
Pak Kamid duduk tanpa bergerak sama sekali, mulut dia bergerak komat kamit seperti sedang membaca doa atau sesuatu.
Aku jadi makin heran…kenapa pak Kamid malah seperti ini, kenapa dia malah diam dan tidak menjawab ucapanku.
“Assalamualaikum pak Kamiiiiiid, ini saya Tina dan mas Agus pak”
“Waalaikumsalam… sedang apa kalian berdua datang.. Dunia kalian bukan disini, jangan ganggu kami yang sedang bekerja untuk mengamankan kampung”
“Kembalilah kalian ke dunia kalian saja dan pergilah dengan damai, jangan menakut nakuti penduduk sini mbak Tina”
Pak Kamid bicara dengan intonasi datar dan suara yang pelan, menandakan dia sedang ketakutan ketika berkata seperti itu.
Apa mungkin aku dan mas Agus sekarang bukan dari zaman ketika aku dan mas Agus pergi ke rumah penggergajian, setelah dari rumah pak Pangat?
“Maaf pak Kamidi, bapak ini bicara apa, kok rasanya aneh sekali. Kok kayaknya bapak ini mengusir Tina dan mas Agus…?”
“Pak, saya ini Tina.. rumah Tina disana itu lho pak, kami bukan setan!”
“Kami ini belum mati dan kami datang kesini mau tanya tentang rumah pak Pangat!”
Wajah pak Kamidi yang diterangi lampu yang ber watt kecil itu melongo dan dia berusaha melihat tubuhku dan tubuh mas Agus.
Perlahan-lahan dia berdiri dari duduknya, kemudian pelan-pelan pak Kamid memperhatikan aku dan mas AGus.
Dia melihat ke bagian bawah, dia melihat kaki kami berdua. Aku yakin pak Kamid sedang melihat kakiku dan kaki mas Agus, apakah kaki kami menyentuh tanah atau tidak!.
“Lihat saja tubuh kami pak, lihat kaki Tina dan kaki mas Agus.. apakah kaki kami berdua ini menapak di tanah atau tidak!”
“K…kalian ini apa benar mbak Tina yang tinggal di gang sebelah, dan mas Agus yang tinggal di rumah penggergajian itu?” tanya pak Kamidi
“Ya iya lah pak…masak bapak gak bisa lihat kami berdua sih pak, memangnya ada apa, kok sampai teman bapak itu lari ketakutan?”
“Kalau benar ini kalian berdua… kalian selama hampir satu tahun ini kemana? Dan mayat yang dikubur di kuburan kembar itu siapa?”
“Sik sebentar pak… saya gak paham sama sekali, coba ceritakan yang sebenarnya terjadi apa pak… karena kami tidak kemana mana, pagi tadi kami ada di rumah pak Pangat….”
“Kemudian kami ke rumah penggergajian untuk melihat sesuatu, kemudian malamnya kami balik ke sini lagi pak” aku bingung dengan yang dikatakan pak Kamid ini
“Lho gimana sih kalian berdua ini, pak Pangat sudah beberapa bulan ini pergi dari rumah itu, dia pergi begitu saja tanpa pamit kepada siapapun” kata pak Kamid
“Dan kalian… kalian berdua ini sudah mati …sudah hampir sekitar lima bulan ini kalian berdua dikuburkan di kuburan kembar”
“Pak Pangat bersama saya dan penduduk sini menemukan mayat kalian di pinggir sungai bawah jembatan, menyangkut di bebatuan, tapi wajah kalian hancur”
“Hampir setahun lalu kalian menghilang setelah pergi dari rumah pak Pangat, kemudian pak Pangat dan penduduk sini melakukan pencarian, tapi tidak ketemu…”
“Baru sekitar lima bulan lalu setelah pak Pangat melakukan ritual, mayat kalian ditemukan di bawah jembatan besi dipinggir sungai dengan wajah yang sudah tidak berbentuk”
“Sik sebentar pak, boleh saya bicara pak?” kata mas Agus yang menyela omongan pak kamidi
“Sini, kalian masuk saja ke dalam pos, kita bicara dengan tenang dulu saja, dan itu ada kopi dalam ceret dan gelas, kalian minum kopi dulu saja”
Inggrid dan dua hantu itu masih ada di sebelahku, Inggrid tidak berusaha bicara sepatah katapun tentang kejadian aneh ini.
