
Perlahan lahan aku mulai bisa menggerakan tanganku…. Meskipun masih kaku dan sakit apabila dipaksa untuk bergerak, mungkin ini akibat terlalu lama tubuh tidak bergerak sama sekali.
“Dok..itu tangan mbak Tina sudah mulai bisa bergerak meskipun hanya tremor macam orang stroke pak heheheh”
“Hushh ndak boleh gitu mas Agus… kita tunggu hingga mbak Tina sudah benar-benar bisa menggerakan anggota tubuhnya, baru kita lakukan peregangan untuk dia mas”
“Tapi kenapa tubuh saya biasa biasa saja pak?”
“Saya juga tidak tau mas, tiap orang beda -beda penyembuhanya”
*****
Mas Agus menceritakan apa saja yang kami bertiga alami ketika ada di alam sana, termasuk kenekatan pak Pangat yang berbuah tidak mengenakan… dia ditahan disana.
Keadaanku sudah pulih meskipun belum seratus persen, tetapi paling tidak aku sudah mulai bisa berjalan meskipun harus dituntun mas Agus
“Berarti Pangat tidak ada kemungkinan untuk selamat ya?” tanya Dr Joko dengan raut wajah bingung
“Saya tidak tau pak, tapi kalau bapak bilang tubuh pak Pangat sudah mulai membusuk… percuma juga dia kembali pak” jawab mas Agus
“Iya benar juga mas… lebih baik besok pagi akan saya laporkan dulu ke pihak rumah sakit untuk melakukan penguburan.. Entah kapan itu”
“Oh iya pak dok… saya mau cek keadaan motor yang ditinggal di parkiran dulu pak, karena kami akan ke rumah penggergajian”
“Motor kalian sudah tidak ada disana mas, sudah saya minta satpam untuk memindahkan ke tempat yang aman… eh gini saja, saya ke pos penjagaan satpam dulu.. Nanti saya akan bawa motor kalian ke sini”
“Pokoknya mbak Tina harus sudah benar-benar sehat dulu, baru kemudian boleh pergi dari sini…. Nanti akan saya bawakan sarapan untuk kalian berdua”
“Untuk sementara ini kalian berdua tetap ada disini saja, jangan kemana mana dulu” kata dokter Joko yang kemudian pergi dari area kamar mayat”
Kamar mayat ini sepi, tidak ada yang disini, bahkan penjaga kamar mayat yang namanaya aku sudah lupa itu juga tidak terlihat ada disini, hanya aku dan mas Agus serta ada tubuh busuk pak Pangat yang ada di lemari pendingin saja yang ada.
“Mas..kita harus cari Jiang dan pak Cheng dulu… tapi kita harus cari mereka kemana, dan mereka sekarang udah menitis ke tubuh siapa”
“Saya rasa mereka sekarang ada di rumah penggergajian mbak…mereka pasti ada disana dan menunggu kita di sana”
“Terus kalau kita sudah ada di sana, apa yang akan kita lakukan mas?”
“Yah sesuai dengan rencana mbak…. Rencana yang tidak berencana hehehe”
Aku tidak tau apa lagi yang harus dilakukan di rumah penggergajian itu, karena kami sudah berkali kali ke sana, dan selalu terjadi sesuatu dengan kami…
Dan sekarang kami harus ke sana lagi… tapi apa bisa kami menghadang serangan dari pengawal atau penjaga kerajaan? Belum lagi serangan dari penjaga makam Inggrid.
Sebenarnya aku sudah capek, tapi sayangnya aku tidak bisa begitu saja menghindari keadaan ini, dan harus menyelesaikan semuanya hingga tuntas dan tidak ada lagi yang mencari aku dan mas Agus.
*****
Sepeda motor sudah ada di halaman belakang, sarapan bubur ayam sudah habis.. Keadaanku sekarang sudah semakin normal, pagi hari sudah menjelang siang… dan kami harus menuju ke rumah penggergajian lagi untuk kesekian kalinya.
