
“Buat apa kamu ke dapur Jo.. dapurnya kotor, soalnya istriku sedang pergi dan belum sempat dibersihkan”
“Gak masalah Ngat.. Aku cuma ingin melihat secara keseluruhan bangunan ini, siapa tau nanti kamu berubah pikiran untuk mengontrakan rumah ini, jadi aku harus tau secara keseluruhan bangunan ini dong Ngat”
“Ya udah silahkan kalau mau lihat, tapi sekali lagi aku jelaskan kalau keadaan dapur itu kotor Jo…”
“Gak masalah Ngat…”
Aku bingung…..
Inggrid belum juga datang kesini untuk memperingatkan aku dan mas Agus, sedangkan Paijo sekarang sudah ada di bagian dapur.
Suara langkah kaki Paijo saja sampai terdengar dari sini, apakah pak Pangat nanti berhasil menghalau Paijo untuk keluar dari rumah sebelah.
Kulirik mas Agus… diapun nampaknya tegang juga, sama seperti aku, mungkin dia sedang menunggu Inggrid datang untuk memperingatkan kami.
Suara langkah kaki sudah sampai di ujung dapur yang tembus dengan rumah utama, mungkin jarak aku dan mas Agus dengan mereka hanya tiga meter saja, karena hanya dibatasi oleh tembok.
“Oh jadi dapur itu tembus ke rumah utamamu ya Ngat?”
“Iya.. agar mudah kalau pasien yang ada disini akan memasak makanan, atau sekedar merebus air untuk bikin minuman”
“Hmmm jadi cuma segini saja ya rumah ini Ngat…. jadi dapur rumah utama dan dapur rumah kosong ini nyambung, wah hebat juga kamu Ngat, kamu kasih kemudahan bagi pasien yang ada disini untuk memasak”
“Yah begitulah Jo… namanya juga pengobatan yang kadang memerlukan waktu beberapa hari, jadi aku usahakan mereka bisa memasak sendiri disini”
“Hmmm ….yuk masuk ke rumahmu Ngat”
“Eiittsss jangan masuk ke rumah utama lewat sini…. kakimu kan kotor, apalagi kamu pakek sepatu,. kalau mau masuk ya lewat rumah utama saja Jo”
“Ayo keluar saja.. disini banyak debu, jangan bawa debu yang ada di sini ke ruangan dalam rumah Jo”
“Hehehe, malas kalau mutar Ngat, lewat sini kan lebih dekat”
“Iya bagimu lebih dekat, tapi kotoran dan debu di kakimu masuk ke rumahku… ayo.. ayo kita balik saja ke depan.. ngapain juga kita ada disini, ruangan ini kotor”
Kudengar suara langkah kaki semakin menjauh dari area dapur, tapi sampai sekarang Inggrid belum kesini untuk memberi tau aman atau tidaknya keadaan di sebelah…
Tapi beberapa detik kemudian suara langkah kaki itu berhenti…
Mungkin mereka sekarang ada di depan kamar mandi, suara langkah kaki itu berhenti di depan kamar mandi.
“Ngat… tadi aku lihat sesuatu di dapur sana……” suara yang kudengar dari Paijo
Waduh.. apa yang harus aku lakukan ini… keliatannya Paijo mencurigai sesuatu yang ada di dapur….
Apakah aku atau mas Agus telah menjatuhkan sesuatu yang menyebabkan Paijo kembali lagi ke dapur.
Tapi kenapa Inggrid belum juga muncul dan memberitahu kami agar lari atau gimana gitu.
