RUMAH PENGGERGAJIAN

RUMAH PENGGERGAJIAN
171. APA YANG HARUS KAMI LAKUKAN PAK?


__ADS_3

“Keempat….kenapa saya pergi dari rumah dan ada sepasang mayat yang saya kuburkan….”


“Pada waktu itu masih ada beberapa orang anak buah solikin, Paijo, Wandi yang mencari kalian, mereka terus mencari kalian”


“Ketika saya dengar Joko tertangkap tetapi akhirnya dilepas karena tidak ada keterlibatan Joko, akhirnya saya dan Joko memutuskan bagaimana caranya agar orang-orang ini tidak mencari kalian lagi”


“Dan secara kebetulan di kamar mayat rumah sakit ada mayat laki-laki dan perempuan yang tidak jelas, karena tidak ada keluarga yang merasa kehilangan….. Istilahnya mayat mrX dan mrsX”


“Saya tidak tahu itu mayat siapa, dan bekas korban apa, dan sudah berapa lama ada di kamar mayat, saya tidak tahu dan tidak mau tahu tentang itu”


“Yang saya tau hanya Joko menawarkan bagaimana kalau kedua mayat ini kita umpamakan sebagai mayat kalian berdua”


“Kami menyusun strategi bagaimana caranya agar kedua mayat itu bisa ada di dasar sungai di bawah jembatan”


“Sesuai prosedur rumah sakit, apabila dalam jangka waktu tertentu mayat misterius itu tidak ada yang mengaku sebagai keluarganya, maka akan dilakukan penguburan”


“Semua proses diatur oleh Joko, hingga orang di desa itu semua mengakui bahwa kedua mayat itu adalah mayat kalian berdua”


“Saya palsukan dokumen surat pernyataan bahwa keluarga kalian berdua tidak keberatan apabila kedua mayat itu dikuburkan di  makam desa, jadi urusan tentang kalian yang hilang itu sudah selesai”


“Saya berharap dan dengan adanya mayat yang saya kuburkan, berarti orang-orang yang mencari kalian akan selesai juga”


“Ternyata tidak, orang-orang itu malah mengejar saya, masih ada yang meneror saya”


“Akhirnya ketika hari Jumat, saya bikin rencana dengan istri saya….”


“Saya akan lari dari desa itu ketika sedang berlangsung atau selesai sholat Jumat”


“Istri saya saya suruh pergi ketika sedang berbelanja di pasar desa, kemudian siang harinya ketika selesai sholat Jumat, saya juga melarikan diri. Dan kami bertemu di rumah sakit kota”


“Selang sebulan kemudian, setelah saya rasa keadaan aman, saya mengajak mekanik motor untuk menuju ke rumah penggergajian”


“Disana untuk terakhir kalinya motor yang ada di balik pohon beringin saya rawat dengan ganti oli, servis, isi bensin dan bannya saya pompa”


“Setelah dari rumah penggergajian, saya temuin tetangga depan rumah yang ada di desa, dan menyuruh dia untuk kabari saya apabila ada yang datang mencari saya, dia saya kasih sejumlah yang lumayan agar dia mau menelpon saya”


“Kebetulan rumah kecil yang saya kontrak ini ada fasilitas telepon, sehingga mempermudah tetangga saya yang ada di desa sana menghubungi saya”


“Hingga pada suatu pagi, tetangga depan rumah saya itu menelepon saya, katanya semalam ada laki-laki dan perempuan yang mencari saya”


“Sekitar jam sepuluh pagi saya bersama teman saya yang mekanik motor itu menuju ke rumah penggergajian,  dan ternyata motor yang ada di balik pohon beringin itu sudah tidak ada”


“Artinya kalian sudah keluar dari sana dan sempat ke rumah saya, dan pastinya kalian akan menuju ke kota S untuk bertemu dengan pak Burhan”


“Saya yakin kalian tidak akan naik motor waktu menuju ke kota S, kalian pasti naik bus”


“Kemudian saya ke terminal bus, saya tanyakan jadwal bus dari kota S yang berhenti di kota ini”


