RUMAH PENGGERGAJIAN

RUMAH PENGGERGAJIAN
243. KEMUNCULAN WATU


__ADS_3

Tidak ada yang istimewa dari siang hari ini, waktu yang masih ada ini kami gunakan untuk istirahat sesekali,  pak Diran dan pak Hendrik juga sudah ada di penginapan yang dibooking empat  kamar oleh pak Jay.


Satu kamar sendirian adalah mbak Tina dan pak Jay, aku bersama JIang, dan pak Diran bersama pak Hendrik. Kami ada di sebuah hotel yang paling bagus di kota ini.


Tadi siang kami sempat membuat rencana untuk melakukan sesuatu di sekitar hotel Singgasana Adem Ayem. tetapi kami harus masuk melalui desa sebelah sungai, karena apabila masuk melalui pintu depan pasti tidak akan bisa.


Pintu depan kan dijaga oleh anggota kepolisian, Jadi nanti kami akan masuk melalui bagian belakang hotel, dan nanti pak Diran akan memberikan sesuatu untuk mbak Kunti yang selalu memberikan informasi  yang diminta pak Diran.


Sore hari ini kami berkumpul di resto hotel. Kami akan membahas apa saja yang nanti malam kami akan lakukan.


Pak Jay sedang ada di dalam kantor hotel, dia sedang meminjam komputer untuk membuka email, karena janjinya pak Burhan akan mengirim email foto terakhir pak Solikin yang saat ini ada di penjara.


“Belum ada email masuk dari Burhan…” kata pak Jay  yang baru saja datang dari kantor hotel


“Nggak papa pak Jay, siapapun itu watuadem, pasti dia akan ada disana malam ini, jadi kita sore  menjelang malam ini harus sudah ada disana dulu” kata pak Diran


“Jadi sekarang saja kita berangkatnya pak Diran” ajak pak Jay


“Mas Agus dan mbak Tina tau kan jalan menuju ke desa itu?” tanya pak Jay


“Kami tau pak, hanya saja kayaknya kita harus menggunakan kendaraan roda dua agar tidak menarik perhatian dari penduduk desa itu”


“Jadi  perlu berapa motor… tiga motor bisa kan… saya nanti dibonceng Hendrik, pak Diran dengan Jiang, mas Agus dengan mbak Tina… sebentar, saya akan coba sewakan ke hotel apabila ada”


“Kebetulan pemilik hotel ini adalah teman saya, jadi mungkin saya akan mendapat kemudahan disini” kata pak Jay


Senja menjelang malam, kami sudah dalam perjalanan menuju ke desa yang letaknya ada di sebelah sungai.. Tiga buah sepeda motor yang merupakan milik karyawan yang tugas malam bisa disewa oleh pak Jay, tentu saja dengan harga sewa yang diatas rata rata.


Aku dan mbak Tina ada di depan dua motor yang dikendarai pak Diran bersama Jiang, dan pak Jay bersama pak Hendrik. Kami sudah melewati jembatan besi yang mengerikan itu, dan sekarang kami ke jalan lurus yang menuju ke desa.


Aku sampai sekarang nggak tau apa nama desa itu, karena aku memang gak mau tau apa nama desa itu, yang aku bisa sebutkan desa itu adalah desa sebelah sungai saja.


Keadaan desa menjelang malam ini tidak ada perubahan, tetap sama seperti ketika aku dan mbak Tina terakhir datang ke sini.. Toko kelontong milik bu Tugiyem masih buka, dan yang jaga adalah anaknya yang bernama Anik.


Listrik di desa ini juga belum terpasang, tetapi tiang tiang listrik sudah berdiri  tertanam di pinggir pinggir jalan desa.


Kuarahkan motor menuju ke sungai yang nanti akan melewati rumah pak Wito dan Solikin….


Sengaja  kuperlambat laju motor ketika kami melewati rumah Solikin…


Ternyata lampu teplok rumah Solikin menyala, yang artinya rumah itu ada penghuninya, padahal Solikin kan ada di penjara, apakah penghuni rumah itu hanya istri dari pak Solikin atau gimana aku tidak tau.


