
Kulirik pak Diran yang hanya tersenyum dengan tingkah mbah Kunti yang kayaknya dalam usaha menyerang kami berdua..
Ternyata kayak film india gays.. Kunti itu lama sekali sampai ke depan pak Diran.. Lesatan tubuh yang tadi mengerikan itu menjadi gerakan lambat atau slow motion….
Pak Diran hanya tertawa melihat mbak Kun yang berambut lurus itu berusaha menerjang pak Diran dengan gerakan slow motion..
“Pak… kok bapak malah tertawa pak?”
“Tenang saja Pak Agus… dia tidak akan bisa menyerang kita… saya gak mau sombong sih mas, tapi saya masih bisa mengendalikan demit macam kelas itu”
“Biarkan dia capek dulu mas.. Nanti kalau dia sudah capek pasti dia akan berubah bentuk menjadi mengerikan atau bahkan menjadi jauh lebih baik hihihi
“Nanti setelah itu kita bisa tanyai dia mas”
Aku gak yakin sama yang dikatakan pak Diran… mana ada kunti yang bisa capek dan bisa berubah bentuk… dimana mana yang namanya demit itu ya ghaib. Dan yang namanya ghaib itu berbeda dengan manusia yang mempunyai fisik dan bisa merasakan yang namanya capek
“Lihat dia pak Agus… yang saat ini pak Agus lihat kunti itu semakin melambat kan… tetapi sebenarnya tidak… penglihatan manusia tidak mampu melihat kecepatan kunti itu”
“Mata manusia mempunyai keterbatasan melihat sesuatu dengan gerakan yang super cepat…..”
“Sehingga pak Agus melihatnya melamban… tapi yang sebenarnya terjadi adalah dia sedang bergerak sangat cepat, dia menguras tenaganya agar bisa bergerak sangat cepat dan bertenaga.. Dan tentu saja energi yang dia miliki perlahan lahan akan terkuras habis”
Apa yang dikatakan pak Diran itu aku gak paham blas… tapi dari gerakan slow motion kayak pilem india itu aku bisa melihat perubahan dari wajah tante berdaster putih itu..
Dari yang awalnya kejam keji dan menakutkan…lambat laun berubah menjadi sesuatu yang mirip manusia.. Tapi perubahan itu hanya sejenak… wajah tante Kun itu berubah kejam lagi.
Dan itu terjadi berulang kali hingga akhirnya beberapa menit kemudian sesuatu yang disebutkan pak Diran terjadi lagi.
Wajah tante berdaster itu berubah menjadi mirip manusia tetapi pucat!
Wajah manusia yang tidak jelek… eh cenderung cantik…
Gerakan yang tadi slow motion itu berubah menjadi cepat mirip seperti orang yang lari.. Tapi gak sampai sampai di hadapan kami berdua.
Gerakan yang sangat cepat itu perlahan lahan melambat..lambat…lambat dan akhirnya berhenti…
Dia melayang di atas sungai…. Hanya melayang dan tidak ada keinginan untuk menyerang… hanya melayang dan menatap pak Diran yang masih saja tersenyum.
“Ayo rene nduk (ayo sini) jangan takut sama saya…..”kata pak Diran kepada tante yang ternyata cantik juga dengan wajah manusia dan rambut panjang macam rebondingan itu
“Nek ngene koe kan ayu nduk ( kalau gini kamu kan cantik)… yo kesini.. Sini sama om Diran…. Kita senang senang sama om Diran dulu nduk”
“Ayo rene nduk… nanti saya ceritakan kisah nabi nabi nduk”
Jangkrek pak Diran ini kok rodok gendeng, dia ngajak bersenang senang si tante kunti berdaster putih yang masih melayang di atas sungai.
Tapi ternyata tante kunti rebondingan itu gak mau mendekat.. Dia kemudian malah lari menghilang dari hadapan kami berdua.
“Lhaaah kok malah minggat.. Mau saya ajak senang-senang kok malah ngilang hehehehe” kata pak Diran sambil tertawa
“Sebenarnya maksud pak Diran apa pak. Kok mau ngajak kunti itu senang senang?”
