
“Aduuuhh, mbak.. jangan gitu dong”
Secara ndak sengaja aku berkata seperti itu dengan maksud mbak Tina jangan menunduk di depanku.
“Kenapa mas, ndak boleh ambilin gelas mas Agus, memange kenopo to mas?”
“Bo..boleh kok mbak, Eh tapi saya ndak..eh ndak terbiasa melihat itu”
aku terus saja menunduk, aku benar-benar dibuat tidak berdaya dengan apa yang kulihat disini, benar-benar aku ndak pernah lihat yang sebesar dan seindah itu.
“Kalau gitu mas Agus ambil sendiri ya Tina kan cuman mau berbuat baik kepada tamu Tina aja mas”
Mbak Tina kemudian berdiri dan berjalan ke arahku, dan sekarang dia duduk di sebelahku, di sofa yang tiga baris.
“Tenang saja mas, pokoknya mas Agus jangan sampai pulang pada jam segini apalagi melewati hutan itu. karena pada jam segini itu, disana ada aktivitas penduduk hutan”
Mbak Tina berkata sambil menaruh telapak tangannya di paha kiriku.
“Pokoknya jangan takut mas Agus, selama mas Agus disini tidak ada yang akan mengganggu mas Agus”
waduuuh wajah dia yang mulus dengan alis nyelirit itu menoleh ke arahku, semakin nderedeg ndak karuanlah
“I..iya mbak Tina, Eh saya, takut kalau warga sini tidak suka dengan kehadiran saya di rumah mbak Tina ini”
“Tenang aja sayang, Tina ndak akan macam-macam kok” kata mbak Tina sambil mengelus rambutku dan menaruh kepalanya di bahuku
Bau harum rambutnya sempat membuat kelaki lakian ku berontak, tapi aku harus menepis itu, karena aku punya dik Anik dan mertuaku Mbok Yem
Eh bukan… karena aku punya pacar di desa, itu yang lebih tepat.
“Jangan takut mas, Tina ndak akan berbuat jahat sama mas Agus, Tina cuma mau ngobrol sama mas Agus saja kok” kali ini Tina semakin berani, dia menatapku tepat di depan wajahku
“I…iya mbak Tina… eh saya boleh pulang ke rumah penggergajian jam berapa mbak?”
“Ndak bisa mas, mas Agus bisa bertemu dengan mereka lagi kalau nekat pulang sekarang, disana pasti sudah menunggu yang lebih dari yang mas Agus lihat kemarin”
Tina semakin berani, dia sekarang merangkul leherku, dia berkata-kata tepat di telinga hingga terdengar seperti sedang membisikan sesuatu di telingaku.
Terus terang aku yang awalnya ketakutan, saat ini aku mulai bisa menikmati apa yang dilakukan mbak Tina.
“Mas Agus… makan malam yuk, sekarang saatnya kita makan mas”
Jangkreeeekk sekarang saatnya makan? apa dia ngajak aku benar-benar makan atau kata makan itu hanya kiasan saja untuk melakukan adegan selanjutnya?
“Eh iya mbak Tina, kebetulan saya juga sudah lapar”
Tina menarik kedua tanganku dengan kedua tanganya, dia menggandengku menuju ke bagian dalam rumahnya. Sekarang kami ada di ruang makan.
Ternyata benar-benar makan malam, bukan aku yang akan dimakan mbak Tina, sesuai dengan bayangaku heheheh.
“Jangan sungkan-sungkan mas, anggap saja saya istri mas Agus yang akan melayani mas agus di meja makan ini”
__ADS_1
“I…iya mbak, eh tapi, apa ndak papa saya makan disini?”
Hemboook… dia apa ndak salah bicara, dia suruh aku menganggap dia itu istriku masio purak-purak gini, bahkan nek beneranpun aku juga mau jadi suaminya kok hihihih.
“Makan malam yang mewah mbak Tina, bagaimana mbak Tina bisa masak dalam sekejap seperti ini, sepertinya mbak Tina akan kedatangan tamu ya mbak?”
“IYa mas, Tina kan lagi kedatangan tamu, dan tamunya itu adalah mas Agus yang ganteng” dia menghampiriku dan menciumi leherku dari belakang
“Ih geli mbak, jangan ah…. saya kan kegelian mbak”
“Hmmm itu di leher mas agus ada nasi yang belum masuk ke mulut, jadi Tina bersihkan saja agar lehernya mas Agus bersih”
Tina berkata seperti itu dengan tetap memelukku dari belakang sementara aku duduk di kursi ruang makan.
Jujur sebenarnya aku cukup menikmati apa yang dia berikan kepadaku, sebagai laki-laki sejati pantang menolak pemberian yang tulus seperti ini.
Pantasan saja pak Wandi pulang ke rumah penggergajian selalu pada pagi hari, jadi karena dia dilarang pulang dengan alasan akan mengalami sesuatu di jalan.
“Ehhmm mas Agus, kalau sudah selesai makannya, yuk kita ke ruang tamu lagi, Tina mau pijat punggung dan leher mas Agus agar tidak kaku seperti ini mas”
“J..jangan mbak Tina, saya ndak pegal pegal kok mbak, eh saya baik baik saja mbak”
“Uhg kalau baik baik saja kenapa keringatan terus dari tadi mas, itu tandanya mas Agus kena masuk angin, Ndak papa kok mas, Tina gak akan sakiti mas Agus”
“Anggap saja Tina ini istri mas Agus yang sedang melayani suaminya”
Tina kemudian menggandengku lagi ke arah ruang tamu, dia menggandeng tanganku seolah olah mengajakku untuk melakukan sesuatu di ruang tamu yang bernuansa pink.