“Mas, tadi Tina sempat menoleh ke rumah pak Solikin, di ruang tamu rumah yang ada jendelanya itu dari luar nampak kepala seorang laki-laki mas”


“Mungkin saja itu suami dari anak Solikin mbak, kan di rumah itu tinggal ibunya saja, sedangkan pak Solikin kan ada di penjara, ja menurut saya yang ada di dalam rumah itu kemungkinan besar adalah suami dari anak pak Solikin”


“Iya juga sih mas.. Yah kita lihat saja nanti mas… Tina kok merasa apa yang tadi Tina lihat itu benar-benar Solikin mas”


“Nanti saja kita bahas bersama yang lainnya mbak.. Sekarang kita cari tempat untuk menyembunyikan tiga motor ini dulu mbak”


Tiga motor sudah kami sembunyikan di semak belukar yang banyak tumbuh disini, sekarang kami berenam berjalan menyeberangi sungai dan menuju ke arah hotel Singgasana Adem Ayem.


Pak Jay meskipun sudah berumur, tapi dia masih cekatan juga mengendarai sepeda motor, dan dia tetap ingin tau apa yang sebenarnya terjadi dengan Hotelnya.


Keadaan disini sudah gelap. Kami berenam berjalan agak cepat menuju ke tembok berwarna putih yang ada beberapa puluh meter di depan kami.


Ketika kami sudah sampai di depan tembok yang tingginya tidak ada dua meter itu kami putuskan untuk melompat masuk ke dalam hotel.

__ADS_1


“Gelap sekali disini… dan sangat suram.. Iblis-iblis pada sedang ada di kamar nomor sembilan dan kamar nomor tiga sepertinya” kata pak Hendrik


“Pak Hendrik.. Sebentar, saya akan nemui mbak Kunti dulu…” kata pak Diran


“Ya sudah, ayo kita ke sana dulu… pak Diran kita sama sama ke pohon beringin itu saja. Sekali tunjukan ke pak Jay apa yang ada disana”


“Pak Jay kan nggak bisa lihat mahluk ghaib pak Hendrik” kata pa Diran


“Nanti saya yang akan transfer energi ke pak Jay… yang penting dia bisa lihat apa saja yang ada di pohon beringin itu” kata pak Hendrik


“Hmm sebentar pak Hendrik, saya ada ide… bagaimana kalau kita kumpulkan demit itu di sebuah tempat, dengan cara memancing mereka menggunakan makanan yang saya bawa ini.?”


“Mereka kan paling suka sama bau wangi yang berasal dari kemenyan ini… tapi coba saya diskusikan dengan mbak Kunti dulu saja pak” kata pak Diran


Kami  berenam menuju ke pohon beringin yang ada di beberapa meter dari kami. Pohon beringin itu letaknya tidak jauh dari kamar nomor sembilan.


Ketika kami ada di sebelah pohon beringin itu, aku mendengar sebuah suara, suara seperti langkah kaki yang  posisinya masih jauh dari sini.


Tapi aku yakin itu suara dari langkah kaki seseorang yang datang kesini.


“Pak ssstttt, kalian dengar suara langkah kaki tidak?”


“Iya mas Agus… saya dengar” jawab pak Jay sambil berbisik


“Kita menyebar saja cepat… jangan bergerombol di pohon beringin ini” bisik pak Diran


“Kita sergap secepatnya apabila sudah dekat dengan posisi kita” bisik pak Jay


Aku dan mbak Tina menyingkir dari sebelah pohon beringin dan menuju ke sebelah kamar nomor sepuluh, sedangkan mereka berempat sepertinya ada di daerah sekitar pohon beringin itu.


Suara langkah kaki semakin mendekat, suara langkah kaki itu berasal dari sepasang kaki manusia yang sedang berjalan dengan langkah agak cepat.


Suara langkah kaki itu semakin mendekati pagar,..... Kemudian kudengar suara seseorang yang sedang memanjat pagar dan kemudian melompat di bagian belakang hotel.


Anehnya sekarang tidak ada suara langkah kaki lagi, sekarang keadaanya sunyi senyap… apa dia sedang mengamati sekitar sini ya, atau apa mungkin dia melihat salah satu dari kami yang sedang sembunyi di sekitar sini.


Tidak…. Tidak lama kemudian aku mendengar suara langkah kaki lagi…. Orang itu mulai bergerak, jalan menuju ke arah kamar-kamar yang ada disini.


Aku dan mbak Tina yang dekat dengan kamar nomor sepuluh semakin lama semakin mendengar suara langkah kaki yang sedang berjalan….


Kayaknya suara langkah kaki itu sekarang ada di samping pohon beringin… aku yakin suara itu dekat dengan tempat persembunyian  yang lain


Tiba-tiba aku mendengar suara gemerisik beberapa langkah kaki yang berjalan tergesa gesa, seperti orang yang sedang start untuk lari di sebuah semak belukar..


DUUUGH….AAAAHHH!