Suara langkah Kaki Paijo mengarah ke dapur… dan sekarang dia ada di ujung dapur…
Sekarang tidak ada lagi suara langkah kaki, kelihatannya si Paijo sedang meneliti atau sedang melihat sesuatu yang mencurigakan di bagian belakang itu
“Wah hahaha ternyata kamu masih menyimpan sepedamu jaman dulu yang rantainya sering lepas itu Ngat hahaha”
“Sepeda itu penuh dengan sejarah Jo… dulu jaman kita masih sekolah kalok kamu tidak dijemput ajudan bapakmu, kan sepeda itu yang mengantarkan kamu sampai rumah”
“Iya Ngat.. tapi kalau dibuat boncengan tiap sepuluh meter rantainya selalu lepas hahahah”
“Ternyata kamu masih menyimpan sepeda itu hahahaha”
“Wah mata seorang polisi jeli juga ya Jo…padahal sepeda itu sudah berdebu dan aku gantung di tembok pojokan dekat tempat barang bekas… kamu kok bisa aja melihatnya”
“Hehehe yah karena sudah terbiasa Ngat…ayo kita ke depan saja, lama-lama di rumah kosong ini hidungku mulai berair, aku alergi debu soalnya Ngat”
Fiuuuh Alhamdulillah… ternyata yang dilihat adalah sepeda bekas yang digantung di tembok.
Suara langkah kaki semakin jauh dari bagian dapur, ketika aku dengar suara pintu ditutup, tiba-tiba Inggrid muncul di hadapanku.
“Ayo kalian balik lagi. tapi pelan-pelan, jangan sampai ada suara yang mencurigakan, telinga dan mata Paijo itu peka sekali” kata Inggrid yang masih ada di hadapanku
Aku dan mas Agus sekarang sudah ada di ruang tamu rumah kosong, sedangkan Inggrid sudah hilang lagi, dia mungkin ada di rumah sebelah untuk mendengarkan apa yang mereka sedang bicarakan.
__ADS_1
Untuk saat ini aku sama sekali tidak berani ngobrol dengan mas Agus, karena belum ada informasi dari Inggrid apabila Paijo dan temannya sudah pergi dari rumah ini.
Dan untuk sementara ini kami aman dari Paijo…
*****
“Untung tadi saya bisa baca apa yang dipikirkan paijo, dia benar-benar mencurigai saya yang menyembunyikan kalian berdua”
“Yang saya baca dari pikiran Paijo, dia ingin memeriksa seluruh ruangan rumah saya ini, dia benar-benar curiga dengan saya”
“Lha tapi kan dia kesini alasanya untuk kontrak rumah kan pak?” tanya mas Agus
“Hahaha itu hanya alasan dia saja untuk memeriksa rumah kosong yang ada di sebelah itu, dan untungnya ada mbak Inggrid yang membantu saya memberi tahu apa yang harus kalian lakukan heheheh”
“Paijo pergi dengan wajah yang murung anak-anak, sepertinya dia diperintah untuk harus bisa menangkap kalian berdua”
“Tapi kita harus tetap waspada, karena yang namanya Polisi itu tidak akan berhenti begitu saja atas apa yang dia curigai, dia akan terus mencurigai saya yang menyembunyikan kalian berdua”
“Oh iya pak… mungkin bapak belum tau apa yang tadi pagi Inggrid dapatkan pak, ada beberapa info penting yang mungkin Inggrid akan ceritakan kepada pak pangat” kata Mas Agus
“Tadi pagi kamu dapati info apa Inggrid” tanya pak Pangat
“Jadi begini pak.. tadi pagi ketika Inggri pamit keluar kepada bapak…..” Inggrid menceritakan apa saja yang dia dapatkan selama ada di luar sana
Inggrid bercerita sama dengan yang dia ceritakan kepada kami tadi siang sebelum Paijo datang kesini.
Pak Pangat mendengarkan apa yang dikatakan Inggrid dengan serius, dia tidak menyela sama sekali apa yang diceritakan Inggrid kepadanya.
“Hmm jadi malam ini akan ada transaksi besar ya?....pantas Paijo tadi kebingungan”
“Dari tadi saya baca pikiran Paijo itu seperti sedang bingung, dia sepertinya sedang punya tugas yang berat…. dan setelah menyimak apa yang dikatakan kamu mbak Inggrid, berarti dia saat ini bingung untuk pengamanan situasi disana”
“Menurut saya dan mas Agus begitu juga pak…tapi disini ada lagi yang nggak boleh kita lupakan pak… Wandi dan Mamad.. dimana mereka sekarang?”
