RUMAH PENGGERGAJIAN

RUMAH PENGGERGAJIAN
220. MIMPI MBAK TINA


__ADS_3

Pagi hingga siang hari tidak ada sesuatu yang menonjol, kami bekerja seperti biasanya…


Ada beberapa tamu yang sudah checkout dan ada beberapa tamu yang datang juga… kamar atau pondokan selalu dalam keadaan penuh, tidak pernah ada yang kosong.


Aku, pak Cheng dan Jiang bekerja seperti biasa sebagai pegawai dinas kebersihan dan umum hehehe.


Sedangkan mbak TIna masih ada di depan meja resepsionis… kadang kalau mbak Tina ngantuk, aku yang menggantikan dia di depan meja resepsionis.


Pak Diran siang ini tidak jaga, dia gunakan waktu siang ini menuju ke tempat gurunya, entah guru apa yang sedang dia datangi, yang pasti guru spiritualnya lah hehehe.


Oh iya.. Nanti malam Cheng dan Jiang akan pulang ke alamnya.. Aku gak tau bagaimana caranya mereka pulang ke alamnya, yang pasti mereka nanti akan minta bantuan kepada leluhur mbak Tina.


“Pak Cheng… nanti malam gimana rencanaya pak Cheng dan Jiang?”


“Nanti malam saya dan Jiang akan ke tengah hutan sana Gus, seperti ketika kami datang ke sini sebelumnya, nanti Sutinah yang akan mengatur semuanya”


“Trus raga yang kalian pakai ini bagaimana pak Cheng, takutnya nanti raga ini linglung dan tidak tau apa yang harus dilakukan, saya bisa keteteran kerja disini sendirian pak”


“Harusnya tidak begitu Gus, raga ini hanya bermimpi saja, dan akan bekerja disini sesuai yang saya lakukan selama ini”


“Kan raga ini awalnya hanya teknisi yang membuat papan reklame pak, terus kalau tiba-tiba kerja sebagai pembersih hotel jelas akan berantakan pak… menurut saya raga ini jangan kemana mana selama pak Cheng ada di alam sana”


“Gak bisa Gus… sebentar saya pikirnya dulu Gus, apakah raga ini harus pulang ke rumahnya atau gimana. Saya bingung juga Gus”


“Eh atau begini saja. Bagaimana kalau saya saja yang pulang, Jiang tetap disini bersama kalian…. Nanti kalau saya kesini saya akan gunakan atau pinjam raga baru saja?”


“Kan harus ijin pak Jay dulu pak Cheng.. Gak bisa semudah itu pak”


“Begini saja Gus.. saya pinjam teleponya, saya mau hubungi pak Jay dulu, saya akan bilang ada keluarga saya yang sedang sakit…. Gimana kalau begitu Gus?”


“Berarti Jiang tetap ada disini ya pak Cheng?”


“Iya biarkan dia ada disini bersama kalian….  Gimana menurutmu Gus?”


“Ya sudah pak… eh tapi ini pak Cheng ijin tidak masuk untuk berapa hari pak Cheng?”


“Nah ini yang agak sulit Gus.. karena waktu di duniamu dan dunia saya itu berbeda…. Begini saja lah, saya akan mita keluar dari sini, dan dipersilahkan pak Jay untuk mencari  pegawai baru…. Nanti kalau saya datang, pegawai baru itu akan saya pinjam tubuhnya”


“Saya setuju dengan usulmu itu pak.. Lebih baik begitu, jadi pak Jay bisa cari pegawai baru disini”


Sebelum pak Cheng menghubungi pak Jay melalui telepon, kami berempat berembuk tentang rencana yang  akan dilaksanakan itu.


Dan untungnya kami semua setuju dengan usulan dari pak Cheng, termasuk si Jiang yang merupakan sahabat pak Cheng, Jiang akan tetap ada disini bersama aku dan mbak Tina.


Siang hingga sore hari tidak ada sesuatu yang spesial sama sekali, aku ada di belakang halaman di  pinggir sungai, tempat yang biasanya cukup bahaya, karena ada sebagian daerah sungai yang agak dalam dari pada yang lainya.


