
“Iya saya sendiri, maaf dengan siapa ini?”
“Saya Hendrik pak Agus, maaf tadi kami pergi duluan ketika pak Agus sedang ada didalam kamar Gustin, kami pergi karena sang penjaga akan membunuh Jay apabila kami tetap ada di rumah pak Agus”
“Saya telepon pak Agus ini karena ada yang mau saya omongkan, mengenai rencana pak Agus yang pergi dari sana, dan penolakan Jay agar kita lawan siapapun yang menghalangi proyek”
“Setelah saya mendapat keterangan dari pak Diran, dan setelah saya melihat dan mendengar sendiri ancaman dari penjaga, maka saya putuskan sendiri ini demi pak Agus sekeluarga dan demi Jay temanku juga. Saya putuskan pak Agus untuk segera mungkin pergi dari sana”
“Masalah Jay dan Proyek biar saya saja yang urus…”
“Kekuatan yang berasal dari lahir itu tidak bisa dilawan, karena kekuatan itu berasal dari sang pencipta, jadi lebih baik kami mengalah saja”
“Karena tidak hanya Jay saja yang mungkin kena, saya dan keluarga saya pun sepertinya akan terkena imbasnya juga apabila tetap mempertahankan pak Agus disana”
“Jadi sebelum Jay gelap mata, saya sarankan pak Agus untuk pergi dari sana, nanti akan saya kirim uang dan kendaraan yang bisa digunakan untuk mencari tempat yang sesuai dengan pak Agus dan keluarga”
“Eh saran saya, pergilah ke luar pulau, mungkin menetaplah di pulau B hingga kedua anak kembarmu dewasa dan bisa mengontrol kekuatannya”
“Besok pagi akan saya siapkan kendaraan yang bisa pak Agus bawa dan gunakan, dan tolong nanti kirimkan nomor rekening pak Agus, saya ada sedikit dana untuk pak Agus sekeluarga”.
“Kalau pak Agus ada minat tinggal di pulau B, nanti akan saya usahakan bantu untuk eh untuk tempat tinggal disana”
“Saya disana ada sahabat… mungkin sahabat saya bisa bantu pak Agus disana, eh sahabat saya punya usaha rumah makan disana, dan mungkin pak Agus bisa bekerja juga disana…. Nanti saya aturnya pak”
“Saya hanya berharap pak Agus akan kesini untuk gabung di hotel ini ketika kedua anak pak Agus sudah beranjak dewasa. Saya harap kita tidak putus hubungan dan mungkin bisa bekerja sama lagi”
“Oh iya…saya juga akan siapkan sebuah ponsel yang sudah aktif, jadi kita masih bisa saling berhubungan”
Aku tidak bisa menjawab apa yang pak Hendrik katakan, karena dia bicara kayak tidak ada jedanya, jadi aku diam saja hingga dia selesai bicara.
“Ya sudah begitu saja pak Agus, besok akan saya siapkan semua, kalau semua sudah siap, pak Agus akan saya kabari….”
“Dan ingat, rahasiakan apa yang saya katakan ini, dan tentang bantuan ini, jangan sampai Jay tau. Saya tau Jay begitu berambisi untuk proyek resort ini, dan dia tidak akan melepaskan pak Agus pergi begitu saja, karena dia masih butuh pak Agus, dan Bu Tina”
Setelah mengucapkan salam, pak Hendrik menutup telepon…Aku hanya bisa diam dan heran dengan apa yang pak Hendrik bicarakan tadi.
__ADS_1
Aku ceritakan kepada istriku apa yang tadi pak Hendrik katakan, istriku heran juga, ada apa dan kenapa pak Hendrik bisa sebegitu baik dan perhatian dengan keluarga kami.
“Mas… apa nggak ada udang dibalik batu?”
“Nah itu yang dari tadi aku pikirkan yank… aku gak yakin Hendrik akan membantu kita tanpa ada alasan yang jelas. Pasti ada sesuatu yang membuat dia mau membantu kita”
“Tapi paling tidak kita bisa pergi dari sini dulu, hingga kedua anak kita dewasa, atau kalau nggak ya kita gak usah balik ke sini lagi, kita pergi jauh dari semua yang pernah kita alami disini”
“Iya mas…. Kita lihat saja nanti apa yang akan terjadi disini dan apa yang terjadi dengan kita di tempat kita yang baru nanti”
“Oh iya mas, Tina mau telepon ke pembeli rumah Tina dulu mas. Mas Agus kan sudah selesai ngobrol bersama pak Hendrik kan?”
