RUMAH PENGGERGAJIAN

RUMAH PENGGERGAJIAN
45. TERPAKSA


__ADS_3

“Tina rasa lebih baik mas Agus jangan pergi dari sini dulu mas, Tina rasa ada yang ndak beres disini”


“Jangan mbak, kita balik ke rumah mbat Tina saja, saya tidak mau luka lagi akibat mahluk mengerikan yang ada disini”


“Jadi rumah ini akan mas ninggal saja gitu?”


“Iya… lebih baik saya tinggal saja, dari pada ada sesuatu lagi yang akan menyerang, saya juga tidak mau mbak Tina kenapa-kenapa disini”


“Ya sudah kalau itu keputusan mas Agus, tetapi konsekuensinya adalah apabila ada maling disini, maka mas Agus harus tanggung jawab penuh”


“Kalau menurut TIna, mas Agus harus cek dulu keadaan sekeliling rumah ini, meskipun gelap tetapi paling tidak kan mas tau bahwa keadaannya aman untuk ditinggal”


“Ya sudah, ayo temani saya mbak, saya agak takut kalau harus berkeliling sendirian disini”


“Bawa senter mas Agus, Tina mau matikan motor Tina dulu mas”


Kenapa juga Tina menyuruhku untuk berkeliling disini, dan apa mungkin Burhan ada di sekitar sini?


Tapi lebih baik ku turuti saja yang dikatakan mbak TIna. Siapa tau aku bisa temukan Burhan meskipun dia sedang pingsan di sekitar sini.


Keadaan rumah kembali gelap setelah mbak Tina mematikan motornya, sekarang satu-satunya penerangan adalah senter kecil milikku yang sinarnya lumayan  untuk menerangi sekitar tiga meter dari tempatku berdiri.


Kami berdua meninggalkan rumah  menuju ke arah belakang yang tidak pernah kudatangi  kalau malam hari.


Senter kunyalakan… sinar yang tidak begitu terang cukup untuk menyapu sekitar kami.


“Mas Agus, ndak usah takut. Daerah ini kan bekas tempat nenek moyang TIna juga hehehe”


“Iya mbak Tina, tetapi saya masih berpikir ke mana larinya Burhan. Seharusnya dia tidak pergi dari rumah begitu saja”


“Tenang saja suamiku…. pokoknya apabila semua aman, maka mas Agus bisa tidur nyenyak kan”


Aku dan Tina berjalan di sekitar rumah, keadaan sangat gelap dan mengerikan, tetapi Tina dengan tenang berjalan di sebelahku seolah dia ada di desanya sendiri.


Aku berjalan menyusuri sisi rumah yang berpagar seng, sisi rumah yang merupakan tempat untuk penggergajian.


Sekarang aku sudah berada di gerbang bagian belakang tempat pekerja masuk.


“Coba mas Agus lihat dulu, gemboknya masih terkunci atau tidak?”


“Masih mbak, ndak ada yang masuk lewat area belakang rumah ini” kataku setelah memeriksa gembok belakang rumah


“Ya sudah mas, kalau begitu bagian depan rumah saja yang gemboknya terbuka kan mas, yuk kita balik dulu aja mas” ajak Tina sambil menggandeng tanganku


Terus terang dadaku rasanya sakit ketika harus kena udara atau angin malam yang dingin, tapi aku sedikit lega setelah melihat keadaan bagian belakang rumah yang aman.


Hanya saja yang masih menjadi pertanyaan, kemana Burhan dan apa yang menyebabkan dia pergi dari sini.


Ketika kami hendak jalan menuju kembali ke rumah, tiba-tiba di kejauhan dari arah pohon beringin ada cahaya kecil temaram yang bergoyang goyang.


Nyala api kecil yang lebih mirip nyala lilin itu bergerak gerak terkena angin malam.


Nyala api itu seakan akan melayang karena dibalik api kecil itu tidak terlihat apapun, hanya gelap saja yang terlihat dari sini.