“Kalian besok pagi kesini…. Agar saya tau keadaan kalian berdua.. Apabila sampai besok siang kalian belum ke sini juga, saya akan ke sana untuk melihat keadaan kalian berdua”
“Dan semoga kalian berdua nanti akan bertemu dengan teman china kalian yang berasal dari alam ghaib”
“Hehehe semoga pak.. Dan semoga tidak ada yang mengerikan lagi pak heheheh”
Perjalan dari rumah sakit menuju rumah penggergajian…
Aku merasa sedikit aman, paling tidak aku ada di duniaku, dan pak pangat untuk saat ini tidak ada disini. Meskipun aku sedikit was was apabila nanti sampai ke rumah penggergajian.
Perjalanan aman-aman saja hingga aku dan mas Agus memasuki desa tempatku tinggal… aku sengaja tidak mampir kerumahku, tapi langsung menuju ke rumah penggergajian saja.
Jalan masuk ke rumah penggergajian terlihat berbeda ketika kami pernah kesini sebelumnya.. Selama tiga minggu lebih kami tidak kesini, tetapi ada yang berubah.
Jalan ini sudah bersih dari ilalang, tidak ada tanaman liar… eh salah ..sebetulnya masih banyak tanaman liarnya, tetapi sudah lebih rapi dari pada sebelumnya.
Padahal hanya kami tinggal tiga minggu saja.
“Lihat mbak.. Udah gak serem kayak sebelumnya kita kesini ya mbak”
“Iya mas… Tina rasa kok di sana sedang ada renovasi deh mas, karena di jalan setapak ini banyak sekali jejak mobil dan motor”
“Iya mbak. Ini yang dari tadi saya perhatikan, ada jejak roda mobil dan motor, selain itu rumput dan tanaman liarnya sudah mulai dipotong”
“Iya mas… ayo kita ke sana saja mas… Tina rasa kita akan ketemu dengan Jiang dan pak Cheng disana, tapi Tina tidak tau mereka disana sebagai apa mas”
__ADS_1
Motor dijalankan pelan-pelang menuju ke arah rumah penggergajian…. Tetapi ketika kami sudah ada di tengah jalan, dari kejauhan di depan aku bisa lihat sebuah mobil pickup yang melaju pelan ke arah luar.
Kayaknya mobil pickup itu mobil yang dari toko bahan bangunan yang mungkin baru saja mengantar bahan bangunan ke rumah penggergajian.
“Mas…kita minggir dulu saja.. Mas Agus bisa tanya ke supirnya tentang apa yang sedang terjadi disana mas”
“Iya mbak….”
Motor dipinggirkan mas Agus, hingga mobil yang akan lewat tidak sulit ketika akan berpapasan…
Dan ternyata benar dugaanku.. Itu mobil barusan mengirim bahan bangunan. Karna terlihat kotor pasir dan semen.
Mobil pickup itu berjalan dengan sangat pelan. Hingga kemudian kami berpapasan.
“Pak.. saya mau tanya.. Jalan ini menuju ke arah mana?” kata mas Agus pura-pura gak paham
“Lha mas dan mbaknya ini mau ke mana?”
“Kami mau ke desa sebelah sungai pak”
“Wah kalau ke desa sana lewatnya tidak disini mas… kalau lewat sini naik motor nggak bisa, karena jembatanya sangat kecil… jalan ini cuma untuk ke rumah yang sekarang sedang direnovasi mas” jawab supir pickup itu
“Oalah gitu ya pak… ya sudah pak.. Saya coba lihat dulu seberapa besar jembatanya, karena teman saya Solikin menyuruh saya untuk lewat jalan ini pak” jawab mas Agus
Mobil pickup itu berlalu dengan pelan.. Kami pun jalan lagi menyusuri hutan untuk menuju ke rumah penggergajian.
Aku penasaran siapa pemilik rumah itu, apakah sudah berpindah tangan kontrak dari bosnya Wandi atau bisa saja sudah dibeli oleh orang lain.
Tengah hutan ini… tempat leluhurku berada.. Tempat mbah Sutinah dan mbah Sastro berada di alam ghaib.. Dan kami lewati dengan santai menuju ke arah rumah penggergajian.
Dari posisi kami…di belokan yang mau ke rumah penggergajian, aku bisa lihat rumah itu sudah berubah….. Bukan seperti rumah penggergajian tiga minggu lalu ketika kami terakhir ke sini dan ditakut takuti oleh Fong atau Inggrid palsu.