“Iya yank, dah sana kamu hubungi pembeli rumahmu dulu”
*****
Pagi yang seperti biasa, tidak ada yang aneh dari kemarin siang, sore dan malam… aku pun tidak tidur di kamar anakku, aku tidur bersama istriku di kamarku.
Pagi ini Tina istriku akan ke rumah pak RT, disana dia akan bertemu dengan pembeli rumah yang katanya akan dilunasi beberapa hari kedepan.
Saat inii aku ada di ruang tamu ketika ada mobil yang berhenti di depan rumah…
Kulihat dari jendela, sebuah mobil mpv sejuta umat warna putih parkir di depan rumah, seorang turun dari mobil dan kemudian menuju ke pintu pagar rumah.
“Permisi….” kata orang yang ada di depan pagar
“Iya pak, cari siapa pak?” tanyaku sambil berjalan ke pintu pagar
“Saya mencari pak Agus, saya suruhanya bos Hendrik” kata orang itu
“Saya Agus pak, ada yang bisa saya bantu?”
“Maaf pak Agus, saya disuruh bos Hendrik untuk menyerahkan mobil dan beberapa barang yang ada di dalam mobil” kata orang itu sambil menyerahkan kunci mobil
“Oh iya pak, kemarin pak Hendrik telepon saya, katanya pagi ini dia akan kirim mobil ke sini. Eh sampeyan balik ke sana naik apa pak?” tanyaku kepada supir itu
__ADS_1
“Sama teman saya pak Agus, itu dia baru saja datang” tunjuk suruhan pak Hendrik pada sebuah sepeda motor yang baru saja datang
Driver itu sudah pulang. Sekarang di depan rumahku terparkir sebuah mobil pinjaman dari pak Hendrik untuk aku gunakan pergi dari sini.
Di dalam mobil itu ada sebuah tas plastik dengan gambar nama sebuah toko yang menjual aneka alat komunikasi, dan ternyata di dalamnya adalah sebuah ponsel baru, dan juga kartu teleponnya.
Setelah aku pasangkan ponsel dan kartu teleponnya, kemudian aku coba untuk menelpon pak Hendrik,
“Selamat pagi pak, ini saya Agus”
“Oh iya pak Agus….” jawab pak Hendrik
“Saya sudah terima mobil dan telepon selulernya pak…. Terima kasih banyak”
“Sama-sama pak Agus, nanti kita bisa saling komunikasi….. Oh iya, saya sudah transfer sejumlah uang untuk sekedar biaya selama pak Agus belum mendapat pekerjaan”
“Apa pak Agus sudah putuskan akan pergi ke mana?””
“Sudah pak Hendrik, kami akan ke pulau B, sesuai dengan rencana awal kami’
“Wah kalau gitu bagus pak Agus, nanti akan saya infokan alamat teman saya yang ada disana, besok juga dia akan saya telepon bahwa ada orang saya yang akan ke sana” kata pak Hendrik
“Rencana pak Agus pergi dari sana kapan?” tanya pak Hendrik
“Secepatnya pak, saya kan harus mengambil Gusta dari rumah pak Diran dulu pak, setelah itu baru kami pergi dari sini”
“Kalau bisa besok pak Agus sudah tidak ada disana, takutnya si Jay akan berbuat sesuatu , kan tau sendiri Jay bilang apa ketika kemarin dia disana pak Agus”
Pak Hendrik menyudahi pembicaraan setelah selesai dengan urusanku, sekarang tinggal aku dan Tina saja yang mau pergi dari sini kapan.
Segala sesuatunya sudah selesai, mobil ada, uang meskipun sedikit tapi sudah ada dari pak Hendrik dan dari DP penjualan rumah istriku, sekarang tinggal menghubungi pak Diran saja, dan memberitahu apa langkah kami selanjutnya.
Memang aneh dan tidak masuk akal apa yang terjadi dengan keluargaku, dapat mobil, dapat uang dan mungkin juga dapat pekerjaan dan tempat tinggal. Sungguh aneh, kenapa begitu mudah.
Sesuatu yang mudah itu menurutku akan mengerikan di pertengahan dan di akhirnya….
__ADS_1