“Eh mbak Tina,.... eh itu apa mbak?” aku menunjuk ke sebuah nyala api kecil yang melayang-layang


Tina berusaha melihat apa yang barusan kutunjuk itu


“Itu…itu di sana dekat dengan pohon beringin…. itu ada sebuah api kecil yang melayang layang mbak”

__ADS_1


“Apa tidak lebih baik kita sembunyi dulu saja…..”


“Wah iya benar mas, Tina juga lihat cahaya itu mas, lebih baik sembunyi dulu saja, dan jangan berpikir yang tidak rasional, ingat berpikirlah secara logika mas”


“Bisa jadi itu Burhan mas, ingat mas Agus kan pernah bilang apabila tempat buang air besar ada di sungai kan, nah bisa jadi Burhan kebelet buang air ketika sedang enak enak makan”


“Ayo kita  masuk ke halaman rumah dulu saja mas, Tina yakin yang ada disana itu Burhan!”


Tina menggandengku dan berjalan agak cepat ke arah  rumah, kini aku dan Tina sedang sembunyi di sekitar halaman depan sambil menunggu apa yang akan terjadi.


Pintu pagar sudah kututup lagi, dengan asumsi mudah, yaitu apabila nyala api itu adalah maling yang membawa lilin atau penerangan api, maka dia tidak akan masuk ke dalam rumah karena pagar sudah aku tutup.


Aku dan Tina pindah ke pojokan halaman rumah yang tidak terlihat dari luar.


Terus terang dadaku semakin sakit, aku bisa merasakan cairan panas di dadaku yang diserap oleh perban semakin banyak.


Aku ndak ngira kalau luka akibat makhluk berkain putih itu bisa begitu mengerikan dari perkiraan sebelumnya.


Kami tetap sembunyi dengan cara jongkok di halaman rumah hingga keadaan aman, tetapi ada yang aneh di sekitar halaman rumah ini.


“Mas coba dengarkan mas, ada suara langkah kaki yang perlahan lahan menuju ke sini”


“Suara itu kelihatanya mengarah kesini mas” kata Tina dengan berbisik


“Iya mbak Tina, saya juga dengar, tetapi luka bakar ini kok rasanya makin panas dan makin perih mbak”


“Sabar ya sayang nanti Tina lihat dan Tina ganti perbannya”


Suara langkah kaki semakin mendekati rumah dan diiringi suara siulan….


Kemudian secara sekilas aku lihat cahaya api yang tadi bergerak gerak itu ternyata adalah sebuah obor yang sedang dibawa oleh orang…


Hingga beberapa saat kemudian kulihat orang itu berjalan di halaman rumah…


Dia adalah Burhan….


“Mas Burhan!”


Aku berdiri dari posisiku sembunyi….


“Woiii siapa disana!” teriak Burhan kaget


“Ini aku  Agus mas…..” aku berdiri dan berjalan mendekati Burhan yang masih terkaget kaget


Aku dan Tina berjalan mendekati Burhan yang masih berdiri di halaman rumah dengan sebuah obor yang ada di tangan  kanannya.


“Kamu dari mana mas Burhan, kenapa semua pintunya ndak dikunci, dan kenapa juga lampu rumah tidak dimatikan juga?”


“Fiuuuuhhh saya kira sampeyan ini orang yang tadi mengendap-endap di pohon-pohon itu, ayo masuk dulu mas, dan eh mbak siapa ini… ayo masuk dulu saja”


Kami bertiga masuk ke dalam rumah. Kemudian Burhan menyalakan lampu  petromak yang ada di ruang tamu, sehingga keadaan ruang tamu kembali terang.


Mbak Tina duduk di kursi yang menghadap ke arah dapur, aku duduk di kursi yang menghadap arah kamar, kemudian Burhan datang dari menyalakan lampu minyak yang ada di dalam kamar.


