RUMAH PENGGERGAJIAN

RUMAH PENGGERGAJIAN
124. TEMAN DOKTER JOKO


__ADS_3

Aku benar-benar ketakutan dan hanya bisa menunduk tidak menatap dua sosok yang ada di depanku..


Kuharap mereka segera pergi dari depanku…


Kupejamkan mata dan berharap ini mereka sesegera mungkin pergi dari hadapanku…


Hingga  beberapa saat aku tidak berani membuka mataku.. yang kulakukan hanya menutup wajahku dengan kedua telapak tangan.


Dan berharap ada suster yang akan menyapaku dan menanyakan keadaanku.


Cukup lama juga tidak ada yang berusaha menyapaku hingga kemudian aku mendengar suara sepatu yang  berjalan cepat di sekitarku


“Alhamdulillah… mungkin itu suster yang tadi”


Aku belum berani membuka kedua telapak tangan yang menutup wajahku meskipun kudengar suara langkah kaki itu semakin mendekati aku..


“Bu… kenapa kok nutupi wajah..?” sapa seseorang dari sampingku


Pelan-pelan kubuka telapak tangan yang tadi aku buat nutupin wajah…


Kulihat sebelah kiri ternyata ada suster yang tadi ada disini, dia adalah suster yang dipanggil dengan nama Wati.


“Eh iya sus… eh saya takut dengan eh ….”


“Takut dengan apa bu.. memangnya tadi ada yang lewat sini hingga ibu menutup wajah ibu?”


“Eh iya sus… “


“Ya sudah bu.. memang ada orang yang peka dengan hal begituan,... untungnya saya tidak bisa melihat hal ghaib bu heheheh” jawab suster Wati kemudian masuk ke ruang jaga


“Memangnya apa yang tadi ibu lihat” tanyanya penasaran


“Eh yang saya lihat itu bapak-bapak yang baru meninggal yang ada di kamar suami saya dia memakai kaos biru dengan gambar baterai”


“Kemudian ada lagi bapak-bapak memakai kaos kuning dengan gambar sandal jepit skyway yang berasal dari kamar delapan.. mereka berdua berjalan kesana..tapi saya tidak tahu mereka ke arah mana”


“Yah… ternyata ibu memang peka ya… mereka berdua waktu meninggal memang memakai kaos yang tadi ibu sebutkan itu…” jawab suster itu dengan heran


“Sebelumnya saya sudah dua kali melihat bapak yang memakai kaos biru itu sus…”


“Pertama waktu saya sedang sholat isya di mushola.. kemudian waktu saya ada di kamar suami saya, dia duduk di bangku depan kamar”


“Iya bu.. doakan saja mereka berdua agar perjalanan mereka lancar”


“Eh sus.. memangnya bapak-bapak yang ada di kamar delapan itu juga sudah meninggal?”


“Iya bu.. tadi di ruang UGD… tim UGD tidak berhasil membuat jantungnya bergerak lagi… tadi dia mendapat serangan jantung waktu ada di dalam kamar rawat inap”


Aku heran dengan diriku ini… padahal sebelumnya aku sama sekali tidak bisa melihat hal hal yang ghaib, tetapi kenapa ketika aku ada di rumah sakit ini, aku sekarang bisa melihat hal yang tidak kasat mata.


Apakah hal ini karena aku sekarang rajin beribadah… atau memang sudah ada di dalam diriku bahwa aku bisa melihat hal beginian, hanya saja selama ini aku tidak merasakanya?


Tapi ngeri juga apabila aku bisa melihat hal ghaib terus menerus, hidupku tidak akan bisa tenang selamanya…


“Bu… apa tidak sebaiknya ibu kembali ke kamar suami ibu saja.. agar tidak melihat hal yang mengerikan lagi?”


“Iya sus… saya akan kesana saja.. kelihatannya bapak dengan kaos biru bergambar baterai itu sudah tidak ada di kamar suami saya”


“Ya sudah bu… kalau ada apa-apa kesini saja,  saya dan suster Melinda jaga  disini kok”


Setelah yakin bahwa tidak ada bapak-bapak dengan kaos biru bergambar baterai itu aku beranikan diri berjalan menuju ke kamar mas Agus..


Memang sih jaraknya lumayan jauh, tapi dari pada aku selalu lihat yang aneh aneh disini.. lebih baik aku ada di dalam kamar itu saja.


Di dalam kamar nanti aku akan coba untuk tidur meskipun hanya sejenak saja….


