
“Kok bisa separah ini ya nak Agus. Saya curiga ada sesuatu yang tidak suka dengan kehadiran nak Agus disana”
“Tapi bu, apakah yang tidak suka dengan saya itu bisa melakukan kekerasan ghaib macam luka saya ini?”
“Tentu saja bisa nak, apalagi di sekitar sini kan masih banyak orang yang mempelajari ilmu hitam secara ngawur”
“Kalian apa sudah sarapan?” tanya bu Tugiyem tiba-tiba
“Belum bu, kita tadi dari rumah pak Solikin rencananya mau cari sarapan, di sekitar sini”
“Sudah.. makan di rumah saya saja dulu nak Agus…
“Sebentar saya panggilkan Anik dulu…”
Dari dalam rumah Anik keluar… wajahnya yang imut cantik itu benar-benar membuatku selalu terpesona kalau memandang terlalu lama.
Anik memang cantik,..ya hanya sebatas cantik saja, karena dia masih belum merasakan pahitnya dunia.
Sebaliknya Tina, dia sudah berpengalaman di berbagai hal, memang antara Anak dan Tina bertolak belakang meskipun sama-sama cantik.
Aku dan Burhan sarapan gratisan di rumah bu Tugiyem, untungnya selama sarapan tidak ada perbincangan yang menjurus.
Untungnya lagi si Burhan tidak bicara macam-macam tentang aku yang dibonceng Tina, sehingga rahasiaku masih aman.
“Bu Tugiyem, kami mohon pamit dulu, karena tidak enak terlalu lama meninggalkan rumah”
“Iya nak Agus, hati-hati..dan jangan lupa sholat, karena dengan sholat bisa terhindarkan dari segala hal yang buruk”
Pagi menjelang siang yang panas, tapi hal ini tidak menyurutkan kami berdua untuk berjalan pulang.
Kami sudah menyeberangi sungai yang airnya agak berkurang daripada biasanya, sehingga pinggiran sungai terlihat jelas.
“Nah mas Burhan, sekarang kita tau keadaan pak Sollikin, kita juga tau apa yang dikatakan oleh bu Tugiyem tentang penduduk sini yang suka main ilmu”
“Dan kemungkinan ada yang tidak suka dengan kehadiran saya dan mas Burhan. Sekarang kalau mas Burhan jadi saya, apa yang akan mas Burhan lakukan?”
“Pertama laporan dulu pak. Sekalian minta dicarikan cara agar kita disini tidak diganggu oleh penghuni sini atau bisa saja dengan orang yang tidak suka dengan kita”
“Yang kedua ya kita hadapi saja apa yang berusaha menakut nakuti kita pak. pokoknya kalau saya tidak sendirian pasti saya berani”
“Hmm masuk akal juga mas. tapi yang ada di pikiran saya ini adalah apakah dulu jaman pak Wandi dan Mamad disini apa juga ya seperti ini?”
“Setahu saya dulu mereka itu bahagia-bahagia saja pak, tidak pernah saya lihat wajah mereka tegang dan sumpek pak”
“Nah itu yang harus kita selidiki mas….”
“Di rumah itu ada beberapa tempat yang menurut saya menakutkan, selain pojokan halaman belakang juga kamar mandi”
“Atau mungkin mas Burhan punya teman orang pintar yang lagi pengen ngetes ilmu, bisa diundang kesini mas, sekalian dia tes ilmunya hehehe”
“Coba saya pikirkan pak, siapa teman saya yang bisa saya hubungi”
Aku harus tau bagaimana keadaan pak Wandi dan Mamad waktu itu, dan apakah mereka juga tidak disukai oleh Solikin?
Tapi waktu aku telepon dan bicara soal Burhan dan pak Solikin kapan hari itu pak Wandi pernah bilang kalau dua orang ini baik baik saja.
Tapi ada yang aneh dengan pak Wandi ketika aku mau lapor ke bos besar, dia kelihatannya ketakutan, dan ada sesuatu yang dirahasiakannya.
Nanti sore aku akan tanya lagi sebenarnya ada rahasia apa disini, atau akan kulaporkan ke pak bos , ya lebih baik aku ancam seperti itu saja pak Wandi nanti.
__ADS_1
Kami berdua sudah dekat dengan rumah, sudah melewati pohon beringin yang sangat besar,
“Pak Agus, maaf, saya mau buang air besar dulu, ini kunci rumahnya pak”
Kentir Burhan iku. kok bisanya langsung lari menuju ke kotak kedamaian, kalau kata yang namanya ALYA NUR ATIFA Burhan lagi makani iwak.
Tapi memang itu kan kebutuhan, dan harus segera dikeluarkan, bahaya kalau ndak dikeluarkan.
Aku sih pengennya buang hajat di rumah Tina, siapa tau di kamar mandi dekat ruang tamu nanti ada jeroannya Tina yang lagi digantung hihihihi. Lumayan buat bahan hihihi.
Koyoke aku sekali kali harus ngochok disana, biar gak mimpi basah hihihih.
Nanti sore ajahlah , sekalian aku mandi disana saja, sekalian ganti perban dan telpon pak Wandi juga.
*****
Sore hari yang sepi, aku sedang duduk di kursi depan sambil udud. Sebenarnya aku ini ndak suka ngudud, tapi berhubung disini ndak ada kegiatan ya jadinya cuma bisa ngudud ae.
Apa nanti kalau pas di kota aku beli game tetris ya, lumayan bisa ngilangin sepi sambil main tetris yang gak mboseni.
