
Sriatun datang tergopoh gopoh dengan seseorang yang tidak kalah tuanya… yang pernah aku temui ketika aku ada di desa yang hilang, yang beberapa kali memberikan wejangan..
Dia adalah yang aku panggil dengan sebutan mbah!
Kalau dia mbah… aku dan mas Agus pasti usianya lebih tua dari pada Sutinah..
“Pak… buuuk… bertahun tahun kalian pergi meninggalkan aku…..!” teriak Sutinah
“Ayo sekarang pulang…” ajak Sutinah dengan wajah yang bisa dibilang datar untuk seorang anak yang baru saja bertemu dengan bapak ibunya setelah katanya bertahun tahun hilang
“Mbak Sri… matur nuwun sudah menampung orang tua saya… sekarang saya pamit pulang dulu bersama orang tua saya”
“Eh mbak Sutinah… itu pak Bawono yang sudah bawa mbah Sastro kesini… sampeyan harusnya terimakasih kepada dia mbak”
Heheheh kami berjalan pelan ke rumah sebelah… rumah yang dulu pernah aku datangi bersama mas Agus ketika aku dan mas Agus sembunyi dari kejaran orang suruhan Solikin.
Ruang tamu yang tetap sama seperti ketika aku datang kesini, semua sama tidak ada yang berubah kecuali aku yang menjadi lebih tua dari pada mbah Sutinah.
Kami berempat duduk di kursi tua yang ada di ruang tamu rumah sederhana ini….
Tidak ada pembicaraan, semua terdiam termasuk mbah Sutinah yang masih saja melihat aku dan mas Agus… dia sepertinya sedang mempelajari siapa aku dan mas Agus sebenarnya.
Tidak ada acara temu kangen seperti anak yang sudah bertahun tahun tidak bertemu dengan orang tuanya…
“Hehehe kalian berdua ada di dalam tubuh mbah Sastro?”
“Inggih mbah… ternyata mbah ini bernama mbah Sutinah ya” aku mulai berani berkata sejujurnya
“Mbah Sastro adalah mbahmu juga nduk Tina…kedua orang tua saya yang memang tidak ada di desa ini, tetapi memang ada di desa yang jauh dari sini”
“Awalnya memang mbah Sastro ini hilang…. Orang tua saya hilang ketika masuk ke benteng China, tetapi mereka berdua berhasil keluar setelah ada yang membantu mereka di dalam sana…”
“Saya sebagai anaknya selalu menunggu di seberang pintu gerbang, karena saya yakin mbah Sastro akan keluar dengan selamat, dan ternyata benar, tetapi setelah keluar dari sana, orang tua saya tidak mau tinggal di desa ini”
“Akhirnya mereka tinggal di desa yang jauh dari sini… dan ternyata sekarang nduk TIna dan mas Agus ada di dalam tubuh orang tua saya”
“Kalau pak Bawono ini apakah juga bukan dari alam ini?”
“Iya mbah… dia ini adalah teman kami yang memasukan kami ke alam ini, dengan tujuan untuk….”
“Sudah nduk.. Gak usah dijelaskan tujuan kalian ke sini, karena yang pasti tujuan kalian kesini untuk melakukan sesuatu kepada salah satu penduduk yang ada di benteng China kan?” kata mbah Sutinah
“Jadi gini nduk… saya akan jelaskan sedikit apa yang ada di dalam benteng itu….”
“Jadi awalnya mbah Sastro ini penasaran dengan apa yang ada di dalam sana, kenapa kok gak ada yang boleh bermalam disana, dan kenapa mereka yang disana hidupnya makmur namun sederhana”
“Beda dengan perkampungan yang ada di luar benteng…. Perkampungan tuan tanah yang mempunya lahan pertanian dan perkebunan yang luas, tetapi hidup mereka pas pasan”
“Mbah Sastro penasaran…dan mulai berani mendatangi mereka yang ada di dalam benteng itu….”
