RUMAH PENGGERGAJIAN

RUMAH PENGGERGAJIAN
188. SESUAI DENGAN RENCANA….


__ADS_3

“Rita…saya penasaran dengan pemimpin disini”


“Memangnya kenapa kek?”


“Nggak papa RIta, katanya mereka itu orang yang sangat baik ya?” tanya mas Agus


“Hehehe kalau yang kakek dan nenek dengar seperti itu memang itulah sifat dari pemimpin kami, dia dicintai penduduk sini dan masyarakat di luar sini”


“Pasangan suami istri yang cukup tua dan sayangnya sampai detik ini belum dikaruniai anak itu orangnya sangat sangat baik”


Lho kok belum punya anak… lalu Inggrid itu siapa, kenapa kok berbeda dengan yang dikatakan siapapun sebelumnya, bahkan leluhurku pun apa juga salah dengan mengatakan soal pemimpin disini’


“Ah masak belum punya anak  Rita?”


“Iya nek… mereka berdua belum punya keturunan…. Kasihan sebenarnya pimpinan kami ini” jawab Rita


“Eh kakek ku sayang…. Nenek kalau kalau lihat mbak RIta ini jadi  keinget cucuk kita yang namanya Inggrid” aku mulai  memancing RIta tentang nama Inggrid


Awalnya mas Agus bengong ketika aku sebut nama itu, tapi sedetik kemudian dia merespon apa yang aku katakan.


Aku juga berusaha melihat raut wajah Rita,  apakah ada perubahan di wajahnya ketika kusebut nama Inggid itu.


Ternyata tidak… wajah Rita tidak ada perubahan sama sekali…!


“Ah iya nek…. Cucu kita Inggrid itu gimana ya kabarnya nek” jawab mas Agus


“Nenek kangen sama cucu kita kek…”


“Ehemmm maaf kek..nek, kok malah kakek dan nenek sedih seperti ini sih, untuk saat ini jangan sedih dong… yok saya antar jalan jalan, agar  kakek dan nenek bisa bernostalgia” kata RIta sambil tersenyum


Hmm kenapa wajah Rita sama sekali tidak menampakan perubahan, dia biasa-biasa saja, hhmm apa ada yang salah dengan tujuan kami ini ya, apa kita ada di tempat yang salah?


Atau apakah Rita sedang menyembunyikan sesuatu, tapi kalau dilihat dari wajahnya, dia biasa biasa saja, dia tidak menyembunyikan sesuatu sama sekali


“Nak Rita… antar kami ke istana yang dulu kami pernah ke sana dulu….apakah pada jaman dulu dan sekarang masih tetap atau tidak”


“Eh maaf… untuk masuk ke istana jelas tidak bisa nek… aturanya memang seperti itu, tidak boleh sembarangan orang masuk ke sana”


“Eh kakek dan nenek ini terakhir ke sini kapan sih, kok tanya keadaan disini bagaimana….. Apakah sudah lama sekali tidak ke sini?” tanya Rita….kayaknya dia mulai curiga dengan kami


“Aduuuh nak Ritaaaa.. Nenek rasa seminggu lalu kita ke sini kan kek”


“Ah ngawur… nenek ini sudah pikun ya rupanya… kita  sudah lama sekali tidak ke sini, semenjak kita menikah, kan kita sudah tidak pernah ke sini lagi hihihihi”


“Yang pikun itu siapa… ya kakek ini yang pikun, nenek ini masih kuat ingatanya… nenek masih ingat ketika kakek dengan perempuan yang bernama Widuri itu dipergoki orang kampung sedang berduaan di kamar~


“Nenek masih ingat ketika kakek bersama laki-laki yang bernama Musthopa sedang berciuman di kandang sapi!.... Nenek masih ingat semuanyaaaaa!!”


Aku sengaja membuat gaduh suasana, agar Rita merasa aku dan mas Agus ini sedang mengingat masa lalu dan mengungkit ungkit masa lalu.


Dan ternyata berhasil… si Rita tertegun melihat aku dan mas Agus … dia tertegun melihat aku yang sedang memarahi mas Agus hihihihi.


