
Aku bergerak ke depan mbak Tina… Solikin makin dekat ke arahku
…AWAAAAS…!” teriak pak Diran
Belum selesai rasa kagetku dengan teriakan pak Diran…tiba-tiba Solikin sudah ada di depan mbak TIna, dia sedang berusaha mencekik mbak Tina….!
Mbah Sastro yang tadi ada di samping mbak Tina sudah terkapar di sebelah mbak Tina…
Bagaimana bisa aku tidak melihat apa yang dilakukan Solikin, apakah karena aku dari tadi sedang terpukau dengan aksi heroik Jiang yang akhirnya membuat Jiang terbakar bersama Fong?
……BAWA PERGI BU TINA SEKARAAANG……” teriak pak Diran samar-samar di telingaku… entah kenapa pendengaranku sekarang seperti bergema.
Aku…aku bingung… nggak tau harus bagaimana… apa yang aku lihat sekarang menjadi lambat, pelan, suara dan apa yang aku lihat menjadi slow motion, bahkan aku nggak tau apa yang harus aku lakukan.
Otaku membeku.. Tidak bisa berpikir apa-apa…..
Aku hanya bisa tersenyum, entah tiba-tiba perasaanku menjadi riang gembira, bahagia… aku tersenyum dan menoleh ke arah pak Diran yang sedang berusaha menarik tangan Solilkin
Tiba-tiba semua menjadi gelap… aku limbung……
……SPLAAAK…! …..PLAAK…!....
“Aduuuuh…” kubuka mataku, tapi penglihatanku berkunang kunang …. Ada yang menampar pipiku
“Heii sadarlah pak Agus.. ayo sadar!” teriak seseorang di sampingku
Kubuka mataku perlahan lahan……
“Dimana aku, dimana aku ini pak Hendrik”
Aku terbaring …. Di sebelahku pak Hendrik sedang melihatku dengan heran….
Aku terbaring di lantai sebuah mobil… kutoleh ke samping, ternyata ada mbak Tina.. mbak TIna yang wujudnya masih berbeda dengan mbak Tina yang aku kenal.
Di sebelah mbak TIna ada aku… ada tubuhku yang terbaring… aku bisa melihat tubuhku, pak Diran, pak Hendrik..
Apa aku mati..?!
Tapi tadi aku sempat membuka mata… dan aku lihat pak Hendrik menyuruh agar aku sadar…. Ya sekarang aku sudah sadar penuh, tetapi kenapa aku bisa lihat tubuhku sendiri.
__ADS_1
“Cepat pak Parlan.. Makin cepat kita keluar dari wilayah hutan ini makin baik” kata suara yang ada di depan…di sebelah supir
“Tenang dulu saja mas Agus… kita ada di mobil ambulan.. Kita sedang membawa Mbak Tina pergi dari wilayah hotel” jawab pak Hendrik yang ada di samping tubuhku dan sedang melihat ke jendela belakang mobil
Solikin… bagaimana dengan Solikin.. Dimana dia…. Apakah kita sedang menyelamatkan mbak Tina?
Tapi kenapa aku seperti ini.. Kenapa aku bisa melayang dan aku bisa melihat tubuhku yang terbaring di lantai mobil ambulance?
“Pak Dollah, bu Tugiyem dan dibantu oleh leluhur mbak Tina sedang berusaha membakar Solilkin, tapi ternyata dia cukup tangguh, dia tidak bisa dikalahkan begitu saja, gimana menurut pendapat pak Hendrik” kata pak Diran yang masih melihat ke arah jendela belakang pintu mobil ambulance.
“Apa yang terjadi dengan saya pak?” tapi tidak ada yang mendengar suaraku
Aku berusaha keras untuk bisa masuk ke dalam tubuhku lagi, tetapi tetap tidak bisa… seperti ada yang menutup pintu tubuhku, sehingga aku tidak bisa menerobos tubuhku sama sekali.
Nggak terasa air mataku meleleh, aku merasa gagal untuk menyelamatkan mbak Tina..aku yakin aku sudah mati dan aku ada di sebelah orang yang harus aku selamatkan dan aku cintai.
“APA YANG HARUS AKU LAKUKAN YA TUHAAAAAN…. Urusanku dengan iblis-iblis itu belum selesai ya Tuhankuuu.. Tolonglah aku… aku ingin menyelesaikan urusanku dulu ya Tuhan, setelah itu terserah kamu mau cabut nyawaku atau tidak”
Aku menangis tersedu-sedu di sebelah tubuhku yang terbaring di antara kaki pak Hendrik dan pak Diran.
