RUMAH PENGGERGAJIAN

RUMAH PENGGERGAJIAN
24.SOSOK DI SEKITAR RUMAH


__ADS_3

Siapa yang ada disana, kenapa ada orang disana, bukanya di sana harusnya tidak ada siapapun.


Aku terdiam di sisi sungai yang airnya sedang tenang sambil melihat orang yang sedang menghadap ke arah sungai.


Kuperhatikan terus orang yang ada disana itu dengan  hati-hati tetapi karena matahari sudah mulai condong dan sosok  itu ada di bawah pohon beringin akibatnya susah untuk melihat dengan jelas.


Tapi yang aneh, kenapa orang itu ada di sebelah kotak kenyamanan ya, apa dia itu salah satu dari pegawai yang ada di rumah penggergajian?


Hari semakin sore tapi aku masih terpaku di sisi sungai yang mengarah ke desa.


Kutunggu saja hingga sosok itu pergi dari sana untuk menyeberang ke sisi tempat rumah penggergajian.


Tapi jangan-jangan itu adalah orang suruhan bos yang akan menggantikan Mamad. waduh gawat dia berati nunggu aku disana dari tadi koyoke.


Aku harus segera kesana, timbangane aku diamuk juragan Jayanto sing gak punya rasa belas kasihan sama sekali.


“Jankreeek hehehe bawaanku koyok orang minggat”


Dengan sedikit berlari di antara batu dan pasir dengan tangan kanan membawa rantang berisi makanan dan tangan kiri membawa kresek berisi bahan makanan kususuri jalan yang menuju ke rumah penggergajian.


Sebentar lagi aku sudah sampai di ujung jembatan yang mengarah ke seberang  sungai, tetapi posisi ini masih lumayan jauh dengan pohon beringin yang ada di belakang rumah.


Sosok orang yang ada di sebelah kotak tempat buang air besar itu masih ada di sana, aku masih bisa melihat orang itu yang masih memperhatikan air sungai.


Sosok itu hanya memandang ke sungai dan tidak bergerak sama sekali, mungkin dia sedang menikmati sisi sungai yang indah.


Bisa saja dia orang kota yang tidak pernah lihat indahnya keadaan disini.


Ku Seberangi jembatan kayu ini secara hati-hati, ku perhatikan tiap langkah kayu yang beberapa sudah lubang dan rusak, hingga akhirnya aku ada di sisi yang mengarah ke rumah.


“Lho kok wonge wis gak onok. tadi lak dia ada disana sih”


“Jangkrek, kok ilang, lha kemana wonge itu?”


Aku terdiam di dekat jembatan kayu sambil mencari sosok yang tadi ada di dekat pohon beringin tua yang di depanya ada kotak untuk buang hajat itu.


Wah pasti orang itu pergi dari sana, karena mungkin dia kelamaan nunggu aku yang tadi memang agak lama ada di rumah mbok Yem.


Waduuh ternyata sekarang sudah pukul 17.01, sudah sore, dan pada jam segini seharusnya aku sudah menyalakan lampu petromak dan lampu minyak yang ada di dalam rumah.


Aku masih belum berani berjalan menuju ke rumah, karena pikiran ini sedang berkecamuk berbagai pikiran yang menakutkan tentang sosok yang tadi ada di pinggir sungai itu.


Aku masih ragu orang itu beneran suruhan bos besar atau dia itu jadi-jadian yang berusa membuat aku ketakutan?


“Ah taik gak ngurus wong sing mau!, lebih baik pulang aja, masuk rumah nyalakan lampu petromak makan malam masakan mbok Yem calon mertua hihihi”

__ADS_1


Aku tersenyum sendiri memikirkan kecantikan Anik dan kebaikan calon mertua, yah gimana lagi, lebih baik dengan Anik yang masih polos timbangane sama Musfirah yang doyan main PS hihihi.


Tapi kalau dibanding bandingkan mungkin lebih enak lagi sama tante Agustina heheh dia kan lebih pengalaman hihihi.


Tapi hehehe bagaimana dengan Musfirah yang ada di desa rek, bagaimana dengan yang sedang menantiku kerja disini dan minta untuk segera kunikahi.


“Ah selet. Lebih baik mikir yang disini dulu saja. gak ngurus wedokan sik lah!”


Selama perjalanan memang aku suka nggremeng sendiri, hal itu kulakukan agar tidak ada pikiran horor yang masuk ke dalam otaku, lebih baik kau bicara sendiri koyok wong edan daripada banyak pikiran negatif yang bergerombol dan siap masuk ke dalam otakku.


“Alhamdulillah, akhirnya sampai juga ke rumah, meskipun sudah mulai gelap, tapi paling tidak selama tadi aku jalan keadaan aman terkendali”


“Sayangnya aku gak ketemu orang yang tadi nunggu aku, mungkin karena kesoren, deke pulang saja daripada kemalaman disini”


Pintu pagar sudah kubuka, kemudian pintu masuk rumah juga kubuka, suasana dalam rumah tampak gelap karena memang lampu petromak belum pada nyala.


Dalam waktu singkat dua  lampu petromak sudah kunyalakan dengan mudahnya, kemudian lampu kamarku juga kunyalakan, tapi...


Bagaimana dengan kamar Mamad, apakah lampu minyak kamar Mamad juga harus dinyalakan?,....eh besok saja waktu sudah ada pekerja disini, akan kuperiksa kamar Mamad.


