
Sulit untuk membangunkan orang yang pingsan, untungnya setelah lampu petromak nyala, bu Tugiyem memberikan aku minyak kayu putih yang dia minta dari seorang warga yang sedang menonton kejadian yang ada di rumah ini.
“Uggh sakit sekali kepala saya pak Agus” kata pak Diran sambil memegang kepalanya sete;ah minyak kayu putih aku oleskan ke hidungnya
“Ayo kita segera harus pergi dari sini pak Diran… arwah Solikin kata bu Tugiyem sekarang menuju ke hotel.. Kita kejar dia pak, karena rumah ini akan dibakar”
“Nak Agus.. cepat pergi dan kejar arwah Solikin, dia pasti nanti akan masuk ke raga orang yang akan dia temui disana, sementara ini saya dan beberapa warga akan memerika rumah ini, dan kemudian akan kami bakar”
“Bu Tugiyem bagaimana bisa tau apa yang tadi sedang terjadi disini?”
“Sudah jangan banyak tanya dan banyak omong nak Agus.. waktu kita sempit, nanti saja ketika semua sudah selesai, akan saya jelaskan apa yang saya tau disini”
Aku dan pak Diran lari menuju ke sisi sungai, kami menuju ke hotel lewat sisi sungai agar cepat sampai disana. Meskipun pak Diran masih belum sembuh total, tetapi dia berusaha menyeimbangkan langkahnya bersamaku.
Tapi dari kejauhan aku lihat ada api.. Api kecil yang mulai membesar
“PAK ..ITU ADA API… APA ITU HOTEL PAK!”
“Eehhhg..bukan pak Agus..! yang terbakar itu bukan hotel, tapi jembatan yang menghubungkan desa ini dengan wilayah hotel!....”
“Ayo cepat kita lihat siapa yang membakar pak Agus.. saya rasa tadi sekilas saya lihat ada orang yang berdiri di ujung seberang jembatan, orang itu memakai topi pak”
“Tidak usah pak Diran.. Saya juga lihat ada bayangan orang yang terkena cahaya api dari jembatan yang terbakar, dan orang itu sekarang menuju ke arah hotel pak”
“Percuma pak Diran.. Jembatan itu sudah terbakar pada sisi seberang.. Kita gak bisa menyeberang lewat jembatan itu pak”
“Saya takut ada apa-apa dengan hotel pak Agus… tapi saya penasaran, siapa orang itu ya. Orang yang membakar jembatan itu, karena cepat dan tepat sekali timing waktu membakarnya”
“Kita tidak bisa lewat sana pak Diran… ayo kita ambil motor dan ke hotel lewat jalan biasanya, nanti saja kita pikirkan siapa yang membakar jembatan itu”
Dengan setengah berlari aku menuju ke rumah Solikin lagi, karena motor sewaan kami ada di depan rumah Solikin. Beberapa warga masih bergerombol, sedangkan bu Tugiyem saat ini ada di luar bersama seseorang yang memakai kopiah/peci.
“Jembatan terbakar ya nak Agus?... kelihatan dari sini apinya nak.” tanya bu Tugiyem setelah kami sampai di depan rumah Solikin yang sedang diperiksa dengan teliti oleh beberapa warga.
“Iya bu Tugiyem… saya mau ambil motor dan lewat jalan memutar saja bu…”
__ADS_1
“Ya sudah.. Nanti setelah selesai dengan rumah Solikin, saya dan pak Kyai Dollah nyusul kalian berdua disana” kata bu Tugiyem dengan tegas.
Motor sudah dinyalakan, aku dan pak Diran dengan kecepatan lumayan tinggi menuju ke luar area desa… penduduk desa sudah mulai keluar dari rumahnya semua dan berjalan menuju ke rumah Solikin, meskipun sudah dihimbau untuk membubarkan diri.
“Pak Agus.. kita sebaiknya hubungi teman kita dulu, agar mereka juga ke hotel itu juga”
“Gimana cara hubungi mereka pak, saya saja tidak ingat nomor telepon pak Jay.. nomor itu kan ada di meja resepsionis hotel pak” kataku sambil menambah gas motor
“Gini saja mas.. Kita jemput mereka sekarang, kita juga harus mempunyai kekuatan untuk memburu arwah Solikin dan iblis-iblis yang ada disana kan” kata pak Diran
“Ya sudah pak kita ke kota dulu saja!”
Kutambah kecepatan motor untuk menuju ke kota.. Menjemput teman kami yang sedang menunggu kabar dari kami.