“Hehehe itu kan cuma kiasan saja pak Agus… saya butuh informasi dari dia makanya dia saja ajak mendekati kita”
Ketika pak Diran bicara dan menjelaskan apa tujuan dia dengan tante kunti itu tiba-tiba dari arah samping ada satu sosok mbak kun yang dari tadi memperhatikan kami..
Dia datang dari arah samping pohon beringin, dan dengan ragu-ragu dia berusaha mendekati kami berdua.
“Lho ada mbak Kunti yang lainnya.. Mbake mau bicara sama kita?... ayo sini mbake.. Saya ini tidak jahat… tetapi kalau dijahati kami bisa sangat jahat lho mbake” kata pak Diran ketika melihat ada tante kun yang mendekat
Untuk yang ini… berbeda dengan yang tadi… kunti yang datang ini berambut awut awutan dan dengan mata yang selalu melotot tanpa berkedip sama sekali.
Dia melayang sekitar satu meter dari tanah dan mendekati kami berdua dengan sangat hati-hati….
Aku sebenarnya takut melihat berbagai jenis makhluk halus… tapi rasa takutku ini hilang dengan sendirinya setelah aku sudah terbiasa melihat hal beginian.
“Tenang saja mbak Kun…kalau ada yang mau dibicarakan monggo mendekat sini… saya terbuka untuk menerima pendapat dan diskusi dari kaum ghaib macam sampeyan ini mbak” kata pak Diran
__ADS_1
“Tapi kalau bisa wajahnya dikondisikan dulu mbak…jangan sambil melotot gitu dong mbak.. Kesannya kan mbak Kun ini sedang marah-marah dengan kami berdua” ujar pak Diran lagi
Ucapan pak Diran ternyata dituruti oleh kunti yang ada di depan kami ini…. Perlahan lahan dia merubah susunan kimia eh susunan bentuk wajahnya….
Perlahan lahan wajah jahanam yang selalu melotot itu berubah menjadi jauh lebih baik meskipun masih terlihat sangat pucat dan mengerikan.
Wajah manusia ketika dia dulu hidup sekarang terpasang di mukanya, meskipun rambutnya masih awut awutan.
“Nah begitu lebih baik dari pada yang tadi mbak Kun” kata pak Diran
“Sekarang perkenalkan nama saya Sudiran, dan ini pak Agus…saya disini sebagai tenaga keamanan dan pak Agus ini sebagai pengurus dari penginapan”
“Mbak Kunti pasti punya nama dong… sebutkan namanya dong mbak”
Mulut kunti itu tertutup rapat.. Dan dia bergetar pelan, yang aku lihat sih dia kayaknya sedang berusaha untuk melakukan sebuah tindakan, tetapi tidak bisa.
Apa mungkin mbak Kun sedang berusaha untuk bicara ya…. Seharusnya dia bisa bicarakan kan, wong ketawa cekikikan saja dia bisa kok. Masak sih ngobrol dengan pak Diran aja gak bisa.
“Ah kamu pasti kesulitan untuk bicara ya?” kata pak Diran
“Nggak papa.. Kamu bicara dengan kta hatimu saja, saya akan coba untuk pahami apa yang kamu katakan”
“Pak Agus… dia akan bicara dengan saya, dan akan saya coba terjemahkan untuk pak Agus, dia bicara melalui entah apa namanya itu, pokoknya dia akan bicara dengan saya sebentar lagi”
Mbak kunti itu berhenti bergerak gerak dan bergetar, kemudian dia menatap pak Diran dalam dalam… seolah olah dia akan mengatakan sesuatu kepada pak Diran
Pak Diran juga berusaha memahami apa yang sedang kunti itu katakan, pak Diran mengangguk kecil beberapa saat.
Mereka berdua hanya bertatap saja hingga beberapa saat, mungkin ada sekitar satu hingga dua menit antara pak Diran dan kunti itu saling bertatap mata
“Begini pak Agus… mbak Kun ini barusan bilang… dia atas nama mahluk ghaib yang ada disini berterima kasih atas bantuanya untuk mengusir kunti yang tadi itu”
“Kunti yang tadi itu adalah suruhan dari seseorang, dan kunti yang tadi itu mempunyai energi yang besar dan kuat”
“Kunti yang barusan saya usir itu ada disini bersamaan dengan dibangunnya hotel ini, dan dia disini untuk melakukan sebuah tugas”
“Mereka yang ada di pohon ini merasa terganggu karena kunti yang tadi itu selalu ingin mengusir penduduk lama yang ada di pohon beringin ini”
Setelah itu pak Diran dan mbak Kun ini saling diam, mereka saling bertatap mata lagi….
