RUMAH PENGGERGAJIAN

RUMAH PENGGERGAJIAN
40. BURHAN


__ADS_3

Para pekerja mengangkat palet yang ada di bagian belakang rumah, mereka juga mengatur agar palet itu bisa tersusun dengan rapi di bak truk hingga bisa muat banyak.


Burhan  ada di antara mereka, dia ada di bak truk  untuk mengatur proses  pamuatan hingga seluruh pallet yang ada di belakang rumah termuat semua.


Tidak lebih dari dua jam seluruh pallet jadi yang ada di bagian belakang rumah sudah termuat semua ke atas truk yang siap untuk berangkat.


Setelah semua selesai dengan pemuatan, mereka mengaso sebentar disekitar belakang rumah.


“Wah mas Burhan akan tinggal disini menggantikan Mamad ya?” tanya salah satu dari pekerja


“Iya pak Wito, sekalian menemai mas Agus, soalnya yang suruh bos besar hehehe” kata Burhan yang ternyata sudah kenal dengan para pekerja yang ada disini


“Mbah Karyo mana pak Wito, kok ndak kelihatan?” tanya Burhan


“Mbah Karyo meninggal mas, dia tenggelam di sungai belakang itu” jawab orang yang dipanggil dengan nama pak Wito itu


Semua orang ngobrol dengan Burhan kecuali pak Solikin, dia hanya menatap Burhan dengan sinis, tanpa mau mendekati Burhan.


Setelah selesai dengan istirahatnya, mereka melanjutkan pekerjaan seperti biasanya, Burhan yang ada bagian belakang rumah kemudian aku panggil untuk ngobrol di dalam rumah.


“Mas Burhan bisa kesini sebentar mas, kita ngobrol di dalam saja mas”


“Oh iya pak Agus” jawab Burhan singkat.


“Silahkan duduk mas Burhan. Eh sebelumnya saya mau minta maaf karena tadi saya ketiduran akibat semalaman saya kurang tidur”


“Eh maaf mas Burhan, masnya ini sudah kenal dengan para pekerja itu?”


“Tentu saja saya kenal pak, karena sebelumnya saya kan kenek truk yang biasanya ke sini untuk membantu mereka memuat dan mengatur palet di bak truk  yang akan dibawa ke pabrik”


“Karena saya sering kesini, jadinya saya kenal dengan mereka semua pak”


“Oh begitu mas, makanya kok masnya kenal dengan mereka. Ya sudah kalau begitu mas”


“Oh iya mas Burhan apakah mas Burhan pernah tinggal disini sebelumnya?”


“Ndak pernah pak, saya kan hanya pembantu sopir yang tugasnya mengatur muatan agar bisa masuk maksimal ke dalam bak Truk”


“Oh begitu, untuk tugas disini, apakah mas Burhan sudah dijelaskan oleh bos?” tanyaku lagi


“Sudah pak, mengenai semua proses produksi disini pak, dan pengecekan solar juga pak. Tapi saya kurang bisa memasak, kalau untuk menanak nasi saya sudah bisa hehehe”


“Ah soal masak kita bisa lakukan bersama mas, yang penting tugasnya mas Burhan sudah jelas kan, jadi saya bisa fokus lagi untuk pengecekan dana dan laporan kepada juragan Jayanto”


“Alhamdulillah sudah jelas pak Agus. Oh iya, kamar saya yang mana pak, saya mau taruh tas saya dulu sekalian saya mau ganti baju”


“Itu mas yang di belakang kamar saya itu” tunjuku pada kamar bekas Mamad


Pada akhirnya aku bisa lebih lega karena ada teman disini, dan semoga  gangguan itu tidak muncul lagi, karena aku takut kalau Burhan tidak akan kerasan disini.

__ADS_1


Burhan mungkin seumuran dengan Mamad, lelaki yang tidak begitu tinggi tetapi murah senyum itu semoga kerjanya bisa menyamai Mamad.


Setelah Burhan menaruh tasnya di kamar, kemudian dia kembali lagi ke ruang tamu. dia duduk di kursi depanku.


“Pak Agus. apakah ada tugas lain yang harus saya kerjakan disini selain tugas yang diberikan oleh bos?”


“Ada mas, seperti menimba air dari sumur untuk mengisi bak mandi. Oh iya mas, kamar mandi itu hanya untuk mandi, kalau kita mau buang air besar harus ke pinggir sungai hehehe”


“Ah tidak masalah pak Agus, di desa saya juga seperti itu juga kok pak hehehe” jawab Burhan


“Ya sudah pak, saya akan ke belakang untuk melihat para pekerja dulu”


Burhan berjalan menuju ke bagian belakang rumah, tetapi ketika dia melewati kamar mandi dia sempat melogok sebentar dan kemudian melanjutkan ke bagian belakang rumah.


Untung ada Burhan….


Aku duduk di ruang tamu sambil memegangi dadaku yang sakit dan agak lebam akibat semalam entah diapakan oleh pocong yang ada di ruang tamu.


Aku masih belum tau apa yang aku hadapi setelah ini, tetapi yang pasti dengan adanya Burhan paling tidak aku tidak sendirian lagi.