Tina menarikku menuju ke sofa panjang yang tadi aku duduk bersama dengan dia. dia menarikku hingga aku terjengkang di sofa panjang itu.
Tiba-tiba mbak Tina duduk di atasku, dia hanya diam duduk di atas tubuhku tanpa melakukan apapun.
Dia hanya diam saja, dia tidak melakukan apapun dengan milikku yang mungkin sudah berontak ingin keluar dari balik celana, Dia hanya diam saja sambil melihatku.
“Ayo bangun aah, ayo duduk dan buka bajunya mas” kata Tina kemudian menarikku kembali agar aku duduk
“Buka bajunya ya sayang, Tina mau pijat punggung mas Agus yang kaku itu” kata Tina kemudian dia melepas kemejaku yang sedari tadi tidak kulepas sama sekali
Anehnya aku hanya bisa diam dan menikmati tiap layanan jasa yang dia berikan kepadaku, aku tidak menolak dan tidak berusaha untuk melakukan aksi.
Aku tetap menjaga diri, memang kelaki-lakianku berontak gak karuan, tapi aku harus jaga diri, jangan sampai jadi manusia yang dirasuki oleh hawa nafsu.
Tina melipat dengan rapi kemejaku yang tadi dia lepas satu persatu kancingnya, dia menyentuh bahuku dengan lembut, dan aku merasa luar biasa enaknya.
“Mas Agus mau pijatan yang keras atau yang lembut?” tanyanya dengan penuh perhatian
“Terserah mbak Tina, mau keras juga ok, mau lembut juga ok”
Aku tidak mau menentukan bagaimana cara dia memijat, yang penting dia menikmati cara dia untuk memijat, bukankah dia tadi menyuruhku menganggap sebagai istri.
Kalau menganggap sebagai istri ya jangan menyiksa istri dengan pijatan yang memerlukan energi yang keras.
__ADS_1
Istri bukan tukang pijat, dia memberikan pijatan itu karena rasa sayangnya kepada suaminya, bukan semata-mata karena kita ingin dipijat!
“Hmmm kenapa mas Agus tidak mau dipijat dengan keras, malah minta dipijat lembut?”
“Katanya mbak Tina tadi saya disuruh menganggap mbak Tina itu istri saya”
“Mbak Tiba bukan tukang pijat, jadi ya sebagai istri jangan sampai mengeluarkan tenaga ekstra untuk suaminya, karena tugas istri itu sudah banyak”
Tiba-tiba dia memelukku dari belakang… lama sekali dia memelukku dengan erat, dan tiba-tiba ada cairan hangat yang membasahi punggungku.
Tina menangis sesenggukan….
“Seandainya ada laki-laki macam mas Agus ini, pasti perempuan yang menjadi istrinya sangat bangga”
“Dari tadi Tina sudah memancing-mancing mas Agus, tetapi mas Agus seakan akan tidak terpancing dengan tingkah laku Tina”
“Mas Agus bisa menjaga kehormatan perempuan yang ada di depan mas Agus”
“Mas Agus tidak mengutamakan Nafsu… mas Agus bisa membawa diri sebagai laki-laki yang mempunyai harga diri”
“Bukan laki-laki yang dipikirannya hanya sheks belaka!”
“Tina bangga bisa melayani mas Agus seperti ini”
“Selama ini laki-laki selalu menganggap Tina sebagai simbol perempuan nakal. Tapi tidak dengan mas Agus!”
Tina berkata seperti itu sambil terus memeluk punggungku, dia terus memelukku dari belakang, Tina tidak melepaskan pelukannya hingga aku memintanya untuk duduk di sebelahku.
“Ayo duduk disini saja mbak Tina, kita ngobrol tentang masa depan, eh salah kita ngobrol tentang apapun yang mbak Tina mau bicarakan”
“Iya mas, hari ini Tina bahagia sekali karena bisa bertemu dengan laki-laki yang bisa menahan nafsunya”
“Ya ndak juga mbak Tina, saya ini ya ndak kuatan lah. Coba lihat terong ungu ku, dari tadi besar dan keras, hanya saja saya tidak mau asal begituan dengan siapapun”
“Iya mas, dari tadi Tina juga sudah merasa kalau terong mas Agus itu besar dan keras, dari tadi Tina ya nahan juga mas, dipikir Tina ndak kepingin pegang terongnya mas Agus apa hehehe”
“Intinya itu mbak, kita saling hormati siapapun yang kita temui, saya hormati mbak Tina karena sebagai perempuan mbak Tina itu benar-benar menghayati melayani saya tadi”
“Tina begini karena Tina kesepian mas. Suami Tina ndak tau ada dimana. Kalau mas Agus mau jadi suami Tina… Tina akan berikan pelayanan sebagai istri yang luar biasa”
“Ah mbak Tina ini ada-ada saja sih hehehe. kita kan baru juga bertemu dua kali, kita kan belum tau bagaimana sifat masing-masing hehehe”
“Eh lebih baik bahas yang lainya aja mbak Tina, kita bahas tentang rumah yang saya tempati itu”
“Ok mas, tapi Tina boleh dong bubuk di badan mas Agus, atau di pangkuan mas Agus. atau sambil peluk manja mas Agus”
“Ya boleh saja, tapi dengan catatan, Tina jangan pegang terong ungu saya lho ya”
“Jadi gak boleh pegang nih mas… eh kalau Tina hisap, atau Tina ciumin terongnya mas Agus gimana hihihi”
“Woaaaah jangaaaan… jangan ragu ragu maksudku… hahahah. Guyoooon, pokoknya jangan ya mbak Tina sayang”
__ADS_1