
Malam hari sekitar pukul sepuluh malam urusan dengan polisi sudah selesai… kami sudah dimintai keterangan dengan ratusan pertanyaan yang kadang rasanya berulang ulang.
Kasus itu dinyatakan murni bunuh diri tanpa ada sangkut pautnya dengan orang lain, sehingga polisi tidak ada alasan untuk menahan kami lebih lama lagi disini.
Untuk alasan bunuh diri sedang ditindaklanjuti oleh pihak kepulisian. Mereka akan mengembangkan penyelidikan ke keluarga yang bersangkutan di kota Semarang.
Sekarang kami diperbolehkan pulang dan kembali lagi ke hotel. Tapi kami tidak diperbolehkan mengoperasikan hotel itu dulu hingga keputusan tentang kasus bunuh diri ini rampung.
Untuk saat ini kami hanya diperbolehkan membersihkan hotel itu dulu.
Malam ini kami berdesak desakan menumpang pada mobil pak Jay, kami berlima kembali lagi ke hotel Singgasana Adem Ayem.
“Dicukup cukupkan ya… dari pada kalian bingung bagaimana harus pulang ke hotel” kata pak Jay
“Kita bicara di hotel saja dulu.. Tapi sebelumnya kita cari makan malam dulu anak-anak” kata pak Jay yang kemudian menyuruh supirnya menuju ke sebuah rumah makan yang masih buka hingga malam
Wani Wareg, sebuah depot atau semacam warkop yang cukup besar yang hingga malam hari masih ramai pengunjungnya.
Pak jay mempersilahkan kami untuk makan sepuasnya disini sebelum kami pulang ke hotel.
*****
Di depan hotel Singgasana Adem Ayem yang sekarang keadaanya gelap gulita. Hanya lampu jalan dari desa yang menuju ke hotel saja yang nyala, karena lampu penerangan jalan itu akan otomatis nyala ketika hari sudah menjelang malam.
Tapi di tengah hutan.. Di parkiran dan bangunan utama hotel keadaanya gelap gulita dan menyeramkan…aneh juga garis polisi yang tadi dipasang ketika kita akan berangkat ke kantor polisi sudah tidak ada.
Apakah ini kerjaan dari Watuadem yang melepas garis polisi.
“Tunggu disini dulu… saya akan periksa bagian dalam hotel itu” kata pak Diran
Hotel ini memang kelihatan menyeramkan karena gelap dan juga setelah adanya kasus bunuh diri itu makin menambah seram.
Tidak ada suara bicara di halaman parkir selama pak Diran masuk ke dalam ruangan utama.
Tiba tiba lampu halaman parkir dan ruangan utama nyala.. Keadaan menjadi terang dan normal meskipun masih ada rasa takut untuk masuk dan menuju ke kamar nomor sepuluh.
Tidak lama kemudian pak Diran keluar dari dalam ruang utama dan menyuruh kami untuk masuk ke dalam hotel.
Tetapi ketika kami sudah ada di ruang utama dia menyuruh kami untuk sementara tidak ke bagian belakang dulu, karena pak Diran akan memeriksa bagian belakang terlebih dahulu.
“Mas Agus.. temani saya untuk ke belakang dulu” kata pak Diran
“Gak usah pak Diran, kita semua saja yang ke belakang, urusan ini sudah menjadi urusan bersama, jadi kita harus melihat apapun yang ada disini dengan bersama sama” kata pak Jay
“Baiklah pak Jay… ayo kita ke belakang, tapi harap diingat, kita belum menyalakan lampu petromak yang ada di taman, jadi biarkan saya dan pak Agus menyalakan lampu untuk penerangan belakang dulu pak Jay” kata pak Diran
Aku dan pak Diran dengan penerangan senter mengisi minyak tanah ke dua lampu petromak yang ada di taman belakang…
Keadaaan di belakang ini cukup menyeramkan karena kamar-kamar yang kosong dengan pintu yang terbuka, karena memang tadi pintu-pintu itu aku buka untuk pergantian udara.
Setelah lampu petromak nyala, pak Jay, mbak Tina dan Jiang pun ke tengah taman…
Anehnya area taman ini berbau busuk… sama busuknya dengan bangkai yang sudah beberapa hari terbunuh.
“Aneh ya.. Padahal mayat keluarga pak Prabowo sudah dievakuasi ke rumah sakit, tetapi kenapa halaman belakang ini berbau busuk?” kata pak Jay
“Kita lihat dulu keadaan kamar nomor sepuluh pak” kata pak Diran
Satu lampu petromak dibawa Jiang, sedangkan satunya aku yang bawa.
Dengan dua lampu petromak, kami menuju ke kamar nomor sepuluh yang posisinya ada di ujung.
Cahaya petromak ini sangat terang sehingga membuat kami cukup berani untuk melangkah ke bagian belakang hotel yang gelap.