“Sebagai anak tentu saja saya tidak akan tinggal diam, dan tentu saja melarang kedua orang tua saya yang mau ke sana, tetapi asal kamu tau nduk… keturunan kita mempunyai kelebihan dibandingkan penduduk lain”
“Kehalian yang bisa dikatakan kesaktian itu yang menyebabkan mbah Sastro ini nekat untuk pergi ke sana…. Dan ternyata kedua orang tua saya tidak balik dari sana hingga beberapa hari lamanya”
“Saya yakin dengan apa yang dimiliki mbah Sastro ini akan membantu mereka keluar dari sana, dan ternyata apa yang mbahmu perkirakan ini benar… mbah Sastro bisa keluar dari sana dengan selamat…”
“Tentu saja ada beberapa penduduk sana yang tidak terima kenapa ada penyusup yang bisa selamat dari sana…mereka tentu saja mencari keberadaan mbah Sastro, sayangnya mereka tidak menemukannya….”
“Hanya karena kesaktian dari mbah Sastro mereka tidak bisa menemukan dimana jejak mbah Sastro”
“Mbah Sastro pernah bilang kepada saya… bahwa keturunan kita yang akan menyelesaikan masalah yang dimulai oleh mbah Sastro”
“Dan ternyata cucuku ini juga sedang terlibat masalah dengan penduduk disana ya hihihihi”
“Mbahmu iki sudah bisa menebak, bakal ada keturunan dari mbah Sastro yang akan meneruskan masalah ini”
__ADS_1
“Tapi mbah.. Bagaimana bisa TIna dan mas Agus ada di dalam tubuh mbah Sastro?”
“Untuk masalah kui…. Koe dan mas Agus ora usah mempertanyakan, semua terjadi bukan karena ketidak sengajaan…” jawab mbah Sutinah
“Kalian bertiga ada disini juga bukan karena ketidak sengajaan…kabeh kui wis diatur ( semua sudah diatur)”
“Pak Pangat membawa kalian ke sini juga sudah diatur.. Jadi kalian bertiga ada disini karena memang sudah ada yang mengatur hehehe”
“Berarti ketika pertama kali mbah Sutinah ada di dalam mimpi Tina.. dan bersama dengan leluhur TIna yang lainnya itu memang sudah diatur agar Tina bisa ke sini dan melakukan sesuatu untuk mbah-mbahnya Tina?”
“Iya nduk… dan kebetulan kamu juga sudah mulai berkawan dengan yang bernama siapa itu… gadis china yang cantik itu”
“Inggrid mbah” sahut mas Agus
“Ya benar.. Namanya Inggrid… dia akan ada disana… tapi tentu saja kalian tidak akan menemuinya seperti wujud yang kalian temui di alam kalian” jelas mbah Sutinah
“Lalu bagaimana dengan makam Inggrid dan harta karun yang ada di makam Inggrid itu mbah?”
“Hahahah itu hanya salah satu cara setan untuk mendapatkan arwah dari orang-orang yang terjebak disana…”
“Tentang Harta… sebenarnya tidak ada harta, harta yang mereka miliki itu juga hasil pencurian dari harta yang ada di alam manusia, harta yang sudah lama dilupakan dan tidak ada yang merawat, dan akhirnya harta itu disimpan oleh Inggrid”
“Tetapi yang pasti harta itu tidak ada di makam itu, makam itu hanya cara agar manusia tertarik dan masuk ke perangkapnya” kata mbah Sutinah
“Mbah.. kalau Tina dan mas Agus ke sana lagi dengan wujud seperti ini, apa mereka tidak tau bahwa dulu mbah Sastro pernah ke sana dan membuat masalah?”
“Tentu saja mereka akan ingat… apabila mereka yang ada disana mengetahui mbah sastro ada disana….”
