
“Nyuk… jangan jalan dekat sungai…, di pinggir sungai ini licin, kamu harus fokus dan hati-hati, daripada njegur sungai”
“Iya pak… saya sudah tidak sabar untuk keluar dari daerah sini pak, apalagi tadi ada penampakan orang yang meninggal di sungai ini pak”
“Pak…saya takut apabila Pak Wandi dan Mamad nyegat kita di suatu tempat”
“Lha mangkanya itu, tadi kan saya sudah bilang ke kamu, saya kira kita akan aman kalau lewat sini”
“Selepas kita dari desa ini kita akan melewati jalan yang mengarah ke kota, nanti dari sana terserah kamu akan ke mana, saya sih yang penting keluar dari sini dengan aman dulu”
“Jadi kita belum sepenuhnya aman Nyuk”
“Iya pak… eh pak, kita masuk ke desa itu?” tunjuk kunyuk
“Iya.. kita masuk ke sana… ini bagian belakang desa, nanti kita keluar lewat bagian depan desa”
“Orang yang kerja di rumah penggergajian itu seluruhnya berasal dari desa ini”
“Kalau umpama pak Agus tidak ada di rumah penggergajian… mereka apa ya masih kerja pak?”
“Waduh aku wis tidak peduli lagi Nyuk, mau mereka kerja atau tidak, atau bos besarku ngamuk, aku wis tidak peduli lagi!”
“Semenjak tadi kamu cerita tentang bosmu, Burhan, Wandi dan Mamad, serta keterlibatan bosnya Wandi yang merupakan bosku juga, sekarang aku semakin takut apabila ada disana”
Motor berjalan dengan pelan-pelan melewati rumah pak Solikin yang pasti keadaannya kosong, karena pak Solikin saat ini opname di rumah sakit.
Motor terus jalan hingga melewati rumah pak Wito yang terlihat gelap karena lampu petromaknya dalam keadaan padam.
Apakah aku harus ke rumah pak Wito untuk memberikan kabar ini?”
Ah … lebih baik jangan.. aku belum bisa mempercayai orang ini, lagipula pak Wito kan katanya dekat dengan Burhan.
Pokoknya untuk saat ini aku tidak perlu mendatangi orang-orang yang pernah dekat dengan Burhan!
“Desa ini sepi ya pak”
“Ya wajar Nyuk ..ini sudah jam berapa, pasti jam segini ya sepi lah”
“Di depan itu ada pertigaan pak, kita ke arah mana?”
“Lurus saja Nyuk, nanti di depan sana sudah gapura depan desa kok”
Betul kata Kunyuk…Aneh di desa ini aku tidak melihat seorangpun penjaga malam.
Biasanya kan ada orang yang patroli, tetapi sejak tadi aku dan kunyuk jalan, belum satupun aku menemukan orang yang sedang patroli keadaan desa.
Cukup aneh juga melihat desa sebesar ini tidak ada orang yang jaga malam, tapi mungkin ada juga hanya saja aku tidak tau dan belum melihat saja.
Sekarang motor sudah keluar dari wilayah desa…sesuai petunjuk, setelah keluar dari gapura belok ke kanan.
“Pak, saya apa sudah boleh menyalakan lampu?”
“Jangan dulu Nyuk…. “
“Kita tetap jalan dalam keadaan gelap saja, nanti kalau saya rasa benar-benar sudah aman baru kamu nyalakan lampu motor”
“Nanti sekitar lima kilometer di depan, ada sebuah jembatan besi. nanti disana jangan lupa memberi salam”
“Kenapa pak?”
“Sudah…jangan banyak tanya…pokoknya permisi dulu kalau mau lewat jembatan tua itu, kamu apa belum pernah lewat sini?”
“Belum pernah pak…”
Kami sudah melewati jembatan besi dengan aman, untung tidak ada penampakan mayat-mayat yang digantung lagi.
Tadinya aku sempat was-was apabila nanti lihat mayat yang digantung seperti waktu itu bersama Tina.