“Stop disini dulu… bau busuk ini semakin tajam di sekitar sini..” kata pak Diran yang kemudian meminjam lampu petromak yang dibawa Jiang
__ADS_1
“Kalian tunggu disini, saya mau masuk ke kamar itu,....tapi kenapa pintunya harus ditutup seperti itu” kata pak Diran
“Tadi kan saya sudah suruh Watuadem untuk bersihkan darah yang ada di dalam sana pak Diran, jadi mungkin Watuadem yang nutup pintu itu” jawab pak Jay
“Ya sudah… kalian tunggu disini saja, saya akan buka pintu dan masuk ke dalam” kata pak Diran
Aneh juga sih sebenarnya… rumput dan sebagian batu batuan kerikil di sekitar sini tidak nampak basah atau paling tidak ada sisa air yang digunakan untuk membersihkan kamar itu.
Aku yakin watuadem tidak membersihkan kamar itu, dia hanya menutup pintu kamar itu saja.
Pak Diran dengan membawa satu buah lampu petromak membuka pintu kamar nomor sepuluh.
“Pak Agus… tolong pagang lampu petromak ini, saya mau buka pintu kamar”
“Bentar pak.. Saya kasih lampu petromak yang saya bawa ini ke Jiang dulu”
Akhirnya pak Diran butuh bantuanku juga, dia menyuruhku untuk memegang lampu petromak karena dia akan membuka pintu dan bersiap apabila ada sesuatu yang tidak terduga di dalam sana.
Bau busuk makin menyengat ketika aku dan pak Diran ada di teras kamar nomor sepuluh.
Lampu petromak ini agak aku angkat ke atas agar cahayanya lebih menerangi bagian yang lebih luas.
Pak Diran membuka pintu kamar …
“Uuhgghhhh … hooeekk!... baunya busuk sekali pak Diran” ketika pak Diran sudah membuka pintu kamar nomor sepuluh
“Uuhhh tolong terangi bagian dalam pak Agus… uuhhbb saya curiga masih banyak darah di dalam sini pak”
Ketika aku angkat dan kumasukan sebagian cahaya lampu ke dalam kamar, ternyata benar dugaanku… lantai kamar masih hitam karena darah yang semakin mengering, serta baunya sangat busuk.
Ternyata Watuadem sama sekali tidak membersihkan sisa darah ini dari dalam hotel. Aku yakin watuadem ketakutan ketika ditinggal sendirian disini, akibatnya dia sendiri pergi setelah kami menuju kantor polisi tadi siang.
“Pak Jay… kamar ini sama sekali belum dibersihkan, darah yang siang tadi tergenang sekarang sudah mengering dan menimbulkan bau busuk” kata pak Diran
“Ya sudah pak Diran… nanti pagi kalian bersihkan kamar itu hingga bersih, nanti akan saya kasih uang lemburan untuk kalian semua” jawab pak Jay dari tengah taman
“Pak Agus.. bawa sini petromaknya.. Saya kok kepingin masuk ke dalam sana”
“Gimana cara masuknya pak, berarti bapak harus menginjak darah yang tergenang itu?”
“Iyalah pak Agus…jejak sepatu polisi dan petugas rumah sakit kan juga ada didalam sana, sama saja pak, kita tetap harus menginjak darah yang sebagian besar sudah kering itu”
“Nggak masalah sih sebenarnya pak Agus… jadi ya berdoa saja agar pemilik darah ini tidak masalah ketika kita menginjak darah kering milik mereka ini… saya penasaran dengan bagian dalam sana itu pak Agus”
“Karena waktu malam hari kemarin itu, waktu kita ke bagian belakang hotel, kita kan sempat mencium bau dupa lagi kan pak Agus….”
“Berarti pak Owo dan keluarga sempat menyalakan dupa lagi di dalam kamar, dan tujuannya itu yang harus kita cari tau pak Agus”
Ketika pak Diran akan masuk ke dalam.. Ketika lampu petromak itu aku angkat agak tinggi… mataku tertuju pada sepasang jejak kaki tanpa sepatu yang ada di dalam kamar.
Diantara jejak sepatu petugas kepolisian, ada jejak lain, jejak kaki telanjang tanpa alas kaki yang tercetak di darah yang mengering itu. Dan pak Diran juga melihat jejak kaki itu.
“Mundur dulu pak Agus… ada jejak sepasang kaki…!”
“Coba terangi bagian jejak kaki tanpa alas kaki itu pak Agus, karena jejak kaki itu keliatanya tidak normal…”
“Eh pak.. Itu jejak kaki tanpa sepatu dan sebagian jari kakinya tidak ada pak, yang tercetak di darah itu ada jejak kaki yang sebagian jari kakinya keliatannya putus pak”
“Tapi jejak kaki ini hanya melangkah tiga langkah keluar saja pak Agus.. tidak ada jejak kaki yang masuk lewat pintu depan, jejak kaki cacat ini kalau diperhatikan berasal dari dalam dan menuju ke luar pak”
“Berarti di dalam hotel ini ada orang lain selain kita pak”
“Itu yang sedang saya pikirkan pak Agus….”
“Lebih baik kita jangan masuk dulu saja pak Agus, dan laporkan ke pak Jay apa yang sudah kita lihat, termasuk jejak kaki tanpa sepatu yang cacat itu”
__ADS_1
“Nanti saja kalau sudah ada matahari terbit kita masuk dan bersihkan kamar ini pak Agus”
*****
Di ruang utama, setelah kami putuskan untuk tidak masuk ke dalam kamar nomor sepuluh sebelum matahari terbit karena ada jejak kaki yang mencurigakan, kami dan pak Jay berdiskusi tentang keadaan hotel ini.