“Wih mas.. Rumah itu sekarang sudah bagus..catnya sudah baru, dan halaman di depan rumah sudah berubah menjadi taman bunga… pagar kayu juga sudah dibentuk rapi dan dipendekan, sehingga mudah untuk dilompati mbak”
“Iya mas….sudah bukan rumah penggerjian yang kita kenal dulu mas”
“Tapi kayaknya belum selesai renovasi ya mas… itu masih ada beberapa tukang yang memperbaiki atap rumah, dan mungkin juga bagian belakang juga sudah berubah total mbak”
“Ah masak sih selama tiga minggu rumah itu sudah berubah total… cepat sekali kerjanya tukang mereka mbak”
“Mbak… kita kesana atau gimana?”
“Kesana saja mas.. Disana ada mobil mewah yang terparkir di depan rumah penggergajian”
“Mungkin itu pemiliknya yang sekarang mbak… “
“Kita parkir motor disini saja mas.. Sembunyikan di balik pohon, kita ke sana jalan kaki saja mas… Tina rasa kita harus berkenalan dengan pemilik rumah itu sekarang”
Setelah motor disembunyikan mas Agus… aku dan mas Agus berjalan menuju ke rumah penggergajian yang sekarang sudah berubah bentuk menjadi bagus dan mewah.
Rumah bercat putih bersih dengan pagar lebih pendek dan bearcat putih juga itu keliatanya mengalami renovasi besar besaran, tapi nggak tua juga bagian belakang rumah, karena aku dan mas Agus sekarang sedang ada di depan rumah.
Sebuah mobil berjenis SUV berwarna hitam terparkir di depan rumah, sedangkan pemilik mobil mungkin sedang ada di dalam rumah..
“Ayo kita dekati rumah itu mas… kita kesini kan untuk mencari Chen dan Jiang mas”
“Iya mbak… tapi kita harus berkenalan dengan pemilik rumah ini yang sekarang”
“Ya mas….
Kami di depan pagar rumah.. Bau cat yang masih baru pun tercium hingga di depan pagar rumah…
Keadaan rumah yang berbeda dan bersih ini membuat aku makin penasaran dengan keadaan di dalamnya.
Ketika aku sedang berusaha melihat bagian dalamnya, tiba-tiba dari arah dalam muncul seorang laki-laki keturunan China yang sudah agak tua dan perut yang buncit.
Dia memakai kaca mata hitam kecoklatan, sehingga aku tidak bisa melihat wajahnya.
“Ya.. kalian berdua cari siapa?” tanyanya dari depan pintu rumah yang terbuka
“Eh saya cari pak Wandi pak” jawab mas Agus asal njeplak
Kusenggol pinggang mas Agus, karena jawaban dia ngawur dan asal..
Tapi ternyata orang china itu berjalan menuju ke arah kami, dia berjalan pelan melewati halaman depan dan sekarang berhadap hadapan dengan kami di pagar rumah yang pendek karena hanya sepinggang kami saja.
__ADS_1
Dia melepas kaca mata hitamnya.. Dan kemudian dengan wajah tegang dia mulai berbicara dengan mas Agus…
“Kamu bilang cari Wandi…Purwandi maksudmu?” tanya nya dengan pandangan menyelidik
“Iya pak, saya mencari pak Wandi” jawab mas Agus lebih tegas daripada tadi
“Kamu siapa.. Dan apa urusanmu dengan Wandi?”
“Karena saya kehilangan pak Wandi.. Saya pikir dia bekerja disini” mas Agus mulai agak grogi juga, karena pertanyaan orang china itu menyudutkan mas Agus
“Kamu siapanya Wandi?” tanyanya lagi..
“Saya bukan apa-apanya pak Wandi… saya dulu pernah kerja disini, tetapi karena banyak masalah kemudian saya menyelamatkan diri dari sini”
“Sebentar,.. Saya sepertinya pernah tau suara bapak ini… eh bapak ini pak Jay ya?”
“Kamu siapa!” bentaknya dengan wajah yang agak memerah
“Sampean jangan bentak-bentak saya… karena ulah Wandi, saya menjadi korban disini… kamu pasti pak Jay kan?” kata mas Agus tidak mau kalah dengan orang yang ada di depannya
“Saya mau minta ganti rugi sama sampean pak Jay… kalau tidak, saya akan laporkan polisi yang menangani kasus sindikat narkoba dirumah ini!”
