
“Batita umur segini itu sedang giat-giatnya untuk beraktivitas mas, meskipun dalam beraktifitas banyak keterbatasan. Tapi beda dengan dik Gustin, dia semakin hari semakin malas… seperti orang yang capek setelah melakukan kegiatan yang menguras keringat”
“Dia lebih banyak tidur, diam istirahat saja mas”
“Kita lihat dulu beberapa hari ini yank, nanti kita evaluasi apakah anak kita ini tetap seperti ini tidak ada kemajuan sama sekali, atau ada perubahan”
“Nanti setelah kita evaluasi, lebih baik kamu temuin leluhurmu lagi, aku akan tanya juga ke pak Diran tentang perkembangan si Gusta juga”
Aku tidak dan belum berani bicara kepada Tina tentang Gusta, meskipun apa yang dikatakan pak Diran tentang kelakuan Gusta itu sama dengan yang dilakukan Gustin disini.
Kesimpulan sementaraku dengan keterbatasan penglihatanku, Gusta dan Gustin saat ini masih saling berhubungan, meskipun dengan cara yang aneh.
Dan satu lagi, siapa sosok yang sempat bersuara ngorok di dalam kamarku, dan sosok bayangan yang ada di depan kamar Gusta… dan kenapa penjaga rumah ini tidak melakukan tindakan terhadap yang datang kesini itu?
Tapi sebenarnya mudah untuk menerka…. Intinya mungkin sosok bersuara ngorok itu agar istriku tau kalau akui selalu ada di sampingnya, agar tidak keluar dari kamar dan menuju ke kamar Gusta.
Sementara itu mungkin raga tak kasat mata Gusta dan Gustin sedang bermain, dengan perantara atau yang mengantar kedua anak kembarku itu adalah sosok bayangan yang ada di depan kamar Gusti itu.
Malam ini aku harus bertemu dengan pak Diran… aku akan diskusikan apa yang akan dan harus aku lakukan.
*****
“Tapi selama tidak ada kejadian di proyek, saya rasa biarkan saja pak Agus, biarkan saja mereka bermain dengan catatan yang bermain mungkin adalah raga yang tidak kasat mata”
Aku bertemu dengan pak Diran yang saat ini sedang shift malam, kebetulan setelah maghrib aku sempatkan diri untuk bertemu dengan pak Diran meskipun hanya sebentar saja.
“Jadi dibiarkan saja pak Diran?”
“Iya pak Agus, biarkan saja, pak Agus harus ingat kedua anak kembar pak Agus itu bukan anak biasa. Mereka adalah penjaga dan yang dijaga”
“Yang dijaga dan yang menjaga pada intinya kan harus saling berdekatan, hanya saja kalau mereka berdekatan maka akibatnya sangat tidak baik baik proyek dan daerah disini kan”
“Iya benar pak Diran hingga saat ini tidak ada yang terjadi disini, jadi saya harus diam saja begitu pak Diran?”
“Ya pak Agus, dan terus perhatikan anak pak Agus, eh kalau seandainya dipindah tidur bersama kalian berdua gimana pak Agus?”
“Kalau di rumah pak Diran apakah Gusta tidur bersama pak Agus dan istri?”
“Iya bersama kami, dan alhamdulillah tidak ada yang terjadi pada istri saya dan saya pak, saya kan sering jaga malan disini, sehingga yang ada di rumah kan hanya istri saya saja”
“Hanya saja ketika istri saya sedang bangun tengah malam dia mendengar seperti yang didengar pak Agus.. hanya saja dia tidak bisa melihat apa yang sedang terjadi di rumah saya itu pak” kata pak Diran
“Tetapi apabila saya tidak kena shift jaga malam, saya selalu perhatikan Gusta ketika tengah malam, dan memang benar hehehe mereka berdua memang lucu sekali….
“Ups maaf pak kelepasan. Seharusnya saya tidak mengatakan hal ini kepada pak agus”
__ADS_1
“Nggak papa pak Diran, cukup saya saja yang tau, sedangkan istri saya jangan sampai tau pak”
“Sedangkan suara ngorok yang ada di dalam kamar saya itu siapa ya pak Diran, apakah itu juga ada hubunganya dengan Gustin dan Gusta?
“Itu yang saya tidak tau pak Agus, karena istri saya tidak pernah cerita tentang sura ngorok itu, tetapi selama penjaga rumah pak Agus tidak melakukan apapun, berarti suara ngorok itu berenergi positif dan bisa jadi penjaga anak pak Agus”
*****
Jam sembilan malam, seperti biasa istriku sudah tidur di sebelahku, sedangkan aku sedang membaca koran beberapa hari lalu, koran lama yang dibawa pak Diran ketika dia mampir ke rumah.
Aku tidak bisa tidur, karena otakku sedang membayangkan apa yang akan terjadi disini. Sedangkan istriku seperti biasanya, dia kalau sudah tidur sulit untuk dibangunkan.
Apakah aku harus ke kamar Gustin untuk memperhatikan apa yang akan terjadi lagi di rumah ini, aku harus tau apa yang ada di kamar Gustin.
Kubuka pintu kamar tidurku perlahan lahan, agar istriku tidak bangun, kemudian perlahan lahan aku berjalan di ruang tamu.
Karena saat ini masih jam sembilan malam, ada baiknya aku buat kopi dulu saja, sambil menunggu hingga tengah malam.
Aku menuju ke dapur, kunyalakan lampu dapur….
