
“Cerita lu nggak masuk akal Jay…. sulit untuk mempercayai hal semacam itu” kata dokter Karim
“Lah itu Yap.. lek lu gak liak dewek dan gak mengalami dewek, pasti lu ndak akan percaya Yap…”
“Aku soale liak dewek Yap, dan kamar mayat sing nangani mayat yang dari hotel gua ini ya dokter Joko itu. Lu tanyao dokter Joko dewek lek ndak percaya Yap”
“Gua percaya ae omongan lu Jay, jugaan Joko wis sms gua dan kirim surat juga, tapi gimana carae ngomong ke teman gua yang ada ndek kamar mayat sana.. Gimana carae ngomong lek ini berhubungan dengan urusan supranatural” kata dokter Karim
“Masalahe pembunuhan ini gak ada ndek surat kabar Jay. kita ndek sini gak tau nek ada peristiwa mengerikan ndek sana Jay” lanjut dokter Karim
“Begini saja dokter Karim.. Surat yang berasal dari dokter Joko itu kita tunjukan saja ke teman dokter Karim… gimana kalau begitu, atau mungkin bisa telepon ponsel dokter Joko juga” kata mbak Tina
“Ya wis…. Gua setuju katae mbak ini.. Surat sing dari Joko ntik gua kasikno ke *****..”
“Namae temanku itu Zakar….tapi bukan buah ***** lho ya hehehe…Bar ini kita kesana, ntik biar aku sing bicara ambek ***** dulu, sekalian gua telepon Joko” kata dokter karim alias dokter Yap dengan logat khas pasar atom.
Pukul sepuluh kami menuju ke rumah sakit yang tadi dengan menggunakan dua buah mobil, setelah beberapa jam kami istirahat di rumah dokter Karim.
Tapi kami tidak menuju ke area UGD atau IRD, tetapi kami masuk ke bagian belakang rumah sakit, dan mobil pak Jay diparkir di sebelah sebuah gedung yang berwarna krem.
Kamar jenazah… begitu yang tertulis di papan nama yang tertulis di tembok rumah sakit…
“Kalian tunggu dulu di sini… saya akan cari teman saya yang bernama ***** itu dulu” kata dokter Karim yang menyuruh kami duduk di ruang tunggu kamar jenazah yang saat ini keadaanya sepi.
Kamar jenazah rumah sakit ini besar, mempunyai bangunan yang terpisah dengan rumah sakit, beda dengan yang ada di daerah kami yang kamar Jenazahnya gabung dengan bangunan rumah sakit…
Di ujung bangunan dokter Karim sedang bicara dengan seseorang yang kemungkinan besar adalah dokter ***** yang katanya akan membantu kami.
Mereka berdua berbicara serius, dokter Karim memberikan surat yang dari dokter joko itu kepada orang yang ada di depannya, tidak lama kemudian dokter Karim mengambil ponselnya dari saku celananya, kemudian dia menelpon seseorang.
Aku nggak tau apa yang mereka bicarakan, tetapi tidak lama kemudian ponsel itu dokter karim berikan kepada orang yang diajak bicara, kemungkinan besar dokter Karim sedang bicara kepada dokter Joko.
__ADS_1
Setelah selesai dengan pembicaraan melalui ponsel, kemudian mereka berdua menuju ke arah kami.
“Perkenalkan teman saya dokter *****, tapi panggil saja dia pak Zak.. dia sebagai orang yang bertanggung jawab di kamar Jenazah” kata dokter Karim
Pak Zak seorang keturunan arab dengan tatapan mata tajam di balik kaca matanya yang selalu melorot. Di dahinya ada dua buah tanda hitam yang menggambarkan dia adalah orang yang rajin ibadah.
Tubuh kurus, lebih tinggi dari pada kami, hidung mancung, rambut agak botak di bagian atasnya, dan dengan tatapan mata yang seolah selalu menilai kami yang ada di depannya.
“Hmm kalian ini semua yang tadi dikatakan Joko?” tanyanya dengan suara cempreng tanpa senyum sama sekali.