Apakah aku dan mas Agus mengalami perjalanan waktu ke beberapa tahun ke masa depan?
Pak Kamid sudah mulai bisa menguasai dirinya, kemudian dia menyuruh kami masuk ke dalam pos kamling, dan menawari minum kopi.
Aku dan mas Agus masuk ke dalam pos penjagaan yang tidak terlalu besar, mungkin pos itu berukuran tiga meter kali tiga meter, mungkin cukup untuk empat orang ada di dalam pos ini.
“Saya sudah yakin bahwa kalian ini benar-benar mbak Tina dan Mas Agus, saya juga tidak tau kemana saja kalian selama hampir satu tahun ini” kata pak Kamid
“Sebentar pak Kamid… saya jadi bingung pak, biarkan saya bicara dulu pak” kata mas Agus
“Silahkan mas Agus”
__ADS_1
“Jadi saya dan mbak Tina sudah hampir satu tahun ini menghilang begitu saja ya pak?”
“Betul…. Kalian menghilang setelah pergi dari rumah pak Pangat” jawab pak Kamid
“Lalu pak Pangat melakukan pencarian terhadap kami?”
“Iya mas… dibantu oleh saya dan beberapa penduduk disini, kami melakukan pencarian di hutan dan sekitar rumah penggergajian, tetapi sama sekali tidak ditemukan jejak kalian berdua” jawab pak Kamid
“Lalu waktu dilakukan pencarian itu… apakah tidak menemukan petunjuk sama sekali?” tanya mas Agus
“Tidak ada mas…..jadi gini mas, dengarkan cerita saya dulu saja.”
“Pencarian kalian ini juga dibantu oleh pihak kepolisian dari kota S… Komandan polisi itu mengerahkan beberapa anak buahnya untuk mencari kalian berdua”
“Setelah beberapa hari dilakukan pencarian, ternyata sama sekali tidak ada jejak dari kalian berdua, tapi pak Pangat yakin kalau kalian tidak pergi jauh”
“Setelah seminggu dilakukan pencarian, di sekitar hutan dan desa belakang hutan itu, pak Pangat menemukan dua sepeda motor…”
“Yang satu ada di semak belukar seberang sungai dari rumah penggergajian, yang satunya ada di belakang pohon beringin, dan kedua motor itu milik pak Pangat.”
“Motor yang ada di belakang pohon beringin itu adalah motor yang kalian pinjam ketika pergi dari rumah pak Pangat”...
“Sedangkan yang ada di semak belukar itu adalah motor yang dipinjam oleh orang yang kata pak Pangat adalah pasien yang sedang ditangani”
“Dari posisi dua motor yang ditemukan, khususnya motor yang kalian pinjam dan yang ditemukan di belakang pohon beringin yang disamarkan oleh sulur-sulur pohon, pak Pangat dan pihak kepolisian berkesimpulan bahwa motor ini disembunyikan”
“Dari posisi motor yang kalian sembunyikan itu, diambil kesimpulan bahwa kalian dalam bahaya, dan saat itu bisa saja kalian sedang sembunyi di sekitar hutan”
“Pihak kepolisian waktu itu ingin mengambil dan mengamankan motor itu, tetapi dilarang pak Pangat. Kata pak Pangat, biarkan saja disana motor itu, tanpa ada alasan yang jelas dari pak Pangat”
Pak Kamid berhenti bercerita karena dia harus keluar dari pos sebentar untuk melihat sekeliling area yang dia jaga.
Hanya sebentar kemudian dia masuk ke dalam pos lagi.
