RUMAH PENGGERGAJIAN

RUMAH PENGGERGAJIAN
309. PERGI DARI SINI DAN JEMPUT GUSTA!


__ADS_3

Sekitar lima belas menit  sudah aku mendengar suara-suara aneh itu, keadaan semakin menakutkan ketika anakku si Gustin tiba-tiba menangis tanpa sebab, dia menangis sambil matanya melihat kesana kemari.


Seakan akan ada banyak obyek yang dia lihat di dalam kamarku, obyek yang mungkin bagi dia menakutkan sehingga Gustin manangis menjadi jadi.


Aku dan istriku hanya bisa menenangkan Gustin dengan mengelus kepala dan punggungnya.


Suara-suara aneh itu semakin lama tidak semakin hilang, namun semakin lama semakin bertambah keras, disertai dengan bisikan bisikan aneh yang aku tidak paham apa yang dibicarakan dengan bisikan bisikan itu.


Gustin semakin menangis menjadi jadi, istriku kalut dan bingung apa yang harus dilakukan dan apa yang terjadi dengan kami.


Aku… aku cuma bisa berdoa saja, aku juga bingung harus apa, karena aku tidak tau apa yang sedang terjadi di sini.


Tiba-tiba aku mendengar suara pintu depan ada yang menggedor.. Dug…dug…dug.


“Pak Agus… cepat buka pintunya!” di antara suara bisikan aneh dan desingan yang gak jelas, aku mendengar suara pak Diran yang memanggilku dari depan rumah


DUG…DUG…DUG!


“PAK AGUUUUS!....CEPAT BUKA PINTUNYAAA!” teriak suara  yang mirip dengan suara pak Diran


“Mas…itu suara pak Diran… cepat buka pintunya mas” kata Istriku dengan panik


“Kamu yakin itu suara pak Diran yank!” aku ragu, karena pak Diran saat ini harusnya ada di proyek untuk jaga malam


“Apa mas tidak yakin…. Kita dalam bahaya mas!”


“kalau yang ada di luar itu bukan pak Diran gimana Yank!.... Apa kamu siap apabila ada apa-apa dengan aku dan kalian?”


Istriku terdiam….


Aku ragu apabila yang ada di luar itu benar-benar pak Diran, seandainya bukan, dan ternyata suara panggilan itu hanya untuk memancing aku agar aku keluar dari rumah bagaimana?


DUG…DUG…DUG….DUG…suara daun pintu digedor dari luar


“PAK AGUS… BUKA PINTUNYA… CEPAT KELUAR!... KALIAN DALAM BAHAYA BESAR!” teriak suara yang mirip dengan suara pak Diran lagi


Aku tidak memperdulikan suara itu… aku tau itu hanya pancingan agar aku keluar dari kamar ini.. Aku tidak akan tertipu dengan suara-suara aneh.


Sementara itu Gustin anakku masih saja menangis dengan keras, anehnya dia selalu menoleh ke semua arah di kamar ini, tiap dia menoleh kekiri, kanan, atas, bawah. Seolah olah ada sesuatu yang terjadi di sekitar kamar ini.


Suara yang mirip dengan suara pak Diran sudah hilang, tetapi suara bisikan dan suara desingan masih saja terjadi dan semakin banyak dan semakin keras. Anakku pun semakin keras nangisnya.


BUG…BUG…BUG..BRAAAAAK….!!!!!


“Mas……!”

__ADS_1


“Itu suara daun pintu yang didobrak dari luar mas!” teriak istriku makin kebingungan


“Mas… siapa yang mendobrak pintu rumah kita!”


“Ssstt diam dulu yank!” aku berusaha untuk mendengarkan suara-suara yang ada di depan kamarku…


Aku sudah siap dengan sebuah gunting kertas.. Aku sudah siap menusuk siapapun yang masuk ke dalam kamar dengan gunting yang aku pegang.


“Kalian kembali ke proyek, biar saya yang urus pak Agus!” aku mendengar suara pak Diran berkata begitu di luar rumah


“Tapi pak…” kata suara dari luar


“Sudah … kalian kembali jaga di proyek saja, biar saya saja yang urus pak Agus.” kata suara yang mirip dengan pak Diran


Suara beberapa langkah kaki pergi dari rumahku…


“Pak Agus, saya Diran pak… cepat keluar dari sini!”


“Kalau memang pak Agus masih hidup beri tanda dengan memukul pintu kamar ini… kalau pak Agus tidak memberi tanda, saya akan masuk ke kamar pak Agus”


“Mas…. itu pak Diran mas.. Cepat teriak mas, siapa tau memang kita dalam bahaya mas” rengek istriku dengan suara yang agak keras


“Bu Tina… ini saya Diran bu, cepat keluar dari kamar dan kita harus segera pergi dari sini sebelum terjadi sesuatu yang mengerikan” kata suara pak Diran dari depan kamarku.


“Pintu rumah saya dobrak bersama anggota satpam lainya… sekarang saya akan buka pintu kamar ini dan membawa pak Agus dan bu Tina keluar dari sini segara!” teriak pak Diran lagi


Aku buka pintu kamar, pak Diran di depan kamarku dengan wajah penuh keringat dan ketakutan.. Dia hanya berdiri dan memandang kami bertiga.