“S..sudah nek… masa lalu jangan diingat lagi, kejadian itu kan sudah terjadi berpuluh puluh tahun lalu”


“Tidak bisa nak Rita… nenek ini masih dendam sama yang namanya Widuri janda gatel yang selalu menyapa kakek ketika kakek pulang dari sawah”


“Belum lagi Musthopa laki laki kemayu yang sampai sekarang belum juga menikah dan belum mati juga…Huuuhhhh!”


“Nek… sabar…jangan umbar ab di depan orang nek… kakek kan sudah bertatus kali bahkan beribu kali minta maaf ke nenek”


“Iyaaaa..tapi nenek kan sebel kalau ingat-ingat itu!”


“Nek.. sabar….. Ingat nenek ini sudah umur…..” kata RIta menenangkan diriku hihihihi


“Gak bisa nak Ritaaaa.. Kalau gini caranya, nenek mau minta cerai sajaaaaa!”


“Hussshhh apa-apan sih nenek ini… jangan gini nek….!... nak Rita..tolong saya nak, istri saya kalau sudah begini ini bakal gawat nak” kata mas Agus kepada Rita…

__ADS_1


Ternyata mas Agus paham juga apa yang aku maksudkan….


Aku seperti ini agar mbak Rita melakukan sesuatu agar aku bisa tenang… heheheh


“Nek…. jangan seperti ini nek… ingat umur nek… nenek dan kakek ini kan sudah menjalai puluhan tahun bersama, masak harus mengingat ingat apa yang pernah terjadi pada jaman dulu… atau…”


“Atau gini saja nek… akan saya  antar sampai ke masuk ke istana… ayo kita jalan ke sana dulu, nanti saya minta waktu dulu untuk izin kepada penjaga istana”


Nah akhirnya tertipu juga si Rita…


Akhirnya dia mau juga mengajak aku dan mas Agus masuk ke dalam sana, memang jadi orang tua macam gini ini enak juga. Aku bisa bikin orang-orang bertekuk lutut hihihi


“Hmmm kalau nak Rita mau ajak nenek ke sana… kakek gak usah diajak ya nak Rita”


“Ohhh nenek mau kakek cari Widuri dan Musthopa lagi gituuuu?”


“HAAAAH… JANGAN CARI PERKARA LAGI KEK!”


“Hussh sudah-sudah… kakek dan nenek …kalian berdua yang akan ke sana bersama saya… sekarang kita jalan ke sana dulu saja, nanti kalian berdua tunggu dulu di sebuah kursi taman… tunggu saya dulu disana ya”


Hehehe Rita malu… orang-orang yang berlalu lalang di taman ini memperhatikan tingkah ku dan tingkah mas Agus.


Nanti setelah ada disana, aku akan melakukan rencana kedua.


Semoga mas Agus paham dengan rencana keduaku, karena untuk rencana keduaku ini butuh penghayatan hehehehe.


Berjalan di semacam gang yang menuju ke arah istana ini membuatku merinding, bukan karena mengerikan, tetapi banyak pasang mata yang melihat aku dan mas Agus yang berjalan bersama dengan Tina.


Aku nggak tau kenapa mereka melihatku dengan tatapan yang cukup aneh, tetapi yang pasti dari tatapan yang melihat kami ini menandakan bahwa mereka kurang suka dengan keberadaanku dan mas Agus yang menuju ke arah istana dari pemimpin daerah ini.


“Nenek dan kakek masih bisa jalan ke arah sana kan…kita ini belu setengah perjalanan lho ya” kata Rita


“Tenang saja nak Rita…biar lambat asal selamat, jangan seperti kakek… dia sukanya grusa grusu nggak mau mikir akibatnya…”


“Nggak mau mikir akibat kalau bermain gila sama janda yang bernama Widuri dan laki-laki yang bernama Mustopha itu!”


“Nek… sudahlah… saya harus berapa ribu kali meminta maaf ke nenek… masak sih kesalahan yang terjadi puluhan tahun lalu selalu diingat ingat terus… apa ndak ada kesempatan untuk meminta maaf?”


