RUMAH PENGGERGAJIAN

RUMAH PENGGERGAJIAN
240. KORBAN DAN DARAH


__ADS_3

Suara mengerikan masih terdengar dari dalam kamar, sementara itu polisi sedang mendengarkan cerita singkat dari pak Diran kepada mereka.


Pak Diran sebagai petugas keamanan sudah melaksanakan tugasnya dengan baik dan bercerita secara singkat apa yang terjadi disini termasuk perempuan yang ada di dalam kamar itu.


Kita juga belum tau siapa perempuan yang kerasukan dan mengerikan itu, dan apakah dia juga yang membunuh keluarga yang ada di kamar tiga itu.


Enam orang petugas kepolisian sudah tersebar di depan pintu kamar, dan di jendela luar yang mengarah ke hutan yang ada di belakangnya.


Mereka juga mendapat intruksi dari komandannya untuk melakukan tembakan kepada perempuan yang sedang kerasukan.


Tapi apakah perlu dengan cara menembak orang yang kerasukan, apakah tidak cara  lain selain menembak”


“Buka pintu itu pak, kami sudah siap” kata petugas polisi yang ada di dalam ruang utama


“Maaf pak, apakah bapak akan menembak orang yang sedang kerasukan?” tanya mbak Tina


“Sesuai prosedur bu, dia akan kami lumpuhkan dulu, karena orang yang kerasukan ini sudah melakukan tindak kekerasan” kata petugas polisi itu


Suara teriakan, kemarahan, gedoran pintu masih berlangsung. Pak Diran dan pak Hendrik sudah siap untuk membuka pagar ghaib yang mengelilingi kamar itu.


Pak Diran dan pak Hendrik perlahan lahan melemahkan kekuatan pagar ghaib agar perempuan yang dirasuki iblis itu bisa keluar ketika pak Diran membuka pintu.


“Buka sekarang pak… kami sudah siap” kata petugas itu lagi.


Satu petugas polisi itu mundur satu langkah dari posisi dia tadi yang dekat dengan pintu kamar, tetapi tetap dengan moncong senjata api yang mengarah ke pintu yang tertutup.


Tetapi tiga petugas lain sudah siap dengan tangan kosong untuk memegang dan memborgol perempuan yang mengerikan itu tidak mundur, mereka siap untuk melakukan penangkapan.


Sedangkan dua orang ada di bagian belakang hotel untuk berjaga jaga di jendela.


Pak Diran dan pak Hendrik memulai pengurangan kekuatan pagar hingga ke titik yang terlemah….


Dan apa yang terjadi selanjutnya adalah hal yang mungkin aku tidak sangka.


Karena sekarang bukan suara teriakan dan kemarahan dan suara gedoran. Yang ada adalah suara kesakitan dan erangan… suara sosok sesuatu yang sedang dalam keadaan kesakitan….


“Buka pintunya sekarang pak…cepaaat”  perintah polisi itu kepada pak Diran yang dari tadi masih ragu untuk membuka pintu


Pintu kamar dibuka dan didorong dengan menggunakan kaki pak Diran….


Yang pertama kulihat adalah darah… banyak sekali darah yang ada di lantai kamar, kemudian kualihkan pandanganku kepada sosok seseorang yang tergeletak telentang dengan dada yang penuh darah.


Sebuah atau seonggok daging yang mungkin besar kepalan tangan orang dewasa yang masih bergerak gerak ada di sebelah perempuan itu.


Tapi aku yakin itu adalah jantung.. Tapi bukan jantung yang dia makan sebelumnya, karena jantung yang dia makan yang tinggal separuh itu ada di dekat pintu.


“Dia mencabut jantungnya sendiri pak” kata pak Diran


Polisi yang mengacungkan senjata itu kemudian menurunkan senjatanya, kemudian dia memanggil rekannya yang berjaga jaga di luar.


Kini enam polisi  sudah ada di dalam ruangan utama.


“Korban atau tersangka sudah mati… jangan kalian identifikasi dulu mayatnya, tutup saja kamar itu dan tunggu instruksi saya selanjutnya, ” kata komandan polisi itu kepada anak buahnya.


