
Apa perlu aku beritahu juga tentang serangan horor tiap malam yang selalu menerorku?
Tapi lebih baik ndak tak kasih tau saja lah. Nanti malah mbahasnya ke mana mana. Atau Nanti saja aku beritahu pak Wandi apabila keadaan ku sudah cukup enak.
Sepertinya tidak ada lagi yang harus dibicarakan dengan pak Wandi, jadi kusudahi saja pembicaraan ini. Lagipula aku sudah ditunggu Tina di dalam kamar.
“Permisi mbak Tina, saya sudah selesai telepon, saya sekarang ada di ruang tamu” aku tidak akan masuk ke kamarnya sebelum dia menyuruhku, aku bukan tipe laki-laki yang lancang
“Masuk saja mas, Tina udah siap mas….”
Hehehe suara Tina ini bener-bener deh, dia itu ngajak sholat apa ngajak adu mekanik. Tapi memang lho Tina ini apa-apa suaranya selalu seperti itu.
“Iya mbak, saya akan masuk”
Kubuka kamar dia, seperti biasanya aku tidak berani menatap dia, meskipun aku tau kalau dia sudah memakai mukenah seperti biasanya.
Aku melangkah masuk dan kemudian kututup pintu kamar dengan wajah tetap menunduk, pokoknya apapun yang terjadi aku tidak berani melihat dia terlebih dahulu.
“Jangan nunduk terus mas, nanti kesandung lho ya” kata suara manja Tina
Ketika kutengadahkan wajahku.. aku kaget bukan main dengan yang ada di depanku
Allahuakbar!....
Cantik sekali dia…….
Seperti kemarin, Tina sudah menggunakan rukuhnya dan sudah siap di atas sajadahnya…
Dia tersenyum karena melihatku terpana dengan keadaan dia yang sekarang ini.
“Kenapa mas Agus, kok diem gitu sih mas, memangnya Tina ini hantu apa?”
“Ehh..nggak mbak Tina, karena eh kerana mbak Tina cantik sekali…..iya mbak Tina cantik” aku gugup harus berkata apa dengan keadaan Tina yang seperti itu
“Ayo mas, cepat kita lakukan maghrib mas, selak waktu maghribnya habis mas hihihih”
Untuk yang kedua kalinya aku menjadi imam bagi mbak Tina yang ditinggal minggat bojone menjadi TKI yang sudah bertahun tahun tidak ada kabarnya.
Untuk kedua kalinya aku ada di rumah ini untuk sholat bersama, dan sudah dia anggap aku sebagai suaminya…
Untuk kedua kalinya aku datang kesini dengan menahan hawa nafsyu yang terus menerus diuji oleh Mbak Tina dengan berbagai kelakuanya.
Dan untuk yang kedua kali ini aku bisa membuatnya bahagia, bukanya membuat orang bahagia itu pahalanya gede hihihihi.
*****
Tina sedang melipat sajadah, mukena, sarung dan sajadah yang aku pakai, sedangkan aku menunggu dia di ruang tamu.
Rencanaku nanti adalah menanyakan tentang apa saja yang sudah diceritakan pak Wandi kepada Tina tentang pak Solikin dan almarhum Mamad.
Aku penasaran kenapa pak Solikin bisa sedemikian rupa tidak suka kepada Burhan, pasti ada alasan tertentu.
Tina keluar dari kamarnya, saat ini dia sudah berganti baju, dia mengenakan daster yang pendek sekali hingga pangkal phahanya terlihat olehku.
__ADS_1
Phaha yang putih mulus itu sempat membuatku menelan ludah beberapa kali.
Tapi dia hanya tersenyum saja dengan kelakuanku yang makin gusar hihihi.
“Kenapa mas, ada yang salah dengan Tina?” dia berkata sambil duduk di sebelahku dan merangkulku seperti kemarin itu
“Ndak..ndak ada yang salah mbak Tina, hanya saja……”
“Hanya saja apa mas, kok gak diterusin sih kata-katanyaaaah ssshhh” Tina berkata sambil mendesyah di telingaku
“Nganu…ehm mbak Tina makin cantik saja”
“Heheh kan suami Tina datang, ya sebagai istri yang baik harus membuat suaminya senang dan makin betah di rumah” dia berkata sambil menciumi leherku
“Ih geli mbak Tina, hmm mbak , saya pengen tanya-tanya tentang pak Wandi mbak”
“Hihihi masak geli sih mas, kan Tina pingin buat seneng suami Tina”
“Iya makasih mbak, siapapun suami mbak Tina pasti akan bahagia apabila mbak Tina itu seperti ini, sudah pintar masak, cara melayani suaminya hebat, dan mulai sholat juga”
“Iiih mas, suami Tina kan mas Agus hehehe. Eh mas mau tanya apa lagi tentang pak Wandi?”
“Tadi Tina denger mas Agus sedasng ada sesuatu dengan pak Wandi dan Solikin ya?” tanya mbak Tina yang masih memelukku dari samping
Kuceritakan saja tentang Burhan dan Solikin, aku hanya cerita sebatas solikin yang tidak suka dengan Burhan, aku tidak atau belum cerita tentang kejadian malam hari itu.