“Jadi di dalam sana ada jejak kaki yang cacat gitu pak Diran?” tanya pak Jay
“Bukan hanya cacatnya yang menjadi perhatian kami berdua pak, tetapi langkah jejak kaki yang tercetak di darah segar itu arahnya keluar pak, dan tadi kami tidak melihat jejak kaki tanpa sepatu yang sebagian jarinya tidak ada itu masuk dari pintu kamar pak” jawab pak Diran
“Tetapi tadi waktu ada penyelidikan dari pihak kepolisian, apakah jejak kaki itu ada?”
“Tadi tidak ada pak, hanya jejak sepatu dari polisi dan pihak rumah sakit yang mengambil tiga mayat dari dalam kamar”
“Dan anehnya saya tidak bisa merasakan kehadiran makhluk ghaib jahat disini, disini keadaanya sama saja dengan ketika kami ada disini.. “
“Bahkan roh keluarga pak Owo pun saya tidak bisa mendeteksinya”
“Jadi kesimpulan dari malam ini, di hotel ini ada orang lain selain kita … bukan begitu pak Diran?” tanya pak Jay yang wajahnya berubah menjadi ketakutan”
“Bisa jadi pak… mangkanya saya ajak kita masuk ke ruang utama dan mengunci pintu ruang utama hingga matahari terbit pak” jawab pak Diran
“Lalu supir saya bagaimana pak Diran?”
“Semoga supir bapak aman-aman saja di dalam mobil pak”
“Oh iya pak Jay.. tolong batalkan catering untuk sementara waktu ini pak… karena biasanya pihak catering akan datang kesini sekitar pukul lima hingga lima tiga puluh pagi pak”
“Akan saya hubungi sekarang pihak cateringnya mas Agus, sekalian saya beri pesan singkat….”
Kami ada di ruang utama sampai matahari terbit dan keadaan di sekitar hotel ini terang benderang, aku gak paham yang tadi itu jejak kaki siapa, dan kenapa tidak nampak jejak kaki yang masuk ke dalam kamar.
Dan apakah jejak kaki itu ada hubunganya dengan kematian keluarga pak Prabowo yang berasal dari kota yang jauh dari sini.
Sebenarnya aneh juga apabila sepasang suami istri yang sudah tua renta melakukan perjalanan jauh hanya untuk menginap semalam atau dua malam di hotel ini bersama seorang anaknya.
Apakah dengan meninggalnya keluarga pak Owo ini ada artinya untuk hotel ini?
“Pak Jay… tolong pikirkan lagi untuk segi keamanan hotel ini pak, untuk menambah tenaga keamanan bagian belakang, dan lebih selektif dalam menerima tamu” kata pak Diran tiba-tiba
“Iya pak.. Saya juga berpikir seperti itu barusan ini, harusnya tamu yang akan menginap disini bukan sembarang tamu, tetapi tamu yang menginginkan tantangan tinggal di alam terbuka”
*****
Pukul tujuh pagi setelah pak Jay pergi dari hotel, kami berempat masih duduk di sofa ruang utama, kami bingung juga mau ngapain, karena keadaan seperti ini sangat membingungkan.
“Lebih baik kita bersihkan sisa darah yang ada di kamar sepuluh saja, dari pada bingung tidak tau apa yang akan kita lakukan” kata pak Diran
“Jangan sampai ada sisa darah yang menempel di tiap dinding atau perabotan kamar” tambah pak Diran
Di depan kamar nomor sepuluh kami berhenti… terus terang aku pun malas untuk masuk ke kamar yang lantainya penuh darah hitam yang sudah mengering, tapi mau gimana lagi, kami harus bersihkan darah itu hingga bersih
Pak Diran membuka pintu kamar yang semalam dia tutup lagi pintunya. Tetapi ada yang aneh
“Pak jejak kaki cacat itu kok hilang?”
“Iya pak Agus…. Eh apa semalam kita salah lihat ya pak Agus, mungkin karena kita menggunakan lampu petromak sehingga menimbulkan bayangan yang aneh?”
“Apa yang hilang mas?” tanya mbak Tina
“Jejak kaki cacat yang semalam itu nggak ada mbak, yang ada hanya jejak sepatu polisi dan petugas dari rumah sakit saja yang ada disini”
“Mungkin semalam mas Agus dan pak Diran salah lihat mungkin” kata Jiang
“Ah mana mungkin kita salah lihat Jiang… jejak kaki cacat itu nyata dan masak lampu petromak yang kita bawa itu kurang terang sih” jawab pak Diran
__ADS_1
Akhirnya dengan perasaan tidak karuan, kami masuk ke dalam kamar…. Darah yang menggenang itu sudah berwarna hitam dan sudah mengering, pastinya akan sulit untuk membersihkannya.
Tapi kami harus bersihkan darah itu daripada nanti ada masalah di kemudian hari.