“Sekarang kalian tidak usah banyak tanya dulu…nanti kalian akan tau apa sebenarnya yang sudah pernah terjadi antara mbah Sastro dengan yang ada di dalam benteng itu”
“Harus diingat nduk, mas Agus, pak Pangat, kalian bertiga bukan ada di alam kalian, disini apapun bisa terjadi dan siapapun bisa berubah wujud dengan cepat…”
“Alam ini bukan alam manusia, di alam ghaib semua akan terjadi dengan cepat, dan kalian bertiga harus waspada kepada tiap orang yang kalian temui”
“Mumpung hari ini masih pagi, kalian masuk saja ke sana, tetapi jangan bebarengan.. Karena tugas cucuku TIna dan mas Agus tentu saja berbeda dengan pak Pangat”
*****
Di dalam mobil menuju ke benteng atau area kawasan yang mirip benteng…
Tidak ada yang kami bicarakan, aku sendiri sedang malas untuk bicara, karena apa yang barusan aku ketahui dari mbah Sutinah merupakan sesuatu yang sudah diatur sebelumnya.
Dan masalah yang terjadi antara aku, mas Agus dan Inggrid ini adalah buntut dari masalah pada masa lalu. Dan kami yang ternyata harus menyelesaikanya.
“Kita sudah dekat… kemungkinan besar disini adalah letak rumah penggergajian” kata pak Pangat
“Iya pak… tapi bagaimana ya pak… saya masih bingung dengan apa yang dikatakan oleh mbah leluhurnya mbak TIna” kata mas Agus
“Hehehe kita ini kan juga leluhur dari Tina mas…. Ya sudah mas… semua kan sudah terjadi, jadi kita harus menyelesaikan apa yang sedang berlangsung mas”
“Ternyata tentang info harta yang sudah beredar luas di pemburu harta itu hanya bohong, dan itu hanya tipu daya Inggrid untuk mendapatkan nyawa manusia” gumam pak Pangat
“Lha iya itu pak… ya sudah pak… kita sudah ada disini dan harus menyelesaikan apa yang sudah terjadi pak” jawab mas Agus
“Gerbang sudah dekat…. Kalian bersiap siap saja, akan saya turunkan kalian agak jauh dari gerbang, agar penjaga itu tidak tau kalau kalian datang bersama saya”
*****
Akhirnya aku dan mas Agus berjalan kaki menyeberang sungai lagi untuk masuk ke wilayah yang menyerupai benteng itu.
Wilayah yang tertutup untuk umum apabila malam hari, dan sebuah area perkampungan yang penduduknya terlihat aman damai dan makmur.
“Permisi pak penjaga…..” sapa mas Agus pada penjaga gerbang yang sama dengan kemarin
“Wah pasangan mbah-mbah…. Datang ke sini lagi rupanya… monggo masuk saja mbah, tapi nanti di dalam jangan pingsan lagi lho mbah”
__ADS_1
“Iya nak… tapi saya kepingin diantar nak Rita lagi, bisa minta tolong dipanggilkan nak Rita?” tanya mas Agus
“Waduh maaf mbah… neng Rita sedang pergi tadi pagi…. Eh mungkin dengan yang lainya mbah?”
“Tidak usah nak… kami akan masuk dan jalan-jalan berdua saja nak”
Kebetulan tidak ada Rita.. jadi kami bisa masuk ke dalam dan berjalan jalan sesuka hati kami dan sesuai dengan kemana tubuh ini akan membawa kami, sesuai dengan apa yang dikatakan mbah Sutinah.
Aku berusaha melemaskan otot-otot yang menyelimuti tubuh tua renta mbah Sastro…..
Kemudian secara perlahan lahan seperti ada sesuatu yang mengarahkan agar aku jalan….
Kaki ini seperti mengajak aku untuk berjalan menuju ke suatu tempat…. Ayunan lembut yang aku rasakan dari kaki ini menyuruhku untuk melangkah.
Kaki ini tidak bergerak menuju ke tengah taman, melainkan menyuruhku bergerak mengelilingi taman dahulu.. Satu kali mengelilingi taman….
