RUMAH PENGGERGAJIAN

RUMAH PENGGERGAJIAN
154. RUMAH PAK PANGAT KOSONG


__ADS_3

Burhan sedang menunggu anggotanya yang sekarang sedang mengikuti mobil pickup yang dikendarai oleh Paijo dan Hari.


“Sayangnya disini sangat sulit sinyal telepon maupun sinyal HT, karena rimbunnya pohon hutan.. terus terang saya gelisah juga nunggu laporan dua anak buah saya yang sedang mengikuti Paijo” kata Burhan.


“Mulai sekarang saya memanggil sampeyan pakek awalan pak ya heheheh” kata mas Agus


“Halah pak Agus ini hahaha..ndak  penting untuk sebuah panggilan nama pak.. yang penting kita bisa paham kalau ada orang yang memanggil kita”


Suasana disini sudah mulai sepi, dua ambulan yang didatangkan dari rumah sakit kota sudah pergi dari sini. Disini sekarang menyisakan beberapa anak buah pak Burhan yang sedang melakukan penyidikan lebih lanjut.


Sedangkan satu mobil polisi yang mengangkut Solikin, Idam dan Mahmud sudah pergi dari sini dan menuju ke kota S untuk dilakukan penyidikan terhadap mereka bertiga.


Tiba-tiba dari arah hutan  terdengar suara sepeda motor yang mengarah ke sini… semoga itu adalah anak buah pak Burhan yang bertugas menguntit Paijo dan Hari.


Ternyata betul, mereka dua orang yang ditugaskan untuk menguntit Paijo dan Hari…


“Ndan…. mobil dengan drum itu sekarang ada di salah satu pengecer solar yang ada di jalan menuju ke arah kota…eh letaknya ada di sebelah kiri setelah jembatan besi” kata salah satu orang pak Burhan


“Cuma kesana saja kok kalian berdua lama sekali perginya?”


“Karena mobil itu muter muter, ke kota M lah .. kemudian balik lagi ke sini, tapi tidak langsung ke tujuan, melainkan mampir ke warung yang ada di rumah sakit. Disana mereka lama sekali”


“Mereka berdua sempat makan disana…kelihatannya mereka sedang menunggu seseorang, tapi tidak lama kemudian mereka pergi dari sana setelah lama ada di warung depan rumah sakit”


“Apa benar mereka hanya duduk dan makan saja, apa mereka tidak masuk ke dalam rumah sakit atau melakukan apalah?” tanya Burhan


“Tidak Ndan!..... Paijo dan Hari hanya duduk-duduk saja sambil melihat ke arah pintu masuk rumah sakit”


Pasti mereka berdua sedang menunggu dokter Joko, atau sedang mempelajari situasi disana…


Tapi bisa saja mereka punya maksud tertentu dengan berada disana….


“Eh pak Burhan… apa bapak nggak bisa langsung menangkap mereka berdua, dari pada ada korban lagi pak?”


“Maaf mbak Tina… sesuai instruksi komandan saya, saya tidak boleh melakukan penangkapan sebelum pembelinya muncul.


“Nanti pun yang akan melakukan penangkapan Paijo dan Hari adalah Propam setelah saya berikan kamera yang berisi bukti-bukti kejahatan mereka”


“Ya sudah pak… terserah sampean mau nangkap Paijo kapan.. Tapi yang pasti  pak Pangat dan dokter Joko harus dilindungi pak” kata mas Agus


“Begini,... yang pertama akan kita lakukan adalah mengisolasi barang bukti dulu…Tempat  barang bukti itu kan sudah kita ketahui, tinggal kita datangi saja dan interogasi mereka”


“Lho nanti Paijo dan Hari bisa tau pak..”


