RUMAH PENGGERGAJIAN

RUMAH PENGGERGAJIAN
84. INFORMASI SAMSOL


__ADS_3

Subuhan sudah…. minum air pemberian pak Pangat juga sudah….


Tapi hari masih pagi sekali…diluar juga masih gelap, jadi percuma juga kalau mau lihat keadaan di depan pagar rumah.


Nanti sajalah setelah ada sinar matahari, aku hanya kepingin lihat, apakah benar ada jejak roda motor yang tadi malam itu.


Aku duduk di ruang tamu yang gelap, hanya saja karena pintu kamar kubuka maka cahaya lampu minyak sedikit bisa menerangi ruang tamu yang  awalnya gelap gulita.


Saat ini aku duduk di kursi ruang tamu yang menghadap ke arah kamar mandi, atau yang kursi yang diduduki sesuatu yang mirip dengan pak Solikin waktu malam hari itu.


Saat ini kubuka jendela ruang tamu yang ada di belakangku agar hawa pagi yang segar masuk ke dalam rumah.


Dan memang terbukti udara hutan yang segar itu masuk ke dalam ruang tamu, sehingga keadaan ruang tamu ini tidak terlalu pengap akibat dari panasnya dan sedikit asap lampu petromak sebelumnya.


“Sebenarnya siapa yang membangunkan aku tadi pagi ya”


Kalau dipikir pikir tadi pagi itu bukan mimpi, karena badanku ada yang menggoyang goyangkan, jadi aku dibangunkan untuk segera melakukan sholat subuh.


Kalau seumpama itu mimpi, pasti badanku tidak terasa seperti ada yang menggoyang goyangkan, tapi ini beda, rasanya kayak benar-benar nyata.


Ah biarlah… seumpama yang bangunin aku itu memang penunggu rumah ini, ya aku benar-benar berterima kasih.


“Hhhmmm aaahh...... Segar sekali udara pagi”


Aku selama disini belum pernah sekalipun menghirup udara pagi yang begitu segar di ruang tamu seperti ini dan dalam keadaan santai.


“Jam segini Burhan belum bangun juga ya”


“Mas Burhan…. mas… ayo bangun.. sudah hampir jam 05.30 mas” teriakku dari ruang tamu


Tapi tidak ada jawaban sama sekali dari dalam kamar Burhan, tidak ada suara derit tempat tidur yang kadang berbunyi ketika kita menggerakan badan.


“Mas Burhan … ayo bangun mas….”


Tetap sunyi sepi, tidak ada jawaban sama sekali dari kamar Burhan.


Karena tidak ada jawaban sama sekali, ya sudah lebih baik aku keluar saja…


Pintu ruang tamu kubuka… aku melangkah menuju ke halaman rumah, kemudian aku duduk di kursi panjang yang biasanya kududuki.


Ketika aku sedang memandang pohon-pohon yang ada di depanku, tiba-tiba dari arah samping rumah muncul Burhan..


“P…pak Agus  s.sudah bangun?”


“Iya lah, kamu dari mana pagi buta gini ini?”


“S..saya sedang melakukan p..pengintaian pak….”


“Semalam ada s..suara-suara aneh di belakang rumah, saya pikir itu pak Solikin..”


“Jadi saya keluar dari pintu rahasia yang ada di kamar saya pak”


“Terus ketemu gak malingnya?” tanyaku tanpa menunjukan rasa curiga sama sekali


“T..tidak pak, ternyata tidak ada orang sama sekali”


“Berartikan telingamu cuma denger-dengeran saja kan” aku berusaha sesantai mungkin, tanpa menimbulkan rasa curiga sama sekali


“Hati-hati mas Burhan… bisa jadi itu bisikan setan yang berusaha mengganggu konsentrasimu…”


“Atau bisa saja itu gangguan dari orang yang tidak suka dengan kehadiran mas Burhan disini kan”


“I…iya bisa jadi juga sih pak…”


Hmm apa yang dilakukan Burhan tadi, apakah dia seceroboh ini…. bukanya aku masih ada disini.


