
“Gini mas Burhan, sebenarnya saya ini tidak boleh terkena angin, hanya saja saya khawatir dengan keadaan mas Burhan, sehingga saya harus beritahu keadaan saya yang sakit ini”
“Untungnya tadi waktu saya ada di wartel bertemu dengan mbak Tina, sehingga dengan bantuan mbak Tina saya dianter ke rumah sakit, dan kemudian dianter juga kesini”
“Nah Dokter UGD bilang kalau besok pagi saya harus ke rumah sakit lagi untuk melihat luka saya ini, makanya dari pada saya bolak balik, mendingan saya di sekitar rumah sakit saja mas”
“Iya pak Agus, ndak papa kok, saya akan jaga rumah”
“Besok kalau ada orang tanya, akan saya katakan bahwa pak Agus sedang pulang kampung karena ada keperluan mendadak”
“Ya sudah mas Burhan, saya pergi dulu mas, dan ingat jangan tinggalkan rumah dalam keadaan tidak terkunci ya”
Setelah beberapa pesan akhirnya aku dan Tina pergi dari rumah penggergajian. Sebenarnya ya jelas tidak boleh seorang laki-laki tidur di rumah perempuan yang bukan muhrimnya.
Tetapi kan ada alasanya karena aku dalam keadaan sakit dan memang memerlukan seorang yang bisa merawat, istilahnya bisa menggantikan perban dan memberi obat.
Meskipun itu hanya alasan yang dibuat buat heheheh.
Mbak Tina benar-benar membuatku terpesona dengan bantuannya kepadaku, mulai dari mengantar ke rumah sakit dan mengantarku ke rumah penggergajian pada malam hari gini.
“Mas Agus kok diem aja sih”
“Iya mbak Tina, saya lagi mbayangkan mbak Tina yang bener-bener hebat”
“Lhooo memangnya Tina hebat kenapa mas?”
“Mbak Tina mau anter saya ke mana-mana mbak”
“Hehehe kan memang sudah menjadi kewajiban istri mas, istri yang baik itu adalah istri yang tidak segan-segan membantu suaminya hihihi”
“Lhooo Suaminya mbak itu memangnya siapa sih” aku menggoda mbak Tina yang mulai membahas suami dan istri lagi
“Ih kok tanyanya gitu sih mas…”
“Eh mas kita diam dulu aja mas, kita mau masuk ke tengah hutan ini mas, tetap siaga lihat depan dan jangan menoleh siapapun yang memanggil mas Agus”
Motor Tina yang cahaya lampunya cukup terang itu menembus hutan yang makin lama makin berdekatan jarak tiap pohonnya.
saat ini kami sudah ada di tengah hutan, tempat aku bertemu dengan makam ghaib itu.
Motor tetap jalan dengan pelan karena Tina sedang menghindari setiap lubang yang ada di jalan ini, hingga kemudian hidungku mencium bau bunga.
Bau bunga yang awalnya hanya bau tipis itu lama kelamaan menjadi tajam, aku yakin Tina juga pasti mencium bau itu, tetapi mungkin dia sengaja diam saja.
Akupun hanya diam saja ketika aku mencium bau bunga yang cukup wangi, anggap saja keadaan ini seperti ketika malam hari itu bertemu dengan makam dan beberapa orang berpakain hitam.
Tapi anehnya Tina tidak bereaksi dengan bau wangi ini, dia tidak bicara denganku maupun memperingatkan aku tentang bau wangi ini.
__ADS_1
Mbak Tina tetap mengemudikan motornya dengan sangat hati-hati di jalan yang berbatuan tajam.
Bau bunga itu semakin lama semakin menyengat, ketika bau bunga itu semakin kuat dan menyengat aku merasa luka di dadaku ini tiba-tiba semakin perih, rasanya seperti ketika diberi alkohol oleh dokter.
Aku memegangi dadaku ketika rasa perih itu semakin menjadi jadi….
“Mbaaak , dada saya perih sekali…..”
“Seperti ada sesuatu yang berusaha menyayat atau menggigit luka yang ada di dadaku ini mbak”
“Sabar sayank, sebentar lagi kita akan sampai rumah…. sabar ya sayang”
“Nanti akan Tina obati lukanya mas…sabar ya sayang”
Hanya itu yang dikatakan oleh Tina, dia tidak memegangku atau memelankan motornya, sebaliknya dia menambah kecepatan motornya.
Untungnya jalan disini sudah mulai tidak seberapa parah lagi sehingga dengan bertambahnya kecepatan motor tidak takut akan batu-batu yang runcing.
Bau bunga itu semakin tajam….
Wangi bunga kamboja yang diselingi dengan bau wangi bunga kenanga makin menambah ketakutanku semakin parah.
Seiring dengan bau wangi yang semakin tajam, rasa perih di dadaku pun semakin menjadi jadi hingga aku tidak kuat lagi menahan rasa sakit luka di dadaku.