Sebentar lagi pak Diran akan datang menggantikan penjaga siang yang bernama pak Yogi….


Mbak Tina masih ada di bagian bangunan utama, dia ada di belakang meja resepsionis. Sedangkan pak Cheng dan Jiang sedang melayani tamu yang ingin kamarnya dibersihkan.


Menjelang maghrib pak Diran datang menggantikan pak Yogidalmu yang selesai tugas paginya.


Kami ada di ruang utama, dan pak Cheng menceritakan usulanya untuk kembali ke alamnya dalam usaha untuk mengajak Inggrid menjadi manusia di alam manusia.


“Tidak papa kalau memang harus begitu pak Cheng, jadi Jiang tetap ada disini bersama kita” kata pak Diran


“Lalu rencana pak Cheng untuk menghubungi pak Jay kapan?”


“Sekarang saya akan telepon pak Jay  saja…. “


Kebetulan kami sudah selesai mengantar makan malam ke tiap kamar, sehingga kami bisa agak santai di ruangan utama sambil ngobrol dan menunggu pak Cheng yang sedang bicara bertelepon dengan bos kami Pak Jay.


Pak Cheng mengutarakan maksud dan tujuannya untuk keluar dari sini, dengan alasan dia tidak bisa meninggalkan keluarganya yang ada di desanya.


Setelah mengobrol agak lama akhirnya selesai juga pembicaraan antara pak Cheng dan bos Jay.


“Pada dasarnya pak Jay tidak mau saya pergi dari sini dengan alasan keluarga saya yang saya tinggal, bahkan tadi pak Jay bilang kalau dalam waktu dekat ini akan menaikan gaji kita semua”

__ADS_1


“Tapi akhirnya pak Jay  mengijinkan juga setelah saya bersikeras untuk pergi dari sini, dengan jaminan bahwa kamu Jiang, Agus dan mbak Tina tetap ada disini”


“Eh pak Diran… bagaimana, apa yang pak Diran dapat dari gurunya pak Diran?” tanya pak Cheng


“Pada intinya saya harus melindungi kawasan tempat saya bekerja… dan guru saya sewaktu waktu akan datang ke sini untuk melihat seberapa parah keadaan disini”


“Dan nanti dia sendiri yang akan mengambil tindakan atas apa yang terjadi disini”


“Jadi kita tetap menunggu yang namanya Inggrid itu datang ke sini, baru kemundian kita gempur dia ramai ramai” jawab pak Diran


“Ya sudah kalau begitu… kalian semua bearti tunggu saya… saya akan membawa Inggrid ke sini entah bagaimana caranya itu” kata pak Cheng


Setelah jam sembilan orang catering pulang, pak Cheng pun siap-siap untuk keluar dari area hotel menuju ke tengah hutan tempat leluhur mbak Tina berada.


Setelah dirasa keadaan disini aman, pak Cheng kemudian mulai melangkahkan kakinya menuju ke luar hotel dan menuju ke tengah hutan.


“Sekarang pak Cheng sudah kembali ke asalnya, tinggal sekarang kita berempat yang ada disini” kata pak Diran


“Dan sesuai dengan yang dikatakan guru saya, kita harus menjaga tempat ini, dan beliau akan membantu kita apabila keadaan disini tidak bisa kita atasi”


“Jadi sambil menunggu pak Cheng kembali, ada baiknya kita tetap kerja seperti biasa dan menjaga tempat ini sebisa mungkin”


“Karena saat ini kita kekurangan orang, kita harus menghemat energi kita, jadi ada baiknya mbak Tina dan Jiang tidur dulu untuk saat ini, biar saya yang jaga di meja resepionis…. Besok pagi mbak Tina dan JIang yang jaga disini menggantikan saya”


“Tapi mas Agus sendirian disini nggak papa?” tanya mbak Tina


“Nggak papa mbak. Kalau malam kan relatif aman dan tidak ada tamu yang datang ke sini, saya akan dibantu oleh pak Diran disini… kamu juga Jiang.. Kamu tidur dulu saja, nanti kalau saya gak kuat, kamu akan saya bangunkan”


Jam sepuluh malam mbak Tina masuk ke kamar depan yang merupakan  kamar yang ditempati, jiang masuk ke kamar  yang ada di belakangnya juga.