Kalau aku yang menjadi pak Diran tentu saja aku gak akan kuat melihat mata kunti itu, meskipun wajah dia sudah berubah menjadi tidak menakutkan seperti sebelumnya…
Tapi sayangnya matanya itu lho,, kuat sekali tidak berkedip sama sekali.
“Begini pak Agus, kunti yang tadi itu ternyata mempunyai tugas untuk mencari mangsa yang akan dibunuh dengan cara ditenggelamkan di sungai itu”
“Dan tugas itu berasal dari penguasa yang dia tidak mau sebutkan siapa namanya dan sebagai penguasa mana”
“Pokoknya tugas dia adalah membunuh orang yang ada disini dengan cara menenggelamkan di sungai”
Pak Diran diam dan dia sedang berkomunikasi lagi dengan mbak Kun yang ada di depannya..
Kalau kunti yang tadi itu adalah suruhan… ada kemungkinan dia suruhan Inggrid… siapa lagi yang berkuasa di sekitar sini kalau bukan Inggrid.
“Pak Agus… ini yang paling penting….mbak Kun yang ada di pohon ini bilang kalau akan banyak korban dari tamu hotel apabila kita hanya diam dan tidak melakukan tindakan kepada yang dia tidak mau sebutkan namanya itu”
“Tapi menurut saya, yang dia tidak mau sebutkan namanya itu ya Inggrid…. Siapa lagi yang ingin menguasai daerah ini selain Inggrid pak”
“Dan tidak ada cara lain selain melawan dia pak. Dan cara melawannya adalah memancing Inggrid untuk menjadi manusia dan kemudian membunuh dia ketika dia menjadi manusia”
“Mbak Kun ini juga tau kalau pak Cheng dan Jiang adalah penduduk ghaib dari seberang sungai”
“Jadi kita harus pancing Inggrid agar dia berubah menjadi manusia baru kemudian bisa kita bunuh.. Gitu pak?”
“Iya betul seperti itu pak Agus….hanya saja pak Agus dan teman-teman harus berpikir bagaimana caranya agar yang namanya Inggrid itu bisa berubah menjadi manusia”
“Sebentar pak Agus..mbak Kun mau bicara lagi dengan saya” kata pak Diran
__ADS_1
Pak Diran kembali berbicara dengan mbak kun yang ada di depannya dengan menggunakan mata batin. Aku sebenarnya juga ingin bisa bicara dengan mbak Kun itu, tetapi aku belum bisa seperti pak Diran.
“Pak Agus… teman kamu yang menjadi mayat hidup itu kini sudah disesatkan oleh mbak Kun dan penduduk ghaib yang ada disini.. Mayat hidup itu sekarang berjalan tanpa arah menjauh dari hotel”
“Jadi untuk sementar ini keadaan hotel sudah aman dari temanmu yang mayatnya hidup itu….”
“Dan tugas pak Agus adalah bagaimana caranya agar yang dia tidak bisa sebutkan namanya itu bisa menjadi manusia, sehingga bisa dibunuh dengan aman”
“Eh apakah ada saran dari mbak Kun itu pak?”
“Hmmm kalau kata mbak Kun ini… pak Cheng dan Jiang harus kembali ke alamnya dulu untuk memancing Inggrid agar berubah menjadi manusia”
“Nanti mbak Kun dan penduduk yang ada di pohon beringin itu akan membantu kita mengamankan daerah sini dari serangan suruhan mereka”
Setelah pak Diran selesai bicara dengan aku, tiba-tiba mbak Kun yang ada di depan kami berdua terbang dan menghilang di pohon beringin, yang artinya adalah selesai pembicaraan antara pak Diran dengan mbak Kun itu.