“Mas Agus… sesuai kebiasaan para pengedar… setelah pengedar menaruh barang bukti, mereka tidak akan datang lagi ke tempat itu.. Mereka akan menjauhi barang bukti, tapi tentunya setelah mereka menerima pembayaran atau uang muka”


“Nanti kita kesana, dan kita sita barang buktinya. Dan selanjutnya yang terjadi adalah pembeli itu bisa kita tangkap, selain Paijo dan Hari yang akan ditangkap berikutnya”


“Tetapi tentu saja tidak semudah itu, teori itu sangat mudah…. Tapi paling tidak kesiapan kita juga akan mempengaruhi keadaan itu” kata pak Burhan

__ADS_1


“Pak Burhan.. Yang penting sekarang dokter Joko dan pak Pangat.. Saya khawatir dengan dua orang baik itu…


“Eh begini saja.. Kalian berdua kesini naik apa sebelumnya?”


“Kami naik motor yang di sembunyikan di semak belukar di seberang sungai  pak” jawab mas Agus


“Ok.. begini..  Karena jembatan yang menghubungkan rumah penggergajian ini dengan seberang sungai itu sempit, maka kami akan antar kalian berdua ke sana dengan jalan memutar…,pokoknya kalian harus dalam pengawasan kami”


“Sampai sana, ambil motor kalian, dan segera ke rumah pak Pangat, kalian akan dikawal sampai rumah pak Pangat”


“Mas Agus..kamu bawa HT saya ini, kalau ada apa-apa tinggal bicara saja.. Sementara saya dan yang lainya akan mengamati tempat penjualan solar oplosan itu dulu”


Dua anak buah Burhan dengan dua motor menggonceng aku dan mas Agus, kami jalan memutar lewat jembatan besi dan kemudian masuk ke desa tempat Solikin berada.


Ketika kami melewati rumah Wito dan Solikin, keadaan rumah itu kosong..


Mungkin keluarga Wito sedang ke rumah sakit, sedangkan keluarga Solikin sedang menuju ke kota S setelah diberi kabar bahwa Solikin ditangkap oleh pihak yang berwajib.


“Dimana letak motor yang kalian sembunyikan” tanya polisi yang membonceng mas Agus


“Di depan sana pak.. Di semak belukar itu” jawab mas Agus…


Setelah  berjalan kaki sebentar untuk menuju ke semak belukar, dan kemudian dibantu oleh anak buah pak Burhan, akhirnya motor milik pak pangat berhasil di keluarkan.


“Disini selain motor yang kita pakai, ada motor lain yang dikendarai oleh Hari, menurut sampean gimana pak, apakah motor itu kita bawa juga?”


“Ya tentu saja dibawa Hari pak” jawab mas Agus


“Kalau begitu biarkan saja dulu disini, kita amankan saja dulu dengan mencabut kabel businya, agar tidak ada yang bisa mengambil motor ini” kata polisi yang membonceng mas Agus tadi


Akhirnya tiga motor melaju ke arah ruma pak pangat.. Ketika sampai di jembatan besi polisi yang satunya menuju ke arah kiri untuk menyusul pak Burhan.


Sedangkan kami akan dikawal polisi menuju ke rumah pak Pangat.


Inggrit melayang dan sesekali membonceng di salah satu sadel motor polisi yang mengawal kami


Siang hari menuju sore aku dan mas Agus sudah ada di rumah pak Pangat… sedangkan petugas kepolisian yang mengantar kami sedang mencari lokasi untuk pengintaian di sekitar rumah pak Pangat.


Siang hari ini rumah pak Pangat sangat sepi, pintu pagar dan pintu rumah tertutup rapat, begitu pula gorden jendela rumahnya.


“Mas… rumahnya kok sepi sekali gini mas?”


“Mungkin beliau sedang istirahat siang mbak Tina…


“Kalian diam dulu…jangan mengetuk pintu dulu… biarkan Inggrid masuk ke dalam dulu saja” Kata Inggrid yang siap-siap untuk masuk ke rumah pak Pangat.


Tapi ketika Inggrid hendak masuk.. Dia keluar lagi.. Wajah Inggrid nampak ketakutan.


“Kenapa kamu keluar lagi Nggrid., kamu kan belum masih ke rumah itu?”