Dan tentu saja sangat tolol apabila dia melakukan kejahatan sementara masih ada aku disini.


Apakah dia tidak bisa menunggu hingga aku pergi dari sini untuk kemudian melakukan tindak kejahatan.

__ADS_1


“Ya sudah pak, saya masuk dulu untuk siapkan air dan sarapan”


“Mas Burhan… ingat bak mandinya jangan sampai tercampur solar ya hehehe”


“Iya lah pak, tentu saja tidak akan hehehe”


“Mas Burhan tau bahwa tempat itu untuk menaruh selang dan pompa itu mulai kapan?”


“Sudah lama pak, sejak ada Yetno disini, semua itu atas jasa pak Wito….. Kalau tidak ada dia, tentu saja saya tidak akan tau apa yang ada di balik dasar bak mandi itu”


Terserah apa yang kamu katakan Burhan, pokoknya aku akan kesini nanti malam.


Burhan ini makin lama makin mencurigakan, dipikirnya aku ini orang ghosblok yang tidak tau apa-apa.


Aku yakin dia tadi dari bagian belakang rumah untuk menyiapkan apa yang dipesan oleh orang dengan motor berisik yang semalam kudengar itu.


“Aku akan ke samping dan depan rumah, aku penasaran dengan jejak-jejak roda motor yang semalam datang itu”


Setelah aku yakin Burhan sedang sibuk di dapur… aku berjalan ke depan pagar rumah…


Kuteliti tanah yang ada di depan pagar dan samping rumah…


Ternyata memang ada jejak roda motor.. hanya saja jejak roda itu tidak begitu jelas.


“Ya sudah lah, ternyata memang motor itu tujuannya ke sini!”


*****


Aku dalam perjalanan menuju terminal bersama Burhan yang bersedia mengantarku.


Wajah dia tidak nampak sedih atau takut apabila kutinggal, dia biasa saja seolah olah tidak akan ada apa-apa apabila ku tinggal beberapa hari.


“Mas Burhan, apa tidak takut saya tinggal sendirian di rumah?”


“Tidak papa pak, seandainya saya takut, saya kan bisa ke rumah pak Wito seperti biasanya pak”


Tidak lama kemudian akhirnya kami sampai di terminal kota…


“Saya tinggal ya pak, ndak  enak kalau ninggal pekerja di rumah terlalu lama”


“Ya sudah mas, saya berangkat dulu, nanti saya pulang ke rumah naik ojek saja”


*****


“Hehehe Tina itu udah seperti menyatu sama mas Agus. Jadi Tina bisa tau mas Agus berangkat ke terminalnya jam berapa hehehe”


“Lha ya itu mbak, saya sampek heran waktu Burhan sudah pergi, dan saya jalan menuju ke pangkalan ojek tiba-tiba ada mbak Tina datang hehehe”


Aku ada dirumah TIna setelah tadi tiba-tiba Tina menjemputku di terminal.


Kami sedang ada di ruang tamu, aku ceritakan apa yang kemarin malam sempat kualami dan sekalian  bicarakan apa yang nanti malam akan kami perbuat.


“Hmm aneh juga ya mas, siapa yang malam-malam datang ke sana itu, dan apa yang ingin ditunjukan oleh penunggu hutan itu mas?”


“Saya juga tidak tau mbak, mungkin malam ini kita bisa tau sesuatu yang ada disana mbak”


“Eh… nanti malam gimana mas Agus. eh apa yang akan kita lakukan?”


“Kita kan ada rencana untuk mengintai mbak Tina….”


“Maksud Tina… setelah kita mengintai di sana itu mas, kan mas Agus beberapa hari tinggal di rumah Tina hehehe”


“Aduuuh saya ndak paham sama sekali mbak heheheh”


“Eh mbak Tina, apa sebaiknya saya lapor ke bos dulu kalau saja ijin tidak masuk karena suatu sebab?”


