RUMAH PENGGERGAJIAN

RUMAH PENGGERGAJIAN
59. SARAN DOKTER JOKO


__ADS_3

“Kita lihat nanti saja mas, Tina kepingin tahu dulu apa yang akan dikatakan dokter Joko tentang apa yang terjadi dengan mas Agus”


“Sekarang Tina mau bersihkan luka mas Agus dulu aja”


Tina hari ini tidak seperti Tina yang kukenal, di lebih serius dan tidak menggoda imanku dengan omongan dan tindak tanduk yang sangat menggoda.


Aku duduk di ruang tamu, sementara dia dengan teliti membersihkan luka yang ada di dadaku menggunakan air pemberian dokter Joko.


“Bauk Tina kecut ya mas?”


“Nggak kok mbak, bagi saya tetap harum kok”


“Air pemberian dokter Joko sudah tinggal setengah mas, tapi untungnya luka mas Agus sudah mulai mengering, tapi masih ada beberapa bagian yang masih basah”


“Ndak papa mbak, yang penting ada kemajuan dengan luka yang saya derita ini”


“Ya jelas ada kemajuan dong mas, siapa dulu yang ngerawatnya. Coba kalau yang ngerawat bukan istri sendiri, pasti luka mas Agus akan lama sembuhnya hihihi”


“Iya..iya mbak hehehe saya percaya kok mbak”


“Eh kita sarapan dulu saja mas, sebelum kita ke rumah sakit, kebetulan Tina sudah masak untuk kita sarapan, eh tapi Tina mau mandi dulu ya mas”


Tina meninggalkan aku sendirian  di ruang tamu, sementara dia masuk ke kamarnya, mungkin sedang mandi.


Sementara Tina ada di dalam kamar mandi, aku harus mengatur kata-kata yang cocok untuk menjelaskan kepada dokter Joko tentang apa yang sudah aku alami selama ada di rumah penggergajian itu.


Sebenarnya aku masih bingung dengan keadaan Burhan yang tidak disukai oleh pak Solikin, dia juga bilang apabila ada orang yang berusaha untuk mencelakai aku.


Tapi lebih baik tanya saja kepada orang yang paham saja, karena masalah seperti ini pasti ada awalnya. Aku disini hanya terkena imbas dari masalah yang terjadi.


Urusan dengan hal yang beginian ini tidak serta merta bisa selesai dalam waktu yang singkat, karena setahuku harus ditelusuri dulu apa yang menyebabkannya.


Tina sudah keluar dari kamarnya, saat ini dia memakai pakaian yang tidak begitu menguras imanku, tapi ndak papa lah yang penting terong ungu ku ndak makin membesar hehehe.


Seperti biasa kami sarapan di meja makan mungil milik tina yang memang hanya bisa digunakan untuk keluarga kecil yang bahagia.


Tidak ada percakapan sama sekali ketika kami sedang makan, mungkin Tina sedang memikirkan apa yang sedang terjadi dengan ku.


“Mas AGus tunggu di ruang tamu saja, Tina mau bersihkah meja makan dulu, setelah itu kita langsung berangkat ke rumah sakit tempat dokter Joko praktek”


Aku masih terus berpikir, kenapa sampai ada yang bunuh diri, dan kenapa arwah itu memperlihatkan tubuh matinya itu kepadaku, dan apa hubunganya denganku.


Seandainya ada orang yang tau tentang sejarah rumah penggergajian itu, pasti bisa ditelusuri bagaimana awal kejadianya.


“Ayo kita berangkat mas, motor mas Agus masukan ke garasi rumah Tina saja”


“Eh mbak Tina, kira-kira mbak Tina tau ndak orang yang paham sejarah rumah penggergajian atau sejarah tentang daerah sana?”


“Kalau tentang rumah penggergajian Tina jelas tidak tau mas, tetapi untuk sejarah daerah sana ya seperti yang Tina ceritakan kepada mas Agus itu”


Motor dikemudikan dengan santai menuju ke arah kota. Sesekali Tina merapatkan pegangan di pinggang ketika motor kami disalip oleh bus antar kota.


