
Hingga ku akhiri dengan salam, aku masih merasa ada sosok yang sedang berdiri di belakangku, tetapi tentu saja aku tidak akan menoleh ke belakang meskipun godaan kata hati selalu menyuruhku untuk menoleh ke arah belakang.
Ndak lupa aku juga berdoa untuk memintakan ampunan bagi Mamad, meskipun saat ini perasaanku semakin tidak karuan.
Selesai berdoa aku masih bersimpuh di sajadahku, aku tidak berani menoleh ke belakang atau berdiri setelah selesai ibadahku.
Aku masih merasakan kehadiran sosok yang ada di belakangku, tetapi apabila aku tetap ada disini pasti aku tidak akan pernah berani dan pastinya aku akan terjebak di kamar ini hingga malam hari.
Keringat dingin mulai membasahi tubuhku, tanganku pun mulai merinding, bulu kudukku berdiri, sosok yang kurasa ada di belakangku ini belum juga pergi.
Meskipun aku tidak bisa melihat, tetapi aku bisa merasakan kehadiran sosok yang kemungkinan sedang berdiri di belakang.
Apalagi ditambah suasana temaram di kamar yang agak gelap gitu sehingga cocok dengan sesuatu yang sedang berdiri di belakangku
“ALLAHUAKBAAARRR!!!!” teriakku sambil menoleh ke arah belakang secara tiba-tiba
Ternyata tidak ada siapa-siapa di belakang, jendela kamar yang ada di belakangku memang sudah dalam keadaan tertutup rapat.
Gangguan pertama untuk sore hari yang sejuk, tetapi sore ini aku kan harus ke kota untuk kabari bos kalau palet yang ada di sini sudah siap untuk dikirim.
Sebenarnya apa atau siapa yang tadi menutup jendela yang ku belakangi itu, dan kenapa jendela itu menutup, tapi aku yakin jendela itu menutup karena faktor angin yang ada di luar kamar.
Sudah waktunya makan malam dan menyalakan lampu petromak, setelah itu aku bisa pergi ke desa lebih cepat.
Sore hari pukul 17.05 keadaan disini lebih temaram, karena sinar matahari yang kini condong ke arah barat itu terhalang oleh pohon hutan yang lumayan lebat.
Seharusnya sebelum berangkat aku makan dulu, tapi seumpama aku makan, nanti malah semakin lama aku ada di rumah ini, semakin lama aku ada di rumah ini perasaanku semakin tidak enak.
Atau lebih baik menyalakan satu lampu petromak, kemudian aku akan makan diluar saja, lampu itu juga akan kubawa keluar. Yah kurasa itu adalah ide yang bagus dari pada aku ada di dalam rumah.
Di depan rumah kunyalakan satu lampu petromak, karena keadaan disini semakin sore semakin gelap, suasana hutan di depan rumah pun sudah begitu gelap sehingga aku ragu untuk menerobos hutan menuju ke desa.
Tiga susun rantang sudah kubuka, dan sudah bisa kuterka apa yang ada di dalamnya, rantang paling bawah berisi nasi setengah rantang, susun kedua adalah ikan nila goreng, susun paling atas sayur lodeh.
Kalau lihat rantangan dari bu Tugiyem ini aku merasa bersalah, karena entah kenapa aku lebih condong ke mbak Tina, ndak tau apa yang menyebabkan aku lebih suka Tina daripada Anik.
Padahal aku tau kelakuan Tina itu bagaimana, berbeda dengan Anik yang masih kekanak-kanakan. tapi Ya sudahlah kita lihat nanti bagaimana aku ada disini.
Ketika aku sedang menikmati makanan pemberian bu Tugiyem mendadak dari jauh terdengar suara geledek, hingga beberapa kali aku mendengar suara itu, kemungkinan di daerah mana itu sedang turun hujan.
kulihat langit, ternyata di daerah sini juga dalam keadaan mendung, angin yang berhembus pun mulai bertambah kecepatanya.
Udara yang terbawa angin pun terasa dingin karena ada daerah disini yang sedang hujan
__ADS_1
“Waduh.. mau hujan iki…”
Isi rantang yang sudah habis itu kutaruh begitu saja di pinggir kursi panjang, karena aku harus segera pergi dari sini sebelum hujan.
Aku buru-buru masuk dengan membawa lampu petromak ke dalam rumah untuk mengambil tas kecil berisi dompet dan buku tulis.
“Harus cepat pergi dari sini atau aku akan terjebak disini….juuuangkreeeek… jangkrek!”
Ketika aku sudah ada di luar untuk menyalakan motor butut, mendadak hujan deras langsung mengguyur area sekitar sini, hujan yang tiba-tiba saja deras itu memaksaku untuk masuk ke dalam rumah!
Nah!... sekarang terjebak di dalam rumah dengan satu buah lampu petromak yang kupasang di atas ruang tamu.
Suara hujan dan angin yang lumayan kencang itu sempat membuatku bergidik. KIni aku duduk di ruang tamu yang menghadap ke arah kamarku dan kamar Mamad
Kulihat sekelilingku, tetapi kamarku dan kamar Mamad masih dalam keadaan gelap gulita.
Aku harus pasang lampu minyak di sana, agar keadaan tidak mengerikan…
Kedua kamar yang dalam keadaan terbuka itu memang gelap apabila tidak dikasih lampu minyak, apalagi kamar Mamad tempat tadi aku sholat.