“Menurut Tina jangan mas, karena nanti bosnya mas Agus akan mengecek kebenaran alasan mas Agus kepada pak Wandi”


*****

__ADS_1


Pukul 20.00 aku dan Tina siap berangkat menuju ke rumah penggergajian.


“Eh mas, kita mampir ke mie ayam yang dekat dengan jalan yang ke arah hutan yuk”


“Lho tadi kan kita sudah makan sore tadi mbak?”


“Iya mas, Tina laper lagi, kita makan sebentar lah mas”


“Iya wis mbak…di mie ayam mas Samsol kan?”


“Nah itu mas Agus tau juga kan…”


Motor Tina kuarahkan ke tenda kaki lima mie ayam Samsol yang memang searah jalannya menuju ke hutan….


Mie ayam milik Samsol ternyata tidak banyak pengunjungnya, mungkin hanya ada dua pasang remaja yang sedang makan disini.


Motor Tina kuparkir di sebelah tenda kaki lima milik mas Samsol.


“Selamat malam mas Samsol heheheh”


“Wah ada mas Agus… duh sampean lama tidak kesini mas heheh…”


“Lha waktu kadang saya lewat sini karena kepingin makan mie ayam, malah sampean yang ndak  jualan mas”


“Mungkin pas saya lagi libur mas Agus…..”


“Lho sama mbak Tina juga.. ehem eheeemm hihihi”


“Wis mas, rak usah dehem dehem gitu, Ayo buatkan kami dua porsi, Tina wis lapar sekali iki heheheh”


“Iya ..iya mbak Tina… eh ngomong-ngomong kalian mau kemana malam-malam gini”


“Kami mau ke rumah penggergajian mas mau lihat keadaan di sana kalau malam-malam gini”


“Lho bukannya mas Agus tinggal di sana, ngapain juga malam-malam ke sana….”


“Hehehe kok malah ngajak mbak Tina mas, tapi ngomong-ngomong sekarang kalau malam jam segini kadang ada temanya mas Agus yang naik motor yang ke sana ya”


“Beda dengan waktu ada pak Wandi, jam segini tidak ada yang ke sana, berarti pak Wandi memang tidak punya teman seperti mas Agus ini”


Aku hanya bengong saja ketika mendengar omongan Samsol ini…


Ada motor yang kesana dan mengaku sebagai temanku, bagaimana aku sampai tidak tau?


“Maksudnya gimana mas Samsol, saya kok bingung dengan yang mas Samsol katakan itu?”


“Lho kapan hari itu ada motor yang masuk ke dalam sana sekitar habis maghrib mas, yang bawa motor itu sempat tanya saya letak rumah penggergajian itu”


“Dia juga bilang kalau dia itu temannya pak Agus”


“Kapan orang itu datang ke sana mas Samsol?”


“Beberapa hari lalu mas, ketika itu kalau tidak salah jam 18.30 an setelah maghrib”


“Saya sempat tanya tentang motor dia yang suara knalpot motornya  berisik  itu mas Agus”


“Kemarin  bukanya mas Agus juga ketemu dan janjian sama dia?”


“Kapan mas Samsol?”


“Hehehe mas Agus ini pelupa ya, padahal baru kemarin kok sudah lupa mas hehehe”


“Kemarin setelah Maghrib mas Agus kan masuk hutan kan…. “


“Kemudian tidak lama setelah itu orang yang pakek motor berisik itu juga masuk hutan, wong dia sempat menyapa saya juga”


“Oh iya sih mas.. saya sampai lupa hehehe, maklum banyak pikiran mas Samsol hehehe”


Berarti sudah dua kali orang yang ngakunya adalah temanku itu datang ke rumah penggergajian

__ADS_1


__ADS_2