“Tetapi berbeda dengan pak Pangat, dia masih berusaha mencari kalian berdua, karena dia merasa kalian masih ada di sekitar sini”
“Hingga beberapa bulan kemudian pak Pangat menemukan dua jasad di bawah jembatan besi… jasad yang sudah membusuk dengan wajah yang tidak bisa dikenali”
“Tetapi pak Pangat yakin bahwa jasad itu adalah mayat kalian berdua, meskipun penduduk disini tidak yakin dengan dua mayat itu”
“Kemudian untuk meyakinkan penduduk disini, pak Pangat memanggil seorang dokter yang berasal dari rumah sakit kota”
“Dokternya mungkin seumuran dengan pak pangat, pokoknya tua lah dokter itu”
“Dua mayat yang ada di bawah jembatan itu kemudian dengan menggunakan ambulan dibawa ke rumah sakit, saya gak tau apa yang dilakukan di rumah sakit dengan dua mayat itu”
“Urusan dengan keluarga mas Agus dan mbak Tina pak Pangat sendiri yang akan melakukanya.. Gitu kata pak Pangat ketika ditanya kepala desa tentang masalah pemberitahuan kepada pihak keluarga sebelum kedua mayat itu dikuburkan”
“Jadi kedua mayat itu sempat ada dua hari dua malam di kamar jenazah rumah sakit, untuk menunggu informasi dari pak Pangat tentang keluarga mas Agus dan keluarga mbak Tina”
“Saya tidak tau apa yang dilakukan pak Pangat, tetapi yang jelas pada hari ketiga pak Pangat mendatangi kepala desa, dan memberitahukan bahwa keluarga dari mas Agus dan mbak Tina setuju dengan memakamkan kedua mayat ini di pemakaman umum desa”
“Tetapi yang aneh, tidak ada satupun keluarga dari kalian berdua yang datang, selain dua surat kuasa yang dibawa pak Pangat untuk menguburkan dua jasad kalian”
“Yang pasti besok harinya mayat itu sudah dalam keadaan terpocong, dan segera dikuburkan ke kuburan kembar yang ada disana itu”
“Eh maaf pak kamid.. Saya mau potong dulu ceritanya… saya mau tanya tentang dokter yang bersama pak Pangat, apakah namanya dokter Joko?” tanya mas Agus
“Eh… benar namanya dokter Joko, saya dengar pak Pangat memanggil dokter itu dengan nama Jok.. atau Joko” jawab pak Kamid
“Ya sudah pak…lanjutkan lagi ceritanya pak” kata mas Agus
“Jadi setelah dua mayat itu dikuburkan, maka misteri hilangnya kalian berdua sudah selesai”
“Tapi sekitar seminggu setelah penguburan itu, pak Pangat pergi meninggalkan rumah, tidak ada yang tau kapan pak Pangat perginya”
__ADS_1
“Perkiraan kami sekitar seminggu setelah menguburkan dua mayat kalian, kemudian pak Pangat pergi, rumah dia kosong.. Hingga hari ini rumah pak Pangat tetap kosong”
“Tidak ada yang tau dia bersama istrinya pergi ke mana”
“Awalnya warga beranggapan mungkin pak Pangat dan Istrinya mendapat tugas panggilan penyembuhan di sebuah kota, hingga mereka harus pergi dengan mendadak”
“Tapi setelah beberapa bulan pak Pangat tidak balik kesini….Misteri hilangnya pak Pangat sudah dilupakan warga sini, hingga kalian tiba-tiba datang kesini”
Ada yang aneh dengan cerita pak Kamid… kenapa tiba-tiba ada dokter Joko?
Bukanya dokter Joko kemungkinan besar sedang bersama Paijo yang saat itu sedang melarikan diri dari pengejaran pak Burhan dan anak buahnya?
Dan kenapa kok sampai bisa pak Pangat tiba-tiba menemukan dua jasad di dasar sungai, dan kemudian dibawa ke rumah sakit dimana dokter Joko bekerja?
Dan… bagaimana bisa pak Pangat mendapatkan dua mayat dengan wajah rusak yang diakui dua mayat itu adalah mayatku dan mayat mas Agus.
Kemudian setelah menguburkan jasad palsu, pak Pangat menghilang begitu saja dari desa ini.