Sekarang tinggal aku dan pak Diran saja yang ada di hotel ini.


“Pak Agus… saya mau patroli dulu.. Pak Agus tunggu disini saja dulu, nanti kalau ada apa-apa pak Agus akan saya beritahu”


“Ok pak Diran…. Saya jaga disini dulu saja pak”


“Eh apa pak Agus  mau saya panggilkan mbak Kunti yang kemarin, buat nemenin pak Agus  jaga disini hehehe”


Malam ini aku sendirian di ruang utama, sedangkan pak Diran sudah menuju ke bagian belakang hotel, dia sedang patroli  di sekitar kamar hotel sebelum kembali ke ruangan utama lagi.


Malam ini rasanya sepi sekali, tidak beda dengan ketika aku menjaga rumah penggergajian pada waktu itu.


Angin di luarpun tidak sampai membuat daun pohon yang ada di luar sana bergemerisik, suasana tenang dan semoga setenang keadaan disini.


“Di belakang aman pak Agus… kunti yang kemarin ngobrol bersama kita ada disana, dia katanya mau jaga bagian belakang hotel, dan kalau ada apa-apa dia akan masuk ke sini dan memberitahu kepada kita”


“Sik pak… katanya disini ada pagar ghaibnya.. Tapi kenapa kunti itu bisa masuk ke sini?”


“Saya juga tidak tau pak Agus… tapi menurut saya, kunti itu sudah ada lama disini, dan kemungkinan besar yang jaga disini juga sudah kenal juga dengan mbak Kun itu”


“Berbeda dengan Kunti yang sudah hilang yang katanya belum lama ada pohon itu”


“Ah saya bingung juga pak… berarti yang namanya pagar ghaib itu juga bisa memilah milah siapa yang lama ada disini dan yang baik juga gitu pak?”


“Hehehe pembuat pagar ghaib ini pasti juga punya kriteria sendiri tentang siapa yang bisa tinggal disini dan siapa yang tidak bisa tinggal disini kan”


“Sudah pukul sebelas malam dan belum ada apa-apa juga pak Agus…jadi kemungkinan besar keadaan disini aman-aman saja”


Aku berdua bersama pak Diran di ruang tengah…. Kami menunggu dan berjaga apabila ada sesuatu yang mencurigakan di sekitar sini.


Ketika kulihat jam sudah menunjukan hampir pukul dua belas malam… sayup sayup aku mendengar teriakan minta tolong.


Kutegakkan posisi dudukku agar aku bisa mendengar suara permintaan tolong itu dengan lebih jelas, begitu pula dengan pak Diran.. Dia juga berusaha mendengarkan suara permintaan tolong itu.


“Pak Agus… dengar suara itu?” bisik pak Diran


“Iya pak…. Tapi sekarang suara itu sudah hilang, dan saya belum bisa mendeteksi suara itu berasal dari mana pak”

__ADS_1


“Pak Agus.. coba lihat ke kamar Bu Tina… perasaan saya suara minta tolong tadi itu berasal dari kamar itu” tunjuk pak Diran pada kamar mbak Tina yang tertutup pintunya.


Aku berdiri dari duduk di sofa ruangan utama..


Kubuka pintu kamar mbak Tina.. dan yang kulihat mbak Tina sedang duduk di pinggir tempat tidur dengan keringat yang membasahi wajahnya.


“Mbak…. Ada apa!”


“M..mas…tolong Tina mas… tolooong ” kata mbak Tina yang masih duduk di pinggir tempat tidur dengan wajah menatap lantai kamar


“Ada apa mbak….saya sudah ada disini mbak”


“Tolong Tina …. Ini sangat mengerikan mas…..”