“Nek..kek..sudahlah..inget kesehatan kalian berdua nek kek…kalian sudah sangat tua untuk membahas masalah yang biasanya terjadi pada anak muda “ kata Rita dengan tersenyum


“Ayo tetap jalan…kita belum setengah perjalanan ke arah sana…..” sahut Rita lagi


Aku sengaja memelankan caraku berjalan, agar seolah oleh aku sedang berusaha keras untuk bisa menempuh perjalanan menuju ke istana itu.


Mas Agus pun beberapa kali melihat caraku berjalan yang makin pelan, dia mulai merasa bahwa aku akan melakukan sesuatu setelah ini.


Meskipun aku berusaha memperlambat cara berjalanku, tetapi si Rita keliatanya tidak memperdulikanku, dia kelihatannya sudah  mulai masuk rencanaku, dia berusaha secepatnya memasukan kami ke istana yang katanya tidak boleh ada orang lain yang masuk ke sana.


“Nek… masih mampu jalan ke sana, sudah tidak jauh lagi kok nek, sayang kalau harus berhenti di sini nek”


“Tenang saja nak Rita…. Nenek masih mampu jalan kok, bahkan apabila letak tempat itu dua kali atau tiga kali lebih jauh pun, nenek masih sanggup ke sana kok”


Aku berjalan dengan membungkuk, yang pasi pinggulku pegal juga apabila harus berjalan dengan cara agak membungkuk dan perlahan lahan.


Mas Agus yang dari tadi menggandeng tanganku tidak henti hentinya memijat punggungku, tapi memang pijatan itu  banyak berguna juga apabila kita jalan sambil membungkuk seperti ini.


Apalagi dengan cara tertatih tatih seperti ini, jelas akan sangat membebani punggung dan pinggangku.


“Sebentar lagi sudah sampai nek, itu di depan sana ada semacam taman kecil, nah disana nanti nenek dan kakek menunggu saya dulu ya, saya akan masuk ke dalam sebentar untuk menanyakan dan izin kepada penjaga istana itu dulu.” tunjuk Rita pada sebuah taman kecil


“Tenang saja nak Rita, nenek dan kakek akan sabar menunggu izin dari pemiliknya”


“Bukan dari pemiliknya nek… tapi yang mengelola istana kecil itu, pemimpin kami sih tidak keberatan apabila ada wisatawan yang berkunjung ke sini, hanya saja pengelola nya yang kurang setuju”


“Karena istana itu adalah tempat terhormat dan tidak boleh sembarang orang bisa masuk ke sana” kata Rita sambil berjalan agak cepat mendahului aku dan mas Agus


“Nek… Rita mau ke dalam dulu ya.. Nenek dan kakek tunggu saja di bangku itu dulu”

__ADS_1


Di depan sebuah bangunan yang tidak terlalu megah dengan pintu gerbang besar yang terbuat dari kayu, dengan arsitektur bergaya tiongkok dan warna merah yang mendominasi ada sebuah taman yang rindang.


Taman  dengan rumput yang terpangkas rapi itu di tengah tengahnya ada sebuah pohon yang mirip dengan pohon trembesi, dan berdaun lebat.


Di bawahnya ada sebuah bangku terbuat dari kayu panjang yang kelihatannya sudah lama ada disana.


Aku dan mas Agus duduk di bangku ini sambil mengamati sekeliling taman.


Ada beberapa orang yang sedang menikmati indahnya bangunan yang mereka sebut istana ini, tetapi mereka hanya bisa menikmati dari taman saja, orang-orang ini tidak bisa masuk ke dalamnya.


Kemungkinan besar orang-orang ini juga wisatawan seperti kami berdua juga, hanya saja tujuan mereka dan kami tentu saja berbeda heheheh.


“Mas…. sudah tau rencana Tina yang berikutnya belum?”


