
Kayaknya dua orang itu sudah langganan di warung ini, sehingga pegawai warung ini langsung membuatkan kopi tanpa pesan terlebih dahulu.
Bearti dua orang yang ada di belakangku ini sering ada disini, hanya saja seringnya itu mulai kemarin atau memang sudah sering kesini sebelumnya.
“Tini… saya makan kayak biasanya ya…” kata salah satu orang yang ada di belakangku
“Hush Tina Tini Tina Tini ae… mbak gitu lho mas” kata pegawai warung dengan suara yang endel
“Hehehe lha wong kamu itu ndak pantes dipanggil mbak… pantesnya dipanggil mas ae hahahah” jawab salah satu dari orang itu.
“Liaten ta tanganmu iku… cocoke buat ngaduk semen sama pasir dari pada masak di warung ini hahahahah” jawab orang yang dari tadi hanya diam saja
“Iyo Tin.. kamu itu balik jadi Tono aja dan ngaduk semen lagi hahahaha”
“Iya mas Gun… Tini itu dulu lak bekas kuli bangunan di desa sebelah… sekarang ae dia jadi banci dan kerja disini hihihih” kata orang yang memesan makanan tadi
“Ngawor ae sampean iki mas….nek ngomong yang bener rek… aku ini bukan bantji yoooo!...”
“Tangan ku sudah halus rek…sudah perawatan yoooo. ojo disamakan sama bojomu yang dirumah…,yang gak pernah perawatan mas” jawab pegawai warung yang ternyata pernah jadi kuli bangunan
“Hahahahah… kamu itu satu desa sama aku Tin… aku lho tau gimana modelanmu dulu hahahaha” jawab orang yang dipanggil dengan nama mas Gun itu.
“Wis ah mas Gun.. gak usah ngurus Tini…dia gak akan mau sama kamu mas Gun hehehe… punyakmu kan bengkok ke kiri atas mas… kasihan Tini nya mas heheheh”
“Iyo Han… kita cangkruk disini aja sambil nunggu Solikin biadab itu keluar… aku wis gemes sama solikin.. mau tak habisi kalau dia sudah keluar dari sana!” kata orang yang dipanggil Gun.
Aku tidak bisa konsentrasi makan.. karena pembicaraan dua orang di belakangku yang seolah menyatakan bahwa pegawai warung itu bantji.
Mereka saling memanggil dengan panggilan Gun dan Han…
Kalau Han.. bisa saja Burhan.. hanya saja kalau Gun itu yang aku tidak tau…apakah ini adalah orang baru lagi selain Wandi dan Mamad.
Dan ternyata mereka berdua sedang menunggu Pak Solikin, mereka tidak menunggu aku dan mas Agus.
Lalu sebenarnya apa yang dilakukan pak Solikin hingga mereka berdua begitu kesalnya dan akan menghabisi pak Solikin.
“Tin… aku nggak jadi makan, nanti siang saja kami kesini lagi, ada urusan yang harus diselesaikan di tengah hutan” kata salah satu dari mereka.
“Mugo-mugo kalian berdua dicaplok macan di hutan sana” jawab Tini
Dua orang itu segera pergi dari warung ini… kini tinggal aku dan Tini saja yang ada disini.
Ini adalah kesempatanku untuk bicara dengan pegawai warung yang bernama Tini yang ternyata dulunya adalah buruh bangunan.. eh tapi tidak tau lagi sih..wong wajahnya bersih dan putih kok.
“Mbak… saya pesan kopi susu bisa?” tanyaku kepada Tini
“Iya mbak.. saya bikinkan dulu…”
“Eh mbaknya ini namanya Tini ya hehehe, saya dengar omongan dari dua orang tadi itu”
“Ih iya mbak… mereka berdua itu memang nggateli kok mbak…” jawab Tini sambil membuatkan aku kopi susu
“Mereka itu apa langganan disini ya mbak Tini, kok kayaknya sudah akrab sekali sama mbak Tini hehehe”
“Mereka berdua itu teman satu desa mbak.. yang satu namanya Gunawan, satunya Burhan”
“Burhan kerja di penggergajian yang ada di tengah hutan itu, sedangkan Gunawan itu serabutan mbak”
“Eh maaf mbak Tini.. mbak Tini ini waria?” aku penasaran
“Hahahaha ya tidak mbak… saya perempuan tulen… mereka menyebut saya bantji karena dulu saya pernah kerja bangunan sebelum saya ikut bu Saritem”
“Pokoknya apa saja saya kerjakan untuk dapat uang mbak.. meskipun bangunan juga tidak masalah” kata Tini sambil menyerahkan kopi susu kepadaku.