Kemudian ayunan yang lembut ini memaksa aku untuk menuju ke salah satu ruas jalan yang tidak menuju ke arah istana….
Di sebuah ruas jalan yang menyerong dan menjauh dari posisi istana inilah ayunan ghaib kaki ini menuju…. Aku tidak bisa menolak ayunan lembut ghaib in
“Mbak Tina… kita akan ke arah mana ini?”
“Tidak tau mas… Tina hanya mengikuti kemana ayunan lembut yang mengarahkan kaki ini… Tina gak tau akan menuju ke mana mas… pokoknya ikuti saja”
“Kita kayaknya mengarah ke pemukiman mbak… coba lihat di depan sana, sudah nampak rumah-rumah bergaya arsitektur china yang berjajar”
“Iya mas… apakah kita akan bertamu ke salah satu rumah penduduk yang ada disini? Apakah mbah Sastro pernah ada disini sebelumnya mas?”
“Nah itu yang akan kita tahu nanti mbak… pokoknya jangan sampai kita ketahuan penjaga disini bahwa kita sudah sejauh ini melangkah ke pemukiman penduduk”
Ternyata memang benar perkiraanku dan mas Agus… kami sekarang ada di sebuah pemukiman yang rumahnya cukup indah dilihat… istilahnya cukup mewah…
Apakah kami akan ke rumah salah satu penghuni disini, atau mungkin saja salah satu penghuni disini adalah teman dari mbah Sastro…?
Kalau benar, berarti hebat juga mbah Sastro punya teman di rumah-rumah yang indah ini…
Tapi ternyata perkiraanku salah… kaki ini terus melangkah dan melewati beberapa rumah yang cukup mewah disini, kaki ini terus melangkah menuju ke….
“Mas… Tina rasa kita ke arah sana deh mas….”
“Iya mbak… yang ada disana itu kan pemukiman kumuh.. Apa memang langkah kaki ini mengajak kita ke sana mbak?”
“Sepertinya begitu mas.. Ayunan lembut kaki ini kayaknya memang menuju ke sana… kita ke area pemukiman kumuh yang ada di daerah sini mas”
“Itu mbak.. Kita sudah hampir sampai di ujung area ini.. Itu disana sudah terlihat tembok tinggi yang mirip dengan tembok benteng…”
“Kayaknya sih pemukiman kumuh ini tempatnya di paling ujung dari benteng ini mas”
Kaki ini terus berjalan, sebenarnya aku sudah cukup lelah juga sudah melewati beberapa gang dan satu perempatan, tapi langkah kaki ini tidak mau berhenti begitu saja, langkah kaki ini terus menuntunku untuk menuju ke salah satu dari rumah kumuh yang ada disini
Hingga tibalah di salah satu rumah yang tidak bisa dibilang sebuah rumah, karena terbuat dari potongan-potongan papan yang disusun hingga menyerupai sebuah gubuk.
Ayunan langkah kaki ini berhenti disini.
“Mas…kaki ini berhenti di depan gubuk ini… apakah tujuan kita ini ke sini mas?”
“Biar saya saja yang memanggil orang pemilik rumah ini mbak”
“Jangan mas.. Biar Tina saja mas… kaki ini sekarang menyuruh Tina untuk mendekati pintu gubuk itu”
Ayunan lembut dari sesuatu yang ghaib ini menyuruhku mendekati pintu rumah atau gubuk yang tertutup rapat.
Kemudian ketika sudah ada di depan pintu gubuk…kaki ini berhenti melangkah…
Ketika aku sudah ada di depan pintu gubuk, tiba-tiba ada sebuah energi yang memasuki tangan kananku.. Energi yang sama dengan yang memasuki kaki untuk melangkah.
__ADS_1
Suatu energi itu menuntun tanganku untuk mengetuk pintu yang ada di depanku, dan benar juga ketika kuikuti energi yang ada di tangan ku ini, tiba-tiba aku mengetuk pintu gubuk ini.
“Permisiiiiii….”