“Hehehe kalau ada rencana itu kasih tanda dong mbak, saya kan bingung yang kayak tadi itu, untungnya saya paham dan segera menyelaraskan dengan rencana yang dijalankan mbak Tina hehehe”


“Ya maaf mas, tadi kan terjadi secara tiba-tiba… karena si Rita itu mulai curiga dengan kita mas”


“Iya mbak, saya tau..makanya saya cepat berpikir ketika mbak Tina mulai bertingkah aneh-aneh… pokoknya kalau mau melakukan sesuatu tolong beri tanda saya dulu mbak hehehe”


“Sssst diam dulu mas, itu Rita baru keluar dari sana”


“Nanti ketika ada di dalam, Tina akan pura-pura sakit dan pingsan… mas Agus ikuti saja apa yang akan Tina lakukan”


Rita berjalan agak cepat menuju ke taman dimana aku dan mas Agus sedang duduk berdua.


Wajah dia kelihatannya senang, artinya mungkin pihak istana sudah menyetujui apabila kami berdua masuk ke sana heheheh.


“Nek… kek, kalian berdua diperbolehkan masuk ke dalam sana, dan kalian diberi waktu lima belas menit untuk ada di dalam, karena mereka siang menjelang sore ini akan menerima tamu dari keluarga mereka”


“Oh, kalau gitu ayo kita masuk ke sana kek…”


“Kita nanti tunggu di depan pintu gerbang itu dulu ya nek kek… tunggu pangawal istana untuk membukakan pintu gerbang itu dulu”


Aku berjalan melintasi taman menuju ke dapan istana yang tidak begitu besar, jelas tidak begitu besar, karena sebenarnya istana ini hanyalah tempat tinggal pemimpin mereka.


Jadi bukan seperti sebuah istana kerajaan yang besar dan megah, yang akan kami masuki ini hanya berupa tempat tinggal saja, tapi tentu saja menurutku meskipun berupa tempat tinggal, istana ini cukup besar juga.


Mungkin di dalamnya ada beberapa ruangan dan bangunan… tapi lebih baik kita masuk saja dulu agar tau apa yang sebenarnya ada di dalam sana.


“Oh iya.. Satu lagi yang harus dipahami… jangan tanya nama pimpinan kami kepada siapapun disini, biarkan nenek dan kakek yang akan tau dengan sendirinya saja”


“Dan jangan tanya tentang anak atau keturunan… “


“Lho katanya nak Rita tadi waktu di taman depan, mereka belum dikaruniai anak?” tanya mas Agus


“Yah… anggap saja begitu kek… pokoknya jangan bertanya nama dan jangan tanya tentang keturunan mereka, kakek dan nenek cukup memperkenalkan diri saja….  Itupun apabila pemimpin kami nanti berkenan menemui kakek dan nenek”


“Karena waktu kita di dalam nanti tidak lama, saya harap kakek dan nenek bisa mempergunakan waktu dengan sebaik mungkin”


“Iya nak Rita… kami hanya ingin bernostalgia saja, karena kami sudah tua dan takutnya waktu kami tidak lama lagi di alam ini nak Rita”


Aku dan mas Agus masih menunggu di depan bangunan yang cukup besar, kami sedang menunggu dibukakan pintu gerbang


Beberapa orang yang tadi bersama kami di taman kemudian berkumpul bersama kami bertiga… mereka pikir mereka bisa masuk ke dalam bersama sama kami


Rita kemudian mendekati beberapa orang, dan mengajak mereka bicara bahwa aku dan mas Agus adalah tamu dari pemilik tempat ini.


Pada awalnya mereka para wisatawan itu bersikeras untuk bisa masuk, tetapi setelah datangnya petugas penjaga pintu dan menjelaskan bahwa aku dan mas Agus adalah tamu dari pemilik tempat ini, akhirnya mereka paham juga.


*****


Saya mohon maaf…. Kemarin saya tidak update dikarenakan vertigo saya kumat, jadi seharian saya tidak boleh melakukan apa-apa sampai sesuatu yang ada di kepala saya ini selesai hehehe.


Dan alhamdulillah pagi ini saya bisa update setelah dari kemarin sehari tiga kali saya minum obat vertigo yang namanya mertigo..


Dan semoga saya masih bisa diberi kesehatan jiwa dan raga untuk menulis novel.

__ADS_1


Sekian dan terima kasih


Mbak bashi


__ADS_2