
TINA POV
Semua sesuai dengan yang direncanakan pak Paijo.
Tadi aku dengar beberapa orang berlarian menuju ke hutan, karena mereka yang lari itu dekat dengan posisiku sembunyi.
Ketika aku dengar kalau wandi ditangkap ada rasa gembira campur cemas, karena bisa saja nanti anak buahnya akan semakin brutal mencari aku dan mas Agus.
Tidak ada suara pembicaraan dari tim pak Paijo.. mereka iseng mengejar orang yang berlari kalang kabut saja., kelihatannya memang disengaja seperti ini agar tidak ada perkataan yang bisa dijadikan serangan bagi Wandi
Suara Wandi teriak-teriak… dia mengaku tidak tau menahu tentang penculikan mas Agus, bahkan dia minta didatangkan saksi yang melihat dia menculik mas Agus ketika ada di rumah sakit.
Wandi kini memerankan perannya sebagai bos yang berpendidikan dari orang-orang yang tadi kalang kabut lari itu
“Kenapa kalian menggerebek kami!… kami ini sedang rapat mengenai harga kayu dan penggergajian yang merugi terus menerus!” teriak Wandi
“Kalian polisi bodoh menggerebek kami tanpa menunjukan surat perintah!”
“Harusnya ada surat perintahnya.. AYO TUNJUKAN KEPADA SAYA.. MANA SURAT PERINTAH ITU!” teriak Wandi yang makin kesetanan
“Diam kamu orang tua.. hematlah energi .. nanti saja bicara ketika kita ada di kantor!” sahut pak Paijo
“Apa alasan kalian menggerebek kami”
“Kamu dan kelompokmu telah menculik dan memukul seorang dokter yang ada di rumah sakit” kata pak Paijo
“Mana buktinya.. dan siapa yang melakukanya.. kalian salah orang.. akan saya tuntut kalian semua!” teriak Wandi
“Kalian asal nuduh orang.. disini tidak ada culik menculik.. semuanya datang dengan damai… tetapi setelah kalian polisi datang… kami semua terpecah belah!”
“Kalau kalian memang tidak bersalah… kenapa harus lari ketika kami datang kesini.. bicara baik baik tanpa perlu melarikan diri kan bisa” jawab pak Paijo
“Kami lari karena kaget…kami kaget karena tiba-tiba ada kalian datang kesini!” balas Wandi
“Kalian salah orang, kami tidak tau menahu tentang penculikan itu!” bentak suara Wandi lagi..
“Kalian salah orang.. lihat saja nanti.. saya akan bebas dengan cepat, dan saya akan tuntut karena kerja kalian yang ngawur!” ancam Wandi
“Teguh.. borgol orang tua itu.. awas.. jangan sampai lepas” kata pak Paijo kepada anak buahnya
“JANGAN BORGOL SAYA.. SAYA BUKAN ORANG YANG BERSALAH, DAN KALIAN TIDAK BERHAK MEMBORGOL SAYA!” teriak Wandi makin menjadi jadi
“Sudah Teguh.. borgol saja orang itu dan segera pergi dari sini bersama Albert.. cepat!” perintah pak Paijo
“Saya akan periksa keadaan disini dahulu” lanjur pak Paijo
Tidak lama kemudian aku dengar suara salah satu dari polisi itu kalau mas Agus sudah ditemukan, dan dalam keadaan sehat walafiat.
Aku belum tau mas Agus dan polisi yang mencarinya itu datang dari mana. dan siapa yang membebaskan mas Agus, karena pastinya Wandi dan komplotanya menyembunyikan mas Agus di tempat yang paling aman.
