RUMAH PENGGERGAJIAN

RUMAH PENGGERGAJIAN
304. KENAPA!!!!


__ADS_3

Aku berjalan bersama Gusta menuju ke rumah….. tetapi ada yang berbeda, perlahan-lahan aku merasa ada yang aneh, jalan yang menuju ke rumah berbeda..bukan jalan yang tadi aku lewati bersama Gusta.


Gusta yang aku gandeng pun perlahan lahan hanya menjadi bayangan, dan pada akhirnya tidak ada Gusta di sebelahku, tidak ada rumah-rumah dengan arsitektur yang khas, tidak ada bau dupa di sekitar jalan yang aku lalui


Perlahan-lahan semua menjadi berubah, semua menjadi berubah menjadi gelap, aku berjalan sendirian di tengah hutan.


Eh tapi ini bukan berjalan, karena kedua kakiku sama sekali tidak menyentuh tanah, kini aku berjalan di atas tanah.


Salah, bukan berjalan tapi melayang, karena kedua kakiku sama sekali tidak bergerak.


Badanku sangat ringan seperti balon gas yang melayang di udara, dan aku merasa tidak memiliki beban sama sekali


Tubuhku melayang menuju ke suatu tempat, sepertinya ada yang mengarahkan aku untuk ke sebuah tempat.


Oh ternyata aku menuju ke sebuah rumah, tapi aku tau rumah ini, ini kan rumahku yang ada di tengah hutan, tapi kenapa semua berbeda, tidak ada lampu jalan, bahkan suara proyek sama sekali tidak terdengar.


Rumah yang aku datangi dari jauh ini benar-benar rumahku yang ada di tengah hutan, rumah yang aku huni bersama istriku dan Gustin.


Aku berhenti melayang tepat di halaman rumah, sebuah halaman rumah yang kotor dan tidak terawat, kuperhatikan sejenak halaman rumah ini, kemudian aku melayang lagi menembus dinding rumah….


Kini aku ada di ruang tamu rumah…


Ruang tamu ini berbeda dengan yang aku tau….sebuah kursi sofa yang biasanya aku gunakan untuk tidur masih ada di posisinya, hanya yang saat ini agak terlihat kotor dan kusam.


Rumah ini sangat sepi, sepertinya tidak ada aktifitas di dalamnya, eh kemana Tina, dan Gustin?


Tidak lama kemudian aku mendengar suara sepeda motor berhenti di depan rumah, ingin rasanya aku segera pergi dari sini, tetapi tubuhku tidak bisa aku gerakan, aku stuck di dalam rumah dalam keadaan melayang!


Ada suara pintu pagar yang dibuka, sejenak kemudian aku mendengar suara anak kunci yang membuka pintu rumah, dan pintu rumah dibuka dengan suara derit engsel pintu yang lumayan keras.


Istriku masuk ke dalam rumah, kemudian diikuti oleh anak kecil perempuan dari belakang. Pintu rumah mereka tutup dan mereka kunci dari dalam.


Bisa jadi anak perempuan itu adalah Gustin…


Perempuan yang mungkin adalah Gustin yang mungkin saat ini berumur tujuh tahun itu duduk di sofa di sebelah istriku yang juga duduk dengan sambil melamun.


Istriku yang nampak lebih tua dari pada umurnya itu duduk sambil merangkul dan menciumi anak perempuan  yang ada di sebelahnya…

__ADS_1


“Yang sabar ya nak… semoga lamaran pekerjaan ibu tadi diterima sebagai pelayan di rumah makan, jadi kita tidak kelaparan seperti ini nak” kata istriku sambil terus menggandeng dan menciumi Gustin


“Semenjak kematian bapakmu beberapa tahun lalu yang bersamaan dengan kematan Gusta hidup kita menjadi berantakan nak, semoga hidup kita bisa berubah apabila ibu bisa kerja sebagai pelayan nak”


Tidak ada jawaban dari anak kecil yang ada di sampingnya, anak itu hanya memainkan ujung rok yang dia pakai, dia sama sekali tidak melihat ibunya yang sedang bicara dengan dirinya.


Ternyata aku sudah mati, aku sudah mati bersama Gusta anak laki-lakiku. Sebenarnya apa yang terjadi dengan kami hingga aku mati..


Ketika aku sedang memikirkan kenapa aku mati, tiba-tiba terdengar suara mobil yang berhenti tepat di depan rumah..


Suara mobil siapa itu yang datang kesini..


Suara pintu mobil dibuka dan kemudian ditutup lagi, kemudian aku mendengar suara orang yang membuka pintu pagar dan kemudian menutupnya lagi.