“Itu tadi yang dikatakan mbak Kun itu pak Agus… dia tidak bisa lama-lama bicara dengan saya, karena dia membutuhkan energi besar untuk melakukan itu”
“Iya pak… “
“Eh pak Diran… mbak Kun itu kan bisa tertawa cekikikan, tetapi kenapa dia tidak bisa bicara dengan kita pak?”
“Jadi gini pak Agus.. suara cekikian itu sebenarnya bukan suara tertawa, tetapi itu suara ketika dia sedang bicara dengan temanya, dan kebetulan suara ketika dia bicara dengan temannya masuk ke frekuensi manusia”
“Dan ketika masuk ke frekuensi manusia yang terdengar seperti suara cekikikan….”
“Apakah sama dengan suara burung pak Diran?”
“Maksudnya gimana pak Agus?”
“Burung dalam sangkar kan sering ngoceh indah… padahal kita nggak tau itu suara apa, bisa saja dia ngoceh karena minta tolong untuk dibebaskan dari sangkarnya”
“Hehehe pak Agus ini ada ada saja…. Ayo kita pergi dari sini pak.. Kita ke ruangan utama, kita ngobrol tentang apa yang tadi dikatakan oleh mbak Kun itu”
*****
“Jadi apa yang harus saya lakukan di sana nanti Gus?” tanya pak Cheng
“Waduh pak Cheng.. Saya juga tidak tau apa yang harus bapak lakukan, karena itu tergantung dari pak Cheng dan Jiang saja”
“Mas….kalau pak Cheng dan Jiang pergi dari sini lalu bagaimana dengan hotel ini, kita harus cari penggantinya mas” kata mbak Tina
“Nanti kita pikirkan dulu mbak… yang pasti tubuh dua orang yang sedang dikuasai pak Cheng dan Jiang ini kan tidak ikut pergi mbak… tubuh pinjaman ini kan tetap ada disini…” kata pak Diran
“Sik pak Cheng.. Tubuh pinjaman ini apa masih ada rohnya? Hehehehe”
“Ya ada Gus.. saya kan hanya masuk seperti merasuki saja.. Eh mirip dengan orang yang kesurupan, tapi saya dan Jiang tidak berbuat jahat dengan tubuh yang saya masuki ini”
“Jadi istilahnya saya numpang saja, dan yang saya tumpangi ini seperti sedang bermimpi saja.. Jadi dia nanti akan tersadar dengan sendirinya, dan dia juga akan tau apa yang biasanya dia lakukan disini”
“Hanya saja dia akan merasa seperti sedang bermimpi ketika saya dan jiang ada di dalam tubuh ini” jelas pak Cheng
“Sekarang kalau memang yang seharusnya pak Cheng dan Jiang harus kembali ke alam kalian… lalu bagaimana caranya, dan apa yang harus kalian lakukan?” tanya mbak Tina
“Begini mbak Tina…yang mengatur saya dan jiang ada disini adalah Sutinah dan mbah Sastro… jadi kami berdua harus ke tengah hutan untuk bisa bertemu dengan leluhurnya mbak Tina….” jawab pak Cheng
“Sekarang sudah hampir subuh… jadi nanti malam saja pak Cheng dan Jiang balik ke alam kalian berdua.. Sementara itu saya akan ke guru saya untuk menanyakan apa yang harus saya lakukan disini…” kata pak Diran
Matahari sudah mulai muncul di ufuk timur… suara burung mulai berkicau di ara hutan.
Beberapa tamu sudah keluar dari pondok atau kamarnya…. Mereka sedang menikmati nikmatnya udara pagi di tengah hutan dan pinggir sungai.
Mobil catering mulai memasuki parkiran hotel dan langsung menuju ke samping untuk persiapan kegiatan sarapan pagi.
Pak Diran sudah ada di posrnya untuk menunggu penggantinya yang sebentar lagi akan datang menggantikan pak Diran.
Kami berempat yang kurang tidur pun harus mulai bersiap siap untuk mengantarkan sarapan ke tiap kamar yang ada disana.
__ADS_1
Dik Dita bersama ayahnya yang bernama pak Tedi sedang menikmati halaman belakang hotel…. Pokoknya pagi ini kadaan di hotel biasa saja.