“Dimana kamu tadi disembunyikan dan disekap?” tanya pak Paijo
“Saya disekap di bak kamar mandi pak.. disana ada semacam lubang untuk menyimpan peralatan pencurian solar” jawab suara dari mas Agus
“Ya sudah… keterangan kamu kita lanjutkan di kantor saja, dan semoga keteranganmu bisa menguatkan penahanan orang itu” kata pak Paijo
“BANGSHT KAMU AGUS!… AKAN SAYA HABISI KAMU DAN SEMUANYA!.. INGAT.. SAYA AKAN BEBAS DENGAN CEPAT DAN KAMU TIDAK TAU SIAPA YANG KAMU HADAPI!” teriak Wandi
Aku heran, bagaimana polisi itu menemukan mas Agus di dalam bak mandi, sedangkan aku yang dekat dengan mas Agus saja belum pernah masuk rumah itu.
Tapi nanti sajalah… aku akan tanya bagaimana dia bisa ditemukan di dalam bak mandi.
Wandi memaki maki dan mengancam akan menghabisi mas Agus, Pokoknya suara Wandi mendominasi suara orang-orang yang ada disini.
Tapi suara Wandi tidak lama kemudian berangsur angsur mulai pelan dan kemudian hilang.. suara Wandi menghilang seiring dengan suara dua motor yang melaju menjauh dari depan rumah penggergajian.
Keadaan sudah sepi.. tapi pak Paijo belum menyuruhku untuk berdiri dan keluar dari tempat persembunyian.
Apakah karena ada Wandi yang saat ini tertangkap ataukah memang sengaja agar semua orang yang ada disini pergi dari sini.
Lalu bagaimana dengan motor yang ditinggal di halaman rumah penggergajian?
Tapi tidak lama kemudian suara pak Jo terdengar lagi… tetapi sekarang lebih tepatnya berbisik.
__ADS_1
“Lubangi roda motor-motor itu, dan cabut kabel businya.. cepat” perintahnya kepada dua orang anak buahnya yang masih ada disini.
Aku tidak tau pak Jo berbicara dengan anak buahnya yang mana, yang pasti mereka disuruh pak Jo untuk melubangi ban motor dan mencabut kabel busi…
Keadaan disini masih malam.. masih gelap.. dan semua terjadi dengan cepat hingga pak Wandi ditangkap oleh anak buah pak Jo.
“Mbak Tina… aku kita pergi dari sini sekarang” bisik pak Paijo kemudian.
“Jangan keluar dulu mbak Tina… ada Mamad.. dia sembunyi di belakang pak Paijo dan siap untuk menyerang pak Paijo” kata suara Kunyuk Tiba-tiba
“Apa yang harus aku lakukan Nyuk…”
“Tetap merunduk dan sembunyi saja.. biar saya saya yang melakukannya…. saya akan bicara dengan Paijo untuk menoleh ke belakang ketika waktunya tepat”
Kuturuti apa yang dikatakan Kunyuk… aku tetap sembunyi tanpa bergerak sama sekali.
Kunyuk sudah pergi dari tempatku sembunyi, dia pasti sekarang sudah ada disebelah pak Paijo untuk memperingatkan bahwa ada Mamad yang siap untuk menyerang.
Aku tetap ada di tempatku sembunyi… hingga tiba-tiba aku mendengar suara letusan senjata api yang sangat keras yang ada di dekatku.
“Ampuuuunn aaaarrgghh sakittttt.. ampuuun.. jangan bunuh sayaaa” teriak orang yang kemungkinan besar adalah Mamad.
“Apa yang kamu lakukan disini Mad…”Teriak suara mas Agus tiba-tiba
Tidak ada jawaban dari suara Mamad..dia hanya mengaduh dan mengaduh saja.
Aku tidak tau dia terkena tembakan di bagian apa. semoga dia terkena tembakan di bagian tubuhnya yang tidak berbahaya
“Bawa dia.. ayo kita segera pergi dari sini.. cepat” kata suara milik pak Jo.