“Oalah saya kira mbak Tini ini waria hehehe. makanya saya heran juga, gak mungkin waria secantik mbak TIni ini hehehe”
“Ya tidak lah mbak.. mereka berdua kalau guyonan kadang keterlaluan” kata Tini sambil duduk di kursi pojokan
“Kedua teman saya ini baru dua hari ini sering kesini, bahkan kemarin mereka berdua seharian disini”
“Lho ngapain mereka seharian disini mbak Tini… kan ada bu Saritem?”
“Katanya sih mereka berdua sedang menunggu orang yang akan keluar dari rumah sakit itu. kalau tidak salah namanya Solikin”
“Oh gitu.. memangnya yang namanya Solikin itu saudaranya Gunawan dan Burhan?”
“Nggak mbak… malah kata mereka yang namaya solikin itu pengedar pil koplo mbak” bisik Tini.
“Bu Saritem sih ndak masalah mereka ada disini, yang penting bayar .. beli makan dan minum hehehe”
Kok aneh…. mereka hanya mengejar Solikin, sedangkan aku dan mas Agus bukan menjadi target mereka.
Sedangkan info dari satpam mereka sempat dengar bahwa ada orang mencurigakan yang berniat menculik perempuan yang ada di rumah sakit.
Dan aku kira perempuan itu adalah aku….
Tapi sekarang info yang aku dapat mereka sedang mengincar pak Solikin.
__ADS_1
Hanya saja waktu malam hari itu yang datang kesini adalah Wandi dan mungkin bersama Mamad, tapi harusnya juga ada Burhan kan.
Tapi barusan info dari Tini barusan.. Burhan ada disini bersama Gunawan, dan mereka sedang menunggu orang yang bernama Solikin.
“Mbak Tini… kemarin malam.. ada orang yang ada disini juga ya…Orangnya agak tua dan kepalanya agak botak gitu mbak?”
“Oh iya ada mbak… kok mbaknya tau?”
“Semalam saya mau kesini, hanya saja disini banyak laki-laki, saya jadi takut mbak”
“Iya mbak… semalam ada orang yang agak tua disini, dia bersama satu orang kawannya. mereka berdua datang naik motor dari arah luar kota sana” tunjuk Tini ke arah jalan besar yang ke luar kota
“Mereka berdua diusir sama ibu.. karena kelakuan mereka berdua mencurigakan mbak”
“Masak mereka ngomong dengan keras katanya mau culik perempuan yang ada di rumah sakit karena dendam.. gitu mbak”
“Ibu Sari tentu saja marah, kemudian mengusir mereka berdua dari warung ini mbak”
“Iya mbak Tini… saya takut, makanya saya suruh satpam untuk beli makan disini”
“Oh yang kemarin malam yang nyuruh Paidi itu mbaknya to?” tanya Tini dengan heran
“Iya mbak… saya kan mau ke sini, kemudian liat ada orang yang agak botak dan kayaknya dia penjahat khelamin juga, makanya saya suruh satpam rumah sakit untuk beli makan malam disini”
Waduh makin rumit aja…
Ada kelompoknya Kunyuk yang bersama pak Wito dan Yetno. Kunyuk sempat mendatangi mas Agus untuk lebih hati hati apabila keluar dari sini
Kemudian ada lagi Wandi dan mamad.. mereka berdua katanya mau culik perempuan yang akan keluar dari rumah sakit.
Kemudian ada lagi kelompok Burhan dan Gunawan yang sedang menunggu pak Solikin keluar dari rumah sakit..
Semua ini makin membingungkan, sebenarnya apa salah dari pak Solikin hingga mereka Burhan dan Gunawan akan membuat perhitungan dengan pak Solikin.
Tapi nanti coba aku lihat dulu bagaimana keadan pak Solikin… tapi aku tidak akan bilang bahwa dia sedang ditunggu oleh Burhan dan orang yang bernama Gunawan.