“Ayo saya bantu berdiri dan kita dudul di sofa saja mbak… kita ngobrol bersama pak Diran”


Tina tetap diam sambil tetap melihat ke lantai kamar.. Dia melihat lantai kamar yang harusnya tidak ada yang aneh dengan lantai kamar ini dengan wajah yang ketakutan.


Mbak Tina terus memperhatikan lantai kamar.. Hingga beberapa saat dia memperhatikan lantai kamar yang tidak ada apa-apanya sama sekali.


“Mbak Tina… ayo kita ke ruang tengah saja mbak…. Ayo mbak” ku ulurkan tanganku ke arah mbak Tina yang masih melihat lantai kamar, tapi uluran tanganku ini tidak dia lihat


“Mas… tolong Tina mas…..” mbak Tina meminta tolong tanpa melihat ke arahku sama sekali, seakan akan dia hanya meminta tolong kepada orang lain selain aku


“Ayo sini saya tolong mbak Tina.. ayo pegang tangan saya mbak… eh sebentar mbak, saya panggil teman saya dulu ya mbak”


Tapi dia tetap tidak melihat aku …. Dia tetap melihat ke lantai kamarnya saja, dia tetap tidak melihat aku sama sekali


Gawat mbak Tina ini…


Pasti ada yang masuk ke dalam pikirannya sehingga dia bisa seperti ini, aku harus minta bantuan pak Diran., aneh juga kenapa mbak Tina bisa seperti itu, bukannya dia dilindungi oleh penduduk asli sini.


“Gimana pak Agus..?”


“Pak Diran….bantu saya pak, mbak Tina kok aneh sekali pak…. Ayo cepat pak”


Aku persilahkan pak Diran untuk masuk terlebih dulu ke dalam kamar mbak  Tina…


Ketika aku dan pak Diran ada di dalam kamar mbak Tina, ternyata mbak Tina dalam keadaan tidur di tempat tidurnya, dia tidak sedang duduk atau meminta bantuan, atau sedang melihat ke arah lantai.


“Dia sedang tidur gitu pak Agus…. Tadi memangnya kenapa pak?” bisik pak Diran


“Kita bicara di luar saja pak Diran”


Kuceritakan kepada pak Diran apa yang terjadi dengan mbak Tina ketika tadi dia meminta pertolongan, dan ketika dia melihat lantai kamar dengan pandangan ketakutan.


Pak Diran mendengarkan ceritaku ini dengan wajah yang tidak bisa aku tebak.


“Nanti saja ketika dia sudah bangun kita tanyakan tadi dia mimpi apa mas, karena saat ini di dalam kamar itu tidak ada apa-apanya sama sekali”


“Mungkin karena terlalu capek, akibatnya dia bermimpi yang tidak-tidak pak Agus… jadi biarkan saja hingga dia bangun”


*****


Adzan subuh lamat lamat terdengar… seperti biasanya aku selalu sempatkan untuk sholat subuh dahulu sebelum melakukan pekerjaan lainya.


Jiang sudah  ada di belakang sedang menunggu chattering datang, sedangkan pak Diran sudah ada di posnya, mungkin dia sempatkan untuk istirahat juga.


Ketika aku selesai dengan ibadahku, pintu kamar mbak Tina terbuka.


Mbak Tina keluar dari kamar dengan wajah yang tidak segar sama sekali, dia kelihatannya capek sekali, padahal dia semalam tidur dari jam sepuluhan hingga adzan subuh….


“Mas… Tina kok gak dibangunin sih mas….”


“Ini juga mau saya bangunan eh bangunin mbak Tina, kok mbak Tina udah bangun duluan”


“Tina mau sholat subuh dulu mas… mas Agus kalau mau ada kerjaan nggak papa kok Tina disini sendirian mas”

__ADS_1


“Nanti saja mbak.. Catering belum datang kok. Di samping hotel sudah ada Jiang yang sedang menunggu catering datang”


“Ya udah mas… Tina nanti mau cerita sesuatu ke mas Agus” kata mbak TIna yang kemudian masuk ke dalam kamar mandi untuk berwudhu


__ADS_2