke kota S.


Pakde saya mendatangi Budi di kota S hanya untuk menanyakan apa yang terjadi disana.


Tetapi sayangnya segelintir cerita dari Budi itu sama sekali tidak ada yang menarik, karena menurut penuturannya dia tidak pernah mengalami hal yang mengerikan disana.


Sebenarnya cukup aneh dengan keadaan yang biasa-biasa saja disana, karena yang pakde saya tau bahwa disana banyak sekali hal yang mengerikan.


Tapi pakde saya tidak percaya begitu saja dengan yang dikatakan Budi..


Nah disini penulis wajib melanjutkan cerita meskipun minim informasi dari Budi.


Tetapi jangan khawatir, pakde beberapa kali selalu datang ke rumah pak Solikin sekedar untuk silaturahmi dan bertanya tentang keadaan rumah penggergajian.


Lalu bagaimana dengan Tina, tentu saja meskipun pakde saya sudah tidak tinggal disana, tetapi dia masih berhubungan dengan Tina.


*****


Nah mulai bab ini penulis akan lanjutkan cerita mengenai rumah penggergajian dengan tokok Agus dan sederet tokoh lain seperti sebelumnya.


Hanya saja kisah lanjutan ini hanya berdasarkan pada pemikiran penulis yang dibantu oleh pakde saya dari segelintir informasi dari Budi dan pak Solikin.


Dan mari kita selesaikan apa yang masing mengganjal di rumah penggergajian itu


Terima kasih


\============================================


Burhan memang sedang menunggu aku pulang, buktinya pintu pagar tidak dia gembok… dia biarkan gembok itu hanya menggantung begitu saja di slot pintu tanpa terkunci sama sekali .


Motuba atau motor tua bangka ini kutuntun ke masuk ke dalam halaman rumah setelah kugoncang goncangkan untuk mendengarkan suara cairan bensinya, tetapi sama sekali tidak terdengar.


“Wiiih sudah jam 21.10… lumayan lama juga aku ada di rumah pak Solikin”


Untung lampu petromaks itu masih nyala, coba kalau dalam keadaan mati, pasti aku tidak akan berani masuk ke dalam rumah.


Biasanya kan ada saja yang nyalakan kemenyan, tetapi sekarang aku sudah tidak percaya lagi dengan mereka yang berusaha menakutiku.


Ketika sedang kuparkir di pojokan motor tua bangka ini tiba-tiba aku mendengar suara kemresek…..


Suara seperti langkah kaki orang yang sedang menginjak dedaunan kering.


Hingga beberapa kali suara itu terdengar dari halaman rumah penggergajian.


“Jangan-jangan suara-sura itu seperti yang dibicarakan Yetno, pasti suara itu berasal dari samping rumah, Aku akan mencari asal suara itu, ”


“Pasti suara itu berasal dari samping rumah…”


Aku yakin suara itu adalah Burhan yang sedang keluar masuk dari dinding rumah…


Setelah selesai dengan motor yang diparkir secara diam-diam tanpa ada suara sama sekali, bahkan langkahku sekarang sudah mirip maling..


Berjingkat jingkat tanpa bersuara di gelapnya halaman rumah…


Kubuka pintu pagar rumah, agar aku bisa berjalan pelan ke arah samping rumah.

__ADS_1


Untungnya engsel pagar rumah ini selalu diberi minyak agar gak bunyi kriet kriet ketika dibuka.


Tapi memang kok, setelah kuperhatikan, engsel dari pintu pagar, pintu depan rumah, pintu kamar, bahkan pintu kamar mandi semuanya sedikit basah terlapisi oli.


Sehingga pintu-pintu itu apabila dibuka dan ditutup tidak akan berbunyi kriet kriet sama sekali.


Ya sebenarnya tidak aneh…apabila di rumah yang terawat!


Tetapi di rumah penggergajian ini ya agak aneh saja apabila ada orang yang sangat perhatian dengan engsel pintu!


Baru juga aku keluar dari pagar rumah, dan ketika mataku melihat ke arah deretan pohon….


“Aduuuh kenapa ada bayangan  hitam itu lagi rek”


Aku sempat lihat sebuah bayangan hitam manusia yang ada di depan pagar rumah…


Bayangan hitam yang terus menerus selalu memperlihatkan dirinya kepadaku…


“Mungkin dia itu baik…..”


“Monggo mbah… saya mau ke sebelah rumah, lihat siapa tadi yang sedang berjalan disana”


Meskipun aku cukup merinding, tapi lama kelamaan akan terbiasa juga melihat bayangan yang lebih hitam dari pada gelapnya malam sekitar sini yang selalu ada di sela sela pepohonan.


Yah aku hanya mau bersikap sopan pada siapa saja termasuk kepada mahluk halus yang selalu menyempatkan diri untuk memperlihatkan dirinya kepadaku.


Aku sudah ada di depan pagar rumah penggergajian, sepi…gelap…dan sunyi sekali….


Bahkan suara hewan malam pun tidak terdengar sama sekali…


Aku berjalan menuju samping rumah dengan diterangi oleh sinar bulan yang lumayan cukup untuk melihat jalan yang ada di depanku…


Aku berusaha mendengar suara apapun yang ada di samping rumah….tetapi tidak ada suara apapun terdengar..