“Mbak TIni.. eh saya sudah selesai makan ini… berapa semuanya mbak?”
“Semua lima belas ribu saja mbak.. oh iya ..nama mbak nya ini siapa ya?” tanya Tini
“Panggil saja saya Anggrek mbak.. ibu saya suka tanaman anggrek. jadi dia memanggil saya dengan nama Anggrek hehehe”
Setelah melakukan pembayaran aku balik ke rumah sakit..
Yang pertama akan aku lakukan adalan ke kamar pak Solikin untuk melihat bagaimana kabar pak Solikin, apakah dia akan keluar dari rumah sakit untuk hari ini atau bagaimana.
Aku berjalan melewati pos keamanan
“Selamat pagi pak hehehe”
“Pagi juga bu… sudah selesai sarapannya?”
“Sudah pak.. saya akan kembali ke kamar suami saya pak”
“Monggo bu.. siang nanti kalau ibu mau keluar makan siang.. tolong kabari kami dulu ya bu”
“Baik pak”
Aku berjalan santai di selasar rumah sakit yang saat ini ramai sekali..
Aku akan ke kamar pak Solikin , siapa tau sekarang yang jaga anak dia yang bernama Santi.
Ternyata benar.. di bangku depan kamar ada Santi yang sedang duduk sendirian.
“Mbak Santi… sedang apa kok sendirian di luar kamar”
“Eh ada mbak Tina.. iya mbak.. saya sedang suntuk…”
“Lho kenapa mbak, bukanya hari ini bapak akan keluar dari sini?”
“Iya..harusnya seperti itu mbak Tina… tapi ternyata setelah pemeriksaan dokter… bapak saya belum bisa meninggalkan rumah sakit”
“Katanya masih ada yang harus dipulihkan lagi….padahal bapak sudah benar benar sehat!”
“Saya kan bingung mbak.. biaya rumah sakit ini kan tidak murah” kata Santi dengan sedih
“Saya tau mbak Santi… memang biaya rumah sakit ini mahal, hanya saja kan seorang dokter akan memberi ijin pasien untuk meninggalkan rumah sakit itu setelah diagnosanya benar-benar sembuh”
“Seorang dokter mengeluarkan pasien dari rumah sakit itu kan merupakan tanggung jawab yang besar juga mbak”
“Kalau bagi dokter pak Solikin belum sembuh ya belum bisa meninggalkan rumah sakit, dari pada ada apa-apa dengan pak solikin waktu ada di rumah”
“Kalau menurut Tina sih…lebih baik mbak Santi mengajukan keringanan biaya rumah sakit saja, agar tidak terlalu berat menanggung biayanya”
“Rencana saya seperti itu mbak Tina.. Saya akan mengajukan keringanan biaya rumah sakit”
“Ya udah ..dicoba dulu aja mbak Santi… eehn atau mau gak kalau Tina temenin ke bagian administrasi?”
__ADS_1
“Boleh mbak Tina… saya mau aja kalau ada temennya gini”
“Langkah awal kita kesana saja dulu mbak Santi.. kita tanyakan bagaimana syarat untuk pengurangan biaya rawat inap…”
“Tapi biasanya harus ada surat keterangan dari RT dan RW yang menyatakan bahwa keluarga Solikin ini keluarga yang tidak mampu”
“Waduh… kalok harus ke RT dan RW ya males mbak Tina… “
“Ya udah.. kita tanyakan saja ke bagian administrasi…siapa tau ada informasi yang lebih mudah lagi”
Akhirnya aku dan Santi menuju ke bagian administrasi..
Aku begini ini karena ingin tau… apakah ada yang aneh dengan perpanjangan masa tinggalnya pak Solikin.
Karena mas Agus saja bisa dibikin lebih lama tinggal di rumah sakit dengan alasan yang tepat.
Nah untuk pak Solikin ini… aku juga kepingin tau alasan apa sehingga dia bisa memperpanjang masa tinggal di rumah sakit.
Karena aneh juga.. setelah ada orang yang mengincar pak solikin.. tiba-tiba masa tinggalnya bisa diperpanjang.
Ndak tau perasaanku mengatakan ada yang tidak beres dengan pak Solikin ini, ada yang aneh dengan dirinya, kayaknya ada sesuatu yang sedang terjadi disini.