“Diaaam!... siapa kamu” teriak suara pak Hendrik


“Pegang pak Diran, JIang… pegang yang erat… “ kata suara pak Hedrik lagi


Aku dan mbak Tina cepat-cepat keluar dari tempat persembunyian dan mendatangi asal suara berisik tadi.


“Kunci dia pak Hendrik.. Kunci leher dia” kata pak Diran


“TOLOONGGG.. BISA SAYA JELASKAN…. LEPASKAN SAYAAAAA!” teriak suara itu…. Aku kenal suara itu… itu suara Watu!


“Watuadem…. Apa yang kamu lakukan disini?” kata pak Jay kemudian

__ADS_1


“Arrgh lepaskan dulu cekikan di leher saya… saya tidak bisa bernafas!”


“Longgarkan kunciannya Koh” kata pak Jay


Suasana sangat gelap. Tapi masih ada cahaya sinar bulan yang menyinari tempat ini.. Kulihat dengan samar tangan pak Hendrik mengunci leher Watu, sehingga dia tidak bisa bernafas dan bergerak.


Posisi Watu sudah terdesak, dia tidak akan bisa kemana mana lagi, tetapi tidak lama kemudian pak Hendrik melepas kuncian tangannya, karena perintah dari pak Jay.


“Apa yang kamu lakukan disini Watu!” bentak pak Jay


“Aku lagi melindungi hotel kamu Jay. banyak ghaib disini yang berusaha merusak hotel kamu” kilah Watu


“TIDAK USAH BERBOHONG WATU…. JELASKAN APA YANG KAMU LAKUKAN DISINI” bentak pak Jay


“Jay….. aku ini sesuai perintahmu untuk melindungi hotel ini, dan kamu malah percaya dengan orang-orang ini” kilah Watu lagi.


Kulihat posisi Watu sekarang sudah tidak dalam kuncian, bahkan pak Hendrik sudah melepaskan kunciannya, tidak ada yang memegang Watu, dan tentu saja hal ini sangat berbahaya..


Kulihat Watu mundur selangkah…dua langkah. Dan sayangnya tidak ada yang memperhatikan Watu yang mundur beberapa langkah.


“Coba kamu lihat disana itu Jay… disana di kamar nomor sembilan itu” kata Watu sambil menunjuk ke kamar nomor sembilan


Entah kenapa, dan entah bagaimana, ketika Watu menunjuk ke kamar nomor sembilan, reflek semua yang ada disana juga menoleh ke kamar nomor sembilan yang ada di belakang kami semua.


“DIA LARIII, KEJAAR!” teriak pak Hendrik


Tiba-tiba Watu lari sekencang-kencangnya menuju ke arah kamar nomor sepuluh… eh bukan kamar nomor sepuluh. Dia lari ke arah sungai yang ada di sekitar kamar nomor sepuluh.


Watu lari melintasi pasir pantai tempat pak Prabowo duduk sebelum dia mati…


Dia terua lari menuju ke pinggir sungai!


Kami mengejar Watu….. Tapi ternyata Watu berlari sangat kencang… dia sekarang ada di pinggir bagian sungai yang dalam. Dan apa yang tadi aku sempat pikirkan terjadi…


Watu menceburkan diri ke dalam sungai… bagian sungai yang dalam!


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Pembaca yang baik dan gemar membaca...


mungkin Novel ini tidak lama lagi akan saya selesaikan, karena yah sudah waktunya untuk selesai. eehm...


Sebenarnya alasan utama saya akan menamatkan novel ini karena ada beberapa hal:


Saya merasa tegang, spaneng, mecicil ketika menulis novel ini, akibat dari tegang dan spaneng itu berimbas pada keseharian saya.Banyak sedikit apa yang saya tulis ini merubah karakter dan sifat saya,


Kalau kata suami saya semenjak saya menulis novel ini  saya banyak berubah. menjadi lebih kasar, gampang ngamuk, dan tegang dalam menghadapi sesuatu.


Bahkan kadang saya menjadi Parno ketika saya sedang sendirian di tengah malam... saya nggak tau kenapa ada perubahan psikis seperti itu,


Yah mungkin bisa saja karena di Novel ini tidak ada unsur haha hihi haha hihi seperti yang saya tulis sebelumnya.


Selain itu saya bisa fokus ke Novel saya yang masih on going dan juga yang baru saja rilis yang berjudul Terjebak di Lembah Mayit


Jadi yah begitulah... dan terima kasih sudah mau membaca cerita yang kata beberapa orang ini bertele tele dan membosankan.


salam hormat

__ADS_1


Mbak Bashi


.


__ADS_2