“Hmmm Tina ndak bisa menebak apa yang terjadi dengan Solikin dan Burhan mas. Tetapi pernah suatu ketika mas Wandi keceplosan bicara kepada Tina”
“Mas Wandi waktu itu kan rencananya sampai pagi ada disini”
“Pada waktu itu pukul 01.00 pagi. Dia langsung buru-buru pulang, Berarti kan di rumah ada solikin dan Mamad yang harus dibantu oleh pak Wandi”
“Sedangkan menurut cerita mas Wandi selama ini tidak ada kegiatan apapun disana kalau pada malam hari hingga pagi hari kan mas”
“Nah berarti malam hari itu ada sesuatu yang membutuhkan bantuan mas Wandi disana mas”
“Dan harusnya itu adalah sesuatu yang penting, karena mas Wandi langsung buru-buru pulang tanpa pamit ke Tina dahulu”
“Berarti selama ada pak Wandi, ada sesuatu yang sedang mereka bertiga lakukan, dan kenapa harus malam hari?”
“Apa mungkin sedang ada truk yang menjual kayu gelondongan datang mbak, sehingga pak Wandi harus membantu Mamad dan Solikin”
“Hehehe, kalau urusana kayu kan harusnya Solikin ndak perlu datang tengah malam gitu mas”
“Eh mbak Tina tau ndak apa yang sedang dilakukan dia, eh apa dia ndak cerita lagi apa yang akan dia lakukan itu?”
“Ndak mas, dia langsung pergi dari sini dan pulang. Besok-besoknya Tina dah lupa mau tanya apa yang dia kerjakan malam-malam disana”
“Hmm ya ya mbak, berarti diantara mereka bertiga itu ada sesuatu yang dirahasiakan ya mbak?”
“Dan dengan datangnya Burhan, Solikin menjadi khawatir, karena Burhan itu orang yang berasal dari juragan saya, hanya saja saya bingung apa yang mereka sedang kerjakan disana”
“Ahh biar aja mas, yang penting sekarang Tina bisa sama suami Tina sampai pagi lagi”
__ADS_1
“Eh maaf mbak Tina, saya ndak bisa sampai pagi, karena kan disana ada Burhan, saya tidak enak kalau ada apa-apa dengan dia hehehe”
Tina hanya diam kemudian dia mencium dan meraba dhadhaku. Seketika aku teriak kesakitan ketika dia memasukan tanganya ke dhadhaku.
“Ada apa mas, kenapa mas Agus kok teriak kesakitan!” tanya Tina kaget
“Eh.. sema..semalam s..saya dipukul pocong mbak” sambil kubuka kemejaku dan kemudian kuceritakan apa yang terjadi dengan ku kemarin malam
“Astagaaaa, kenapa iniii…”
“Keliatanya ada yang tidak suka dengan mas Agus disana, pocong tidak akan menyerang orang apabila tidak ada yang menyuruhnya”
“Kenapa mas Agus bisa begini mas!. Ini parah sekali, ayo kita ke kota saja, kerumah sakit!” teriak Tina
“Kenapa Tina, dadaku kan hanya lebam saja, tidak perlu ke rumah sakit segala”
Tina hanya diam, kemudian dia menuju ke kamarnya, ternyata dia mengambil cermin agar aku bisa melihat keadaan dadaku.
Astagaaa!!… kenapa dadaku kok sekarang makin melepuh semacam kena benda panas!
Makanya dari tadi sakitnya bertambah dan makin panas, kalau tadi pagi kan hanya lebam hitam saja, tetapi sekarang yang terlihat melepuh dan berair.
Mirip dengan orang yang terkena knalpot sepeda motor.
“Mas tunggu dulu sebentar, Tina mau ganti baju dulu dan mau keluarkan motor, Lukanya mas Agus itu parah dan bisa infeksi apabila tidak diobati”
“I..iya mbak Tina..iya..”
Aku tidak bisa berkata apa lagi karena memang lukaku semakin aneh, sudah tidak lebam lagi, melainkan sudah berair dan terasa panas.
Tina mengeluarkan motor bebeknya yang keluaran terbaru dari ruang yang merangkap wartelnya, kemudian dia menyuruhku untuk memasukan motor bututku ke dalam rumah.
“Tina bonceng saja mas, ayo kita ke kota sebelum luka mas Agus itu semakin parah”
Aku hanya bisa diam saja ketika Tina mulai mengendarai motornya memboncengku. aku merasa bahwa apa yang dilakukan Tina ini sudah merupakan kewajiban istrinya apabila suami dalam keaadan sakit.
Motor Tina yang keluaran baru itu melaju agak kencang ke arah kota yang jalan nya lumayan sepi.
Mbak Tina tidak mengajakku bicara selama dia memboncengku, dia fokus pada caranya mengemudi yang memang tergesa-gesa untuk menuju ke rumah sakit.
Sekitar lima belas menit kemudian kami sudah sampai di kota kecil tempat terminal bis berada.
“Kita langsung ke rumah sakit saja mas” kata mbak Tina
Motor dia arahkan menuju ke jalan yang aku tidak pernah lewati, tetapi tidak ada lima menit di depan ku sudah terlihat rumah sakit milik swasta yang ada di kota ini.
Bukan rumah sakit besar seperti milik pemerintah, bangunanya tidak terlalu besar, tetapi ada UGDnya yang penting.
Setelah memarkirkan motornya Tina menuntunku menuju ke arah UGD.
UGD ini sepi, tidak ada pengunjung atau pasienya. Beda dengan UGD di kota besar yang tiap saat selalu kedatangan pasien yang gawat.
Aku duduk di kursi berwarna oren yang berjajar di ruang UGD yang sepi
__ADS_1
“Tunggu disini sebentar mas, Tina mau cari perawatnya dulu”