Ketika kami sudah hampir mendekati kawasan hutan yang merupakan pintu masuk ke hotel Singgasana Adem Ayem.. di kejauhan di depan kami, dari arah yang berlawanan kami melihat ada dua lampu motor yang menuju ke arah kami.
“Pak.. jangan-jangan di depan sana itu adalah teman kita pak” kataku menghentikan laju motor sebelum aku berbelok ke kanan dan masuk ke hutan untuk menuju ke hotel.
“Tunggu disini dulu saja pak Agus, kalau bukan kita segara tancap gas ke hotel tempat mereka menginap”
Dua lampu motor itu mendekat dengan cepat…
Di depan pintu masuk hutan kami berhenti dulu…
“Arwah solikin sekarang ada di dalam hotel…” kata pak Diran
“Tadi kita dibantu oleh warga disana yang mengetahui sepak terjang Solikin sebagai seorang dukun ilmu hitam, dan nanti rumah dia akan dibakar warga disana” tambah pak Diran
“Oh Iya pak Jay.. kita dibantu oleh bu Tugiyem”
“Bu Tugiyem yang jual makanan untuk pekerja ya mas Agus?” tanya pak Jay
“Betul pak.. Bu Tugiyem yang jual makanan… nanti setelah warga membakar rumah Solikin, mereka akan datang ke sini juga”
“Sekarang sebaiknya kita ke hotel, karena Solikin ada disana, dia bisa masuk ke hotel, tapi kita tidak tau bagaimana dia bisa masuk ke hotel” kata pak Diran
__ADS_1
“Masuknya melalui perantara orang.. Bisa jadi petugas polisi yang ada disana yang akan dirasuki Solikin” kata pak Hendrik
“Oh iya pak… jembatan yang menghubungkan hotel dan desa terbakar, tapi tadi kita sempat lihat siluet orang yang membakar jembatan…hanya saja saya tidak tau siapa yang bakar, karena tidak jelas sama sekali, saya hanya lihat orang itu memakai topi”
Kami berenam menuju ke hotel…. Tidak ngebut, karena kami takut ada sesuatu di tengah hutan yang menuju ke hotel. Tapi untungnya lampu jalan sepanjang hutan ini masih nyala, sehingga aku bisa lebih tenang melihat sekeliling.
Tepat di tengah hutan.. Bau bunga melati muncul….
“Mbak Tina… bau bunga.. Apakah leluhur mbak Tina akan datang?” tanyaku sambil kudekati motor yang dikendari mbak Tina dan Jiang
“Ada energi besar di sekitar sini pak Agus, dan energi itu energi positif, kemungkinan besar itu adalah leluhur dari bu Tina” kata pak Diran
“Nggak tau mas… semoga leluhur Tina akan membantu kita mas….” jawab mbak Tina
Bau bunga itu lambat laun menghilang dan kami tetap melaju ke hotel…
Semakin dekat dengan hotel, semakin aku ndredeg, keadaan hotel yang gelap ditambah adanya arwah Solikin yang ada disana semakin membuat aku tidak bisa berpikir jernih.
“Kita parkir motor ini agak jauh dari parkiran hotel.. Agar kita mudah untuk lari dari sini apabila terjadi sesuatu dengan hotel ini, takutnya motor kita dirusak oleh sesuatu yang ada disana” kata pak Diran
Di luar pintu gerbang hotel, motor kami parkirkan…
Gela, sunyi, sepi.. Tidak ada suara apapun, bahkan binatang malam yang biasanya berbunyi berisik pun sekarang sama sekali tidak memamerkan suaranya.
Ditambah lagi dengan angin yang seolah malas untuk bertiup, sehingga menyebabkan tidak ada bunyi gemerisik daun-daun pohon hutan…
Alam di sekitar sini tampaknya sedang waspada… mungkin mereka tau ada sesuatu di dalam hotel itu.
“Gila… aura hotel ini sekarang benar-benar hitam…. Berbeda ketika kita terakhir ada disini ya pak Diran” kata pak Hendrik
“Benar pak Hendrik.. Saya juga merasa seperti itu…”
Di parkiran hotel masih ada dua mobil dari tamu yang dibunuh, kemudian ada satu sepeda motor yang terparkir di tengah lahan parkir, sepeda motor dengan plat nomor instansi kepolisian… tapi disini sama sekali tidak ada petugas yang jaga!
Lampu ruang utama yang biasanya nyalapun sekarang sama sekali tidak ada yang nyala….
__ADS_1
Suasana gelap dan menyeramkan…!
“Ayo kita masuk, sebelum masuk berdoa dulu ya” kata pak Diran