“Bagio.. kamu bonceng bertiga dengan pak Agus.. orang yang terkena tembakan itu taruh di antara kalian berdua.. ayo cepat kita pergi dari sini”
“Mbak Tina ayo keluar” bisik pak Paijo
“Maaf tadi saya tidak tau ada orang di belakang saya…, untungnya tadi tiba-tiba ada yang berbicara di kepala saya yang mengatakan balik kanan dan cabut pistol,.. karena ada yang akan menikam kamu”
“Iya pak.. saya tau”
“Yang bicara kepada bapak itu Kunyuk pak”
Akhirnya pak Paijo berhenti.. motor yang lainya yang ada di belakang kami juga berhenti.. sedangkan motor yang berisi satu anak buah pak Paijo, Mamad yang terluka, dan Mas Agus tetap jalan sesuai dengan perintah pak Jo.
Motor yang boncengan bertiga dengan Mamad ada di tengah itu berjalan dengan pelan, dengan nyala lampu depan yang bergoyang goyang untuk menghindari lubang dan batu yang berserakan disini.
“Itu pak motor yang saya gunakan kesini… itu motor pak Pangat”
“Ya sudah cepat kita harus segera pergi dari sini secepatnya mbak”
Motor berhasil dihidupkan.. tiga motor berjalan pelan menyusul motor yang bonceng bertiga itu.
Memang motor yang berbonceng tiga itu sudah agak jauh di depan kami, mungkin ada sekitar dua puluh meter hingga tiga puluh meter dari posisi kami..
Memang jauh.. tapi aku bisa lihat nyala lampu belakang dan depan yang bergoyang goyang itu.
Tetapi ada yang mengejutkan.. tiba-tiba ada suara teriakan, dan motor yang berboncengan tiga di depan kami itu jatuh terguling.
“Hei.. apa yang terjadi.. ayo ke kesana cepat!” teriak pak Paijo yang kemudian memacu motor milik pak Pangat itu
Begitu pula dua anak buahnya yang ada di belakangku, mereka juga memacu motornya dan mendatangi motor yang berbonceng tiga yang sekarang keadaanya masih terguling.
Aku juga memacu motorku untuk melihat apa yang terjadi disana.
Jalan yang rusak dan banyak batu ini membuat kami kesulitan memacu motor untuk mendekati teman kami yang hanya mungkin berjarak tiga puluh meter di depan itu.
*****
“Bagaimana bisa terjadi Bagio!” teriak pak Paijo sambil menoleh kanan kiri di gelapnya hutan untuk mencari pandangan Mamad yang lari
“Uggh tidak tau pak.. tiba-tiba orang yang kami bonceng memukul kepala saya. Setelah motor ini jatuh,dia memukul pak Agus juga” kata anak buah pak Paijo yang tadi berboncengan bertiga
“Sekarang berpencar.. cari dia di sepuluh meter saja, lebih sepuluh meter kita tinggal saja” perintah pak Paijo
“Bukankah tangan dia tadi terborgol?”
__ADS_1
“Betul pak.. tangan dia memang dalam keadaan terborgol.. tapi dia bisa memukul saya dan pak Agus…setelah itu dia lari entah kemana, karena tadi posisi saya tertimpa motor”
Dua anak buah pak Paijo dengan menggunakan senter mencari Mamad yang diperkirakan lari ke arah kanan hutan.
Sedangkan aku, mas Agus dan pak Paijo tetap ada di sekitar motor yang terparkir.
“Keadaan kita ini bahaya, kita ada di alam terbuka, dan bisa saja dari arah mana saja mereka yang tadi lolos dari sergapan itu akan menyerang kita” guman pak Paijo
“Lebih baik kita sudahi saja pencarian ini dan kita susul rekan kita yang membawa Wandi”
“Iya benar pak… ada baiknya kita pergi dari sini saja, barusan Kunyuk berkata bahwa mereka yang lari itu ada disekitar sini pak”
“Ya Sudah mbak Tina.. saya akan panggil kedua anak buah saya”
“Bagio… Cepoot!... kita berangkat saja.. biarkan saja orang yang luka parah itu pergi… dia tidak akan bertahan di hutan ini” teriak pak Paijo
Bagio dan Cepot dua anak buah pak Paijo datang…
Akhirnya kami meneruskan perjalanan menuju ke kantor pak Paijo.