“Mas Burhan, ini sudah sore, saya mau ke rumah sakit. Kalau mas Burhan takut, lebih baik mas Burhan ke desa sebelah sungai saja mas”
“Ke rumah pak Solikin atau cari rumah pak Wito. Inshaallah aman kok kalau ada disana”
“Iya pak. nanti kalau takut saya akan kesana pak….”
“Tapi bukanya mas Burhan itu pemberani, waktu saya tinggal ke kota mas Burhan kan sempat buang air besar di sana sendirian”
“Memang saya berani pak, karena di desa saya juga seperti disini keadaanya, hanya saja yang kemarin malam itu benar-benar nyata pak”
“Nanti akan saya coba disini dulu saja, nanti kalau saya tidak kuat saya kesana saja pak
Keadaan waktu aku berangkat memang masih sore, matahari masih terlihat dari sela sela dedaunan, perkiraan sampai rumah mbak Tina sebelum maghrib.
Disana aku pasti akan mandi dan semoga di kamar mandinya ada jeroan yang digantung hihihih.
Motor melintas hutan dengan perlahan, sore hari yang cerah tanpa ada mendung sama sekali.
Benar perkiraanku, di depan sudah terlihat jalan yang menuju ke arah desa…
Semakin kupacu motor tua hingga ada bau gosong yang tercium hihihihi. Hingga tidak sampai lima menit aku sudah sampai di depan wartel mbak Tina.
*****
“Assalamualaikum… permisi mbak TIna”
“Waalaikum salam.. aduh suamiku datang”
Lagi-lagi apa yang dikenakan mbak Tina ini benar-benar membuat aku ngelek idu.
Sore ini kelihatanya dia belum mandi, karena ada sedikit keringat di lehernya, mungkin dia habis bersih-bersih rumah.
Yang bikin aku ngelek idu itu pakaian yang dipakai…..
Duuuh memang sih hawa sore ni panas, tapi kan ndak juga hanya pakek kaos atau t shirt yang ukuranya besar atau kedombrangan hingga batas paha atas.
Dia gak pakek bawahan..duh gusti cobaan lagi ini heheheh.
“Maaf mas, Tina belum mandi, tadi habis bersih-bersih rumah karena suami Tina kan mau datang heheheh”
__ADS_1
“Tina ndak cium tangan mas Agus dulu ya, soalnya Tina bauk keringat mas hihihihi”
“Iya ndak papa Mbak, wong bauk keringetnya mbak Tina lho tetep wangi kok….. upsss. maaf keceplosan mbak”
“IIhh apa bener mas, apa Tina ndak salah dengar mas?”
“Maaf saya salah ngomong mbak”
“Eh mbak, saya mau telpon ke pak Wandi dulu mbak, karena ada hal yang sangat mendesak sekali”
“Pakek KBU tiga saja mas, memangnya ada apa mas?”
“Mbak Tina dengerin saya telepon saja mbak, agar mbak Tina juga tau apa yang saya bicarakan dengan pak Wandi”
Aku masuk ke KBU yang ditunjuk oleh mbak Tina….
Sementara itu mbak Tina mencoba untuk mendengarkan pembicaraan menggunakan pararel telepon yang ada di meja kasir.
*****
“Assalamualaikum pak Wandi…..”
“Alaikum salam mas…. ada apa mas?”
“Pak Wandi, saya ada beberapa pertanyaan seputar rumah itu yang bapak harus jawab atau kalau tidak bisa jawab, biar saja yang tanya sendiri ke pak Bos besar”
“Ada masalah apa lagi mas?”
“Pertama tentang Solikin dan Burhan pak”
“Nanti juga saya akan tanya tentang rumah itu, dan apa yang pernah terjadi disana pak”
Kemudian kuceritakan semua yang terjadi dengan ku termasuk aku diserang pocong hingga pak Solikin yang sekarang kondisinya sakit.
Tapi aku tidak cerita tentang keadaan Burhan.
Selama aku cerita pak Wandi hanya mendengarkan saja, dia tidak berusaha menyela ceritaku, dia bahkan sama sekali tidak berusaha atau belum menyangkal apa yang aku ceritakan.
Sementara itu kulihat dari kejauhan mbak Tina sedang serius mendengarkan apa yang kujelaskan ke pak Wandi.
“Bagaimana menurut bapak, apakah yang saya ceritakan itu juga terjadi dengan bapak, dan apakah ada suatu rahasia yang saya tidak tau tentang keadaan disini?”
“Mas Agus…. ceritamu itu tidak masuk akal sama sekali, selama saya disana bersama Mamad, tidak pernah ada sesuatu yang terjadi!”
“Dan tentang Solikin…dia itu pekerja ahli dan paling rajin disana”
“Apabila ada sesuatu dengan Solikin berarti semua itu karena ulah dari mas Agus sendiri!”
“Ingat…jangan sampai sesuatu terjadi dengan Solikin atau mas Agus yang harus bertanggung jawab semuanya”
“Dan kalau mas Agus mengancam akan menelpon bos, saya persilahkan!”
“Harap diingat, saya adalah orang kepercayaan bos, dan mas Agus baru kerja disana beberapa hari”
“Dan selama beberapa hari ini selalu saja ada masalah yang terjadi disana hingga produksi palet tersendat”
“Jadi silahkan saja kalau mau melaporkan , karena saya tidak akan tinggal diam!”
Kemudian telepon ditutup dengan kasar oleh pak Wandi
__ADS_1