“Setelah mendapat informasi tentang bus yang datang dari kota S, saya dan istri saya tiap hari mulai pukul 12.00 siang hingga malam jam 20.00 menunggu di depan toko yang orang jual es dawet itu”


“Saya yakin kalian pasti akan balik ke sini, karena setan Inggrid itu pasti akan memaksa kalian untuk kembali ke rumah penggergajian untuk mencari keluarganya yang hilang”


“Kenapa saya menunggu di pinggir jalan itu, karena tiap hari baik pagi, siang, dan malam keadaan jalan ini macet, karena lampu traffic light yang ada sana itu nyala merahnya agak lama”


“Ketika keadaan macet…otomatis penumpang bus akan celingukan melihat ke arah sini kan”


“Maka dari itu, saya dan Istri saya selalu ada disini, di tempat yang terbuka dan terlihat oleh penumpang bus yang lewat sini”


“Iya benar pak, memang kami akan kembali ke sini karena iming-iming  harta dari Inggrid..” kata mas Agus


“Sekarang apa yang harus kami lakukan pak?”


“Yang harus kalian ingat adalah kalian sudah kontrak mati dengan setan itu, dengan masuk ke dalam lubang itu artinya kalian sudah ada di daftar yang harus dibunuh” jawab pak Pangat


“Kemanapun kalian lari, kalian akan dikejar oleh pemburu itu sampai kalian mati dan arwah kalian sudah ditangan Inggrid”


“Lalu kami harus bagaimana pak, kalau keadaanya begini?” tanya mas Agus lagi

__ADS_1


“Keluarga kalian.. Kalau kalian masih punya keluarga, suruh mereka untuk bersiap siap apabila ada hal ghaib yang akan mengancam mereka, kalian tidak usah pulang ke rumah kalian”


“Karena sampai detik ini kalian masih diawasi oleh dua setan yang siap membunuh kalian pada waktu kalian lengah”


“Sik pak…Tina agak bingung pak, kenapa kedua setan itu tidak langsung membunuh kami berdua saja pak?”


“Begini mbak.. Ada kalanya manusia itu lengah, misal pada waktu dia melamun, atau dalam keadaan pikiran kosong, atau bisa saja waktu sedang tidur…nah pada waktu itu jiwa roh manusia sedang dalam keadaan yang tenang dan stabil”


“Tenang dalam artian adalah tidak bergejolak dengan pikiran-pikiran dan emosi yang berlebihan. Ketika dalam keadaan itu paling baik untuk diambil rohnya”


“Setan itu akan mendapatkan roh yang murni dan sempurna, berbeda ketika kalian berdua sedang dalam keadaan kaget, marah, emosi, atau bahkan dalam keadaan tau bahwa kalian dalam keadaan terancam”


“Rohm dalam keadaan seperti itu selalu bergejolak dan tidak bisa diatur. Dan Inggrid tau hal itu, makanya dia menyuruh kedua suruhannya itu untuk membunuh kalian pada waktu kalian lengah”


“Tapi kami berdua kan sempat tidur dan menginap di losmen kota ini pak, harusnya pada waktu itu dia bisa membunuh kami dong pak” kata mas Agus


“Itu yang saya kurang paham mas, kenapa kok mereka tidak membunuh kalian waktu kalian sedang dalam keadaan yang seperti tadi saya jelaskan itu”


“Pasti ada sesuatu yang menyebabkan mereka tidak membunuh kalian pada waktu kalian sedang tidur di losmen”


“Atau bisa saja mbak Tina ini punya pelindung yang tidak bisa ditembus oleh Inggrid dan dua suruhannya itu”


“Iya sih pak…memang ada pak” aku ceritakan kepada pak Pangat kejadian waktu di losmen, ketika suruhan Inggrid dikepung beberapa ghaib.


“Ya.. bisa juga karena itu juga mbak, bisa saja karena itum, sehingga suruhan Inggrid belum bisa membunuh kalian berdua”


Pak pangat berhenti bicara, kemudian dia memejamkan mata, suasana siang hari ini hening sejenak karena pak Pangat keliatanya sedang melakukan sesuatu yang aku tidak paham.