“Sampean kenal dengan Burhan kan.. Dia anak buahmu yang ternyata adalah reserse… untungnya saya bisa diselamatkan oleh pak Burhan!”
Keadaan menjadi tegang karena mas Agus mulai tidak bisa mengontrol emosinya ketika mengetahui bahwa yang ada di depannya adalah Jay bekas bosnya Wandi.
“Mas… sabar mas… masalah ini kan bisa dibicarakan baik baik” aku berusaha menenangkan mas Agus yang masih melotot di depan pak Jay
“Hmm apakah kamu Agus?”
“Iya saya Agus….”
“Kalau begitu masuklah…kita bicara di dalam saja… terus terang saya mencari keberadaanmu selama ini”
“Ayo masuk dulu, kita bicara di dalam saja” kata pak Jay yang berubah menjadi lebih ramah daripada tadi
Aku heran kenapa kok tiba-tiba pak Jay menjadi lebih ramah, apakah dia memang punya masalah juga dengan Wandi solikin dan yang lainya… atau apakah dia sudah mendapat penjelasan dari Burhan bahwa tanpa aku dan mas Agus, masalah ini tidak akan selesai.
Tapi entahlah…yang penting nanti ada pembicaraan serius yang mengarah ke hal positif tentang mas Agus dan Jay..
“Silahkan duduk.. Eh kamu pasti mbak Tina?”
“Ok.. saya jay.. Saya bos dari semua yang bekerja di rumah ini, saya tidak tau kalau anak buah saya terlibat dalam perdagangan narkoba dalam jumlah yang besar. Dan rumah ini merupakan tempat perdagangan itu berlangsung”
“Saya sudah diperiksa polisi hingga beberapa minggu hingga saya dinyatakan tidak bersalah”
“Untuk kalian ketahui.. Rumah ini adalah milik saya.. Saya bukan kontrak seperti yang dikatakan Wandi dan mungkin juga Solikin….. Jadi rumah ini murni milik saya”
“Sekarang lupakan tentang Wandi, Solikin dan yang lainya, mereka sekarang sudah menjalani hukuman sesuai dengan kejahatan yang mereka lakukan, termasuk juga polisi yang saya kenal… yang bernama Paijo itu”
“Sekarang rumah penggergajian sudah saya renovasi… tidak ada lagi penggergajian disini, disini sekarang akan saya jadikan rumah peristirahatan atau hotel tengah hutan… Sudah saya bikin beberapa kamar di halaman belakang sana…”
“Pohon beringin sudah kami rapikan, dan sungai belakang sudah tidak seperti dulu”
“Ada sekitar 10 kamar di belakang dengan konsep alam… kamar yang terbuat dari kayu”
“Sumur tua itu akan saya tutup dan saya kasih pompa air untuk mengalirkan air ke tandon atas….”
“Dan untuk listrik, karena daerah ini sulit sekali mendapatkan aliran listrik maka saya gunakan solar cell yang akan ditempatkan di atap rumah.. Besok akan dipasang”
“Saya juga sudah sediakan satu buah silent genset yang nanti akan saya buatkan tempat di samping rumah agar suara genset itu tidak terdengar hingga dalam rumah apabila dalam keadaan darurat”
“Tetapi maaf.. Sebenarnya konsep rumah peristirahatan atau hotel hutan ini berkonsep tanpa aliran listrik, agar orang-orang yang beristirahat disini merasa seperti hidup di alam”
“Saya bekerja sama dengan biro perjalanan yang akan memasarkan rumah ini, sehingga saya tidak akan sulit dalam pemasaranya”
“Dan bagusnya minggu depan sudah ada 10 keluarga yang membooking kamar disini”
“Pintu masuk dari luar sana nanti akan saya per bagus.. Besok perusahaan aspal akan datang, dan akan mengaspal jalan masuk ke rumah ini”
“Semua harus selesai dalam tiga hari ini, besok lusa semua peralatan dan perabot sudah harus masuk… eh dan untuk mas Agus dan mbak Tina”
“Untuk menebus rasa bersalah saya, maka kalian berdua akan saya pekerjakan disini sebagai pengelola, tapi tentu saja saya tidak akan membiarkan kalian tanpa memberi pengetahuan tentang perhotelan..”
“Itulah kenapa saya cari kalian berdua.. Saya akan pekerjakan kalian disini dan mengelola hotel ini”
__ADS_1