Aku kembali ke ruang tamu sambil duduk di sofa dengan membawa secangkir kecil kopi hitam pahit yang aku gemari akhir akhir ini.
Seperti kemarin di dalam gelapnya ruang tamu, aku duduk membelakangi kaca rumah dan menghadap ke arah belakang, ke arah pintu kamar dik Gustin dan pintu kamarku.
Jam tangan digital yang selalu aku pakai sudah menunjukan pukul sepuluh lebih tiga puluh menit, kopi pahit dalam cangkir sudah habis, kini mataku semakin terang benderang setelah perutku terisi kopi hitam pahit.
Aku berjalan mendekati kamar anakku, sebelum aku buka pintu kamar anakku, aku tempelkan dulu telingaku di daun pintu, yah hanya berjaga jaga dan memastikan bahwa di balik daun pintu kamar keadaanya sepi dan sunyi.
Aku buka kamar dik Gustin, cahaya temaram dari lampu tidur membuat suasana di dalam ruangan ini tidak segelap di ruang tamu.
Aku tersenyum ketika melihat anakku sedang tertidur pulas, dia begitu cantik seperti ibunya. Bayi yang sehat dengan bobot diatas rata-rata.
Di samping box Gustin ada tempat duduk berupa sofa yang biasanya digunakan istriku ketika menidurkan anak perempuanku.
Lebih baik aku tidur di sofa itu saja sambil menunggu tengah malam. Kulihat jam tanganku, hmm masih pukul sepuluh lebih tiga puluh menit.
Masih lama juga hingga tengah malam, tapi gak papalah.. Lebih baik ada disini lebih awal daripada terlambat.
Suasana kamar ini enak, bau minyak telon masih membayangi hidungku, suhu udara kamar pas, tidak panas dan tidak dingin, ini karena aku memasang fan exhaust di dinding sebelah atas, sehingga aliran udara disini bisa berganti setiap saat.
Kubaringkan tubuhku di sofa…
Tenang, bau minyak telon, nyaman… lama-lama aku ngantuk juga.
Aku terbangun tiba-tiba ketika aku mendengar suara berisik!.
__ADS_1
Jangkrek……aku ketiduran, ketika kulihat jam tangan, ternyata sudah menunjukan tengah malam lewat lima menit.
Aku terbangun, tetapi aku hanya membuka mataku dan melihat jam tanganku saja, aku tidak merubah posisi tubuhku yang sedang tidur di sofa kamar.
Suara berisik….suara berisik yang sama dengan kemarin ketika aku ada di ruang tamu… tapi disini lebih jelas suaranya.
Suara seperti dua orang atau lebih yang sedang berlarian di dalam kamar dik Gustin…
Aku yang tadinya takut, sekarang malah menikmati suara kaki-kaki kecil berisik yang berlarian ke sana kemari, aku tersenyum sendiri di dalam kamar ini.
Mereka memang anak kembar, dan anak kembar itu tidak bisa dipisahkan begitu saja. Yah aku sekarang malah kangen sama Gusta hehehe.
Suara berisik berlarian ke sana kemari, kadang ada di sampingku, kemudian di depanku, di belakangku…pokoknya suara khas anak kecil yang sedang bermain.
Kadang suara langkah kaki kecil itu terdengar seperti gedebuk, seperti suara anak kecil kalau jatuh di lantai.. Tapi aku tidak mendengar suara mereka berdua, aku hanya bisa mendengar suara langkah kaki dan suara berisik saja.
Aku terus menikmati suara-suara itu hingga tidak terasa dan tidak sengaja aku berkata…
“Gustin.. Gusta.. Kalau main jangan keras keras dong”
Tiba-tiba suara gedebukan itu hilang…. Suasana menjadi sepi kembali..
Aku tidak mendengar suara apapun, tidak ada suara berisik, tidak ada suara gedebuk, tidak ada suara langkah kaki. Yang kudengar hanya suara fan exhaust yang menyala sepanjang malam ini.
Aku terdima dalam posisiku yang masih selonjor di sofa, mataku terbuka dan melirik kesana kemari, aku mencari cari suara itu lagi, suara yang membuat aku senang…..
Tetapi tidak ada suara apapun…..
Ada…. ada suara, suara yang berbeda!
Suara nafas yang berat…
Suara nafas yang bukan milik anak seusia kedua anak kembarku….
Suara nafas berat itu berasal dari pintu kamar anakku, dan suara nafas yang berat itu perlahan-lahan mendekati aku.
Semakin dekat…semakin dekat, dan akhirnya suara nafas yang berat itu ada berhenti tidak jauh dari posisiku.
Aku mati rasa, aku tidak bisa menggerakan tubuhku sama sekali. Aku seperti orang yang tindihan, tetapi mataku masih bisa melihat kesana kemari.
Mataku masih bisa melihat ruangan ini, box bayi anakku, lampu tidur, sofa yang aku tiduri…. Dan bayangan hitam tinggi besar yang tidak jauh dari posisiku tidur.
Keringat dingin mulai menumpuk di pelipis dan leherku, punggungku terasa panas dan nafasku mulai berkejaran, tetapi sayangnya aku tidak bisa membuka mulutku sama sekali.
Aku tidak bisa menoleh ke arah bayangan yang mendekati aku dengan perlahan itu… tapi aku bisa merasakan bahwa bayangan tinggi besar hitam itu sekarang sedang ada di sampingku.
__ADS_1
Sesuatu yang dingin dan tajam terasa di pelipisku, rasanya sangat geli dan sedikit sakit. Hingga beberapa detik rasa itu masih ada di pelipisku