“Di ujung jalan nanti kita belok ke kanan Nyuk, depan itu sudah jalan besar yang menuju ke kota, dari sana kamu kan sudah tau mau ke arah mana kan?”
“Tapi tetap saja jangan nyalakan lampu”
“Iya pak, saya kalau selalu lewat kota itu kalau mau disuruh bos untuk mengantar paket ke rumah penggergajian”
Motor terus jalan ke arah kanan, aku cukup was was juga apabila bertemu dengan pemuda mabuk yang ada di sebelah kuburan kembar.
Yah, semoga tidak terjadi apa dengan kami berdua.
“Nyuk nanti di depan sebelah kanan ada kuburan kembar, ucapkan salam kepada yang ada disana”
“Iya pak, memangnya kuburan itu ngeri pak?”
“Bukan kuburan yang ngeri, tapi preman-preman yang sedang minum minuman keras”
“Mereka biasanya kalau malam gini selalu minum di samping kuburan”
“Makanya saya bilang kamu untuk tidak menyalakan lampu dulu”
__ADS_1
Untungnya ketika kami lewat, tidak ada satu preman pun yang sedang minum minuman keras disana…
Sekarang tinggal satu halangan lagi, yaitu pintu masuk jalan makadam yang menuju ke rumah penggergajian!
Mudah-mudahan kami diberi kemudahan agar bisa melewati jalan masuk yang menuju ke rumah penggergajian.
“Pak… jalan masuk ke rumah penggergajian apa masih jauh?”
“Yah tidak terlalu jauh Nyuk… kita pelan-pelan dan jangan menyalakan lampu sama sekali”
“Dan satu lagi…. usahakan untuk mendengarkan suara motor atau mesin apapun”
“Kenapa pak?”
“Karena kita tidak tahu apa yang akan terjadi selanjutnya, kita tidak tau pak Wandi dan Mamad ada di mana”
“Kita berdua dianggap berbahaya bagi Mamad dan pak Wandi, maka dari itu mereka pasti akan berusaha untuk mencari kita”
Motor berjalan dengan perlahan lahan…
Mataku selalu waspada apabila ada sesuatu yang mencurigakan di sekitar sini.
Ketika kami berdua sudah dekat dengan jalan yang menuju ke rumah penggergajian….
“Stoop dulu Nyuk.. pinggirkan motor mu dan matikan mesin nya!”
“Ada apa pak?”
“Sudahlah turuti apa kata saya, pokoknya stop dan matikan dulu mesin motor ini”
“Matikan sekarang, dan dorong hingga di dekat pohon randu sana itu”
“Itu disana ada pohon randu yang cukup besar.. kia sembunyi dulu diantara pohon randu itu”
“Kita harus tau dulu keadaan di sekitar sana!”
Mesin motor dimatikan. kemudian aku dan Kunyuk menuntun motor mendekati sebuah pohon randu yang besar.
Biasanya di sepanjang jalan sini selalu ditanami pohon randu…dan Kemungkinan pohon randu itu sudah berumur belasan bahkan bisa jadi puluhan tahun.
“Itu disana sekitar dua puluh meter itu adalah jalan masuk menuju ke rumah penggergajian”
“Saya tidak mau ambil resiko dengan keadaan dimana Mamad dan pak Wandi kemungkinan besar sedang menunggu disana Nyuk”
“Tapi disana sepi sekali pak”
“Tidak ada saksi mata sama sekali disini pada jam segini ini Nyuk!”
“Iya pak… lalu apa yang harus kita lakukan pak?”
“Tunggu… dulu!”
“Ndak tau berapa lama menunggunya, pokoknya kuat kuatan nunggu lah…”
“Saya yakin pak Wandi dan Mamad dari tadi juga ada disana, dan kemungkinan besar mereka sekarang ke arah hutan lagi….”
“Untuk apa mereka ke arah hutan pak?”
“Untuk melihat sepeda motormu yang tadi mereka sembunyikan!”