“Apakah Mamad dan Wandi juga ada hubunganya dengan Paijo pak?” tanya mas Agus
“Karena waktu itu penggerbekan itu paijo menangkap Wandi dan Mamad… tetapi setelah itu mereka lepas pak”
“Waduh… kalian ini salah orang kalau tanya kepada saya hehehe, saya tidak menyelidiki sejauh itu, mungkin nanti kalian bisa diskusi dengan taman joko”
“Tetapi baik Wandi dan Solikin tidak mengetahui bahwa Paijo kerja sama dengan saingan mereka berdua. yah itu pinter-pinternya si Paijo saja, tapi lebih baik kalian diskusi dengan teman Joko saja, agar dapat jawaban yang lebih memuaskan”
“Nanti mbak Inggrid ketika nanti ada Joko dan temanya datang, tolong mbak Inggrid cek sekitar sini ya, kalau ada yang mencurigakan segara bilang saya”
“Karena saya yakin Paijo atau anak buahnya masih ada di sekitar sini”
Sore hari setelah aku dan mas Agus selesai mandi…
Aku sedang membantu istri pak Pangat di dapur, kebetulan istri pak Pangat sedang masak…
Mas Agus dan pak Pangat ada di ruang tamu, mereka berdua ditemani oleh Inggrid sedang menunggu dokter Joko yang katanya akan datang sore ini.
Sesekali Inggrid keluar dan keliling sekitar rumah pak Pangat untuk memantau keadaan, apakah ada Paijo dan anggotanya yang mungkin menyanggong orang yang akan datang ke rumah pak Pangat
“Bu… sore ini masaknya banyak ya bu?”
“Iya mbak Tina.. selain untuk kalian berdua, nanti kan ada teman bapak yang akan datang kesini, mosok ada tamu datang sore ndak diajak makan malam sekalian”
“Sini biar Tina aja yang masak lodehnya bu.. ibu bisa goreng tempe dan ikan lelenya, biar cepet selesai bu”
“Hehehe… memangnya mbak Tina bisa masak lodeh?”
“Tina bisa masak apa saja….pokoknya diajarin dulu bu… untuk lodeh sih Tina sudah sering masak… nanti ibu bisa coba masakan Tina kira-kira enak apa nggak hehehe”
“Eh mbak Tina… mas Agus itu pacar mbak Tina?”
“Eh belum bu…. mas Agus belum ngomong sama Tina”
“Oalah … kalau ibu lihat, kalian berdua ini cocok, dan bisa saling melengkapi, ibu dengar kalian berdua cerita kepada bapak.. jadi waktu mas Agus dalam keadaan sakit, mbak TIna yang gerak kesana kemari”
“Hehehe itu karena terpaksa bu, karena Tina merasa keadaaan kami sangat tidak aman”
Istri pak Pangat ini tipe perempuan yang pendiam, selama aku dan mas Agus ada disini, dia muncul paling kalau menyediakan kopi atau makanan kecil.
__ADS_1
Istilahnya gak mau ikut campur urusan pak Pangat, tetapi sebaliknya di dapur, istri pak Pangat ini orang yang menarik untuk diajak bicara.
Istri pak Pangat bisa cerita apa saja yang sedang ngetren saat ini.
Dia juga ternyata seorang pemerhati, dia memperhatikan aku dan mas Agus sedemikian rupa, hingga kesimpulanya aku dan mas Agus ini cocok satu sama lain.
Ketika Aku masih memotong motong kacang panjang, tiba-tiba di depan seperti ada tamu yang datang.
“Mbak Tina…coba lihat, yang datang itu siapa, kalau yang datang itu dokter Joko dan temannya, mbak Tina disana saja, ibu nggak papa masak sendirian”
“Iya bu… Tina ke ruang tamu dulu ya”
Ternyata benar, yang datang adalah dokter joko dan seseorang yang penampilanya lebih tepat sebagai seorang kutu buku daripada reserse.
Tubuh kurus, jangkung, rambut tersisir rapi, kacamata bingkai tebal dan kemeja yang ujung bawahnya dimasukan ke bagian celananya, hingga nampak rapi sekali.