Tapi tidak lama, mungkin sekitar lima menit saja, kemudian dia membuka matanya.


“Hmmm saya paham mbak… hehehe… barusan saya tanya kepada ghaib yang membantu saya untuk masalah kalian berdua…”


“Jadi begini, memang Inggrid untuk saat ini, ketika kalian berdua ada di luar wilayah Inggrid, dia tidak bisa membunuh kalian, makanya dia mengajak kalian untuk kembali ke rumah penggergajian”


“Nanti kalian akan diajak masuk ke wilayah dia dengan alasan ada sebuah petunjuk untuk menemukan keluarganya, disanalah kalian akan dibuat lengah,  dan kemudian dibunuh”


“Sekarang gini saja… kalian  hubungi sanak keluarga kalian berdua, dan katakan apa yang sedang kalian alami sekarang, semoga keluarga kalian adalah keluarga yang taat beribadat dan punya kenalan seorang yang punya kelebihan untuk mengatasi masalah klenik”


“Setelah kalian selesai menghubungi keluarga kalian, kalian berdua harus melawan Inggrid dan pasukannya, kalian harus bisa memusnahkan mereka!”


“Bagaimana caranya kami harus melawan mahluk halus pak, sedangkan kami juga tidak punya kekuatan apapun untuk melawannya”


“Itu bisa dilakukan dengan cara yang tentu saja tidak masuk akal mas. Dan yang harus kalian ingat, mbak Tina ini adalah keturunan murni terakhir dari penduduk yang ada di tengah hutan”


“Mbak Tina bisa meminta bantuan untuk masuk ke alam Inggrid, tapi maaf saya tidak bisa menjelaskan, karena saya tidak tau  bagaimana caranya untuk bisa melakukan itu”


“Jadi yang pertama kami lakukan adalah menghubungi keluarga kami dulu ya pak?” kata mas Agus


“Benar mas, hubungi keluarga kalian, katakan saja apa yang terjadi secara singkat saja, pokoknya mereka harus siap apabila ada ancaman dari Inggrid dan kelompoknya”


“Setelah itu kalian pulang ke desa, dan mbak Tina coba bicarakan dengan leluhur mbak Tina, tanyakan saja dulu  apa yang sebenarnya pernah terjadi di sana, dan siapa Inggrid itu”


Aku nggak pernah menyangka masalah dengan Inggrid ini semakin mengerikan.


Aku kira soal bunuh membunuh itu sudah selesai dengan tertangkapnya Hari dan  Paijo, ternyata tidak.


Masalah yang ini lebih mengerikan, karena aku dan mas Agus harus berhadapan dengan makhluk ghaib yang sudah lama sekali menghuni daerah itu.


Tapi aku rasa aku dan mas Agus mampu, hanya saja memang harus minta bantuan kepada leluhurku yang masih menetap di sektar tengah hutan itu.


Tapi apakah aman perjalanan dari sini ke tengah hutan pada malam hari, mengingat si Inggrid pasti masih mengintaiku hingga saat ini.


“Hehehe tenang saja mbak Tina… saya tau apa yang mbak Tina pikirkan, saya rasa mbak Tina dan mas Agug akan aman saja dari sini hingga ke tengah hutan sana”


“Pokoknya jangan lupa dengan yang tadi saya katakan, jangan lengah dan jangan dalam keadaan pikiran kosong, saya yakin mereka tidak akan membunuh kalian”


“Eh ngomong-ngomong motor saya kalian taruh di mana?”

__ADS_1


“Ada di losmen pak, kami titipkan disana dulu, agar aman pak….. Lebih baik kami berangkat ke tangah hutan jam berapa pak?” tanya mas Agus


“Nanti malam saja, agar orang desa tidak melihat keberadaan kalian yang seharusnya sudah meninggal hehehe”


*****


Aku sudah menelpon keluargaku, aku masih punya orang tua yang tinggal jauh dari aku, mereka tinggal di ibu kota ikut bersama kakakku yang pertama.