“Pak, untuk korban pembunuhan yang lainnya ada dimana?” tanya komandan polisi yang tadi mengacungkan senjata ke pintu kamar


“Mari saya antar pak”


Aku, pak Diran, pak Hendrik beserta tiga polisi termasuk komandan polisi menuju ke kamar nomor tiga.


Ketika kami membuka pintu kaca yang memisahkan ruangan utama dengan bagian belakang, ternyata beberapa tamu sudah bergerombol di tengah taman.


Jelas tidak mungkin untuk membuka pintu kamar nomor tiga selama masih banyak saksi mata dari tamu yang ada disini, kemudian komandan polisi yang ternyata bernama pak Tresno itu menghampiri kerumunan tamu yang ada di tengah taman.


Komandan polisi mengambil alih untuk berbicara dengan para tamu itu sebelum kita membuka pintu kamar nomor tiga


Pada intinya apa yang dikatakan komandan polisi itu adalah menyuruh mereka semua untuk masuk ke dalam kamar dan  bersiap siap untuk segera meninggalkan hotel ini sesegera mungkin setelah ada ada informasi diperbolehkan checkout dari pihak kepolisian.


Para tamu masuk ke kamar masing-masing, setelah keadaan dirasa sudah aman dari saksi mata, akhirnya kami menuju ke kamar nomor tiga untuk melihat apa yang terjadi disana.

__ADS_1


Pak Diran membuka pintu kamar nomor tiga…. Dan kemudian mendorong pintu kamar ke arah dalam…


Dari pantulan lampu teplok yang ada di dalam ruangan, genangan darah yang ada di lantai sudah hampir keluar kamar, yang berarti di dalam sana kondisi mayat bisa jadi mengerikan.


“Tutup pintu dulu pak…. Kita harus keluarkan semua tamu dulu sebelum kita lakukan penyelidikan” kata komandan itu kepada pak Diran


“Kita kembali ke ruang utama untuk koordinasi dan melihat berapa orang yang menginap di kamar nomor tiga. Oh iya.. Perempuan yang mati di kamar depan itu berasal dari kamar mana, tolong cek juga berapa orang yang ada di kamar tempat dia menginap”


“Juga tolong hubungi pemilik hotel ini untuk segera datang ke sini”


Pintu kamar nomor tiga ditutup kembali, kami semua kembali ke ruang utama untuk mendapatkan informasi yang tadi ditanyakan oleh polisi tadi.


Tentunya yang tau soal ini adalah mbak Tina.


*****


“Di kamar nomor tiga itu adalah sepasang suami istri yang berasal dari kota S pak” kata mbak Tina


“Sedangkan kamar nomor sembilan itu kalau di komputer akan dihuni oleh empat orang pak, tapi yang masuk ke sini baru ada dua orang saja, sedangkan yang dua orang itu kemungkinan akan datang pagi ini, karena mereka berasal dari kota yang berbeda” kata mbak Tina


“Berarti mereka menyewa untuk dua malam?” tanya komandan Tresno


“Betul pak, sesuai yang tertulis di daftar tamu ini” jawab mbak Tina


“Ok, sekarang tenang dulu sambil menunggu pemilik hotel ini datang, dan kemudian mengevakuasi tamu yang  ada disini”


“Untuk kamar nomor sembilan itu kata kalian keadaanya tenang tenang saja, nanti kita akan lihat disana”


Tidak lama kemudian mobil pak Jay memasuki parkiran hotel. Kulihat dari jendela hotel dia hanya datang bersama supirnya saja, tidak ada watuadem atau orang lain yang datang.


Tergopoh gopoh pak Jay masuk… dan kemudian mendapat penjelasan dari komandan polisi tentang adanya pembunuhan di hotel ini.


Pak Jay tidak menampik omongan dari polisi, dia hanya mendengarkan dengan serius apa yang dikatakan komandan polisi itu dengan kaget dan lemas.


Sementara itu polisi yang lainnya meminjam telepon satelit untuk menghubungi kantor polisi, untuk meminta tambahan personil, karena baik HT maupun telepon genggam mereka tidak berfungsi di tengan hutan ini.


“Mas Agus… Watuadem dimana?” tanya pak Jay setelah selesai dengan pak Tresno


“Iya mas Agus, tadi komandan polisi juga bilang gitu” kata pak Jay kemudian mengambil telepon satelit yang ada di meja resepsionis


Pak Jay menghubungi Robert untuk cancel tamu yang akan datang dan menutup hotel dengan alasan renovasi untuk jangka waktu yang tidak bisa diperkirakan.