Tiba-tiba aku melihat cahaya putih yang sangat menyilaukan.. Cahaya putih yang dingin, lembut tetapi sangat menyilaukan…
Cahaya itu semakin lama semakin sangat terang, sehingga menyebabkan aku menutup mataku. Setelah itu cahaya itu seperti mendorongku.. Aku terlempar keras seperti masuk ke dalam jurang yang dalam…
Seluruh tubuhku sakit, semua persendian rasanya sakit.. Dadaku paru-paruku sakit sekali.
“Aaaargggh… sakiiiiit”
“Pak Agus.. akhirnya kamu siuman juga…” kata pak Diran
“Dimana saya pak…?”
“Tadi kamu pingsan mas Agus…. Kamu tak sadarkan diri ketika Solikin memukul kepalamu ketika mas Agus berusaha menghalangi Solikin yang akan melakukan sesuatu kepada mbak TIna” kata pak Hendrik
“Di sini hanya ada saya, pak Diran, dan dokter Joko saja… “ kata pak Hendrik yang masih melihat ke arah belakang.
“Pak Diran.. Coba lihat cahaya itu… apakah itu Solikin yang sedang mengejar kita?” tanya pak Hendrik
“Tidak mungkin pak Hendrik, mana bisa dia mengejar kita, sementara dia sekarang sedang proses dibinasakan” jawab pak Diran
__ADS_1
Aku berusaha duduk di lantai bagian belakang ambulan, ternyata bagian belakang mobil ambulan ini lumayan luas juga, sehingga muat untuk kami berempat disini.
Aku berusaha bangun dan duduk bersama pak Diran dan pak Hendrik… terus kucoba mengangkat tubuhku….dan akhirnya bisa.. Kini aku duduk di bangku panjang mobil ambulan…
“Kalau masih pusing jangan bangun dulu pak Agus” kata pak Diran
“Sudah enakan pak, sebetulnya apa yang sedang terjadi dengan kita pak?”
“Pak Agus di pukul solikin hingga pingsan, dan kami tadi menggotong pak Agus dan bu Tina hingga masuk ke mobil ambulan ini” kata pak Diran yang masih melihat ke arah belakang
“Solikin tadi ditahan dan berusaha dibinasakan oleh teman kita yang ada disana… dan sesuai dengan mbah Sutinah agar membawa bu Tina sampai dia sadar dan berubah menjadi bu Tina yang sebenarnya” kata pak Diran
“Pak Diran.. Ada yang mau saya tanyakan… kenapa semuanya terlihat menjadi makhluk nyata, bukan makhluk tak kasat mata… mulai dari Fong hingga iblis yang menjadi jembatan penghubung, semua menjadi makhluk nyata!”
“Ya memang harus begitu pak Agus.. untuk mendapatkan apa yang bu Tina telan, mereka harus berubah menjadi mahluk nyata”
“SEBENTAR LAGI KITA KELUAR DARI AREA HUTAN….” teriak orang yang duduk di depan.. Siapa lagi kalau bukan dokter Joko
“TAPI MELALUI KACA SPION, SAYA LIHAT ADA CAHAYA YANG MENGIKUTI KITA” teriak dokter Joko
“Tetap tenang saja dok.. Kita yang akan urus yang di belakang ini” jawab pak Diran
Tiba-tiba mobil menjadi pelan…
“Dok, kenapa kok pelang?” tanya pak Hendrik
“DI depan kita, tidak jauh dari pintu keluar ada seseorang yang sedang berdiri menghadang mobil” jawab Dokter Joko
“I..itu bukannya Pangat… bukannya pangat sudah….” kata dokter Joko..
“Dok tabrak aja.. Jangan sampai kita terperdaya dengan mayat itu”
Pak Parlan meningjak gas mobil dalam dalam, mesin mobil meraung keras dan dengan hentakan yang cukup keras mobil melaju kencang ke arah pintu keluar….
….BRAAAAK!……. GLUDUK!
Mobil seperti menabrak dan melinda sesuatu…..
Mobil terus melaju kencang menuju ke jalan desa…
__ADS_1
Tetapi dari jendela belakang aku nggak bisa lihat sesuatu yang barusan di lindas.. Tidak ada seonggok apapun di tengah jalan, jangan-jangan sesuatu itu tersangkut di kolong mobil.
“Kita tadi menabrak pangat sahabatku…. Tapi biarlah dia bukan pangat, dia iblis!” kata dokter Joko pelan..