Siapa orang itu, dia begitu santainya membuka pintu pagar dan menutupnya lagi, kalau dia tamu seharusnya di depan pintu pagar dia sudah teriak permisi atau ucapkan salam, tetapi yang ini tidak ada ucapan permisi atau ucapan salam sama sekali.


Seseorang yang ada di luar itu kemudian mengetuk pintu rumah, istriku yang kayaknya memang sudah tau siapa yang datang tidak perlu berteriak siapa di luar, dia langsung berdiri kemudian membukakan pintu untuk tamu yang baru saja datang.


“Jay… silahkan masuk, maaf saya baru saja ke makam suami dan anak saya”


“Hmm”  kata orang yang ada di depan pintu rumah


Anehnya tanpa di persilahkan duduk, pak Jay sudah duduk di sofa yang menghadap ke arah belakang.


Dia duduk di sebelah  Gustin yang masih memainkan ujung roknya, anak itu seolah tidak peduli dengan siapa yang datang atau apapun, dia tetap dengan kegiatanya, yaitu memainkan ujung roknya saja.


“Gimana Gustin, apa sudah dibawa ke ahli jiwa?” tanya pak Jay


Apa…..! Gusti sakit Jiwa., apa yang sedang terjadi dengan Gustin anakku, kenapa dia dibawa ke ahli jiwa, apakah dia menderita penyakit kejiwaan!


“Belum… saya belum ada dana untuk mengobati anak saya” kata istriku yang kemudian duduk di sebelah pak Jay


“Hmm ya sudahlah, nanti aku kasih uang agar anakmu bisa dibawa ke ahli jiwa”


“Yuk Tina, aku kangen sudah beberapa hari tidak kesini hehehe” kata pak Jay yang kemudian merangkul dan menciumi istriku.


“Ah jangan disini Jay, kan ada Gustin”bisik istriku

__ADS_1


“Hahaha dia kan sakit jiwa, mana paham dengan ginian hehehe” jawab pak Jay yang semakin kurang ajar kata-katanya


“Kita ke kamar aja Jay, tapi bentar aku kunci pintu rumah dulu”


Apa…!!!!!, Tina ada main dengan Jay… biadab Jay!


Mereka berdua masuk ke dalam kamarku, mereka berdua membiarkan Gustin yang masih duduk di sofa sambil tetap memainkan ujung roknya dengan tatapan kosong,


Mereka membiarkan seorang anak perempuan yang sakit di ruang tamu sendirian, sementara itu mereka berdua saling melepas nafsu di dalam kamarku!


Apakah aku harus masuk dan melihat mereka berdua?...


Tidak…!


Aku tetap disini saja dan menunggui anakku Gustin yang tidak henti-hentinya memainkan ujung roknya dengan tatapan mata yang kosong.


Aku duduk di sebelahnya, ingin rasanya aku memeluk dan merangkul Gustin, tetapi tiap aku rangkulkan tanganku ke tubuh dia, yang ada hanya tanganku menembus tubuh Gustin saja.


Rasanya ingin menangis melihat keadaan keluargaku yang berantakan!


INGIN KUTERIAK….. TEMP*****K!


Tetapi aku tidak bisa berbuat apa-apa selain hanya melihat saja!


Aku tetap duduk di samping anakku, meskipun aku tidak bisa berinteraksi dengan anakku, hanya ini yang bisa aku perbuat sebagai makhluk tak kasat mata!


“Bapak….” satu patah kata yang terucap dari bibir Gustin, yang sedari tadi hanya memainkan roknya


Aku kaget, aku menoleh dan kutatap erat wajah Gustin yang tanpa expresi sama sekali


“Iya nak… ini bapak… iya naaaak…...”


Sudah … tidak ada sepatah kata lagi yang dia ucapkan, hanya sebuah kata bapak saja yang dia ucapkan dengan wajah yang tanpa ekspresi sama sekali.


Di saat anakku mengalami gangguan jiwa yang memerlukan kasih sayang lebih dari orang tuanya, tetapi yang terjadi orang tua satu-satunya yang  ada di sampingnya ternyata main Gila dengan mantan bos ku!


Di saat anakku yang mengalami gangguan jiwa, dia masih ingat dengan bapaknya, dia menyebut kata bapak pasti dengan sebuah alasan.

__ADS_1


Dia menyebut kata bapak yang sudah mati pasti ada alasannya… apakah dia sedang memerlukan pertolongan karena ibunya yang semakin tidak karuan.


__ADS_2