“Sekarang kalian jelaskan kepada saya, selama ini kalian ada di mana, dan apa alasan kalian pergi tanpa pamit kepada pak Pangat, hingga merepotkan penduduk desa ini dan pak polisi juga?” tanya pak Kamid
“Baiklah pak… kami memang pergi setelah menyembunyikan motor, karena saat itu ada orang jahat yang berusaha mengejar kami berdua pak”
“Kami menyusuri sisi pinggir sungai untuk mendapatkan tempat sembunyi yang paling aman, dan selama ini saya dan Mbak Tina bersembunyi di sekitar bantaran sungai yang menjauhi rumah penggergajian.. Pokoknya ke arah Timur lah pak”
“Saya yakin tidak ada orang yang mencari kami di bantaran sungai ke arah timur kan, kami disana sampai kami rasa keadaan menjadi aman”
Mas Agus mengarang cerita yang tidak masuk akal, dan semoga pak Kamid bisa mempercayai cerita yang dikarang mas Agus itu.
“Kalau sampai pak Pangat menemukan dua mayat di bawah jembatan besi… saya yakin itu bukan mayat kami berdua pak”
“Kami berdua muncul malam ini karena kami rasa keadaan sudah aman , dan sudah waktunya bagi kami untuk muncul dan mencari pak Pangat untuk meminta petunjuk berikutnya” kata mas Agus
“Siapa yang sedang mencari kalian hingga kalian berdua harus sembunyi sebegini lamanya?” Tanya pak Kamid
“Saya tidak tau dan belum tau pak, yang pasti saya akan datangi kantor polisi dulu untuk melaporkan ini pak”
“Hmmm cerita kalian tidak masuk akal, tetapi kalau memang seperti itu yang terjadi… apakah ada bukti nyata bahwa kalian memang dari sekitaran rumah penggergajian?” tanya pak Kamid
“Mudah saja pak, saya bawa motor yang kami sembunyikan di balik pohon beringin itu… coba bapak lihat saja bagaimana kondisi motor itu pak”
“Yang pasti kedua rodanya agak sedikit kempes dan mesinnya kayaknya perlu perbaikan juga….meskipun gitu, motor itu bisa mengantar kami sampai disini”
“Iya.. saya percaya mas… sekarang kalian berdua mau ke mana?” tanya pak Kamid
“Mungkin kami akan ke rumah mbak Tina dulu saja pak, baru keesokan harinya kami akan ke kantor polisi yang ada di kota S”
“Saya dan mbak Tina akan istirahat dulu di rumah, baru besok malam nya kami pergi ke kota S untuk bertemu dengan petugas kepolisian disana”
“Eh pak Kamid….saya minta tolong, pertemuan pak Kamid dengan kami berdua tolong dirahasiakan sebelum kami mendapat jawaban sesuatu dari polisi tentang sesuatu yang akan kami tanyakan nanti”
“Saya dan mbak Tina tidak ingin desa ini menjadi gempar pak, biarkan penduduk desa ini mengira kami berdua sudah mati”
“Desa ini sudah tenang, jangan sampai ribut gara-gara ada penampakan kami berdua”
“Hanya bapak Kamid saja yang tau bahwa kami berdua masih hidup”
“Iya mas… akan saya rahasiakan, dan untuk teman saya yang tadi lari.. Akan saya katakan bahwa kalian berdua ini adalah hantu” kata pak Kamid
Inggrid dari tadi hanya diam saja, sepertinya dia tau sesuatu tentang lubang yang ada di sebelah makamnya, dan apa fungsi lubang itu juga.
Tapi untuk saat ini aku dan mas Agus harus melaporkan apa saja yang kami lakukan dan kenapa sampai kami katanya hilang dari desa ini dalam jangka waktu hampir satu tahun.
Teka teki ini masih panjang, tetapi aku rasa masalah Paijo, Pangat, Joko, dan lainya itu bukan urusan kami. Itu sudah menjadi tanggung jawab pihak kepolisian.
Yang harus kami selesaikan adalah urusan Inggrid saja.
__ADS_1