RUMAH PENGGERGAJIAN

RUMAH PENGGERGAJIAN
296. SAKIT KEPALA YANG ANEH


__ADS_3

Aku tidak mau ke rumah sakit tentu saja ada alasanya, karena hal seperti ini tentu saja bukan hal yang berurusan dengan pengobatan medis.


Pos keamanan proyek sedang sepi, keempat orang petugas keamanan sedang patroli, termasuk pak Diran yang sebentar lagi akan berganti shift


Aku sedang menunggu pak Diran, kebetulan dia jaga malam,  sehingga pagi ini aku bisa berdiskusi dengan beliau tentang apa yang aku alami.


Menunggu pak Diran yang sedang patroli rasanya lama sekali dengan keadaan kepalaku yang sangat nyeri, taip ya kembali lagi bahwa mungkin hanya pak Diran yang bisa aku ajak bicara tentang yang berhubungan dengan makhluk ghaib.


“Pak Diraaan!” panggilku setelah kulihat sosoknya di kejauhan


Aku berjalan sedikit menjauh dari pos penjagaan, agar kami bisa bicara dengan serius tanpa terganggu oleh anak buah pak Diran


*****


“Cerita pak Agus ini sangat aneh, dan belum pernah saya dan istri saya alami….”


“Memang biasanya juga tubuh tak kasat mata kedua anak pak Agus bermain di kamar dan rumah kami, tetapi saya dan istri saya tidak pernah menyapa mereka berdua”


“Istri saya yang tidak bisa melihat apa yang terjadi di dalam rumah awalnya juga ketakutan, tetapi setelah saya jelaskan yang sedang bermain itu adalah tubuh tak kasat mata dari anak pak dan ibu Agus, akhirnya istri saya tidak takut lagi”


“Bahkan istri saya sering cerita kalau kadang ada suara seperti anak kecil yang jatuh karena bermain kejar kejaran, atau suara-suara aneh lainya”


“Lalu apa yang harus saya lakukan pak, terus terang saya saat ini kan sama sekali tidak bisa berinteraksi dengan mahluk ghaib”


“Dan. kepala ini rasanya sakit sekali pak. Tepai di belakang mata kiri saya hingga kebagian belakang mata saya. Setelah sesuatu yang rasanya tajam dan dingin itu masuk ke dalam bola mata saya”


“Eh pak Agus begini saja, saya akan coba bicara dengan guru saya dulu, dan untuk sementara ini pak Agus lebih baik berobat ke rumah sakit, temui dokter Joko saja. Tetapi jangan cerita tentang apa yang terjadi dengan pak Agus”


“Tapi ingat pak Agus, jangan ajak Gusti ke rumah sakit, biarkan dia tetap ada di rumah bersama ibunya, pokoknya jangan bawa Gustin ke tempat-tempat dimana banyak roh yang tidak sehat”


“Baik pak Diran, sekarang saya akan ke rumah sakit sekarang juga, eh nanti kita ketemu jam berapa pak?”


“Kebetulan hari ini saya kan waktunya Off, saya nanti ke rumah pak Agus saja”


*****


“Kata pak Diran aku harus ke rumah sakit yank”


“Nah kan apa kata Tina, ayo kita berangkat sekarang mas, Tina siapkan dulu perlengkapan Gustin”


“Jangan yank, biar aku sendiri saja yang ke sana, kata pak Diran  kita jangan sekali kali ajak anak kita ke tempat dimana banyak roh yang tidak sehat”

__ADS_1


“Lha mas Agus apa bisa nyetir sendiri ke rumah sakit?”


“Bisa yank, aku berangkat sekarang aja, biar ndang dapat pengobatan”


Sebenarnya aku gak kuat kalau harus bawa motor ke rumah sakit,  sebenarnya aku ingin minta diantar Tina naik mobil, tapi karena pak Diran wanti-wanti agar tidak mengajak Gustin ke rumah sakit, jadi ya aku mending berangkat sendiri ke rumah sakit.


Waktu menunjukan pukul sembilan pagi ketika motor yang digunakan keluar dari jalan hutan menuju ke rumah sakit.


Anehnya, semakin aku jauh dari rumahku, rasa sakit yang aku rasakan semakin menjadi jadi, sakit itu sekarang membuat mata kiriku tidak bisa dibuka.


 Karena apabila kubuka kelopak mata, bola mataku rasanya panas, nyeri dan rasanya semakin membesar…


Kuhentikan motorku di pinggir jalan…. Rasanya aku gak kuat kalau harus meneruskan perjalan menuju ke rumah sakit.


Setelah istirahat beberapa menit… namun percuma juga istirahat karena rasa sakit ini tidak berkurang sama sekali, akhirnya aku putuskan untuk balik ke rumah lagi…


Aku tidak bisa lanjutkan perjalanan dengan nyeri yang luar biasa.