“Ya sudah… sekarang kita balik ke kantor, yang penting kita dapat menangkap satu orang yang mungkin kepala komplotan itu”
“Mas Agus, tolong bonceng mbak Tina.. kasihan dia kalau naik motor sendirian…”
Setelah sampai di rumah pak Pangat dan mengembalikan motor ke pak Pangat kami naik mobil polisi menuju ke kantor tempat pak Paijo bertugas.
Kunyuk masih ada di antara kami, dia yang paling serius melihat keadaan di sekeliling, kadang dia pergi entah kemana, mungkin sedang melihat keadaan di sekitar sana.
Tetapi sebentar kemudian dia datang lagi dan membonceng di jog belakang motor yang dikendarai pak Paijo.
Sebenarnya tadi waktu sedang sedang urusi motor yang terguling.. Kunyuk sempat datang dan memberi tahu dimana posisi Mamad berada.
Tapi kemudian Kunyuk berkata bahwa biarkan Mamad pergi, agar dia bisa mengikuti dimana lokasi kelompok Wandi ini berada.
Tapi dia sekarang sudah ada diantara kami, berarti dia tidak pergi ke mana-mana, mungkin dia hanya bicara dengan teman sesama ghaibnya agar mengikuti kemana larinya si Mamad.
Setelah mengembalikan motor kepada pak Pangat, dan sedikit basa basi.. kami berangkat menggunakan mobil polisi menuju ke kantor pak Paijo.
Selama perjalanan tidak ada pembicaraan diantara kami, karena keadaan yang masih tegang.
Ketika kami sudah hampir keluar dari desa…. tiba-tiba HT pak Paijo berbunyi…
“Ndan… Wandi lepas… Teguh luka parah..”
“Kami tadi dihadang oleh tiga orang di antara jalan desa yang ke arah kota” kata suara yang ada di HT itu
“Kalian apa tidak melawan?” tanya paijo dengan Nada marah
“Tidak sempat Ndan…..salah satu dari mereka langsung memukulkan sebatang kayu berkali kali ke helm Teguh..”
“Ketika Teguh jatuh..salah satu orang itu memukuli Teguh dengan balok kayu”
“Ketika Teguh dipukul…saya berusaha melajukan motor untuk melarikan diri... tetapi orang tua itu tiba-tiba melompat turun”
“Setelah itu yang membawa kayu memukul saya…”
“Siapa mereka..apakah mereka adalah yang tadi ada di rumah penggergajian?”
“Tidak jelas Ndan… karena mereka bertiga menggunakan helm teropong!”
“Jelas tidak mungkin orang yang tadi ada di hutan, karena motor mereka sudah kita bikin kempes rodanya”
“Ya sudah … tunggu di sana, saya sebentar lagi sampai di posisimu”
Aku dan mas Agus saling pandang…. bukan saling pandang karena cinta atau kangen.. tapi saling pandang karena bingung apa yang akan terjadi selanjutnya.
Apa yang tadi aku takutkan terjadi… Mamad lepas… Wandi lepas!
Setelah ini mereka akan memburu kami berdua.. dan mereka pasti dendam kepada kami..
Aku dan mas Agus harus segera berpikir untuk menyelamatkan diri.. harus cari tempat sembunyi yang tidak diketahui oleh mereka.
“Kalian berdua dalam bahaya mbak” kata Kunyuk
__ADS_1
“Saya akan pantau situasi di depan dulu mbak.. jangan sampai mobil ini dihadang lagi di depan sana”
Aku tidak bisa menjawab perkataan Kunyuk.. karena aku sendiri ketakutan. Tidak hanya aku, mas Agus Pun ketakutan.. kami akan menjadi target mereka selanjutnya!