“Saya ada di rumah ini tadinya, tetapi ketika saya ada di depan rumah, saya lihat ada bayangan manusia yang sedang mengintai rumah ini”


“Saya yakin itu manusia karena langkah kakinya beberapa kali menginjak daun daun kering” cerita Burhan


“Saya yakin itu bukan maling yang akan mengambil barang berharga disini, karena disini tidak ada barang berharga sama sekali mas”

__ADS_1


“Jadi akibatnya saya jadi terancam. Saya masuk ke rumah, saya ambil belati andalan saya, kemudian perlahan lahan saya keluar rumah”


“Sosok orang itu masih ada di sekitar pohon depan, saya pura-pura tidak tau”


“Kemudian saya jalan hingga di pintu pagar yang sebelumnya saya sudah buka ketika sore hari. karena saya ingin lihat-lihat sekeliling dulu”


“Setelah saya ada di depan, kemudian dengan berteriak saya hunus belati itu dari sarungnya, saya kejar  orang itu”


“Orang itu lari ke dalam hutan tetapi dia sempat beberapa kali terjatuh pak”


“Saya masuk ke dalam rumah, tapi pintu pagar dan pintu dalam sengaja tidak saya kunci, karena saya yakin orang itu akan  kembali lagi kesini”


“Saya kemudian makan yang tadi siang dikasih ibu-ibu kesini itu pak, ketika saya enak-enak makan tiba-tiba perut saya mules”


“Saya cari alat penerangan yang ada disini, ternyata saya dapat obor yang ada di dekat kursi. dan untungnya masih ada isi minyak tanahnya”


“lampu rumah saya matikan semua. dan saya menuju ke ****** pinggir sungai”


“Nah karena gantungan kunci yang sangat banyak ini, saya bingung mana kunci pagar, dan mana kunci rumah, akibatnya saya tinggal  saja rumah dalam keadaan tidak saya kunci hehehe”


“Kemudian pak Agus datang ini heheheh”


“Mas Burhan apa tidak takut malam-malam ke sana sendirian?”


“Hehehe rumah saya di desa sama seperti ini pak, jambanya ada di pinggir sungai juga, bahkan lebih jauh dari ini, saya sih sudah biasa dengan ****** pinggir sungai pak”


“Tapi memang serem juga pak, karena beberapa kali saya sempat diganggu dengan lemparan-lemparan batu”


“Ya sudah kalau mas Burhan tidak takut, jadi begini mas Burhan. Ini teman saya yang ada di desa, dia pemilik wartel tempat saya  biasanya telepon” kataku


“Nah kebetulan kemarin saya mengalami kecelakaan kecil dirumah ini”


Aku tidak mau cerita masalah pocong dan yang lainya kepada burhan, biar dia sendiri yang mengalami hal  seperti aku.


Kemudian kubuka pakaian ku dan kutunjukan perban seluas dadaku yang sekarang keadaanya sudah merah penuh darah.


“Tadi saya diantar mbak iki ke IGD rumah sakit kota untuk mengobati luka ku ini mas”


“Astaga pak Agus, itu kenapa kok darahnya banyak sekali, perbannya sampai berwarna merah gitu”


“Ya ini mas Burhan, jadi  saya mau  bilang mas Burhan kalau saya untuk malam ini tidak ke rumah ini, saya akan ada di sekitar rumah sakit sana, agar mudah penanganan luka saya mas”


“Saya nanti akan diantar oleh mbak ini”


“Oh iya, tolong luka saya ini jangan sampai diceritakan ke pekerja disini maupun bu Tugiyem yang tiap siang mengantar makanan disini”


“Bilang saja saya pulang kampung karena ada keperluan mendadak. Gitu ya mas”


“Sampeyan saya tinggal disini sendirian ndak papa kan mas Burhan?”


“Ya wis pak Agus, ndak papa pak. Saya akan jaga di rumah ini saja”


************


saya ucapkan selamat hari raya Idhul Adha bagi yang memperingati.


Dan maaf karena saya sedang dalam kesibukan dan dalam perjalanan kembali ke kota asal, maka untuk besok saya belum bisa update dulu.


sekali lagi mohon maaf Dan terima kasih

__ADS_1


__ADS_2