Perlahan lahan kujalankan lagi motorku menuju ke rumah… hingga akhirnya aku belok ke arah hutan..


“Aneh.. rasa sakit ini berkurang…”


Kujalankan motor semakin dekat dengan rumah, dan memang rasa sakit itu semakin berkurang, yah masih masih sakit, tetapi tidak nyeri ketika aku jalan menuju ke arah rumah sakit.


Kuhentikan motor di pinggir jalan yang menuju ke area proyek, karena dari kejauhan aku lihat pak Diran yang mengendarai motor untuk pulang ke rumah..


“Lho pak Agus kok ada disini, katanya ke rumah sakit?”


“Tadi memang iya pak, tadi saya sudah keluar dari hutan dan ke arah desa, tapi ketika di jalan rasa sakit di kepala saya semakin  menjadi jadi pak, hingga saya tidak mampu membuka mata saya”


“Tapi setelah saya kembali ke sini, rasa nyeri luar biasa yang ada di kepala saya perlahan lahan berkurang, meskipun sampai saat ini kepala saya masih sakit”


“Aneh ya pak Agus, gini saja pak, coba ayo saya antar ke rumah sakit sekarang, jadi kalau ada apa-apa kan ada saya yang akan menolong pak Agus”


“Eh gini saja pak Agus, kita naik motor saya saja, pak Agus saya bonceng saja”


Aku setuju dengan usul pak Diran, kami berdua pulang ke rumahku, dan setelah aku taruh motor di rumah, aku dan pak Diran menuju ke rumah sakit.


Perjalanan masih di sekitaran jalan hutan, aku masih bisa menahan rasa nyeri yang menyerang mata hingga kepala bagian belakang.


Tetapi ketika kami mulai meninggalkan wilayah hutan….

__ADS_1


“Pak Diran, stooop pak…”


“Aaaarrghh sakit sekali pak.. Saya sampai gak bisa membuka mata saya pak”


“Iya pak Agus, tahan ya pak, kita harus sampai di rumah sakit agar kepala bapak bisa diperksa”


“Uuuughh sakit sekali pak, tapi akan saya tahaaaan pak.. Ayo cepat pak Diran”


Sakit yang luar biasa mulai muncul ketika kami berdua keluar dari wilayah hutan, dan sakit ini semakin menjadi-jadi ketika motor pak Diran semakin menjauh dari wilayah hutan.


Tapi uuuggh aku masih bisa menahan.. Meskipun aku sempat muntah di tepi jalan karena sakit kepalaku yang semakin menjadi-jadi


“Pak Agus, kalau mau muntah silahkah pak, selesaikan sampai mualnya hilang, kemudian kita berangkat ke rumah sakit lagi”


“Atau pak Agus mau pulang ke rumah saja?”


“Huuufff. A..ayo kita jalan lagi pak… uugh akan saya kuat-kuatkan keadaan saya pak”


Perlahan lahan motor pak Diran berjalan lagi, terus terang aku benar-benar lemas, sementara semua isi perutku sudah terkuras ketika aku muntah, ditambah lagi rasa nyeri yang makin bertambah mengerikan hingga…


“Pak uugh stop pak…”


“Stooop pak, s…saya tidak kuat lagi p..pak”


“Sebagian wa..wajah saya mati rasa pak. Wa..wajah saya yang sebelah kiri rasanya mati rasa”


“Ya sudah pak Agus, kita balik ke rumah pak Agus saja, siapa tau rasa sakit itu bisa berkurang”


“I..iya pak, nanti biar istri saya menelepon dokter Joko agar datang ke rumah saya”


Motor diputar pak Diran menuju ke arah rumah, dengan kecepatan sedang akhirnya tidak lebih dari lima menit kami sudah dekat dengan area hutan.


Dan anehnya semakin dekat dengan hutan, rasa sakit ini semakin berkurang, dan ketika kami masuk ke jalan yang menuju ke rumah dan ke proyek nyeri kepala ini makin berkurang meskipun masih terasa nyeri.


“Pak Diran.. Sakit kepala ini makin berkurang ketika kita makin dekat dengan hutan pak”


“Seperti yang tadi saya katakan sebelumnya pak.. Sakit kepala ini aneh”


Pak Diran menghentikan laju motornya ketika kami memasuki area hutan menuju ke rumahku. Dia heran melihat apa yang terjadi padaku.


“Ini ada yang nggak beres pak Agus, begini saja,  pak Agus saya antar pulang, dan hubungi dokter Joko, sementara itu saya tidak pulang ke rumah, saya akan ke  guru saya dulu”

__ADS_1


“Lho pak Diran istirahat dulu saja pak, semalam suntuk pak Diran kan jaga proyek”


“Ndak papa pak Agus, hal ini lebih penting daripada istirahat, karena saya takut ada hubunganya dengan pembangunan proyek pak”


__ADS_2