*****


“Selamat pagi pak Agus.. dan bu Agus…” sapa seseorang dari pintu kamar…Aku masih setengah tidur akibat semalam aku terkena masalah dengan arwah-arwah yang mengerikan


“Oh dokter Joko.. mari masuk dok” suara Mas Agus mempersilahkan orang yang tadi menyapa.. dan ternyata itu adalah dokter Joko.


Aku segera bangun ketika yang datang itu ternyata dokter Joko…


Pasti ada hal penting yang akan dia katakan.. makanya dia datang ke sini pagi-pagi sekali


“Wah.. ternyata bu Agus masih tidur ya, semalam habis melihat apa bu heheheh” kata dokter Joko sambil melihat ke arahku


Aku hanya diam saja .. karena aku dari semalam berusaha melupakan apa saja yang kulihat sebelumnya..


Terus terang senyum dua arwah yang memakai baju biru dan kuning itu masih terbayang di wajahku..


“Jangan diingat ingat bu… mereka itu hanya menyapa ibu saja., mereka akan pergi ke tempat yang jauh kok”


“Oh iya… ini perkenalkan teman saya AKP Paijo… dia adalah sahabat saya…”

__ADS_1


“Kemarin setelah dari sini saya coba kontak beliau, dan untungnya beliau semalam itu belum tidur, sehingga saya bisa cerita banyak kepada beliau” kata dokter Joko


“Jadi setelah saya ceritakan apa yang menimpa bapak dan ibu Agus.. teman saya AKP Paijo ini pagi-pagi sekali menyempatkan mampir ke sini untuk mendengarkan cerita dari kalian berdua secara langsung”


AKP Paijo.. wajah orang yang sudah berumur itu terlihat ramah, dengan kumis tipis yang melintang di atas bibirnya.


Dia kemudian memperkenalkan dirinya kepada aku dan  mas Agus…


“Panggil saya pak Jo saja ya.. jangan AKP Paijo gitu… agar tidak terkesan formal hehehe” kata AKP Paijo


“Jadi bagaimana… apa yang terjadi dengan kalian  berdua.. coba ceritakan kepada saya”


“Mas… mas Agus saja yang cerita mas… Kepala Tina pusing sekali mas”


Mas Agus bercerita kepada pak Jo mulai dari dia permulaan kerja di rumah penggergajian hingga dia ada di rumah sakit karena menjadi korban tabrak lari.


Aku hanya mendengar apa yang mas Agus ceritakan itu, karena entah kenapa kepalaku tiba-tiba terasa sakit.. mungkin akibat aku kurang tidur atau bisa juga akibat tadi bangun secara tiba-tiba.


Pak Jo dan dokter Joko mendengarkan rentetan cerita dari mas Agus tanpa menyela sama sekali, hingga mas Agus menyelesaikan ceritanya.


“Hmm kasus yang menimpa pak Agus dan bu Agus ini bukan kasus baru… tapi kasus yang sudah lama..”


“Hanya saja dari pihak kami tidak pernah menemukan bukti- bukti yang menyatakan bahwa adanya hal yang berbahaya disana”


“Yang kami temukan hanya penyelewengan solar .. dan itu bisa diselesaikan dengan kekeluargaan”


“Nama-nama yang pak Agus sebutkan itu juga sudah pernah kami panggil untuk kasus penyelewengan solar”


“Tapi saya dan rekan dari kepolisian sempat curiga dengan keadaan disana.. tetapi tiap diadakan penyidikan, yang ada hanya kasus yang sama, dan sudah diselesaikan juga” kata pak Paijo


“Nama yang bapak sebutkan dan sedang dirawat di rumah sakit ini.. pak Solikin, dia sudah pernah kami panggil untuk kasus solar juga”


“Tetapi kalau mendengar cerita pak Agus tadi.. saya curiga disana ada transaksi yang jauh lebih besar dan lebih berbahaya dari pada solar”


Aku hanya diam saja ketika pak Paijo sedang ngobrol bersama mas Agus…


Begitu pula  dokte Joko yang sedang mendengarkan dengan serius… dia tidak menyela sama sekali apa yang dibicarakan mas Agus dan pak Paijo.


“Begini saja pak dan bu Agus… saya merasa tertantang untuk kembali menyelidiki kasus yang menimpa pak Agus ini….”