“Sekarang juga kalian pergi dari sini dan jemput Gusta di rumah saya…cepat!” kata pak Diran membuka pintu kamarku selebar mungkin.


“Tidak usah bawa barang-barang.. Cepat pergi dari sini!” kata pak Diran sekali lagi


“Sebenarnya ada apa pak?”


“Nanti akan saya jelaskan di mobil pak Agus… pokoknya sekarang juga naik mobil, tidak usah bawa barang-barang.. Kelamaan!”


“Barang-barang sudah ada di dalam mobil pak, semua sudah saya siapkan di dalam mobil”


Pak Diran membantu aku dan Tina, dia menggeser pintu rumah yang sudah rusak karena didobrak tadi, kemudian dia membukakan pintu mobil belakang milik pak Hendrik…


Istriku bersama Gustin duduk di bangku belakang, aku mengemudi, dan pak Diran ada di sebelahku…


Anehnya beberapa kali aku menstarter mobil ini, tetapi mesin mobil ini tidak mau menyala, mesin mobil ini rusak!


“Mobil ini rusak pak… padahal tadi pagi tidak apa-apa!” aku panik karena mesin mobil tidak mau menyala juga

__ADS_1


“Ini tidak rusak pak Agus.. ayo bantu dengan doa. Bu TIna, pak Agus, ayo bantu.. Kita berdoa bersama demi keselamatan kita semua….” kata pak Diran


Dari apa yang dikatakan pak Diran, aku bisa mengira bahwa mobil ini tidak bisa di starter bukan karena rusak, tetapi karena ada sesuatu yang mengganggu.


Setelah beberapa saat kami berdoa dengan khusuk, aku coba lagi untuk menstarter… setelah beberapa kali mencoba, akhirnya mesin mobil ini bisa nyala juga.


“Sekarang ke rumah saya pak Agus, cepat pak sebelum terlambat!”


“Sebenarnya ada apa pak Diran… apa yang terjadi dengan keluarga kami, anak saya sampai menangis keras sekali pak”


“Gini pak.. Tadi waktu saya sedang akan patroli malam..saya iseng melihat ke arah rumah pak Agus… ternyata di atas atap dan sekitar rumah pak Agus beberapa kali saya melihat percikan sinar…”


“Percikan sinar itu tidak hanya sekali, tetapi secara terus menerus. Saya curiga pasti ada sesuatu disana, akhirnya saya datangi rumah pak Agus”


“Dan yang terjadi adalah penjaga Gusta sedang berperang dengan anak buah dari leluhur bu Tina… saya tidak tau apa sebabnya mereka sampai berperang, tetapi saya bisa simpulkan karena energi dari penjaga Gusta ini membuat tidak senang penjaga hutan ghaib”


“Pak Agus dan Bu Tina kan tau kalau kita memisahkan Gusta dan Gustin agar energi mereka berdua ini tidak bersatu, karena apabila energi mereka bersatu bisa mengakibatkan sesuatu yang mengerikan di sekitar hutan yikan”


“Gusta memang bisa dipisahkan, tetapi penjaga yang ada di dalam tubuh Gusta tidak bisa berpisah dengan Gustin, dan ternyata sekarang penjaga hutan ghaib berperang dengan penjaga Gusta”


“Saya takut kalau penjaga Gusta kalah, saya takut Gusta tidak akan selamat….” kata pak Diran dengan nada sedih


“Gusta sudah seperti anak saya sendiri, sudah satu tahun dia ada di rumah saya, saya tidak mau ada apa-apa dengan Gusta” kata pak Diran


“Saya yakin dengan mengambil Gusta dan membawa pergi dari sini bersama Gustin, dalam artian kita menyatukan kembali anak kembar ini maka kemungkinan dia akan selamat…. Penjaga Gusta akan hilang dari hutan ghaib itu dan mengikuti Gusta untuk menjaga Gustin”


Aku mempercepat kecepatan mobil…. Gustin yang tadinya menangis sejadi jadinya, sekarang lambat laun sudah mulai tenang dengan semakin jauhnya kami dari rumah kami.


Kami masih ada di area jalan hutan yang menuju ke proyek, kami belum benar-benar keluar dari wilayah hutan.


Pak Diran menoleh ke belakang…. Dia nampak terkejut ketika menoleh ke belakang


“Pak Agus… tolong dipercepat pak” kata pak Diran yang masih melihat ke belakang


“Kenapa pak Diran?” tanya Tina


“Beberapa dari penjaga hutan mengejar kita.. Cepat kita harus bisa keluar dari area hutan ini dengan segera!”


\======================


Saya mbak Bashi mengucapkan SELAMAT HARI RAYA IDUL FITRI…


MINAL AIDZIN WAL FAIDZIN, MOHON MAAF LAHIR BATIN.


Maafkan apabila di dalam novel ini ada kata-kata yang kurang pantas atau membuat pembaca tidak enak.

__ADS_1


Salam hangat


Mbak Bashi


__ADS_2