Pagi hari ini tidak ada sesuatu apapun yang aneh, sampai waktu sebelum jam dua belas siang tiba-tiba pak Solikin masuk ke dalam rumah


“Pak Agus, ada yang ingin saya bicarakan dengan pak Agus”


“Iya… ada apa pak Solikin?, duduk dulu pak”


“Begini pak Agus,  mengenai Burhan, apakah pak Agus sendiri yang minta pengganti Mamad?”


“Jadi Burhan datang sendiri gitu ke sini?”


“Dia kan datang bersama truk yang bawa palet pak, memangnya ada apa pak?”


“Pak Agus hati-hati saja dengan dia pak, dan sebenarnya tidak ada alasan tidak suka dengan dia, hanya saja pak Agus harus lebih teliti lagi dengan Burhan”


“Apa dia pernah berbuat jahat pak?”


“Disini belum pernah pak Agus, tetapi di tempat lain yang saya dengar dia telah berbuat sesuatu yang menguntungkan dirinya sendiri”


Ada apa dengan pak Solikin ini, Kenapa dia bisa seperti itu, dan bagaimana dia bisa tau kalau Burhan pernah berbuat kejahatan?


Apabila pak Bos mengirim dia kesini berarti dia baik baik saja kan, dan belum pernah terlibat apapun.


Tapi aku kan juga belum tau karakter Burhan, jadi biarlah dia ada disini dulu atau nanti sore aku akan tanya ke pak Wandi tentang Burhan itu.


“Baiklah, akan saya perhatikan dia pak, dan terima kasih atas informasinya”


“Ya sudah pak Agus, pokoknya jangan sampai pak agus menyesal karena adanya Burhan disini, dia bisa merugikan perusahaan ini”


“Maaf pak Solikin, sekali lagi yang kirim Burhan itu bukan saya, tetapi bos Besar yang tiba-tiba kirim dia kesini”

__ADS_1


“Memang kemarin malam saya ada rencana ke desa untuk interlokal, tetapi karena hujan deras, maka saya urungkan”


“Dan asal bapak tau, tadi malam saya kembali dihantui bahkan disakiti oleh pocong!”


Wajah pak Solikin mendadak tegang, dia kaget ketika aku berkata tadi malam ada pocong yang telah menyakiti aku.


Ndak pakek lama kemudian kubuka kancing kemejaku, agar dia bisa lihat apa yang sudah diperbuat oleh pocong itu.


“Ini pak bukti bahwa tadi malam ada pocong yang memukul saya” kupamerkan luka lebam di dadaku yang menghitam


Pak Solikin semakin kaget lihat dadaku yang lebam, tapi dia seakan tidak percaya kalau semalam aku sempat diserang oleh Pocong.


“Luka lebam itu bukanya pak Agus terjatuh dari tempat tidur?” kata pak Solikin dengan wajah tidak percaya


“Kalau bapak tidak percaya ya ndak papa pak, saya tidak memaksa bapak untuk mempercayai omongan saya kok , tetapi yang terjadi sesungguhnya ya seperti itu pak”


“Sekarang dengan luka seperti ini, apakah saya bisa tenang disini? jelas tidak bisa kan pak” aku mulai emosi dengan ketidak percayaan pak Solikin


“Saya butuh teman disini pak, dan kebetulan bos Jayanto mengirim Burhan kesini. Dia kirim Burhan tanpa persetujuan saya dulu pak” kataku dengan nada emosi.


“Ya..ya saya tau pak Agus, hanya saja apabila luka seperti itu bukan berarti berasal dari makhluk halus, bisa saja bapak mimpi dan terjatuh dari tempat tidur” kata pak Solikin


“Ya sudah kalau begitu pak, pokoknya info dari pak Solikin tentang Burhan saya akan perhatikan, dan  saya akan tetap berhati hati dengan dia”


Setelah selesai dengan pembicaraanku, pak Solikin pergi meninggalkan ruang tamu dengan wajah yang tetap kurang enak dilihat, karena dia pikir aku yang meminta Burhan untuk bekerja disini.


Aku makin curiga dengan Solikin, apa yang dia lakukan sehingga dia merasa terancam dan ketakutan dengan datangnya Burhan.


Atau ada baiknya aku nanti malam telepon pak Wandi saja untuk menanyakan apa yang sebenarnya terjadi dengan pak Solikin.


*****


Siang hari yang lumayan panas, Burhan tetap ada di bagian belakang rumah, dia giat sekali mengawasi para pekerja yang ada disana.


“Assalamualaikum…” teriak Bu Tugiyem dan Anik berbarengan,


Aku yang ada di ruang tamu buru-buru keluar dan menemui mereka berdua, seolah aku menemui orang tuaku sendiri.


“Waalaikumsalam”  aku berlari dari dalam menuju ke bagian belakang rumah


“Wah ada pegawai baru ya.. siapa namanya mas” tanya bu Tugiyem ketika melihat Burhan


“Nama saya Burhan ibu, baru saja datang tadi pagi bersama dengan truk yang akan mengangkat palet” jawab Burhan


“Oh begitu, berarti makan siangnya kurang satu ini nduk Anik” kata bu Tugiyem bingung


“Burhan biar makan jatah saya saja bu, ndak papa kok” kataku kepada bu Tugiyem


“Bu, kalau sudah selesai dengan yang disini, eh saya bisa bicara di dalam bu?”

__ADS_1


“Ada apa nak Agus, kok sepertinya ada yang mendesak sekali”


“Iya bu, kita bicara di dalam saja”


__ADS_2