“Kasus ini akan saya bicarakan dengan rekan-rekan di kantor, dan untuk sementara ini pak dan bu Agus tetap tinggal disini dulu, sesuai dengan apa yang dikatakan sahabat saya Joko ini”


“Sementara kami dalami kasus ini…saya akan taruh satu orang di sekitar rumah sakit untuk melindungi ibu Agus dan untuk mengawasi orang yang katanya ada di sekitar sini  untuk menculik seseorang yang ada disini”


“Dan tentu saja saya akan menanyai satpam yang katanya mendengar seseorang yang berbicara tentang penculikan yang akan dilakukan disini”


“Saya rasa untuk sementara ini begitu saja ya pak Agus dan pak Joko…, untuk rencana selanjutnya akan saya kabari lagi”


Setelah berpamitan… kedua orang itu pergi dari kamar tempat mas Agus rawat inap.


“Mbak Tina… saya rasa kita tidak harus ada disini saja… karena pastinya di rumah penggergajian itu pasti masih ada transaksi lagi”


“Iya mas… tapi tadi kan pak Jo bilang.. kita disuruh menunggu kabar dari dia lagi… jadi otomatis kita tetap ada disini hingga keadaan aman mas”


“Terus terang mas… disini Tina benar-benar tidak kerasan… karena….”


“Karena nggak tau gimana asalnya… sekarang Tina bisa melihat orang yang sudah meninggal mas…”


“Tina bisa lihat arwah orang yang ada di sebelah mas Agus itu, selain itu Tina juga lihat arwah orang yang baru meninggal yang ada di kamar nomor delapan”


“Tina ketakutan sekali mas…”


“Asal mas tau… semalam Tina ada di ruang jaga suster… karena Tina nggak berani ada disini, karena arwah orang yang meninggal itu tadi malam ada di tempat tidur sebelah itu”


“Oalah ..mangkanya semalam waktu saya bangun.. kok tidak ada mbak Tina disebelah saya hehehe, ternyata mbak Tina ada di ruang jaga suster.


Ku Ceritakan saja kepada mas Agus tentang apa yang kualami waktu aku ada di bangku depan kamar nomor empat yang berseberangan dengan ruang jaga suster.


Tentang orang berkaos kuning yang sudah menjelang ajal. dan ternyata arwahnya jalan bersama dengan arwah yang ada di kamar ini.


Hingga kemudian aku kembali ke kamar ini waktu menjelang pagi hari.


“Kok aneh ya mbak… kenapa tiba-tiba mbak Tina bisa melihat hal ghaib?”


“Tina juga nggak tau mas… tiba-tiba Tina melihat sosok berkaos biru waktu Tina sholat isya di mushola”


Mas Agus hanya diam saja… mungkin dia tidak tau harus kasih jawaban apa kepadaku.


Tapi biarlah dia akan berpikir apakah aku ini memang mempunyai indera ke enam atau tidak.


Pagi ini rencanaku aku akan ke warung depan rumah sakit, siapa tau ibu pemilik warung itu punya informasi penting yang mungkin berguna bagi kami.


Sekalian aku akan cari sarapan.


“Mas… Tina mau cari sarapan dulu…”

__ADS_1


“Bukanya mbak Tina nggak boleh ke mana mana dulu, karena keadaan yang tidak aman bagi kita?”


“Iya mas… tapi Tina mau cari informasi ke pemilik warung yang ada di depan rumah sakit, siapa tau ada informasi penting yang berguna”


“Tina akan pakai jaket dan topi agar tidak ada yang mengenali Tina mas”


“Ya sudah mbak.. tapi ada baiknya lapor ke bagian keamanan dulu, dan pastikan ke bagian keamanan bahwa tadi pak Paijo sudah memberikan instruksi  kepada mereka”


“Iya mas… nanti Tina akan bicara kepada yang jaga disini dulu…”


Di dalam tas ranselku memang ada jaket parasut yang besar, jaket yang bisa menyamarkan bentuk Tubuhku.


Selain itu aku juga bawa sebuah topi juga, karena aku pikir topi itu nantinya akan berguna juga. dan memang ternyata ada gunanya untuk menyamarkan rambutku yang panjang ini.


*****


Pagi ini seperti biasa  keadaan selasar rawat inap ini ramai oleh para pembesuk…


Begitu juga di bagian poli yang berjejer di sisi sebelah kanan rumah sakit, pasti juga ramai dengan orang yang akan berobat.


Aku berjalan di selasar rumah sakit menuju ke luar setelah aku gunakan jaket dengan bahan parasut berwarna hitam dan tentu saja topi.