Rumah sakit sudah nampak tidak jauh dari posisi kami berdua, ternyata pagi ini rumah sakit itu ramai juga dengan orang yang entah sedang besuk atau sedang berobat.


*****


Tujuan aku dan Tina adalah poli umum tempat ruang praktek dokter Hendra, karena dari dokter Hendra itu, maka aku bisa tau dokter Joko.


Pasien demi pasien dipanggil hingga sebentar lagi tiba saatnya nomorku yang dipanggil oleh perawat.


“Yuk siap-siap mas, bentar lagi nomornya mas Agus dipanggil”


“Iya mbak Tina, tapi apa bisa kita ketemu dengan dokter Joko nantinya?”

__ADS_1


“Tenang mas, serahkan saja sama Tina, biar Tina yang ajak bicara dokter Hendranya”


Akhirnya namaku dipanggil untuk masuk ke ruang praktek dokter Hendra…


“Selamat siang Dok”


“Wah..ini pak Agus yang dulu lukanya parah dan diberi air dari dokter joko ya, bagaimana pak, apakah sudah ada perubahan yang berarti?”


"Sudah dok, sudah kering…”


“Coba saya periksanya dulu lukanya pak Agus, untuk memastikan bahwa pengobatannya sesuai dengan yang diharapkan”


Dokter Hendra membuka perban yang tadi pagi sudah diganti oleh Tina, dia hanya manggut-manggut saja melihat luka yang mungkin sudah banyak kemajuan daripada waktu aku datang kemari itu.


“Yah sudah kering dan sudah sesuai dengan luka pada umumnya, jadi obat yang saya kasih bisa diteruskan saja”


“Dokter, saya bisa minta waktu sebentar dok” potong Tina


“Ya bagaimana bu Agus, apa ada yang bisa saya bantu lagi”


“Begini dok, ini menyangkut tentang luka yang dialami suami saya. Ternyata kengerian itu masih berlangsung, dan makin mengerikan di tempat suami saya bekerja itu dok”


“Beberapa ancaman dan mimpi yang seolah nyata itu masih ada, Saya takut apabila ada serangan terhadap suami saya lagi”


“Untuk itu apakah kami bisa konsultasi dengan dokter Joko yang sebelumnya sudah menyembuhkan luka suami saya ini dok?”


“Hmmm memang setahu saya dokter Joko itu paham dengan hal-hal yang berbau supranatural, hanya saja beliau untuk hari ini tidak praktek di poli” jawab dokter Hendra


“Tetapi beliau nanti malam bisa ditemui di ugd, kebetulan beliau nanti malam sebagai dokter jaga”


“Jam berapa nanti kira-kira dokter Joko bisa kami temui dok?”


“Hmm diatas jam sepuluh malam saja pak, biasanya  pada jam-jam itu keadaan sepi”


“Sama-sama bu Agus….”


*****


Siang ini kami memang tidak bertemu dengan dokter Joko.


Tetapi info dari dokter Hendra bahwa nanti malam dokter Joko akan jaga di ruang ugd. jadi kami akan kesini lagi nanti malam.


Sesampai di rumah Tina hari sudah siang menuju sore hari…


“Nah mas, nanti malam harus ke sana  lagi, jadi mas Agus tidak bisa pulang ke rumah. Burhan gimana mas?”


“Dia sudah saya beritahu agar pergi ke desa sebelah sungai apabila sampai sore hari saya belum pulang mbak”


“Ya sudah kalau begitu mas…. mas Agus istirahat di rumah Tina saja ya mas“


“Tunggu disini mas, Tina mau carikan pakaian ganti untuk mas Agus dulu”


Sore hari menjelang maghrib aku dan Tina ada di ruang tamu. Disini ada perubahaan yang sangat mencolok pada diri Tina, dia seolah tidak mau menggoda imanku lagi.


Kami ngobrol di ruang tamu seperti biasanya, tetapi tidak ada acara menggoda iman lagi.


“Mbak Tina, kok sepertinya ada yang berubah dari diri mbak Tina ya?”


“Ah masak sih mas, emangnya yang berubah apanya mas?”


“Mbak Tina udah ndak kayak biasanya, suka goda iman saya hingga terong ungu saya berdiri tegak heheheh”


“Ih mas Agus ini minta digoda apa?”