Kemudian pak Jay menghubungi hotel temannya yang ada di kota untuk memindahkan tamu yang mungkin belum berani pulang ke tempat asalnya, karena disini keadaanya masih belum pagi.


Pokoknya hotel ini harus dikosongkan sekarang juga, nanti setelah kosong baru pihak polisi mendatangkan ambulance.


Setelah hotel untuk tamu yang ada disini siap, kini enam polisi menuju ke kamar-kamar untuk memberitahukan tentang kepindahan mereka dari hotel ini.


Tamu hotel datang ke ruangan utama yang sekarang ada pak Jay dan beberapa orang polisi. Mereka didata untuk mendapatkan pengembalian dana karena keadaan hotel yang mengharuskan mereka pergi dari sini sekarang juga.


*****


Seluruh tamu sudah pergi, halaman parkir sudah kosong dari mobil tamu, kecuali mobil milik pak Hendrik, pak Jay, milik Polisi, dan dua mobil milik tamu kamar nomor tiga dan nomor sembilan.


Pak Diran memperkenalkan pak Hendrik, tamu yang sudah beberapa hari tinggal disini untuk membantu dalam hal supranatural yang terjadi disini kepada pak Jay yang masih bingung dengan keberadaan Watuadem temannya itu.


“Sekarang saatnya kita buka pintu kamar ini, kemudian kamar nomor tiga, dan kamar nomor sembilan” kata komandan polisi pak Tresno


Tidak lama kemudian ada dua mobil ambulance yang datang, setelah tadi salah satu polisi menelpon rumah sakit kota untuk mendatangkan ambulance ke sini.


“Mari pak Jay.. kita lihat dulu yang ada di kamar depan ini” ajak komandan polisi


Pintu kamar dibuka.. Bau anyir darah menyeruak keluar, jantung yang tadi bergerak gerak sekarang sudah diam mematung.


Sosok perempuan bersimbah darah itu terbujur kaku dengan mata melotot dan dada yang terbuka lebar.


Dinding dan lantai kamar ini penuh dengan darah yang sudah mulai berubah warnanya.


“Korban pertama…”  kata komandan polisi itu

__ADS_1


“Kita tidak bisa mengatakan dia itu tersangka, karena kita tidak tahu apakah dia yang membunuh yang ada di kamar nomor tiga” kata pak Tresno lagi.


Kemudian dia menyuruh dua orang untuk berjaga disini, sementara itu satu orang anggota polisi memfoto mayat perempuan yang mengerikan itu dari berbagai arah.


Setelah dari kamar ruang utama, kemudian  kami dan pak Jay menuju ke kamar nomor tiga.


Aku dan pak Diran menyalakan beberapa lampu Petromak agar keadaan taman belakang terang benderang, sedangkan pak Jay hanya  bisa duduk diam dan melamun saja di kursi halaman belakang


Pak Diran membuka pintu kamar, Jiang membawa lampu petromak untuk menerangi kamar ini.. Ternyata lantai kamar penuh sudah penuh dengan darah..


“Disini ada terpal atau apa gitu untuk menutup darah hingga kami bisa masuk ke dalam?” tanya komandan Tresno


“Ada pak” sahut Jiang kemudian menyerahkan lampu petromak kepadaku.


Tidak lama kemudian Jiang datang dengan sebuah terpal lebar yang biasanya digunakan untuk melapisi lantai ketika catering datang, agar makanan tidak tercecer di lantai yang mengakibatkan sulit untuk dibersihkan.


“Buka terpal itu di lantai kamar, sehingga kita bisa masuk ke dalam kamar dengan mudah” kata pak Tresno lagi.


Dengan bantuan pak Diran, Jiang memasang terpal di lantai yang akan kami gunakan untuk masuk ke dalam kamar, setelah terpal itu terpasang, aku membawa lampu petromak bersama dengan pak Tresno masuk ke dalam kamar..


Kondisi kamar sangat berantakan yang menandakan adanya perkelahian di dalam kamar, kemungkinan ada yang berusaha mempertahankan diri, dan ada yang berusaha untuk menyerang.


Astaga dua mayat dengan mata melotot dan tubuh penuh darah ada di dalam kamar..