__ADS_1


“Tepat di balik pintu masuk rumah ada jebakan untuk mahluk ghaib… ada semacam jebakan berupa kurungan yang ada di dalam rumah, untungnya tadi Inggrid tidak langsung masuk ke dalam rumah ini”


“Waduh…kalau pak Pangat memasang jebakan berarti dia tidak ada di dalam rumah ini… eh coba kamu lihat rumah kosong yang ada di sebelah Nggrid.. Apakah sama juga? Apakah ada jebakannya juga?”


“Inggrid coba periksa dulu yang ada di sebelah rumah ini Tina….”


Kayaknya ada yang gak wajar dengan keadaan rumah pak Pangat ini, rumah ini kalau dari luar kelihatannya kosong.


Bahkan pak Pangat Pun memasang jebakan untuk mahluk halus, berarti bisa-bisa dia tidak ada di rumah ini.


Apakah pak Pangat sudah mendapat ancaman dari Paijo dan Hari sehingga dia tiba-tiba pergi?”


“Rumah kosong itu tidak ada jebakan mahluk halusnya Tina… tapi ketika Inggrid masuk ke dalam, ternyata Inggrid tidak bisa masuk ke rumah utama lewat dapur, karena di seluruh rumah utama ada jebakannya juga”


“Tapi rumah ini dalam keadaan kosong…, Inggrid merasa ada yang aneh dengan rumah ini Tina” kata Inggrid setelah memeriksa keadaan rumah sebelah


“Eh mas Agus.. Tina kok merasa aneh ya sama pak  Pangat… Tina merasa ada apa-apa antara pak Pangat dengan Paijo,  dan Hari”


“Ah jangan berburuk sangka mbak… memangnya yang mbak TIna pikirkan sekarang ini apa?”


“Iya mas..tiba-tiba saja pikiran TIna langsung jelek mas.. Bahkan pikiran Tina untuk dokter Joko pun rasanya ada yang janggal gitu mas”


“Jadi Tina itu merasa ada persengkongkolan diantara mereka mas, ada beberapa kejadian yang janggal”


“Contohnya… waktu kemarin kita ke sini…pak Pangat itu kan orang yang pandai membaca pikiran orang, tapi kenapa tiba-tiba waktu  Hari ke sini dia sama sekali tidak memperingatkan kita tentang apa tujuan Hari kesini”


“Kedua.. Pak Pangat sudah tau kalau kita akan ke rumahnya, dan dia sudah menunggu kita mas”


“Ketiga, tiba-tiba dokter Jokok dan temanya juga datang kesana sore hari itu, memang Inggrid sempat bilang ke pak Pangat kalau akan ada transaksi besar, tetapi secepat itukan dia menghubungi dokter Joko dan kemudian dokter Joko datang bersama temannya”


“Nah itu mbak… makanya saya kan sempat tanya ke mbak Tina… apa mbak Tina percaya dengan pak Pangat, hal ini karena saya kurang bisa percaya dengan omongan dia mbak”


“Untuk dokte Joko Tina masih berpikir apa yang disembunyikan dia, pokoknya ada beberapa hal yang TIna masih pikirkan mas… sekarang apa yang harus kita kerjakan mas?”


“Eh Nggrid… rumah sebelah dikunci atau tidak?” tanya mas Agus


“Kayaknya nggak Mas… tapi kan Inggrid gak tau hehehe, coba mas Agus buka saja sendiri” kata Inggrid


“Eh kita mau ngapain ke rumah kosong itu mas?”


“Tempat yang tepat untuk sembunyi saat ini adalah rumah kosong sebelah rumah pak Pangat ini mbak, percaya sama saya mbak..kita masukan motor ini dulu dan kemudian kita masuk ke rumah kosong sebelah ini saja mbak”


“Lagi pula tas yang berisi pakaian kita kan ada di rumah kosong itu mbak… “


“Nanti kita kabari Burhan bahwa kita ada disebelah rumah Pak Pangat, untuk sembunyi, karena pak Pangat tidak ada di rumah untuk saat ini”


Aku gak tau apa yang ada di pikiran mas Agus… tetapi yang pasti ada sesuatu yang terjadi disini…


Aku tau tempat paling aman untuk sembunyi adalah tempat dimana tidak ada yang memperkiraan sebelumnya.

__ADS_1


__ADS_2