RUMAH PENGGERGAJIAN

RUMAH PENGGERGAJIAN
286. ADA YANG MATI


__ADS_3

Anaku saat ini sudah berumur tiga bulan…hingga saat ini tidak ada gangguan yang berarti. Kedua anak kembar yang aku panggil Gusta dan Gustin tumbuh dengan sehat.


Begitu pula dengan istriku, dia curahkan waktu sepenuhnya untuk kedua anak kembarku…


Tetapi ada yang tidak semestinya dengan kedua anak kembarku, mereka berdua tumbuh dengan cepat, baru berusia tiga bulan mereka berdua sudah bisa merangkak dengan cepat ke sana kemari.


Semua sepertinya berlangsung dengan aman-aman saja……


Tetapi tidak dengan resort yang sedang dibangun oleh pak Jay dan pak Hendrik… beberapa hari lalu satu orang pekerja meninggal akibat tenggelam di sungai di bagian yang dalam.


Dan sekarang pembangunan dihentikan sementara untuk menunggu investigasi dari pihak kepolisian. Entah memakan waktu berapa hari acara penyidikan dari kepolisian itu.


Pihak kepolisian menuduh adanya praktek usaha pembunuhan di sini, dan juga kurangnya faktor keselamatan di proyek ini.


Memang aneh sekali, beberapa saksi mata mengatakan bahwa sehari sebelum almarhum pak Kabul mati tenggelam, dia sempat cekcok hingga terjadi perkelahian dengan pekerja lain yang bernama Prapto…


Perkelahian itu ditengarai akibat dari ketika mereka berdua saling olok, dan akhirnya terjadi perkelahian. Ketika dipisah oleh beberapa pekerja, Kabul sempat melontarkan ancaman akan melakukan tindak kekerasan kepada keluarga Prapto.


Menurut info dari pekerja lain, Prapto dan Kabul ini berasal dari satu desa, dan kata beberapa sumber yang dapat dipercaya, di desa Kabul terkenal sebagai gali atau preman yang sering bikin ulah.


Nah sehari setelah mereka terlibat perkelahian, kabul hilang dari proyek, dan setelah dilakukan pencarian, mayat kabul ditemukan mengapung di pinggir seberang sungai.


Kecurigaan polisi, matinya Kabul ada campur tangannya Prapto… nah dari situlah sekarang proyek ini dihentikan sementara, sambil menunggu hasil dari otopsi dan penyidikan Polisi.


“Sudah tiga hari ini pembangunan disana itu berhenti mas” kata Istriku sambil menyuapi anak kembarku


“Iya Yank, aku kecolongan atas kematian Kabul..  Waktu itu aku pikir perkara mereka sudah selesai, ternyata tidak….”


“Tapi apa pak Prapto yang melakukan pembunuhan itu mas?”


“Aku tidak yakin yank… pak Prapto itu pekerja yang pendiam dan rajin beribadah, dia pendiam dan tidak suka kumpul dengan pekerja lainya”


“Aku rasa ada hal lain atas kematian pak Kabul Yank”


“Huaaahhmm tiga bulan lalu aku pikir akan ada masalah lagi dengan demit jahat yang ada di sekitar sini, ketika mobilku diganggu dan kemudian ada bau yang sangat busuk”


“Tetapi ternyata tidak ada, hingga anak kita lahir dan sekarang berusia tiga bulan tidak ada gangguan sama sekali…”


“Tetapi huuuffh ada lagi situasi yang menyebabkan aku merasa curiga bahwa akan ada sesuatu yang mengganggu disini yank”


“Tapi apa mas Agus yakin yang membunuh ini bukan pak Prapto?”

__ADS_1


“Yakin yank.. Aku yakin sekali”


Tidak ada lagi pembicaraan aku dengan istriku, pagi ini aku akan ke sana, ke proyek.


Aku akan bicara dengan penjaga  keamanan Proyek saja, dari pada di rumah dan menunggu sesuatu yang membuatku penasaran.


Aku akan cari tau sendiri penyebab kematian Kabul, karena hal ini cukup aneh mengingat tubuh Kabul lebih gempal dan lebih tinggi dari pada tubuh pak Prapto yang tua dan kurus.


Setelah berpamitan dengan istriku, aku mengeluarkan sepeda motor dan berjalan pelan menuju ke proyek.


Pagi ini suasana di hutan rasanya segar sekali, karena semalam habis turun hujan, bau daun dan bau tanah hutan tercium sangat menyegarkan hidungku.


Pintu gerbang proyek ditutup oleh penjaga proyek, tetapi di pos penjagaan proyek aku bisa lihat pak Tejo dan pak Daliman sedang ngobrol.


“Pak Tejo..pak Daliman, tolong bukakan pintu!” teriakku di depan pintu gerbang proyek


“Oh ada pak Agus.. sebentar pak, saya akan bukakan pintu” kata pak Daliman kemudian berlari menuju ke pintu gerbang yang mereka gembok


Kutuntun dan aku parkir motor milik istriku yang dibeli sebelum kami menikah di depan ruangan yang mirip pos keamanan dari proyek resort ini.


“Pak Dal, pak Toha dan pak Rahmat dimana?”


Anggota keamanan disini ada empat orang… dua orang berjaga di depan dan dua orang lainya ada di pos belakang.