Pertama adalah kamar tempat aku tinggal. kamar yang keadaanya gelap ini aku masuki, tidak terasa apapun di dalam hingga aku berhasil menyalakan lampu minyak yang ada di dalam kamar.
Setelah dari kamar depan aku menuju ke bekas kamar Mamad yang ada di samping kamarku. Ketika aku akan melangkah masuk, rasanya perasaan ini jadi kacau.
Entah kenapa rasanya aku tidak ingin masuk ke kamar bekas Mamad tinggal itu, aku hanya berdiri di ambang pintu kamar yang terbuka lebar dengan cahaya petromak yang masuk ke dalamnya.
Aku mematung di depan bekas kamar Mamad…
Kamar ini tidak boleh gelap, harus kunyalakan lampu minyak yang ada di dalam kamar itu.
Ndak tau kenapa tiba-tiba kakiku lemas dan tidak bisa digerakan untuk maju masuk ke dalam kamar Mamad, apakah karena aku terlalu takut untuk masuk ke dalam kamar itu atau bagaimana.
Mundur perlahan lahan menuju ke kursi yang ada di ruang tamu, kedua kakiku rasanya lemas sekali..
Lalu bagaimana dengan ruangan dapur dan kamar mandi, disana kan belum kupasang lampu petromak juga.
Tetapi yang kurasakan kini aku terlalu takut untuk bergerak ke arah dapur dan kamar mandi.
Sementara itu suara guntur semakin kencang dan hujan juga semakin deras.
Sayangnya atap rumah ini ternyata mengalami kebocoran di beberapa titik, bahkan yang dekat dapur bocornya agak deras sehingga air bocoran itu menimpa lampu petromak yang tergantung di dapur.
“Jangkreeek, alamat lampu itu ndak akan bisa nyala, karena terkena air hujan…!”
__ADS_1
Semakin malah hujan ini bukan makin reda tetapi makin deras, dan udara di dalam rumah pun makin dingin, tetapi untungnya ada suara hujan, sehingga aku tidak begitu ketakutan.
Hingga satu jam aku ada diruang tamu tanpa melakukan apapun, aku hanya diam dan mendengarkan suara hujan yang sekarang hanya menyisakan gerimis saja.
Setelah suara hujan deras reda kini yang ada hanya suara kodok dan ular yang saling bersahutan.
Dan pada akhirnya tepat pukul 21.00 hujan benar-benar berhenti, angin dingin mulai masuk melalui celah pintu dan ventilasi rumah.
Anehnya suara binatang yang tadi bersuara keras sekarang berganti menjadi hening. Harusnya setelah hujan masih ada suara kodok dan ular, apalagi rumah ini kan dekat dengan sungai.
Hening sunyi dan dingin, telingaku semakin berdengung karena udara dingin yang masuk dari celah rumah dan ventilasi rumah.
“Lebih baik aku ada di kamar aja”
Udara dalam rumah yang dingin ini memaksaku untuk masuk ke dalam kamar dan lebih baik ku pakai untuk tidur saja.
Tapi sebelumnya aku harus periksa dulu minyak tanah yang ada di lampu petromak, agar lampu itu tidak mati pada tengah malam.
Setelah kubuka tempat minyak tanah lampu, ternyata isinya masih banyak, dan kemungkinan bisa nyala hingga pagi hari.
Kututup pintu kamar dan tidak lupa kukunci juga, karena pengalaman sebelumnya pada malam mengerikan itu kan sempat ada sesuatu yang berusaha masuk ke dalam kamar.
Ternyata saat ini sudah pukul 22.10. udara di kamar ini dingin, nyaman, dan harusnya aku bisa tidur dengan nyenyak, tetapi apa yang terjadi, hingga saat ini aku tidak bisa memejamkan mata sama sekali.
Telingaku seperti sebelumnya berusaha mendengar suara yang ada di sekelilingku, tetapi tidak ada yang berbeda, hanya sepi sunyi saja.
Karena udara yang dingin dan ditambah dengan keadaan yang sepi akhirnya aku lama kelamaan tertidur…..
*****
Tiba-tiba mataku terbuka lebar!... sepertinya ada sesuatu yang memaksa aku untuk membuka mata dan hilangkan rasa kantuk ku!
Gelap… lagi lagi gelap tanpa sinar sama sekali baik di dalam kamar maupun di luar…
Ketika kutoleh celah lantai tidak ada sinar sama sekali di ruang tamu, keadaan yang mengerikan in kenapa selalu berulang terus menerus.
Aku tidak bergerak sama sekali, aku berusaha agar tidak menimbulkan suara sama sekali. Otak ku pun berpikir keras untuk menebak apa yang akan terjadi disini.
Hanya telingaku saja yang sekarang sedang bekerja, telingaku berusaha mendengarkan apa saja yang akan terjadi disini.
Tidak lama kemudian yang kutakutkan terjadi….
Lamat-lamat aku mendengar suara lagu, lagu keroncong… lagu keroncong yang terdengar lawas. Lalu dari mana suara lagu keroncong itu berasal?
__ADS_1
Suara lagu keroncong itu terdengar sangat pelan….
Kuperhatikan suara lagu keroncong itu, hingga aku yakin, suara lagu itu berasal dari radio yang ada di ruang tamu rumah!