“Kalau motormu tidak ada disana maka mereka akan menjaga di pintu masuk hutan yang ada disana itu. Mereka tidak yakin kalau kita tadi berhasil keluar lewat desa sebelah sungai”
“Dan tentu saja mereka sekarang akan menunggu disana itu….Jadi perhatikan dengan teliti apakah kamu lihat adanya pergerakan manusia di sana?”
“Waduh kurang dekat pak, kita terlalu jauh untuk melihat manusia pada jarak seperti ini”
“Gini saja Nyuk…. kamu tunggu disini, saya akan ke sana dan lihat apa yang ada disana…ok?”
“Kalau sekiranya mereka tidak ada disana, saya akan beri tanda ke kamu, dan hampiri saya di sana Nyuk”
“Ok pak…”
Aku berjalan pelan menuju ke arah jalan yang menuju ke arah jalan makadam yang menuju ke rumah penggergajian.
Untungnya di wilayah ini lampu penerangan jalan jaraknya agak berjauhan, dan area tempatku berjalan ini tidak terkena cahaya lampu penerangan.
Area jalan masuk ke tengah hutan pun samar terkena sinar lampu penerangan jalan.
Lampu penerangan yang terdekat ada di sekitar lima meter ke arah rumah Tina, dan biasanya di bawah lampu penerangan jalan itu kalau sore hingga jam sembilan malam ada tenda kaki lima milik Samsol mie ayam.
Jadi di pertigaan jalan yang menuju ke rumah penggergajian itu agak samar terkena cahaya lampu penerangan jalan.
Akibatnya dari jarak ku ini aku masih belum bisa melihat apakah ada orang di jalan masuk yang ke arah rumah penggergajian.
Jarakku kini semakin dekat dengan jalan yang ke arah rumah penggergajian… tapi hingga saat ini aku belum juga melihat siapapun di sana.
Kutoleh Kunyuk…dia masih ada di antara pohon randu, dan di jalan pun tidak ada siapapun yang menuju ke arah sini…. Untuk saat ini keadaan masih aman.
__ADS_1
Pelan-pelan aku semakin dekat dengan jalan makadam yang menembus hutan untuk ke rumah penggergajian… tetapi tetap tidak ada siapapun disana.
Kemudian kuberanikan diri untuk lebih dekat lagi dan sekarang aku ada di seberang jalan yang menuju ke dalam hutan. Tapi posisiku ada di balik pohon randu.
Ketika aku sedang mengamati sekitar…Mendadak dari arah hutan ada cahaya lampu motor yang menuju ke arah sini…
Cahaya lampu motor itu bergerak cepat yang berarti laju motor itu tidak pelan…
Sedangkan posisiku saat ini tepat di seberang jalan yang menuju ke tengah hutan. aku tidak bisa bergerak untuk lari dari sini, karena motor yang ada di hutan itu sudah semakin dekat dengan posisiku.
Aku tidak tau bagaimana memberi tahu Kunyuk tentang datangnya sebuah motor dari dalam hutan dengan cepat.
Semoga motor yang berjalan menuju keluar dari jalan makadam itu berbelok ke kanan… menuju ke kota, jadi Kunyuk akan aman.
Kutoleh Kunyuk….
Ternyata aku mendengar suara Kunyuk menstarter motornya dengan tergesa gesa…
Kemudian dia balik arah dengan kecepatan tinggi!, kelihatannya dia tau bahwa ada motor yang keluar dari dalam hutan!
“Janc***k.. aku ditinggal c***k!!!”
Aku tidak bisa bergerak ke mana mana, aku hanya bisa terdiam di balik pohon randu… untung nya pohon randu itu besar sehingga bisa menutupi tubuhku..
Sinar lampu motor itu sekarang sangat terang menyinari pohon randu tempatku sembunyi.
Sinar lampu motor itu bergoyang goyang menyinari pohon randu ini…
Tetapi tiba-tiba sinar lampu itu berbelok ke kiri… ke arah kuburan kembar…. ke arah Kunyuk sembunyi dan sekarang sudah meninggalkan aku.