Mereka sudah jadi penduduk ibu kota yang tentu saja tidak percaya dengan hal-hal klenik seperti ini, kedua orang tuaku berasal dari desa ini, dan mereka juga keturunan dari penduduk tengah hutan.


Hanya ibuku saja yang tadi keliatanya agak khawatir dengan keadaanku, dan aku tau ibuku itu masih berhubungan dengan leluhurku.


Aku gak tau bagaimana aku tahu kalau ibuku masih berhubungan dengan leluhurku, yang pasti aku bisa merasakan hal itu.


“Mas, gimana, apa udah beres?”


“Ya gimana mbak, rumah saya di desa kan gak ada teleponnya, yang punya telepon itu tetangga sebelah rumah dan pacarku yang dulu itu  hehehe”


“Eh kok pacar yang dulu mas… memangnya mas Agus punya pacar lagi?”


“Eh belum punya kok mbak, saya masih cari. Eh yang dulu itu maksudnya eh yang dulu pernah saya telepon itu mbak hehehe”


“Trs tadi mas Agus telepon ke siapa?”


“Tadi saya hubungi ke tetangga saya dulu, minta dipanggilkan orang tua saya.. Eh nanti saya akan telepon tetangga saya lagi mbak hehehe”


“Kok malah hubungi tetangga sih mas, kok nggak hubungi pacarnya mas Agus saja… eh pacar yang mau mas Agus nikahi itu kan hehehe”


“Eh nggak mbak, saya gak mau hubungan dengan dia lagi”


*****


Malam hari di losmen, setelah sholat isya..


“Ayo kita berangkat mbak”


“Jangan sekarang mas, lebih baik menjelang tengah malam saja kita kesananya”


“Lagipula Tina bingung tas ini kita bawa atau kita taruh disini saja?”


“Taruh sini saja mbak… “


“Masalahnya kan ada uangnya mas, uangnya kan gak sedikit itu?”


“Hmmm uangnya taruh saja dalam tas dan di bungkus pakaian kita saja, nanti tas ransel itu kita titipkan kepada yang punya losmen ini mbak”


“Oh iya mas. Lebih baik begitu saja mas. Tapi alasan apa kok kita mau menitipkan tas ini, mosok kita bilang isi tas ini adalah uang dalam, jumlah yang banyak  gitu mas?”


“Hmm bener juga mbak… gini ajalah mbak, kita tas ini taruh saja di dalam kamar, kemudian kita kunci dan kita bilang ke pemilik losmen kalau  kita keluar kota untuk beberapa hari , dan kita titip tas yang ada di dalam kamar ini ke mereka mbak”


Kebetulan losmen ini sebenarnya adalah rumah lawas yang luas, mungkin rumah warisan, dan kemudian oleh pemiliknya dibuatkan beberapa kamar yang kemudian disewakan.


Pemilik losmen ini juga tinggal disini, sepasang suami istri dengan dua anak yang masih berumur tidak lebih dari sepuluh tahun.


*****


Jalan menuju desa yang sepi, ya karena kami berangkat dari losmen tepat jam sembilan malam. Untungnya motor milik pak Pangat ini bisa kami gunakan, istilahnya motor ini masih layak pakailah.


Tetapi mulai dari berangkat dari losmen hingga sampai di daerah ini, aku merasa ada yang sedang mengikuti kami berdua. Tapi aku yakin yang sedang mengikuti itu kayaknya suruhan si Inggrid.


Tapi hingga kini aku belum melihat keberadaan Ingrid sama sekali.


Jalan menuju desa yang sepi dan sebentar lagi kami akan memasuki kawasan yang dekat dengan rumah aku.


“Mas, di depan nanti kan ada pos kamling yang baru itu, kalau seumpama ada pak Kamid gimana mas, kita berhenti atau tetap saja jalan?”


“Eh kalau dia tidak melihat kita ya kita lurus saja mbak, gak usah mampir… nanti malah banyak pertanyaan kalau kita mampir mbak”

__ADS_1


__ADS_2