“Wah.. bagian administrasinya kok penuh mbak Tina…”
“Hehehe… mungkin ada banyak orang yang akan keluar dari rawat inap mbak… ya kalau mak Santi mau antri, kita tunggu aja mbak”
“Ah malas mbak Tin… satu orang bisa setengah jam sendiri itu hehehe…. kita balik saja ke kamar bapak saya mbak”
“Ya sudah kalau begitu mbak Santi… sekalian saya mau balik ke kamar, kasian mas Agus sendirian di kamar hehehe”
Aku segera balik ke kamar mas Agus setelah tadi mengantar Santi..
Tapi nanti aku akan tanyakan ke bagian administrasi saja… aku masih belum puas kalau belum dapat jawaban yang pasti tentang perpanjangan masa inap pak Solikin.
*****
“Dari mana saja mbak Tina…. saya tidak bisa kemana mana dengan jarum infus yang tetap menempel ini”
“Tina habis sarapan mas… dan ada informasi aneh lagi ketika tadi Tina ada di warung depan rumah sakit”
“Dengerin baik baik yang Tina ceritakan mas.. pasti mas Agus akan bingung heheheh”
Aku ceritakan apa yang tadi aku alami ketika aku ada di warung makan.
Dimana waktu itu ada orang yang sedang menanti pak Solikin., dan orang itu ternyata Burhan dan temannya yang bernama Gunawan.
Aku juga cerita tentang perpanjangan masa inap pak Solikin di rumah sakit.
Yang anehnya perpanjangan masa inap itu kelihatannya ada hubunganya dengan orang yang sedang mencari pak Solikin.
“Gimana mas.. aneh kan… ternyata Burhan disini karena menunggu pak Solikin, sedangkan Wandi dan Mamad kesini karena menunggu kita hahahaha”
“Iya mbak Tina.. lalu si Kunyuk ke sini karena memperingatkan saya agar hati-hati dengan pak Wandi dan Mamad”
“Sekarang yang mas Agus pikirkan tentang pak Solikin itu apa mas heheheh?”
“Saya kok berpikir hal jelek ke pak Solikin mbak..”
“Jangan-jangan dia ada disini karena memang untuk menghindari dari seseorang”
“Jangan-jangan pemukulan itu memang sengaja agar dia terhindar dari ancaman orang-orang yang sedang mencarinya mbak?”
“Jadi Solikin bisa sembunyi di rumah sakit dengan aman mbak”
“Dan satu lagi mas…. orang yang waktu itu datang… yang bernama Burhan itu keliatanya memang mencari anak pak Solikin.. bukan mencari kita berdua… itu yang sekarang Tina sedang pikirkan mas”
“Apa hubunganya Burhan dengan anak pak Solikin mbak Tina?”
“Kalau menurut mbak Tina.. anak pak Solikin itu gimana?”
“Anaknya biasa mas…lebih ke lugu dan tidak aneh-aneh”
“Hmm tapi menurut saya…pasti ada keterkaitan antara Burhan dengan keluarga pak Solikin, hingga Burhan waktu itu nekat ingin bertemu dengan anak pak Solikin kan mbak”
“Iya benar mas… waktu malam hari itu kan Burhan memang nekat ingin bertemu dengan anak pak Solikin, tapi karena waktu itu ada kita, maka pak Solikin berusaha menghalanginya”
“Tapi begini mbak… terus terang saya tidak punya pikiran aneh terhadap keluarga pak Solikin, hanya saja setelah mendengar cerita mbak Tina ini.. pikiran saya kemudian berusaha untuk mengait ngaitkan dengan peristiwa malam hari itu”
“Coba kita pikirkan dengan bijak dulu mbak Tina, agar kita tidak berburuk sangka dengan keluarga pak Solikin”
“Ok mas.. Tina paham…”
“Tapi gini mas… Tina ingin ke bagian administrasi rumah sakit, Tina pingin tau perpanjangan rawat Inap pak Solikin, dan Tina juga pingin tau tagihan kamar dan apa alasan perpanjangan itu”
“Memangnya bisa mbak Tina cari informasi itu?”
“Yah nanti akan Tina coba mas…”
__ADS_1