Satu mayat perempuan dengan leher yang hampir putus karena digorok, entah digorok dengan menggunakan pisau apa, dada perempuan itu penuh darah dan juga berlubang. Perempuan itu tergeletak di tempat tidur.


Sebuah jantung ada di atas meja kamar. Kemungkinan jantung itu milik dari perempuan itu.


Di kursi kamar mayat seorang laki-laki dengan tubuh belepotan darah dalam keadaan telanjang bulat sedang dalam posisi duduk…Shelangkangan laki-laki itu juga penuh darah.


Leher laki-laki itu penuh darah dan terlihat putus….kemudian di sebelah kursi ada potongan daging yang kelihatannya baru saja dikunyah..


“Coba terangi daging apa itu yang ada di sebelah laki-laki itu” suruh pak Tresno


“Astaga!... itu sepotong phenis… laki-laki itu memakan phenisnya sendiri sebelum melakukan bunuh diri dengan menggorok lehernya juga”


“Saya heran… dia dapat pisau untuk menggorok lehernya dari mana” gumam pak Tresno


Darah di sekitar mereka sudah mulai mengering meskipun dari lehernya kadang masih ada darah yang menetes.


Sungguh pemandangan yang sangat mengerikan, dan tidak bisa dipikir dengan akal sehat, ada kemungkinan yang laki-laki kerasukan dan kemudian membunuh yang perempuan.


Kemudian sebelum dia melakukan bunuh diri dengan menggorok lehernya sendiri, dia memotong phenisnya, dan kemudian memakan sebagian phenisnya sebelum dia menggorok lehernya sendiri.


“Ndan.. ini pisau yang dia gunakan untuk menggorok lehernya” kata anak buah pak Tresno ketika melihat sebuah pisau dapur penuh darah yang biasanya digunakan untuk memotong buah.


“Mereka membawa pisau untuk memotong buah-buahan yang mereka bawa sepertinya Ndan, karena disini ada buah apel yang belum dikupas” kata anak buahnya lagi


“Sangat mengerikan… dada yang terbelah, jantung yang ada di meja hotel, phenis yang terpotong dan dalam keadaan separuh dimakan, leher yang tergorok…. Ini bukan pekerjaan manusia biasa” gumam pak Tresno


“Ya sudah … cepat kalian identifikasi dan saya akan pindah ke kamar nomor sembilan” kata pak Tresno


Kamar nomor tiga yang penuh dengan darah dan kondisi mayat yang sama dengan yang ada di kamar ruangan utama, penuh darah dan leher yang putus.


Pak Jay yang tadi ketakutan sekarang lemas setelah melihat sudah ada tiga mayat yang ditemukan di hotel ini.


Berarti hotel ini sudah menelan korban jiwa enam orang termasuk keluarga pak Prabowo. Tapi kita kan belum tau kondisi yang ada di dalam kamar nomor sembilan ini. Kamar yang juga didiami oleh mayat perempuan yang kondisinya berantakan di kamar ruang utama


“Pak Jay… kalau pak Jay percaya dengan supranatural atau ghaib, saya akan ceritakan sesuatu yang akan membuat pak Jay berpikir tentang Watuadem”


“Apa itu mas Agus.. terus terang saya ini sama sekali tidak percaya dengan yang namanya ilmu hitam atau apalah, tetapi setelah melihat mayat yang ada di kamar itu, saya sekarang berpikiran sebaliknya”


“Eh asal pak Jay tau… disini ada pak Diran yang sangat paham dan sangat melindungi hotel ini dari pengaruh ilmu jahat dari manapun…”


“Kita juga dibantu oleh pak Hendrik, pak Hendrik merupakan tamu disini, dia sudah dua eh tiga malam tinggal disini hanya untuk membantu pak Diran disini”


“Eh dan untuk pak Watuadem itu eh…. Sulit untuk menjelaskan pak…”


“Pak Jay dan pak Agus.. ayo cepat sedikit jalannya, kita harus membuka pintu kamar nomor sembilan” kata pak Tresno

__ADS_1


Memang aku dan pak Jay berjalan agak jauh dari mereka, karena sebenarnya aku kepingin cerita tentang perbuatan Watuadem disini, tapi keburu pak Tresno memanggil kami untuk mempercepat langkah.


__ADS_2