“Hmmm pasti Burhan sudah masuk ke dalam kamarnya..!”


Tapi sesungguhnya apa gunanya dia selalu keluar dari kamar lewat pintu rahasia, dan kemana dia keluarnya itu?


Setelah kurasa sepi, kemudian kulanjutkan berjalan menuju ke samping rumah…


Aku berjalan sangat pelan… dan mengendap-endap, agar langkah kakiku tidak menimbulkan bunyi sama sekali.


Hingga akhirnya sekarang aku sudah ada di sebelah luar kamarku yang berdinding tembok.


Aku menunduk dan berjalan pelan lagi ke arah sebelah kamar Burhan yang berdinding papan yang disusun rapi.


Kuperhatikan rumput dan tanah yang tepat di tempat yang kupijak. Memang ada sebagian rumput dan sedikit semak yang terlihat merunduk karena terinjak sesuatu.


“Sayangnya aku tidak bawa senterku..!”


Aku penasaran dengan pintu rahasia yang tembus dengan kamar Burhan, tapi aku yakin berdasarkan keterangan Yetno, di sekitar dinding ini pasti ada pintu yang menuju ke luar sini


Setelah yakin bahwa disini tidak ada apapun, maka kuputuskan lebih baik aku kembali dan masuk ke rumah saja.


Ketika akan kuputar tubuhku yang saat ini menghadap tembok..


Tiba-tiba ada suara langkah kaki dari kejauhan…


Suara langkah kaki satu orang yang berjalan menuju ke…. ke arah sini… ke arah aku sedang merunduk!

__ADS_1


“Jangkreeek apa yang harus aku lakukan!...”


Suara itu semakin dekat, dan keliatanya suara itu berasal dari belakang rumah penggergajian….


Suara langkah kaki yang berjalan pelan namun menimbulkan suara langkah kaki karena menginjak dedaunan  itu semakin dekat denganku.


Untungnya beberapa langkah sebelahku atau di sebelah kamar Burhan ini ada semak belukar yang tidak terlalu rimbun..mungkin masih rimbunan yembot dari pada semak semak ini.


“Aku harus tiarap di situ , di semak belukar itu!”


Perlahan-lahan kurebahkan tubuhku di antara semak belukar, ku usahakan untuk tidak menimbulkan suara sama sekali.. dan akhirnya sempurna…aku bisa tengkurap!


Suara langkah kaki semakin mendekati aku, suara yang tadi kuperhatikan dari samping belakang rumah….


Suara yang makin dekat dan makin dekat…..


Kuberanikan diri untuk melihat ke arah suara itu….


Kutengadahkan kepalaku….


Sayang tidak terlihat siapapun, hanya ada bayangan tinggi besar yang terlihat lewat beberapa meter di depanku.


Aku tidak bisa melihat tubuh atau wajahnya…


Aku yakin orang yang lewat itu berpakaian hitam, sehingga makin menambah ketidakjelasan penglihatanku.


“Sopo yo iku…”


Tinggi dan besar, persis yang digambarkan Yetno ketika mendeskripsikan orang atau sesuatu yang mencekiknya.


Suara langkah kaki itu semakin menjauh dari tempatku tiarap tengkurap..


Aku tidak bisa menebak ke mana arah suara langkah kaki itu, apakah belok ke kiri ke arah pintu masuk pagar rumah…


Atau bahkan lurus saja menuju ke hutan yang lebat.


Setelah kurasa sepi sekali, perlahan lahan aku berdiri….


Tapi aku tidak langsung jalan menuju ke arah pintu pagar rumah tetapi aku akan menuju ke arah belakang rumah…


Akan kususuri sisi rumah ini, seperti tadi waktu sosok tinggi besar itu datang. Aku penasaran, dari mana orang itu datang.


Dengan berjingkat jingkat aku berjalan menuju ke bagian belakang rumah seperti bayang hitam yang datang itu…


Peli an ..eh pelan-pelan aku jalan dengan semaksimal mungkin tidak menimbulkan suara…


“Hmm sepi, ndak ada apapun!....”


Aku sudah ada di bagian belakang rumah dengan pohon beringin besar di sebelah kananku, dan sungai serta kotak ajaib di depanku.


Tidak tau karena faktor psikis atau faktor lainnya… ketika aku dalam keadaan dingin dan kemudian melihat kotak ajaib jhamban di depanku…


Tiba-tiba perutku yang tadinya aman-aman saja, sekarang malah mules gak karuan…


“Yo wislah , tak ngising sebentar”


Akhirnya… meskipun dalam keadaan yang gelap, aku masih bisa jongkok dengan nyaman d di dalam kotak ajaib.


Ketika sedang konsentrasi tinggi untuk melepaskan apa yang ada di dalam perutku..mendadak aku mendengar suara langkah kaki yang berjalan terburu buru menuju ke sini.

__ADS_1


Aku tidak tau suara itu berasal dari desa sebelah sungai, atau dari rumah penggergajian.


__ADS_2