“Alhamdulillah rumah sudah terang benderang, eh lebih baik mandi dulu ae lah, daripada kemalemen malah gak karuan hihihi”


Sebelum mandi kuperhatikan baik-baik situasi rumah, mulai dari ruang tamu, tempat biasanya Mamad menyuguhkan kopi panas, ruang makan yang merangkap dapur, biasanya dia selalu menyediakan makanan seadanya. kemudian kamar mandi….


“Ndeh kok pintu kamar mandi ini nutup lagi, tadi waktu aku pergi kan dalam keadaan terbuka, sengaja tak buka agar tidak pengap keadaan di dalam sana”


Aku berpikir keras apakah benar aku tadi sudah membuka pintu kamar mandi, tapi aku yakin tadi dalam keadaan terbuka.


Aku tidak langsung masuk ke dalam kamar mandi, kulongok setiap sisi kamar mandi yang menurutku tempat paling menyeramkan di sini.


“Hmm masih seperti waktu siang tadi kutinggal, tidak ada yang berubah”


“Untung air masih penuh rek”


Coba kalau air itu habis, waduuuh ndak bisa mikir aku. Tapi setelah tak pikir-pikir, eehm lebih baik gak mandi ae lah, cuci muka saja cukup.


Pukul 19.00 kubuka rantangan yang tadi dikasih mbok Yem, dan ternyata isinya luar biasa banyak. Lengkap ada nasi, tempe dan ikan pindang, sayur asem, dan sambal yang terasi ekstra pedas.


“Alhamdulillah bisa makan enak”


Hari ini aku sering menyebut Alhamdulillah, tapi ndak papalah, karena memang hari ini aku mendapatkan banyak rejeki, lebih baik cuci rantang besok sajalah, sekarang merokok di halaman rumah.


Aku berencana merokok di kursi panjang depan rumah, mungkin karena sudah terbiasa ada disini, sehingga rasa takut yang seperti sebelumnya tidak kurasakan lagi.


Kubuka pintu rumah, angin dan udara dingin masuk ke dalam rumah sehingga bagian dalam rumah yang pengap bisa lebih segar.

__ADS_1


Suasana di depan rumah sudah gelap gulita suara binatang malam mulai beraksi lagi, angin hutan yang sejuk jug berhembus pelan.


Satu buah lampu petromak kubawa keluar, agar keadaan luar lebih terang selama udud ku masih panjang


Sebatang rokok sebelum masuk rumah dan tidur, lagipula ini masih jam 19.30.Kalau kayak gini keadaan di halaman rumah enak juga, terang benderang hehehe


Ketika aku sedang asyik menyedot udud ku untuk yang kesekian kalinya mendadak ada bayangan yang menyerupai sosok manusia, bayangan itu ada di antara pepohonan yang ada di depan rumah.


“Eh sopo iku….”


“Kok ada bayangan hitam di antara pohon, bayangan itu malam koyok tubuh manusia ya, ah gak mungkin, iku paling juga dahan pohon”


Kuperhatikan terus bayangan yang kadang muncul kadang hilang, dan posisinya tidak berubah, ya disitu situ saja.


Udud ku sudah habis sebatang, tapi bayangan itu masih ada disana, ah mungkin itu hanya bayangan pohon yang terkena sinar bulan.


Bisa saja itu bayangan batang pohon yang  nampak koyok manusia, ya namanya juga kadang mata manusia itu  ada salahnya juga.


“Lebih baik masuk aelah, timbangane liat sing aneh-aneh”


Aku masuk ke dalam rumah, lampu petromak juga kubawa masuk.


Lampu itu ku gantung di ruang tamu, pintu depan kututup dan kukunci. Sempat kuintip melalui jendela bayangan sosok itu ternyata masih ada disana.


“Asem!.. iku mau sopo yo?, kenapa masih saja ada di antara pohon yang ada disana ya?”


Kualihkan pandanganku ke ruang tamu rumah yang terlihat kosong, yah memang disini sepi, karena hanya aku sendirian yang ada disini.


Aku masuk ke dalam kamar yang sudah agak terang karena lampu minyak yang ada di dinding sudah nyala, kemudian kukunci pintu kamar.


kurebahkan tubuh di kasur kapuk yang anyep dan agak bau tengik, mataku tetap memandang ke plafon rumah yang ada bayangan lampu minyak,.. dan sama sekali aku tidak ngantuk!


Aku masih memikirkan bayangan tubuh manusia yang ada di luar tadi, bayangan sosok tubuh manusia yang seolah-olah sedang melihat ke arahku.


Kenapa kok malah ndak ngantuk sama sekali ya, kenapa sekarang malah sunyi dan sepi?, waduh ada yang gak beres lagi ini.


“Tadi itu sebenarnya sopo ya, kenapa bayangan itu terus menerus melihat ke arahku, apa dia ingin masuk ke dalam rumah?”


Pelan-pelan aku mulai menguap, pelan-pelan tubuhku yang capek ini memerintahkan aku untuk tidur.


Hanya sekejap, aku memejamkan mata hanya sekejap, karena menit berikutnya aku sudah buka mataku lagi!


Pikiranku hanya terpaku pada bayangan hitam yang nampak di antara pohon-pohon depan rumah.


“Ah itu hanya batang pohon wis yakin wis!”

__ADS_1


__ADS_2