Tapi untungnya hutan ini akan berakhir, di depan tidak begitu jauh dari kami berada sudah terlihat beberapa lampu jalan desa yang berjajar di pinggir jalan.
“Sabar sayank, sebentar lagi kita akan sampai rumah, nanti akan Tina ganti perbanya mas”
“Tenang mas… tenang dulu ya. tetap pegangan yang erat mas”
Tina mempercepat laju motornya hingga saat ini kami sudah ada di jalan desa yang menuju ke arah rumah Tina.
Lampu balai desa sudah terlihat di depan mataku….
Tidak lama kemudian motor berhenti di depan sebuah rumah yang tertutup rapat.
“Bentar mas, Tina mau buka rumah dulu, mas Agus tetap di motor saja dulu mas”
“Setelah ini akan Tina ganti perban dan olesi obat yang tadi diberi dokter itu” kata Tina kemudian mengambil kunci dari tasnya, dan kemudian dia membuka pintu rumahnya,
Aku masuk ke dalam rumah setelah dipanggil TIna…
“Duduk dulu sana mas, Tina mau persiapkan dulu air hangat untuk membersihkan lukanya, sekalian Tina persiapkan segala yang diperlukan”
Aku ndak bisa jawab apa yang dikatakan Tina, karena dadaku rasanya panas dan sakit.
Sebenarnya sakit yang luar biasa ini timbul ketika kita tadi ada di tengah hutan, pada waktu aku mencium bau bunga yang luar biasa tajam.
__ADS_1
Apakah rasa sakit itu karena sesuatu yang muncul bersamaan dengan bau bunga yang menyengat itu?”
Tidak lama kemudian Tina datang dengan sebuah baskom plastik yang berisi air hangat untuk membersihkan luka yang aku derita.
Dia juga sudah persiapkan perban dan beberapa obat termasuk salep yang tadi diresepkan oleh dokter.
“Mas…kalau masih terasa sakit… ini obat pereda nyerinya diminum dulu”
Di depanku sudah ada segelas air putih dan sebutir obat pereda rasa sakit yang sudah dibuka.
Tina benar-benar tidak punya rasa capek meladeni aku, dan dia begitu cakap menyiapkan segala sesuatunya.
Dia sekarang masuk ke dalam kamarnya, ndak tau apa yang sedang dia kerjakan di dalam kamar, Tapi tidak lama kemudian dia keluar dari kamar dengan pakaian semacam daster tipis yang panjangnya hanya selutut.
“Sekarang Tina akan buka perbannya mas Agus, mas Agus harus bisa tahan sakit ya mas. Takutnya perban itu akan menempel pada lukanya mas Agus
“Iya mbak ndak papa, akan saya tahan mbak”
Perlahan-lahan Tina membuka perban yang ada di dadaku……
Dia tidak berkomentar apa-apa selain wajahnya yang tiba-tiba terlihat kaget.
“Ada apa mbak Tina, ada yang aneh dengan luka saya?”
“I…iya mas, kenapa luka ini sekarang jadi begini ya mas” kata Tina dengan nada suara bingung
“Memangnya kenapa dengan luka yang saya derita ini mbak?”
“Lukanya sekarang berubah mas… tapi, ini jauh berbeda dengan yang sebelumnya, lebih baik kita sekarang kembali ke rumah sakit saja. Tina ndak sanggup kalau harus membersihkan luka ini mas”
“Eh Tina bukanya tidak mau, tetapi Tina takut apabila terjadi sesuatu dengan luka ini , Tina takut kalau akan mengakibatkan luka ini semakin parah”
“Tina akan tutup dulu luka ini dengan kain kasa yang baru, nanti biar pihak UGD saja yang membersihkan mas karena… eh karena….”
“Kenapa mbak, ada yang aneh?”
“Tina ndak tau mas, biar pihak rumah sakit saja yang bicara, sebentar mas, Tina mau ganti baju dulu”
“Lho sebenarnya ada apa mbak Tina, apakah ada yang aneh dengan luka yang ada di dada saya ini?”
“Iya…. tadi waktu dari UGD luka mas Agus kan masih berdarah dan berair, tetapi sudah bersih. Lha yang sekarang ini kok malah menjadi hitam, borok dan bernanah mas”
“Tina khawatir waktu tadi itu……”
“Waktu tadi apa maksud mbak Tina?”
“Tadi waktu kita di hutan, waktu ada bau wangi, Motor Tina rasanya berat sekali mas, Seperti ada yang ikut dengan motor Tina”
__ADS_1
“Nah waktu itu kan mas Agus mengeluh dadanya makin sakit, Tina takut ada yang sedang ngapa ngapain dengan lukanya mas Agus”
“Semoga dokter yang tadi itu masih jaga disana mas, bentar Tina mau ganti baju dulu dan kita segera ke UGD sekarang juga mas”