Rambut kugelung ke dalam topi sehingga tidak terlihat oleh siapapun.


Orang yang berpapasan denganku pasti tidak akan mengira bahwa aku ini adalah perempuan.


Aku sudah nekat untuk mencari informasi kepada penjual makanan yang ada di depan rumah sakit.


Pertama yang akan aku datangi adalah petugas penjaga rumah sakit yang ada di depan pintu gerbang rumah sakit.


Dengan penuh percaya diri aku berjalan keluar rumah sakit, dan kemudian mendatangi pos penjagaan.


“Selamat pagi pak” sapaku ramah kepada petugas keamanan


“Yak.. selamat pagi bu.. ada yang bisa kami bantu?” jawab Petugas keamanan itu dengan ramah


“Saya bu Agus, penjaga pasien yang ada di sini…”


“Eh apakah bapak sudah mendapat informasi dari AKP Paijo?”


“Maaf ibu ini siapa ya, dan bagaimana bisa kenal dengan AKP Paijo yang tadi kesini?”


“Ya pak… Tadi pak Paijo ke kamar suami saya… dan tentu saja bapak sudah mendapat mandat dari pak Paijo kan?”


“Iya betul bu… tapi kami belum tau siapa yang harus kami awasi di rumah sakit ini, karena komandan kami belum memberi perintah” kata petugas itu dengan kebingungan


“Saya dan suami saya yang dimaksud oleh pak Paijo itu, dan sekarang saya akan mencari sarapan. makanya saya ijin dulu dengan bapak sebagai petugas keamanan disini”


“Oh maaf bu…saya tidak tau kalau ibu dan suami ibu yang harus kami awasi.. baiklah bu kalau mau cari sarapan biasanya ibu ada di warung mana?” tanya petugas itu lagi


“Saya biasanya di warung yang depan itu… warung makan bu Saritem yang ada di depan itu”


“Baik bu.. akan saya perhatikan dari sini sesuai dengan instruksi dari pak Paijo.. tapi maaf komandan kami belum memberi perintah kepada kami secara resmi”


“Nggak papa pak… pokoknya saya akan ada di warung bu Saritem saja kok”


Setelah laporan yang tidak begitu penting, akhirnya aku berjalan menuju ke warung depan yang tertulis warung bu Saritem.


Tetapi sebelumnya aku harus tau ada siapa saja di depan sana… meskipun aku saat ini sudah memakai topi dan jaket parasut… tapi rasanya was was juga apabila ada orang yang mencurigakan..


setelah melakukan pengamatan singkat… ternyata di depan rumah sakit tidak ada siapapun yang pernah kulihat sebelumnya..


Pun di warung makan bu Saritem juga kosong… mungkin masih terlalu pagi bagi mereka yang ditugasi memantau aku dan mas Agus.


Aku jalan menyeberang jalan dan dengan santai masuk ke dalam warung bu Saritem yang letaknya sangat strategis untuk mengamati keadaan di dalam halaman rumah sakit.


Seperti biasa… aku selalu memesan nasi sop dengan lauk telur dadar…


Tetapi sayangnya penjual warung ini bukan ibu yang sebelumnya kuajak ngobrol, tetapi kayaknya yang jaga warung ini adalah karyawannya.


“Eh maaf mbak.. bu Saritem nggak datang ke warung sini?”


“Hari ini ibu tidak kesini mbak, karena ada acara mantenan di luar kota” jawab perempuan yang lebih muda dari pada aku itu


“Oh gitu.. kira-kita ibu Saritem datangnya kapan mbak?”


“Mungkin besok sudah jualan lagi mbak… saya ini pegawainya yang biasanya berjualan di terminal”


“Oh gitu.. ya sudah tidak pap mbak… saya cuma kangen ngobrol dengan bu Saritem saja kok “


Ketika aku sedang asik makan…


Secara tidak sengaja ketika aku melihat kaca yang ada di depanku … tiba-tiba aku lihat pantulan dari kaca dua orang dengan pakaian lusuh masuk ke dalam warung.


Mereka duduk membelakangiku …karena aku duduk menghadap kaca etalase yang berisi berbagai lauk dan sayuran

__ADS_1


Sedangkan dua orang itu duduk menghadap ke area rumah sakit.


Mereka dua orang itu tidak  memesan apa-apa.. tetapi pegawai warung itu dengan otomatis membuatkan kopi untuk dua orang yang duduk di belakangku.


__ADS_2