Mereka sedang duduk di ruang tamu ditemani oleh pak Pangat dan mas Agus.
Tapi aku tidak melihat keberadaan Inggrid, mungkin Inggrid sedang memantau keadaan di sekeliling rumah pak pangat.
“Bu Agus kita ketemu lagi disini hehehe”
“Gimana kabar lukanya dokter Joko, katanya dokter Joko dirujuk ke rumah sakit di kota besar?”
“Ndak bu Agus… saya tidak kemana-mana, hanya dirumah saja, tetapi saya bilang ke teman-teman yang ada di rumah sakit kalau saya dirujuk di kota S, ini juga saran pak Pangat”
“Oh gitu dok….”
“Jadi ceritanya itu…. ketika saya pingsan terkena pukulan kemudian dibantu beberapa satpam saya dibawa ke ruang UGD”
“Ketika saya sadar saya hubungi sahabat saya Pangat ini,... sahabat saya menyuruh saya untuk menghilang saja beberapa hari ini, istilahnya sembunyi saja”
“Karena menurut Pangat, orang yang memukul saya akan datang lagi”
“Lha dokter Joko datang kesini apakah keadaanya aman, eh maksud saya tidak ada yang mengikuti dokter Joko?” tanya mas Agus”
“Inshaallah aman pak…tidak ada yang mengikuti saya dari kota kesni”
“Inggrid juga sekarang sedang saya suruh untuk melihat keadaan di sekeliling, karena sekarang sudah menjelang malam, tentu saja bahaya bagi kita… karena kita tidak tau dimana Paijo dan temannya sekarang berada”
“Jadi dokter Joko sekarang masih belum dinas di rumah sakit lagi?”
“Belum bu Agus…saya tertarik sekali dengan kasus ini, dan saya sekarang membawa sahabat saya dari Polwiltabes kota S…. “
“Panggil saja dia mas Hari…”
“Perkenalkan saya Hari… hanya Hari saja hehehe” kata laki-laki yang terlihat kutu buku ini
“Saya Tina , dan itu mas Agus”
“Monggo mas Hari, bisa dijelaskan kasus ini kasus apa dan siapa saja yang terlibat” kata dokter Joko
“Jadi begini, saya jelaskan singkat saja… sebenarnya kasus ini sudah lama sekali, kami sudah lama mengadakan penyelidikan, tetapi tidak ada perkembangan yang berarti.. yang ada hanya kasus pencurian solar saja”
“Kemudian pada suatu ketika Pak Joko telepon saya, beliau ini bilang ada orang mati ditembak karena memergoki seorang polisi yang sedang pesta narkoba”
“Dari sini saya kemudian mencari file-file lama, dan kemudian saya mengadakan penyelidikan kembali, dan semua ini merujuk kepada anggota kami yang bertugas disini”
“Sayang sekali dari penyelidikan ini kami belum mendapatkan bukti A1, bukti yang akurat dan menunjukkan bahwa anggota kami memang terlibat di dalam bisnis ini”
“Untuk mempersingkat waktu, tolong diceritakan bagaimana pak Agus bisa terlibat di dalam masalah ini” kata pak Hari
“Mohon yang poin poin penting saja yang diceritakan saja”
“Waduh… semua ini kayaknya penting semua pak Hari hehehe” kata mas Agus.
“Ya sudah… monggo pak agus cerita.. eh saya boleh rekam cerita ini ya, untuk kami analisa lagi di kantor”
Pak Hari kemudian mengeluarkan alat perekam yang berbentuk kecil, dan kemudian dia letakan di meja ruang tamu.
Mas Agus mulai menceritakan dari pertama dia datang kesini, secara detail namun dipersingkat dan jelas.
Dalam beberapa poin cerita, pak Hari sempat menginterupsi apa yang diceritakan mas Agus, tetapi setelah dijelaskan mas Agus, dia kemudian paham dan menyuruh mas Agus untuk meneruskan ceritanya”
__ADS_1
Ketika mas Agus sudah sampai pada cerita ketika mas Agus diculik, tiba-tiba Inggrid datang dengan tergesa-gesa..