Penjagaan disini hanya menggunakan dua shift saja, shift malam dari jam delapan malam hingga jam delapan pagi, dan shift pagi dari jam delapan pagi hingga jam delapan malam.


“Wah pak Agus, ada apa gerangan pagi-pagi ke sini” tanya pak Tejo


“Hanya kepingin lihat proyek pak.. Sekalian saya mau ke belakang sana, pengen lihat sekali lagi dimana ditemukan mayat pak Kabul”


“Hmm gitu, ayo saya antar pak,....…”


“Pak Dal,  aku arep nganter pak Agus dulu ya”  kata pak Tejo meminta ijin ke pak Daliman


“Iya Jo.. hati-hati, karena banyak bangunan proyek yang masih belum stabil” jawab pak Daliman


Pagi ini aku berjalan menuju ke arah belakang, aku dan pak Tejo melewati bangunan dan lahan yang masih berupa lumpur yang rencananya akan dijadikan semacam taman besar dan lahan untuk bersantai.


Proyek resort ini lumayan besar hingga memakan lahan yang ada di sini dan memotong puluhan pohon albasia dan mahoni yang ditanam disini.


Proyek ini memanjang ke samping kiri dan kanan sungai hingga mendekati desa yang ada di seberang sungai, dimana di desa itu ada bu Tugiyem dan beberapa orang yang aku  kenal.

__ADS_1


“Pak Agus… kematian pak Kabul itu apa memang dibunuh pak Prapto?” tanya Tejo yang  lebih muda dari pada aku


“Saya ragu pak Tejo. coba lihat dari tubuh Kabul yang tinggi besar, kemudian bandingkan dengan pak Prapto yang kurus pendek dan sama sekali tidak berotot”


“Iya sih pak… ada benarnya juga apa yang pak Agus omongkan… tapi bagaimana bisa Kabul mati tenggelam ya pak…?”


“Ya bisa saja Kabul ingin berenang pak Tejo… mungkin dia sedang ingin berenang dan kemudian tenggelam hehehe, yah tapi kita tunggu saja dari pihak kepolisian apa sebenarnya terjadi dengan kabul”


Aku sudah sampai di bagian belakang proyek.. Disana masih ada pohon beringin yang sekarang makin besar, pohon beringin yang dibiarkan tumbuh dan tidak ada yang boleh memotongnya.


Pohon beringin dimana mbak Kun dan teman-temanya tinggal, memang sengaja pak Jay dan pak Hendrik melarang siapapun menebang pohon itu, bahkan pohon itu sekarang diberi pagar pembatas agar tidak terkena kotoran dari proyek.


Kebetulan aku masih diberikan kemudahan untuk bisa melihat dan berkomunikasi dengan mahluk halus setelah peristiwa lalu ketika aku diberi kekuatan oleh Nyai kembang Melati. Jadi sekarang aku masih bisa melihat keberadaan Kunti yang baik  itu di atas pohon.


Tetapi berhubung saat ini aku bersama Tejo, maka aku urungkan dulu untuk bicara dengan mbak Kunti itu, apalagi sekarang penjaga keamanan lainnya yang bernama Toha dan Rahmat datang bergabung.


“Selamat pagi pak Agus” sapa pak Toha dan pak Rahmat bergantian.


“Selamat pagi juga pak Toha dan pak Rahmat…. Gimana apa kalian baik baik saja jaga di bagian belakang sini?”


“Hehehe aman kok pak, hanya saja kadang ada suara minta tolong yang gak jelas setelah kematian pak Kabul” jawab pak Rahmat


“Mungkin arwah pak Kabul masih gentayangan disini pak, hihihihi” timpal pak Toha


“Nggaklah  pak, yang sudah mati ya mati pak, mereka punya alam sendiri, sedang yang teriak minta tolong mungkin adalah setan yang berusaha menyamar sebagai Kabul dan berusaha mengganggu kalian berdua hihihi”


“Iya pak Agus, mungkin apa yang dikatakan pak AGus ada benarnya juga… pak Agus ada perlu apa ya ke bagian belakang proyek ini pak?” tanya pak Rahmat


“Saya hanya ingin tau dimana persisnya pertama kali ditemukan mayat pak Kabul, eh yang pertama kali melihat mayat itu siapa?”


“Saya dan Rahmat yang pertama melihat mayat itu pak, ketika kami berdua sedang patroli jaga malam, sedangkan waktu itu kan pekerja sedang ada di bagian tengah pak”


Memang bagian belakang ini belum dilakukan apa-apa,  karena sekarang pembangunan sedang fokus di tengah saja, rencananya di bagian belakang ini tetap seperti dulu diberi tanah pantai dan dibuat lebih landai saja.


“Mari saya antar pak….letaknya disana pak, posisi mayat itu nyangkut di pinggir sungai disana” kata pak Rahmat


Aku, pak Rahmat, pak Tejo, dan pak Toha berjalan menuju ke arah kanan,  setelah tiga menit berjalan kami berhenti di seberang gundukan tanah dan belokan sungai.


“Di sana pak, mayat itu tersangkut di sana” tunjuk pak rahmat pada pinggir sungai”


Sialan… disana dulu itu kan ada makam Fong, makam palsu Fong yang digunakan untuk mencari korban untuk menjadi anak buahnya!

__ADS_1


__ADS_2