“Waduuh… Kunyuk dalam bahaya!”
Berarti memang tadi mereka Wandi dan Mamad sempat mencari motor kunyuk di tempat mereka sebelumnya menyembunyikan.
Tapi setelah tau bahwa motor kunyuk tidak ada di tempat mereka menyembunyikan…bisa jadi setelah itu mereka ke rumah penggergajian..
Setelah mengetahui bahwa keadaan rumah penggergajian gelap gulita, mereka semakin yakin bahwa aku pernah ada di rumah itu bersama dengan Kunyuk.
Dan mereka yakin bahwa aku dan Kunyuk melarikan diri dengan menyeberang sungai.
Dan sekarang mereka tancap gas menuju arah jembatan besi untuk melakukan penghadangan di depan gapura desa.
Waduuuh semoga Kunyuk tidak belok dan kembali ke arah desa itu lagi, bisa mati sia-sia kalau sampai dia tertangkap oleh mereka…
Motor yang dikendarai Mamad dan pak Wandi itu melaju kencang ke arah kuburan kembar dan kemungkinan besar akan menuju ke jembatan besi.
Sekarang apa yang harus aku lakukan…?
Apa aku harus ke rumah Tina untuk istirahat dan menenangkan diri sejenak?
Eh atau ke rumah kosong milik Tina saja, disana aku bisa sembunyi dengan aman dari Kejaran mereka, sekaligus aku bisa istirahat sejenak dan berpikir apa selanjutnya yang harus aku lakukan.
*****
Berjalan kaki di daerah pedesaan atau perkampungan ini kadang bikin merinding…
Jalan desa yang sepi dan lengang dengan sedikit penerangan ini mengakibatkan ada beberapa spot area yang sangat gelap.
Area sangat gelap itu yang mengakibatkan bulu kudukku berdiri apabila melewatinya.. rasanya kayak ada yang sedang memperhatikan aku dari area yang gelap gulita itu.
Semoga aku bertemu dengan penjaga malam desa ini, agar ada yang bisa diajak bicara.
Sebenarnya jalan yang sedang kulalui ini ada di deretan rumah penduduk… Di sebelah kiriku rumah penduduk, sedang di sebelah kananku memang hutan..
Seharusnya tidaklah mengerikan dibanding berjalan sendirian di tengah hutan.
Tapi entah kenapa perasaan ini mengatakan bahwa di tempat aku sedang jalan ini menakutkan… Sehingga bulu kudukku dari tadi sudah berdiri.
Perasaan menakutkan itu datang dan pergi… aneh sekali, seakan akan ada sesuatu yang sedang menggangguku, dan pengganggu itu datang dan pergi juga.
Aku terus saja berjalan hingga aku melihat sesuatu di kejauhan.
“Aaaahhh, di depan itu kayaknya ada orang yang sedang berdiri, kemungkinan besar dia adalah penjaga malam disini”
Kupercepat langkahku agar bisa menemui orang yang sedang berdiri di tengah jalan, karena jarak dengan orang yang sedang berdiri itu cukup jauh juga.
Bahkan untuk mempercepat aku bertemu dengan orang yang sedang berdiri dan menghadap ke rumah penduduk itu aku selingi dengan setengah berlari.
Tapi anehnya orang yang berdiri di tengah jalan itu posisinya tetap saja jauh, Jarakku dengan orang yang masih berdiri itu tidak berubah sama sekali.
Aku coba untuk berlari lebih cepat … tetapi sama saja, orang itu tetap terlihat jauh.
Aku berhenti sejenak untuk mengatur nafasku… aku sudah berlari dan berjalan cepat sekitar lebih dari lima menit, dan itu sangat membuat aku capek, mungkin karena aku tidak pernah melakukan olahraga.
…. aku menunduk untuk menghilangkan pegal di kaki, dan pahaku yang rasanya seperti kesemutan.
Tapi ketika aku menengadah…orang itu sudah tidak ada…
__ADS_1
Ketika aku menengadah….anehnya sekarang posisiku tidak di jalan desa lagi….