“Sebenarnya saya ada Mr X yang sudah lama tersimpan di lemari pendingin dan keadaanya sudah agak busuk”
“Sudah lama ada disini karena hingga detik ini belum ada keluarga yang mengakuinya, dan pihak pengajaran masih tidak butuh cadaver dari kami, karena mereka masih punya stok cadaver disana”
“Tapi butuh proses panjang untuk mengeluarkan mayat itu dari sini, lagi pula saya tidak bisa asal membedah untuk mengambil organ dalamnya…”
“Kasus yang sangat tidak masuk akal, tetapi karena Joko sudah berani memberi garansi apa yang kalian lakukan ini demi kepentingan keamanan tempat itu, maka saya akan usahakan… dan kalian ini akan saya tulis sebagai keluarga yang menjemput mayat itu”
“Kalau kalian setuju maka akan saya uruskan dokumenya sekarang dan semoga sebelum sore semua sudah kelar, dan tolong segera siapkan ambulan untuk menjemput mayat ini” kata pak Zak..ar
“Uruskan saja pak…saya yang akan bayar biayanya.. Sedangkan untuk urusan ambulance apa tidak bisa dari rumah sakit ini saja?” kata pak Jay
“Bisa saja…berarti termasuk sewa ambulance juga ya, tujuan mana pak?” tanya pak Zak…ar
Tidak ada yang menjawab pertanyaan dari pak Zak, karena kami pasti bingung mau bawa mayat ini ke mana…gak mungkin kalau bawa mayat itu ke hotel, pasti akan ketahuan supir ambulan bahwa terjadi sesuatu disana.
“Eh gini saja pak Jay, angkutan ke sana coba kita pikirkan dulu saja pak Jay.. apa mungkin kita gunakan ambulance dari dokter Joko yang menjemput ke sini, eh dokter Karim, saya bisa pinjam ponselnya untuk bicara dengan dokter joko?”
“Silahkan mas Agus…memang lebih baik dibicarakan dengan Joko dulu saja. Nanti di sana terserah Joko mau bagaimana dengan Mr X ini” kata dokter Karim
Aku bicara kepada dokter Joko dengan menggunakan ponsel milik dokter Karim..
__ADS_1
Kuutarakan mengenai kesulitan kami membawa mayat ke hotel, dan apakah mungkin apabila menggunakan ambulance milik rumah sakit tempat dokter Joko berada. Dengan alasan lebih sedikit yang tau mengenai keadaan hotel itu lebih baik.
Dan ternyata dokter Joko setuju dengan usulanku, dia sekarang memerintahkan mengirim ambulance ke kota S, tentu dengan biaya ambulan yang akan dibebankan kepada pak Jay.
“Ok pak, dokter Joko setuju, dia sekarang akan mengirim ambulance ke sini”
“Jadi semua sudah setuju untuk mengeluarkan mayat ini dari ruang pendingin,....dan salah satu dari kalian yang mengaku sebagai kerabat mayat itu nanti siapa?” tanya pak Zak’
“Saya saja pak” kata pak Jay
“Hehehe tidak mungkin pak Jay..” potong pak Zak sambil tersenyum
“Dia gelandangan, sedangkan pak Jay keturunan tionghoa, jelas tidak masuk akal lah… kalau saya sih nggak masalah, nanti di bagian administrasi itu yang ruwet, lebih baik kamu saja yang mengaku sebagai saudara dari mayat itu” tunjuk pak Zak kepadaku.
“Ok pak… saya saya yang bertanggung jawab sebagai keluarga dari mayat ini”
“Baiklah pak Agus, saya pinjam KTP dulu, saya akan ke ruang administrasi agar urusan ini cepat selesai” kata pak Zak
“Pak Jay..lebih baik pak Jay hubungi teman pak Jay yang pemilik rumah jagal juga pak… jadi urusan kita bisa selesai hari ini juga”
“Oh iya mas Agus hehehe, saya kok lupa hubungi teman saya” jawab pak Jay
Pak Jay mengambil ponselnya, dia beberapa kali menelepon teman dia, yang terdengar adalah nada panggil, hingga tiga kali nada panggil itu tidak terjawab, untungnya nada panggil yang keempat dijawab juga oleh teman pak jay
Pak Jay bicara dalam bahasa mandarin yang aku sama sekali tidak paham, pokoknya intinya wajah pak Jay sumringah setelah menutup telepon.
“Ada….. teman saya ada persediaan… kata teman saya untung kita hubungi pagi menjelang siang ini, karena biasanya siang nanti ada pedagang pasar yang akan mengambil jeroan hewan disana” kata pak Jay
“Kapan akan kita ambil pak?” tanya mbak Tina
“Dia akan kirim ke sini, nanti siang teman saya yang akan kirim ke sini, jadi kita bisa fokus mengeluarkan mayat dari rumah sakit dan menunggu ambulance yang akan dikirim oleh dokter Joko” jawab pak Jay
__ADS_1