__ADS_1


“Nggak mbak, saya heran  saja, kok mbak Tina udah gak kayak biasanya”


Tiba-tiba Tina berdiri dari posisi duduk di seberangku, dia pindah ke sebelahku, kemudian seperti biasanya dia menyandarkan kepalanya di bahuku.


“Tina itu ndak ada yang berubah mas, hanya saja Tina menghormati mas Agus sebagai imam Tina yang paling Tina sayangi, dan paling kuat menjaga nafsyunya”


“Tina ndak mau goda mas Agus lagi sebelum mas Agus siap dengan Tina”


“Maksudnya siap itu apa ya mbak Tina?”


“Siap nikah sama Tina, siap Tina layani dengan penuh cinta dan penuh ghairah  hihihihi”


“Hmm iya mbak Tina, nanti kita bicarakan dengan lebih serius lagi setelah semua ini selesai mbak”


*****


Malam hari pukul 22.00 aku dan Tina sudah ada di ruang tunggu Ugd. Tadi aku tanya ke perawat laki-laki yang ada di ruangan ugd, kata dia dokter Joko agak terlambat karena ada urusan sebentar.


Pukul 22.30 setelah menunggu tiga puluh menit di ruang tunggu yang sunyi sepi akhirnya muncul juga dokter Joko, dari kejauhan dokter itu sudah melihat kami dan tersenyum.


“Selamat malam dokter” sapa Tina dan aku berbarengan


“Selamat malam… ini pak Agus yang luka akibat pocong itu ya?”


“Betul dok, kami yang kesini karena luka suami saya yang mengerikan itu”


“Hmmmm saya mungkin apa tau tujuan kalian kemari, ayo sini kita bicara di depan saja, ndak enak kalau ada yang dengar tentang hal yang tidak bisa dicerna dengan ilmu kedokteran”


Kami bertiga keluar dari ruang tunggu ugd, kami menuju ke halaman rumah sakit yang agak gelap meskipun ada beberapa lampu sebagai penerangan.


“Bagaimana, apa yang bisa saya bantu?”


“Begini dok, kemarin malam….”


Tina menceritakan apa yang sudah kuceritakan padanya tanpa ada satu katapun yang dia lupakan, Tina benar-benar cerdas, dia bisa mengulangi cerita yang tadi aku ceritakan dengan detail.


“Begini pak Agus…bu Agus, tempat kerja pak Agus ini sangat tidak baik untuk ditinggali, saya bisa rasakan dari cerita tadi, saya bisa rasakan bahwa disana ada lebih dari satu masalah”


“Pertama tentang  perempuan yang bunuh diri itu, dan yang kedua ada yang tidak suka dengan keberadaan pak Agus dan temanya disana”


“Jadi disini pak Agus mengalami dua masalah gaib yang tidak saling berhubungan”


“Pertama tentang seorang yang mati gantung diri di sana, dan kedua tentang serangan gaib kotor dari orang yang tidak suka dengan kehadiran pak Agus


“Saran saya sebelum semua ini terlambat atau makin dalam… lebih baik pergi dari sana, dan jangan kembali lagi kesana, kecuali pak Agus siap dengan resikonya”


“Resikonya apa dok”


“Untuk bu Agus ketahui, resiko bergesekan dengan gaib itu hanya kematian….”


“Waduuuh kok gitu sih dok”


“Iya bu, resiko  masuk ke dalam permainan mereka ya itu saja bu”


“Apa dokter tidak bisa membantu suami saya dok?”


“Terus terang pak dan bu Agus, saya bukan orang yang bisa melawan hal seperti itu, saya hanya mendalami bidang pengobatan spiritual saja”


“Kalau pak Agus tetap akan tinggal disana dengan alasan yang kuat maka saya tidak bisa melarang lagi”


“Atau apabila pak dan bu Agus berkenan, bisa konsultasi dengan teman seperguruan saya saja”


“Bapak dan ibu Agus bisa konsultasi dengan dia, dan dia akan membantu….”

__ADS_1


 “Tetapi dengan syarat apa yang pak Agus lakukan disana itu tidak bertentangan dengan hukum agama”


__ADS_2